Siapa Dia?

1062 Words
Tatapan mata Bu Ratih yang tajam akhirnya menghentikan perdebatan Hanan dan Malilah. "Kenapa lagi, Han?" "Ini Ma. Lihat! Dia mau bawa Arumi jalan-jalan pagi pakai baju lusuh seperti itu!" Hanan melirik Malilah dengan ekor mata. Bu Ratih kembali mengalihkan fokus pada Ibu ASI cucunya tersebut. "Ya salahmu juga, nyari ibu ASI untuk anakmu sendiri model begitu!" sungut Bu Ratih sambil mengedipkan mata dengan perasaan jengkel pada Hanan. "Maaf, Bu. Tapi, saya cuma punya ini yang paling baru. Lagipula, ini bersih kok, Bu," Malilah mencoba membela diri. "Aku enggak bilang bajumu kotor! Cuma kusam! kumal!" bantah Hanan. Bu Ratih tak merespon perdebatan mereka berdua. Namun, hembusan napasnya mengisyaratkan jika ia setuju dengan pernyataan Hanan. Terdengar suara Arumi merengek. Mungkin bayi mungil itu sudah tak sabar ingin menikmati udara pagi di luar rumah. "Sinih!" Malilah meraih stroller dari tangan Hanan. "Sanah!" Hanan menghalau tangan Malilah. "Aku aja!" Malilah bersikukuh. "Biar aku!" Hanan pun masih tak mengijinkan. Bu Ratih menarik napas panjang melihat perdebatan mereka berdua. Wajahnya pun ikut memperlihatkan ketidaksukaan. Entah tak suka pada siapa. Pada Malilah atau Hanan. "Hanan! Biarkan dia! Ngapain kamu bayar dia mahal-mahal kalau masih kamu juga yang mengurus Arumi!" titah Bu Ratih. "Tapi, pakaiannya malu-maluin, Ma." "Tunggu sebentar!" Bu Ratih langsung berbalik ke dalam. Malilah diam, Hanan pun diam. Keduanya sama-sama duduk di kursi, menunggu apa yang akan dilakukan oleh Bu Ratih. "Ini! Kamu gantilah pakai baju yang lebih layak ini! Setelah itu, kamu bawa Arumi jalan-jalan keluar!" titah Bu Ratih dengan suara dingin, sambil menyodorkan baju dan celana yang terlipat rapi ke tangan Malilah. Malilah menerima dengan raut bingung. "Baju siapa ini? Sepertinya masih sangat baru?" tanya Malilah sambil membuka lipatan kain tersebut. Tiba-tiba Hanan langsung berdiri, merebut kembali baju dan celana dari tangan Malilah dengan kasar. Raut wajah Hanan berubah tegang. "Mama apa-apaan sih? Aku kan sudah bilang, enggak usah dibuka-buka itu lemari. Apalagi sampai isinya dikeluarkan dan dipakai sama dia!" Nada bicara Hanan sedikit melunak, tapi saat menatap Malilah ketika mengucapkan kata dia, kembali meninggi. Malilah yang tidak mengerti apa-apa hanya melongo. "Kenapa Pak Bos jadi marah ke aku? Padahal aku enggak tahu apa-apa!" protes Malilah dengan bibir cemberut. "Ya ... heem! Ya sudah, enggak usah ganti baju. Kamu bawa saja Arumi jalan-jalan sekarang!" Perintah Hanan pada Malilah sambil garuk-garuk kepala. Ekor matanya kembali melirik Malilah yang masih cemberut. Malilah yang bingung dan tak mengerti atas perintah majikannya yang plin plan, malah menatap Hanan dengan wajah penuh keheranan. "Aku keluar sekarang? Pake baju ini?" Malilah menunjuk dirinya sendiri, karena takut salah lagi dalam bertindak. "Iya! Sudah sana keluar! Jangan banyak tanya. Kalau ada yang bertanya kamu siapa, bilang aja baby sitternya Arumi. Jangan banyak omong!" bentak Hanan sambil mengacak rambutnya. Malilah tak berani menjawab ataupun bertanya lagi. Ia langsung mendorong stroller yang berisi Arumi keluar. "Ma. Jangan lagi buka-buka lemari itu. Aku gak suka liat barang-barangnya, apalagi kalo dipakai oleh orang lain!" samar terdengar suara Hanan mengomel pada ibunya. "Kan sayang, bajunya Fania masih bagus-bagus. Lagian pas sama Malilah! Daripada Malilah malu-maluin!" Malilah menghentikan langkah, menarik mundur stroller dan bergeser sedikit ke samping menjauhi pintu mendengar Bu Ratih dan Hanan berdebat sambil menyebut nama Fania dan juga namanya. Siapa Fania? Kenapa Hanan mendadak berubah saat ia ingin memakai baju Fania. Malilah memasang kedua telinga baik-baik dari luar. Sebelah tangannya tetap memegangi stroller Arumi. "Tapi aku tetap enggak suka, Ma!" "Ya kalau enggak suka semua barang Fania dibuang aja! Ngapain juga pake di simpan-simpan rapat lagi di dalam lemari! Nyampah juga ujung-ujungnya nanti!" Suara Bu Ratih terdengar sengit. Lebih sengit daripada saat ia memarahi Malilah. "Wah, kalau begitu, ada orang yang lebih tidak disukai Bu Ratih selain aku di rumah ini? Ada harapan kalau begini. Tapi ... siapa dia, ya? Dan di mana dia sekarang?" Pertanyaan silih berganti mengitari isi kepala Malilah. Hal itu membuatnya semakin tertarik untuk menyimak pertengkaran ibu dan anak tersebut. "Sudah Ma. Enggak usah sering-sering sebut nama Fania! Aku muak dengarnya!" Nada bicara Hanan terdengar mulai meninggi. "Muak! Muak! Muak! Entah berapa ratus kali kamu bilang muak pada perempuan itu disaat kamu marah. Tapi, tetap aja kamu seperti kerbau dicucuk hidung jika sudah berhadapan dengan perempuan tak berguna itu!" Hening, tak terdengar suara Hanan menjawab kemarahan ibunya lagi. "Heran aku sama kamu Hanan. Beraninya ngomong muak kalau orangnya enggak ada. Barang-barangnya juga masih aja kamu sayangi. Huuuhh!" Bu Ratih merampas baju dari tangan Hanan dan langsung melempar benda tersebut keluar dari pintu kemudian meninggalkan Hanan begitu saja. "Apaan sih, Ma!" Hanan langsung melompat keluar untuk memungutnya kembali, dan begitu terkejut melihat Malilah masih berdiri di dekat pintu. Malilah sendiri yang tak menyangka Hanan akan keluar secepat itu untuk menyambar pakaian yang tergeletak di lantai, tak sempat mendorong stroller Arumi untuk menjauh dari pintu. "Hey! Kamu kubayar untuk mengurus anakku! Bukan untuk nguping! Bisa enggak kamu patuh sama perintahku?" Sentak Hanan dengan suara nyaring dan wajah berang, melihat Malilah masih berada di samping pintu. Meski sudah tertangkap basah sedang menguping, Malilah tetap saja pura-pura tak melihat dan tak mendengar ucapan Hanan. Ia menyibukkan diri dengan Arumi, seolah sedang mengajaknya berbicara sambil bermain. "Pok amay-amay, belalang kupu-kupu. Arumi makin pandai, siang malam minum ... minummm, minum apa, Tayaang?" Malilah bertanya sambil mendekatkan wajah pada Arumi. Terdengar Arumi mengeluarkan suara, seolah menjawab pertanyaan Malilah. "Minum cucu .... horee! Arumi pintar. Sekarang, ayo kita jalan lagi," Malilah bertepuk tangan dengan wajah girang, kemudian cepat-cepat mendorong stroller menjauh dari pandangan Hanan yang pasti sedang menatapnya dengan tatapan tajam, setajam silet. Hanan yang kesal karena merasa diacuhkan oleh Malilah menatap punggung ibu ASI anaknya tersebut dengan napas memburu. Jika saja bukan sedang membawa anaknya, mungkin Hanan akan menarik Malilah masuk kembali untuk mengomelinya habis-habisan, karena sudah membuatnya kesal bertubi-tubi di pagi hari. Tapi, nyatanya kali ini Hanan terpaksa menelan rasa jengkelnya. Lekas ia memungut baju yang tergeletak dilantai, dan membawa masuk. Malilah yang baru saja meninggalkan pelataran rumah majikannya menghentikan langkahnya kembali. Ia menoleh, untuk memastikan Hanan sudah masuk. Malilah lalu melanjutkan tugasnya membawa Arumi menikmati udara pagi yang sejuk. Samar-samar Malilah masih mendengar gerutuan dari mulut Hanan. Pasti setelah dia kembali nanti akan mendapat omelan lagi. Malilah menonyor kepala sambil mengomel pada dirinya sendiri. "Malilah! Malilah! Sudah hilang berapa pointmu hari ini di depan Pak Bos dan Bu Ratih gara-gara membantah dan kepo?" Malilah meneruskan langkah dengan tubuh yang sedikit melemah. Ada sedikit sesal di dalam hatinya. Tekadnya semula kan mau mengambil hati, kenapa malah menuai emosi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD