"Kenapa kamu ikut anakku kembali? Bukankah aku sudah bilang, kembalikan saja uang anakku!" sambut Bu Ratih dengan nada dingin. Malilah meremas jari-jarinya yang terasa dingin.
"Maaf Bu ... ta-pi ... uangnya, sayaa .... kami belum bertemu suami saya. Saya ... tidak tau dimana dia sekarang," sahut Malilah gugup sambil tertunduk.
"Maksud kamu? Suamimu membawa kabur uang anakku?" Kedua tangan Bu Ratih beralih ke pinggang. Matanya melotot tajam, melihat Malilah mengangguk.
"Lalu, untuk apa kamu ikut Hanan kembali ke sini? Jangan bilang kamu mau meneruskan bekerja di sini?" tukas Bu Ratih dengan suara yang semakin tak ramah.
Malilah kembali mengangguk dengan mata terpejam. Apapun yang akan dikatakan Bu Ratih, hatinya harus siap menerima.
"Harusnya kamu cari pekerjaan lain saja, buat membayar uang anakku. Atau jangan-jangan, itu hanya alasanmu saja? Jangan-jangan suami memang sudah kamu suruh pergi jauh membawa uangnya?" tuding Bu Ratih nampak semakin geram.
Malilah menggeleng. Ia mulai mempertimbangkan saran Hanan sebelumnya.
"Berlutut, tidak? Berlutut, tidak? Berlutut ...."
Dua sisi hati Malilah saling bertolak belakang.
"Sepertinya kalian memang sekongkol dan ingin masuk penjara bersama!" Sengit Bu Ratih membuat Malilah terpaksa mengikuti saran Hanan.
"Tolong Ibu ... ijinkan saya untuk tetap bekerja di sini! Saya butuh pekerjaan ini! Demi Allah, saya benar-benar tidak tahu keberadaan suami saya. Demi Allah, demi kedua orang tua saya, dan demi agama saya. Sa-ya ti-dak bersekongkol dengan suami saya, Bu Ratih. To-long, tolong ... terima saya untuk bekerja disini kembali, to-long ...."
Malilah mengucapkan kalimat tersebut sudah berbarengan dengan isak tangisnya, sembari menjatuhkan diri di hadapan Bu Ratih. Padahal Hanan tidak menyuruh Malilah untuk melakukan ketiga sarannya secara bersamaan. Tapi Malilah memilih langsung memohon.
Lama Malilah terisak, tak ada jawaban. Bu Ratih tak berucap sepatah kata pun. Malilah sendiri bertekad tidak akan berdiri dan menganggkat wajah sampai Bu Ratih luluh dan menerimanya kembali, seperti ucapan Hanan tadi.
"Sa-ya mo-hon, Bu. I-jinkan sa-ya tetap bekerja di sini. Saya butuh pekerjaan ini, Bu. Saya juga tahu cucu ibu sangat membutuhkan ASI saya. Saya mohon, Ibu ...." pinta Malilah lagi dengan suara yang menyanyat hati di sela isak tangisnya.
"Bangunlah!"
Tangis Malilah spontan berhenti. Perintahnya bukan dari suara Bu Ratih, melainkan suara Hanan. Perlahan Malilah mengangkat wajah kemudian langsung berdiri tegak dengan wajah yang terasa memanas. Untung saja malam hari, hingga perubahan warna dan raut wajahnya tak begitu nampak. Sejak kapan Hanan yang berdiri di depan pintu? Kemana Bu Ratih?
"Jangan bilang sejak tadi dia yang kusembah? Sialan!"
Malilah menggerutu pada dirinya sendiri sendiri dalam hati dengan tangan mengepal yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya.
"Masuklah! Kamu kembali diterima bekerja!" ucap Hanan sambil meraih tas dari samping Malilah, kemudian mengantarnya sampai ke kamar semula.
"Mandi cepat, dan gantilah bajumu yang usang itu dengan yang lebih pantas!" Perintah Hanan lagi.
Malilah mengangguk, langsung mencari handuk dan mengeluarkan baju ganti dari dalam tasnya. Sampai di dapur Malilah seperti mengingat sesuatu. Tidak baik bagi ibu yang belum seminggu habis melahirkan mandi air dingin malam-malam. Malilah berpikir sebaiknya ia mandi air hangat. Ia berinisiatif untuk merebus air, dan duduk sebentar menunggu air rebusan mendidih.
Setelah mendidih Malilah langsung membawa air rebusan menuju kamar mandi, dan bengong kemana ia menuang air panasnya yang hanya sepanci tanggung, karena bak mandinya sangat besar.
"Malilaaah! Cepat Mandinya jangan lama-lama!" suara Hanan terdengar dekat.
Aduh!
Malilah makin bingung karena tidak ada baskom yang ukuran besar untuk menuang air. Akhirnya ia kembali ke kamar Arumi.
"Sudah?" tanya Hanan.
"Ya ampuuuun! Kok belum apa-apa sih! Bergerak cepat sedikit, Malilah! Kenapa gerakanmu jadi kaya siput begitu sih!" Omel Hanan.
"Pak Bos, a-ku mau mandi air hangat, ada enggak, baskom yang gedean dikit buat nuang air panasnya?" tanya Malilah polos.
Bukannya menjawab, Hanan malah menatap Malilah dengan wajah dongkol.
"Jadi, dari tadi kamu mau mandi air hangat? Ngerebus air?"
Malilah mengangguk.
"Ya Tuhan. Sini! Kuajarin!"
Hanan memegang lengan Malilah geregetan, dan menariknya ke kamar mandi.
"Ini, Malilah! Kalau mau mandi pakai ini! Tinggal putar buat kamu mengatur tingkat kepanasannya!" ucap Hanan sambil mempraktekkan cara menggunakan Water Heater di dalam kamar mandi tersebut, lalu meninggalkan Malilah buru-buru karena terdengar suara Arumi menangis lagi dari kamar.
"Cepat sedikit mandinya, Malilah! Arumi sudah haus!"
Malilah tak menjawab lagi, buru-buru mandi. Tiba-tiba saja ia merasa sangat rindu ingin memangku dan menyusui Arumi. Setelah mandi, Malilah langsung mengenakan pakaian dan segera menuju kamar Arumi kembali untuk segera menyusui bayi mungil tersebut.
Setelah menyusui Arumi, Malilah merasa perutnya sangat lapar. Entah lupa karena terlalu sibuk mondar-mandir atau sengaja, Hanan tak ada mengajaknya makan dari tadi.
Malilah tak tahan lagi. Lapar yang ia rasa bukan lapar biasa. Ini laparnya seorang wanita menyusui. Malilah memberanikan diri ke dapur walau tanpa dipersilahkan untuk mencari makanan.
Terdengar suara brisik dari arah dapur. Malilah memperlambat langkah. Dahinya mengernyit melihat Hanan sedang memasak seorang diri.
"Pak Bos! A-ku la-par!" ucap Malilah malu-malu.
"Tau! Tunggu sebentar! Duduk saja di situ!" Hanan menunjuk ke kursi. Tak lama kemudian, ia mengambil nasi di piring dan meletakkan di depan Malilah dengan semangkuk sayur bening dan telur dadar. Malilah jadi bingung. Makanan di depannya sungguh tak singkron.
"Maaf. Sepertinya Mama masih kesal, jadi enggak ada masak apa-apa. Makan ini aja dulu, ya?" ucap Hanan dengan suara agak pelan, membuat Malilah terheran-heran sekaligus kagum. Ternyata Hanan bisa mendadak lunak juga. Pakai acara minta maaf pula. Jangan-jangan, dia punya orang yang punya kpribadian ganda.
"Maaf? Pak Bos minta maaf? Sama aku?" Malilah ingin memastikan bahwa telinganya masih berfungsi dengan normal.
"Iya? Kenapa? Ada yang salah dengan kata maaf?" Hanan bertanya heran. Malilah cepat-cepat menggeleng.
"Enggak. Justru aneh karena Pak Bos enggak ada salah minta maaf," jawab Malilah sambil menyibak nasi menggunakan sendok supaya cepat dingin. Entah mitos atau fakta, banyak yang bilang tidak baik makan makanan panas untuk seorang wanita yang sedang menyusui.
"Kuberitahu kau satu hal, Malilah. Bosmu ini orangnya memang lumayan keras. Kalau kamu berbuat kesalahan fatal, tak perduli di depan seratus orang pun kamu tetap akan terima kemarahanku. Tapi aku juga bukan pengecut. Kalau aku memang salah. Di depan seribu orang pun, aku enggak malu untuk meminta maaf. Maka baik-baiklah kamu bekerja dengan aku! Apalagi aku membayarmu di atas rata-rata!" ucap Hanan dengan nada angkuh lagi.
Malilah mengangguk saja supaya Hanan tidak berbicara lagi. Tangannya mulai menyendok makanan.
"Syukurlah kalau Pak Bos sadar kalo sejak tadi berbuat salah ke aku," gumam Malilah sambil tersenyum.
"Ha? Jangan salah sangka. Aku minta maaf bukan untukmu. Aku minta maaf untuk anakku, karena memberinya makanan melalui ibu ASI hanya telur dadar dan sayur bening! Sayurnya wajib dihabisin, supaya ASImu banyak!" titah Hanan sambil berlalu meninggalkan Malilah.
"Dasar orang aneh!" gumam Malilah pelan, dengan perasaan agak malu karena terlalu percaya diri di depan Hanan yang jelas-jelas lebih suka dihormati daripada menghormati dirinya.
***
Pagi-pagi sekali Malilah harus mandi dan berganti pakaian lagi. Setelah mandi ia langsung disuruh sarapan. Matanya terbelalak melihat menu makanan bermacam-macam di atas meja.
"Banyak-banyak makan, apalagi sayur! Jangan lupa susunya dihabiskan," perintah Hanan sebelum meninggalkan meja makan. Rupanya ia sudah lebih dulu sarapan.
"Siapa yang masak?" Pikirnya heran. Ah, pikirkankah? Kebetulan perut lapar, dan ada makanan enak. Sejenak Malilah merasa ia menjadi Tuan Putri di rumah Bosnya. Ia pun makan dengan lahap.
"Sudah selesai makannya, Malilah?" Tiba-tiba Bu Ratih sudah berdiri di dekatnya yang baru saja menyelesaikan makan.
"Eh, em. I-ya Bu. Sudah," sahut Malilah agak gugup.
"Aku mau bicara."
Bu Ratih menarik kursi, dan duduk berhadapan dengan Malilah. Perasaan Malilah mendadak ketar-ketir lagi.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Hanan, soal uang yang tak bisa kamu kembalikan karena dibawa kabur oleh suamimu yang tak berguna itu! Dan ... aku mencoba percaya jika kamu lebih baik dari suamimu," ucap Bu Ratih dengan nada datar. Sedatar tatapan matanya yang mengarah ke tembok rumah.
"Tapi aku tak perduli soal kamu harus menanggung beban apalah di pegadaian sana!"
Malilah tertunduk. Meski masih tajam, setidaknya Bu Ratih mencabut tuduhannya tentang persekongkolan dengan Dimas.
"Tapi, kamu jangan senang dulu. Aku hanya menerimamu sebulan di sini! Itu pun karena kamu sudah terlanjur DIBAYAR. Setelah itu mungkin lebih baik kamu cari pekerjaan lain saja," ucap Bu dengan sengaja menekan pada kata dibayar. Nampaknya ia sangat kesal mengingat uang lima belas juta itu. Usai mengucapkan hal tersebut, Bu Ratih langsung berdiri. Ia bahkan masih tak sudi melihat wajah Malilah.
"Ibu!"
Spontan Malilah berdiri dan menahan langkah Bu Ratih.
"Saya tidak akan membantah apapun keputusan ibu. Tapi bolehkan saya meminta penjelasan? Kenapa ibu begitu membenci suami saya?"
Bu Ratih terdiam, seperti memikirkan sesuatu. Kemudian berlalu dengan ekor mata melirik Malilah tajam. Bukannya memberi penjelasan, wajahnya malah menapakkan ketidaksukaan lebih dari sebelumnya. Itu artinya, Bu Ratih benar-benar tidak ingin mengungkit masalah itu.
Malilah menarik napas panjang dan menghembus dengan kasar. Ia merasa Bu Ratih seperti mengajaknya bermain teka-teki, dan karena perlakuan Bu Ratih yang demikian, Malilah merasa tertantang untuk melakukan sesuatu. Ya! Malilah bertekad akan mengasuh Arumi sebaik mungkin.
"Kita lihat saja sebulan kemudian, Bu Ratih. Siapa yang akan keberatan jika aku meninggalkan Arumi!" tekad Malilah di dalam hati.