Terpaksa Kembali

1312 Words
Hanan yang semula hanya memperhatikan dari dalam mobil, langsung turun dan mendekat pada Malilah. "Kenapa? Ada apa?" tanyanya sambil mengamati Malilah yang menarik rambutnya seperti orang depresi berat. "Hey, kamu siapa? Kenapa kamu bisa sama Malilah? Kamu temannya Dimas ya? Dimasnya mana?" Belum terjawab kebingungan Hanan atas sikap Malilah, Bu Ana langsung memberondongnya dengan pertanyaan yang membuat Hanan bertambah bingung. "Loh? Kok nanya Dimas ke saya? Emang Dimasnya enggak ada di sini?" "Ditanya malah balik nanya. Gimana sih? Kamu temannya Dimas?" ulang Bu Ana dengan nada yang sedikit ketus. "Saya Bosnya Lila! Saya enggak ada urusan dengan Dimas, dan saya hanya mengenal Dimas saat menjemput Malilah untuk bekerja padaku." Hanan memperkenalkan diri dengan nada yang agak sombong. "Bos? Kamu kerja, Malilah? Wah, Baguslah! Berarti dugaanku benar. Kamu datang untuk mengantar uang yang kuminta, kan? Kamu datang buat membayar utang biaya persalinanmu, kan?" Wajah Bu Ana langsung sumringah mendengar ucapan Hanan. "Bu! Bukannya Mas Dimas sudah membayar semuanya? Tadi dia ada kesini kan, Bu?" tanya Malilah dengan wajah kusut. "Bayar apa? Enggak ada! Aku malah telpon-telpon dari tadi enggak nyambung. Padahal sudah tahu besok adiknya mau bayar kuliah! Kamu sendiri kan tahu, Lila! Bapak sudah sakit-sakitan gak bisa lagi nyari uang!" ucap Bu Ana sengit. Wajahnya yang semula cerah seketika berubah berang. "Ada apa, kok ribut malam-malam?" Suara seorang lelaki menegur dari dalam. "Eh, ada Lila. Ayo masuk! Dimasnya mana?" Lelaki tersebut menatap Hanan dengan tatapan heran. "Pak, sa-ya datang bersama ...." "Saya yang mengantarnya. Saya Bosnya Lila!" Hanan langsung memotong ucapan Malilah yang menurutnya terlalu lamban memperkenalkan dirinya. "Oh, saya Pak Ibrahim. Bapak mertuanya Malilah. Eh, tadi kamu bilang apa? Bos?" Pak Ibrahim bertanya dengan nada terkejut. "Iya Pak! Katanya Malilah sekarang kerja sama dia. Makanya dia mau ngantar uang buat bayar utang. Iyakan Lila?" Bu Ana menatapnya Malilah yang langsung mematung. Perasaannya mendadak tak nyaman. "Masuklah dulu. Tak baik berbicara sambil berdiri. Apalagi membicarakan soal uang dan utang," Pak Ibrahim mempersilahkan Malilah dan Hanan masuk dengan ramah. Malilah dan Hanan langsung masuk mengikuti Bu Ana dan Pak Ibrahim. Mereka berempat lalu duduk berhadapan di ruang tamu. "Bapak ... Ibu, mohon maaf kalau saya lancang. Sebenarnya uang saya untuk mengganti uang ibu yang terpakai sudah ada. Tapi .... di-ba-wa Dimas ka-bur!" terang Malilah takut-takut. "Kabur? Kamu bilang Dimas kabur? Membawa uangmu? Hey ... bagus sekali mulutmu menuduh suami sendiri begitu, Malilah!" Bu Ana langsung meradang sambil berdiri. Pak Ibrahim ikut berdiri lalu menarik istrinya agar duduk kembali. "Buu ... sabar Bu! Dengar dulu penjelasan Malilah sampai tuntas!" Pak Ibrahim memegang kedua pundak Bu Ana. "Sabar bagaimana, Pak? Terlalu sering kamu bela dia, Pak! Makanya jadi besar kepala!Mentang-mentang Dimas masih nganggur dan dia mulai kerja, seenak jidatnya menjelek-jelekkan anak kita Pak? Heh, Malilah. Ingat baik-baik! Kalau bukan Dimas yang mau memperistri kamu, mungkin sampai karatan, enggak ada yang mau sama kamu! Dan Kamu! Malah menjelek-jelekkan suamimu! Durhaka kamu Malilah!" kecam Bu Ana dengan napas terengah-engah sambil berdiri kembali. "Buu! Sudah Bu! Sudaah!" Pak Ibrahim kembali memaksa istrinya duduk. Malilah mengusap wajah dengan rasa putus asa. Kedatangannya ternyata hanya untuk menambah beban pikiran dan mendengar makian dari Ibu Mertua saja. Sementara Hanan sejak tadi hanya duduk sebagai penonton. Hatinya belum tergerak sedikitpun untuk membela Malilah yang tertekan, padahal dia sendiri tahu bahwa Malilah tidak berbohong. Hanan baru bergerak manakala ponselnya berbunyi, dan ia memilih untuk berbicara diluar saja meninggalkan mereka bertiga. "Sekarang bagaimana, Malilah? Aku perlu uangnya besok! Aku berhak meminta uangku saat butuh. Utang memang wajib dibayar, kan? " Bu Ana masih menekan Malilah. "Tapi saya benar-benar belum ada uang, Bu!" Malilah berbicara sambil menunduk semakin dalam. "Buu! Sudah! Ibu kan masih punya kalung dan gelang. Digadai saja dulu!" saran Pak Ibrahim. "Gadai? Terus? Yang bayar bunganya siapa? Sampai kapan? Enggak mau aku! Lagian, yang namanya utang tuh, kalau orang tempatnya ngutang tuh butuh, wajib dibayar. Zholim namanya kalau menahan utang!" Bu Ana menolak keras. Wajahnya memerah karena menahan amarah. "Bu! Biar saya yang membayar bunganya, sampai saya bisa menebusnya lunas!" Akhirnya Malilah mengalah. Ia merasa tak nyaman memperpanjang perdebatan dengan mertuanya. "Kamu yakin? Apa jaminannya? Emang kamu kerja apa? Gajimu berapa?" Bu Ana mencibir. "Saya ... kerja ...." Malilah tak jadi melanjutkan ucapannya karena merasa malu. "Dia pengasuh anakku, dan aku menjamin! Dia akan membayar semuanya. Ini kartu namaku. Bila dia mangkir, datang saja ke rumah!" Tiba-tiba Hanan yang selesai menelpon masuk dan meletakkan kartu namanya di meja. "Ayo Malilah! Ikut aku! Arumi tadi sudah mulai rewel. Kami permisi," ucap Hanan tanpa basa-basi menarik tangan Malilah keluar, tanpa perduli lagi apa yang dikatakan oleh Bu Ana dan Pak Ibrahim selanjutnya. "Aku ikut lagi? Ehm, kembali ke rumah Pak Bos?" tanya Malilah dari belakang. "Iya!" tegas Hanan. "Ta-pi, Bu Ratih sudah mengusirku. Aku ... takut!" Malilah berusaha menarik tangannya dari genggaman Hanan. "Mulut Mamaku memang pedas saat berbicara dengan orang yang enggak dia sukai, tapi mamaku enggak seganas ibu mertuamu juga! Mertuamu mengerikan!" sahut Hanan sambil bergidik, mengingat sikap Ibu Mertuanya Malilah tadi. "Kenapa ... Pak Bos berani menjamin aku tadi? Pak Bos serius, atau cuma ingin cepat-cepat pulang saja?" Malilah bertanya karena benar-benar tidak mengerti. "Dua-duanya. Daripada kamu mati depresi di tangan mertuamu! Aku yang repot! Nyesal sebenarnya aku ngaku kalau aku tadi Bosmu. Seribet itu ternyata berurusan sama mertuamu," gerutu Hanan kesal dan kembali memaksa Malilah melangkah cepat menuju mobil. "Heem! Maaf, tapi pelan-pelan aja, Pak Bos." Walau nyelekit, tapi pengakuan Hanan membuat Malilah sedikit senang. Biar tahu rasa sedikit karena terlalu percaya diri dan sombong, terlalu ingin diakui. "Lagian, aku kan enggak nyuruh Pak Bos bilang gitu. Padahal kan, aku sudah dipecat sama Ibu!" Malilah berkilah. "Kamu harus meyakinkan ibu untuk kembali bekerja. Enak aja suamimu hilang, uangku hilang kamu ikut hilang. Setahuku dari teman yang sering keluar masuk pegadaian, di sana ada batas waktu pembayaran bunganya. Kalau lewat, emasnya bakal dilelang!" ucap Hanan membuat Malilah kembali terdiam dengan perasaan risau, memikirkan hidupnya yang menjadi rumit karena ulah seorang Dimas. Hanan benar. Dia harus menunaikan kewajibannya yang sudah dibayar sekalipun uangnya dibawa Dimas yang entah dimana keberadaanya. Ia juga sudah terlanjur menyanggupi untuk menebus kalung dan gelang mertuanya nanti. "Pak Bos! Seharusnya tadi Pak Bos membela aku di sana. Supaya berkurang bebanku, supaya aku enggak dimaki-maki. Setidaknya ikut membenarkan apa yang kubilanglah! Kan aku enggak bohong. Dimas kabur bawa uang bayaranku," keluh Malilah tiba-tiba kesal karena tadi Hanan diam saja saat ia dihardik dan dikatai sebagai istri durhaka. "Aku membayarmu untuk mengurus anakku. Kalau aku ikut sibuk mengurus urusan rumah tanggamu, siapa Bos siapa pekerja di sini?" Malilah akhirnya terdiam hingga mereka berdua meninggalkan rumah Bu Ana. Sepanjang jalan Malilah hanya melamun, dengan tangan berulang kali meremas rambut. Kepalanya serasa mau pecah memikirkan utangnya jadi membengkak karena ulah Dimas. "Cepat turun!" titah Hanan. Malilah terkesiap, tahu-tahu mereka sudah sampai di rumah Hanan kembali. Bukannya turun, Malilah malah meringkuk. Ia sangat takut bertemu Bu Ratih kembali. "Turun! Atau kukunci kamu dalam mobil?" ancam Hanan sambil menutup pintu mobilnya keras-keras. Malilah mendengkus kesal dan cepat-cepat membuka pintu mobil juga. Di depan pintu Bu Ratih sudah menunggu dengan mata melotot, karena melihat Malilah kembali lagi bersama putranya. "Pak Bos! A-ku harus bilang apa! Aku harus gimana?" Malilah bertanya pelan sambil mengekori langkah Hanan dari belakang. "Tinggal bilang, Tolong ibu, ijinkan saya untuk tetap bekerja di sini, saya butuh pekerjaan ini!" "Kalau tetap di usir?" "Maka berlututlah!" Sahut Hanan singkat. "Hah? Berlutut?" Malilah bergumam kecil. "Kalau masih ditolak?" tanya Malilah ngeri membayangkan dramanya. "Maka berlutut sambil menangislah sampai Ibu luluh!" sahut Hanan acuh sambil berlalu melewati Bu Ratih yang berdiri dengan tangan bersidekap di ambang pintu. Hanan langsung menuju ke kamar Arumi. Hanan tak memperdulikan Malilah yang melangkah dengan perasaan yang lebih kacau, bahkan lebih kacau daripada saat ia mendapat makian mertuanya tadi. "Haruskah aku berlutut karena menanggung semua perbuatan Dimas?" tanya Malilah dalam hati pada dirinya sendiri, tanpa berani mengangkat wajah menatap Bu Ratih yang masih menatapnya tajam tanpa bicara di ambang pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD