"Keluar! Dan pergilah!" usir Bu Ratih sekali lagi.
"Baik, Bu. Kalau begitu, sa-ya permisi," ucap Malilah dengan suara terbata. Ia langsung keluar dan kembali menuju kamar Arumi. Malilah meraih tas yang tergeletak dilantai sambil mengusap air mata.
Mungkin setelah ia keluar dari sini, hidupnya akan lebih menderita, karena jika benar uangnya sudah habis oleh Dimas, berarti dia harus kerja keras untuk menggantinya. Apalagi bila Dimas tak kunjung bekerja.
Kesedihan yang sempat memudar selama bersama Arumi, kini kembali lagi. Malilah kembali meletakkan tasnya karena teringat Arumi. Ia ingin mencium Arumi sekali lagi. Malilah lantas menghampiri anak tak berdosa tersebut dan menciuminya berulang kali sambil mengusap air mata.
"Mau kemana?" Suara Hanan tiba-tiba menyentak Malilah yang tengah larut dalam kesedihan. Lagi dan lagi, Hanan masuk tanpa permisi terlebih dahulu.
"Ibumu menyuruhku pulang! Aku akan mengembalikan uangmu. Tapi, tolong katakan pada ibumu. Tolong jangan penjarakan aku," sahut Malilah lirih sambil mengusap air mata.
Hanan terdiam. Hatinya yang semula tenang karena Arumi tak rewel lagi, kembali risau. Tapi, Hanan tidak memiliki keberanian lagi melawan kemauan ibunya, setelah tadi membuat wanita yang melahirkan dirinya tersebut pingsan.
"Ayo! Kuantar!" sahut Hanan akhirnya dengan nada lemas.
"Untuk apa mengantarnya, Hanan! Biar saja ia naik angkot! Atau pesankan saja Gojek!" Tiba-tiba Bu Ratih sudah berada di belakang Hanan yang berdiri di dekat ranjang Arumi.
Hanan langsung berbalik dan menggandeng ibunya keluar. "Sttt! Mama! Dengar! Sabar! Aku kan harus memastikan bahwa ia benar-benar pulang sampai rumahnya. Kalau dia pulang sendiri, aku takut dia kabur, Ma! Kalau uangnya benar-benar sudah habis, aku juga harus atur bagaimana mereka ngembalikannya. Iyakan, Ma?"
Bu Ratih berpikir sebentar mendengar ucapan anaknya. Kemudian ia mengangguk-angguk kecil pertanda setuju.
"Jangan lama-lama, dan jangan mengambil keputusan konyol tanpa berbicara denganku lagi, Hanan!" tekan Bu Ratih dengan nada dingin. Kemudian ia masuk kembali dan duduk di samping Arumi yang masih tertidur pulas. Melihat Bu Ratih duduk di dekat Arumi, Malilah pun langsung menjauh dan keluar membawa tasnya dengan wajah tertunduk.
***
Dalam perjalanan pulang, Malilah hanya diam. Hari sudah beranjak malam. Hatinya benar-benar risau. Hanya kebisuan yang menemani perjalanan mereka hingga sampai ke pelataran rumah Malilah.
Gelap.
Tak nampak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah. Tak ada sedikit pun cahaya yang menyinari rumahnya.
Malilah bergegas turun dari mobil, langsung melangkah cepat menuju pintu. Tangannya langsung memutar handle pintu, dan terkunci. Malilah mengintip melalui sebuah lubang kecil ke dalam rumah. Sama saja. Semua nampak gelap gulita.
"Assalamu'alaikum, Mas!"
Berkali-kali Malilah mengetuk pintu dan memanggil suaminya. Tapi, tak ada jawaban. Rupanya rumah benar-benar kosong. Malilah merutuk dalam hati, karena begitu ceroboh tak membawa satu pun kunci serap rumah saat pergi tadi siang.
"Enggak ada orangnya, kan?" ucap Hanan yang turun belakangan sembari mendekat. Malilah hanya mengangguk pasrah.
"Sudah kuduga. Jangan-jangan suamimu itu melarikan diri, kalau kuperhatikan dan kudengar tadi, suamimu punya bakat penipu!" ucap Hanan sambil menarik bibir, mencebik. Antara mengejek nasib Malilah atau mengejek suaminya yang tidak tahu diri.
"Sabar, Malilah! Sabar!" Malilah berusaha menyabarkan diri sendiri di dalam hati.
Malilah mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Dimas, tapi kemudian tangannya kembali turun dari telinga dengan lunglai.
"Enggak nyambung juga?" tanya Hanan lagi-lagi dengan nada mengejek.
Malilah menundukkan wajah sambil menggeleng kecil. "Bukan, pulsaku habis!"
"Ya ampun!" Hanan geleng-geleng kepala sambil mengeluarkan ponselnya dan menelpon nomor Dimas.
"Nomor suamimu itu sudah nggak aktif! Aku jadi semakin yakin, suamimu kabur!" ucap Hanan sambil terkekeh sinis.
Malilah langsung terdiam. Bagaimana nasibnya malam ini? Hanan bukannya simpati, malah membuatnya semakin sakit hati saja sedari tadi.
"Jadi gimana? Kamu mau semalaman tidur di teras rumahmu yang gelap ini, atau ikut aku kembali ke rumah?" tanya Hanan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling teras rumah Malilah.
Malilah menggeleng. Ia benar-benar bingung karena tak ada memegang uang sepeser pun. Lagi pula ia tak memiliki kerabat di sekitar situ. Satu-satunya kerabat terdekat yang ia miliki adalah rumah mertuanya.
Mertua? Ah, iya! Malilah menepuk dahi, seperti baru sadar jika Dimas masih memiliki orang tua. Pastilah dia disana selama Malilah tidak ada di rumah.
"A-ku ... mau minta tolong. Tolong antarkan aku ke rumah mertuaku! Aku yakin Dimas ada di sana!" ucap Malilah ragu-ragu.
"Jelaskan alasannya, kenapa aku harus mengantarmu kesana!" Hanan berbicara dengan nada yang terdengar enggan.
"Karena tadi ibumu memintaku mengembalikan uangnya, kan? Aku akan mengembalikan uangmu malam ini juga. Setelah itu, kita tidak ada urusan!" sahut Malilah penuh semangat. Rencananya, Malilah akan meminta kembali uang yang sudah diserahkan Dimas pada ibunya. Biar utang mereka akan ia cicil nanti sedikit demi sedikit. Yang terpenting saat ini ia harus mengembalikan uang Hanan.
"Baiklah, kalau begitu," sahut Hanan akhirnya.
Tanpa bicara lagi, mereka pun langsung meluncur ke rumah Bu Ana--mertua Malilah. Begitu tiba di rumah Bu Ana, Malilah langsung mengetuk pintu.
"Assalamu'alaikum."
Terdengar suara seorang wanita menjawab salamnya. Malilah berdiri dengan perasaan harap-harap cemas. Tak lama berselang, pintu rumah itu terbuka lebar. Wajah seorang wanita berusia sekitar 50 tahun menyembul dari baliknya.
"Nah, ini Malilah datang. Kebetulan sekali!" ucap Bu Ana sambil tersenyum lebar. Sepertinya kehadiran Malilah memang sangat di nanti olehnya. Malilah pun berusaha menyunggingkan seutas senyum.
"Malilah, kamu datang untuk membayar uang ibu yang terpakai saat kamu lahiran kemaren, kan? Ibu sudah berkali-kali bilang sama Dimas, uangnya mau dipakai adiknya buat bayar semesteran kuliahnya. Besok waktu pembayaran terakhir. Mana uangnya?"
Tanpa mempersilahkan masuk, Bu Ana malah menyambut mereka dengan menadahkan tangan. Serentet ucapan yang keluar dari mulut Bu Ana membuat Malilah yang semula sangat yakin jika urusannya dengan Hanan malam ini akan selesai seketika mematung. Tubuhnya merasa seperti tidak berpijak di bumi lagi.
"Ee, Malilah. Mana uangnya?" Suara Bu Ana mulai tak ramah.
"Maaf, Bu. Bukannya sudah dibayar sama sama Mas Dimas, ya? Mas Dimasnya ada disini kan, Bu? Sa-ya kesini mau ketemu sama Mas Dimas," sahut Malilah terbata-bata. Mata Bu Ana seketika melotot mendengar ucapan Malilah.
"Kamu ini istrinya, malah nyari Dimas. Bukannya datang untuk membayar utang. Pantas saja anakmu enggak dikasih umur panjang! Jadi istri aja enggak becus, apalagi jadi ibu!" Maki Bu Ana membuat hati Malilah kembali tersayat.
"Ujian apa ini, Tuhaaan?" Rintih Malilah dalam hati sambil menarik rambutnya kuat-kuat. Kepalanya serasa mau pecah karena berbagai pertanyaan berputar memenuhi rongga otaknya.
Berarti Dimas berbohong? Uang ibunya belum dikembalikan? Mungkinkah uangnya masih ada? Kalau benar habis, uangnya kemana? Dimana pula ia harus mencari keberadaan Dimas?