Setelah menyelesaikan makan, Malilah bergegas mencuci piring. Seperti kata Pak Bos, gerakannya harus serba cepat sebelum Arumi terbangun.
Ekor matanya melirik sekilas ke arah Hanan yang kembali masuk dan menggantikan posisinya duduk di kursi tadi. Hanan pun memperhatikan Malilah dengan seksama, sampai Malilah selesai mencuci piring.
"Kenapa?"
Malilah merasa risih, saat menyadari mata Hanan masih saja mengawasi dirinya.
"Enggak apa-apa. Sebenarnya, pekerjaan dapur tidak termasuk dalam tugasmu, kamu fokus ngurus anakku saja," jawab Hanan dengan nada datar.
"Aku sudah biasa melakukannya, ini hanya mencuci bekas makanku sendiri! Lagi pula, Arumi masih tidur. Perempuan kalau sudah bergelar ibu, memang harus melatih dirinya untuk membagi waktu dan memanfaatkan kesempatan jika anak bayi sedang tertidur," sahut Malilah panjang lebar, sambil mengingat nasihat ibunya dulu.
"Iya, sih. Tapi kamu kan bukan ibu anakku," sahut Hanan membuat pangkal tenggorokan Malilah mendadak seret, seperti kurang minun.
Benar juga sih. Kenapa dia bicara seolah dia dan Arumi adalah ibu dan anak kandung? Bikin malu diri sendiri di depan majikan saja. Untuk menghindari salah bicara lagi, Malilah akhirnya meneruskan kegiatannya tanpa bicara lagi.
"Oh, ya Malilah. Nanti kalau Arumi sudah terbangun, sebelum mandi sebaiknta kamu bawa dia berjemur sebentar. Tapi .... bajumu itu loh!" Tiba-tiba Hanan berbicara sambil melirik baju Malilah lagi.
Hanan menopang dagunya dengan sebelah telapak tangan. Satu ujung sikunya ditumpukan ke meja makan.
"Kenapa dengan bajuku, Pak Bos? Apa ada yang robek?"
Malilah yang sudah selesai mencuci bekas makannya memutar tubuh di depan Hanan. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri sambil menunduk, meneliti setiap bagian dasternya dari atas sampai ke bawah.
"Bukan. Kalau bawa anakku keluar rumah, pakailah baju yang layak!" sahut Hanan tegas membuat Malilah langsung terhenyak.
"Apa? Dia bilang pakaianku tidak layak pakai? Ini loh, udah baju-baju pilihan yang aku punya!" Geram Malilah yang hanya tertahan di dalam hati.
"I-ya! Pak Bos. Nanti aku ganti baju lagi," jawab Malilah terpaksa patuh. Mengingat satu-satunya cara supaya ia bisa melunasi semua tanggungan dengan cara cepat adalah dengan mengambil hati Hanan juga Bu Ratih. Tak bisa Malilah memungkiri, jika jauh dilubuk hatinya ia masih berharap Bu Ratih berbaik hati memberinya tambahan minimal dua bulan masa kerja lagi.
"Jangan iya-iya aja! Cepat ganti!"
Malilah menghela napas sambil memutar tubuh dan melangkah meninggalkan Hanan. Biarlah! Iyakan saja dulu. Nanti kalau dia sudah berangkat kerja, dia pun tidak bisa memantau lagi. Begitu jalan pikiran Malilah. Setelah itu ia memilih mengurung diri bersama Arumi di kamar.
***
Perlahan matahari merangkak naik. Malilah menatap jam dinding, sudah di atas jam delapan pagi. Pekerja kantoran pasti sudah berangkat sejak tadi.
Malilah tersenyum sambil mengangkat tubuh mungil Arumi lalu meletakkannya ke dalam stroller yang sudah disiapkan Hanan di dekat tempat tidurnya tadi pagi.
"Kita jalan-jalan pagi dulu ya, Tayaaang!" Malilah mengusap pipi Arumi lembut. Arumi pun menggeliat-geliat layak bayi yang sedang meregangkan otot pada umumnya. Sungguh, Arumi benar- benar obat kesedihan Malilah bila ia teringat sakitnya kehilangan sang buah hati
"Kita halan-halan pagi. Biar cehat. Hoyeee ..."
Malilah mendorong stroller keluar sambil terus mengajak Arumi berbincang dengan bahasa ibu.
"Ehem!"
Malilah tersentak begitu mendekati pintu keluar. Pegangan stroller nyaris terlepas dari genggaman, dan langsung dipegang oleh ....
"Hanan?"
"Apa? Kamu manggil aku apa? Ulangi!" titah Hanan sambil mendekatkan sebelah telinganya pada Malilah.
Malilah menggigit bibir. Ingin rasanya ia menampar mulutnya sendiri yang refleks memanggil nama pada majikannya.
"Ma-af, Pak Bos. A-ku kaget," ucap Malilah dengan napas tak teratur. Bukan mengada-ngada. Dia benar-benar kaget.
"Kaget kenapa? Sedari tadi aku sudah menunggumu keluar membawa Arumi di sini," sahut Hanan.
"Pak Bos ... eumm ... mau ke kantor, ya?" tebak Malilah.
"Ke kantor? Aku ngapain ke kantor? Jadi kamu mikir kalo aku pasti ke kantor dan kamu aman, makanya berani membangkang perintahku?" tanya Hanan lalu tergelak. Gelaknya hanya sesaat.
Sejurus kemudian lelaki dengan rahang kokoh tersebut kembali memindai sekujur tubuh Malilah dari atas sampai ke mata kaki. Bukan tubuh Malilah. Menatap baju yang melekat ditubuh Malilah tepatnya.
Dahi Malilah berkerut banyak. Hanan tidak pergi ke kantor? Dan Malilah tidak berganti pakaian seperti yang diperintahnya tadi? Ah, hari pertama kerja sudah ketiban sial. Ini meleset jauh dari perkiraannya.
"Kamu enggak dengar tadi aku bilang sebelum membawa anakku keluar harus apa?" Hanan menatap Malilah dengan sorot tajam. Sinis wajahnya terlihat jelas karena melihat tak ada perubahan pada penampilan pengasuh putrinya.
"I-iya Pak Bos. Maaf, baru ingat. Ta-di lupa. Aku ganti baju dulu. Titip Arumi sebentar," ucap Malilah langsung berlari kembali ke kamar Arumi. Ia tak ingin memberi kesempatan Hanan mengkritik dan menghina penampilannya lagi.
"Apa dia enggak kerja di kantor, ya? Darimana dia dapat uang banyak? Jangan-jangan hasil pesugihan? Ah, enggak mungkin. Bisa aja kan dia lagi cuti? Ah, iya. Biasanya orang kantoran kan ada cutinya. Sabar Malilah! Cuti biasanya paling lama dua minggu. Setelah itu dia tak akan bisa mengawasimu lagi!"
Malilah menggetok kepalanya sendiri, karena sempat suudzon. Buru-buru ia membongkar isi tas mencari pakaian yang menurutnya bagus.
Tapi ...
Rata-rata memang bajunya sudah lama semua. Walaupun masih bersih dan tak ada sobekkan, tapi tetap seperti usang, karena warnanya sudah mulai memudar. Apalagi baju-baju yang ia punya bukan baju mahal. Kebanyakan hanya stok baju tidur dan daster yang dijual dengan harga seratus dapat tiga. Malilah memilih satu yang dianggapnya paling bagus.
"Bismillah, semoga yang ini layak di mata Pak Bos," gumam Malilah pelan sambil mengganti pakaiannya.
Setelah ganti baju kilat, ia kembali ke depan. Namun masih saja Hanan menatapnya dengan sorot tak suka. Malilah jadi salah tingkah.
"Selain itu enggak ada lagi?" tanya Hanan dengan mata memicing.
"Apanya, Pak Bos?"
"BAJUMU!" tekan Hanan.
"Oh, ya ... ada Pak Bos. Ta-pi ... enggak lebih baik dari ini," sahut Malilah malu-malu.
"Parah semua!" tukas Hanan sambil membuang muka.
Malilah kembali menggerutu di dalam hati. Sepertinya apapun yang ia kenakan, nampak buruk di mata Hanan. Menyebalkan sekali lelaki satu-satunya yang berada di dalam rumah tersebut. Untung saja anaknya menggemaskan. Malilah masih bisa menahan diri karena Arumi.
"Mau gimana lagi, Pak Bos. Memang cuma ini yang paling baru."
"Baru? Kalau kulihat ini pakaian yang sudah dibeli setahun yang lalu, bahkan lebih dari setahun umurnya," cemoh Hanan sambil memutar wajah menatap Malilah lagi.
"Iya, memang ini udah lebih setahun. Tapi, baju ini jarang dipakai, Pak Bos. Lagi pula baju ini sudah bersih, kok!" Malilah menjelaskan dengan dengan jujur.
"Biar bersih tapi kusamnya tetap enggak bisa disembunyikan. Enggak enak dilihat! Seperti kain lap!" Hanan kembali membuang pandangan ke samping, seolah enggan menatap penampilan Malilah.
"Ya enggak usah dilihat, Pak Bos! Mau gimana lagi? Memang aku punyanya yang begini-begini!" sahut Malilah cemberut, bahkan hampir menangis. Lama-lama kesal juga ia karena merasa terus-terusan dihina oleh Hanan. Tanpa sadar ia menepis tangan Hanan dari pegangan stroller. Hanan kembali meraih stroller.
"Sini! Kamu enggak usah keluar! Biar aku yang bawa Arumi jalan-jalan paginya!" Hanan menyingkirkan Malilah dengan menyikut badannya ke samping.
"Jangan, Pak Bos. Ini kan tugasku! Pak Bos sendiri yang bilang tadi," ucap Malilah bersikeras menyingkirkan Hanan kembali.
"Heh, kalau kubilang aku, ya aku aja! Jangan bantah. Kamu malu-maluin!" Hanan memegang kedua bahu Malilah, lalu memaksanya mundur dan menjauh dari Arumi.
"Ada apa sih, pagi-pagi sudah ribut!" suara cetar seiring munculnya Bu Ratih membuat Hanan dan Malilah sama-sama terdiam.
Sama halnya dengan Hanan, Bu Ratih pun menatap Malilah dengan sorot yang ....
Ah! Lebih mengerikan lagi!