"Li-ma be-las ju-ta. Ya Ampun, Ha-naaan!" Bu Ratih berbicara terputus-putus.
"Mama! Ma! Maafkan Hanan, Ma," Hanan begitu panik, menyadari Bu Ratih sesak napas sampai nyaris pingsan karena ulahnya.
"Malilah! Bantu angkat mama ke kamar! Kamu angkat bagian kakinya!" perintah Hanan.
"Ta-pi. Pak Bos. Saya kan baru habis lahiran. Mana boleh angkat yang berat-berat." Malilah menjadi bingung sendiri.
"Ya ampun. Ya udah! Minggir. Aku angkat sendiri! Kamu ambilin air, sana!" titah Hanan sembari menggotong tubuh Bu Ratih seorang diri.
"Di-mana ambil airnya?" Malilah kembali memasang wajah bingung.
"Astaga! Lila! Ya di dapur masa iya ngambil air minum di WC!" Hanan menghentikan langkah sambil menoleh dengan wajah jengkel.
"Oh, air minum," gumam Malilah sedikit sebal karena Hanan bicara tidak jelas. Dengan langkah cepat ia menuju ke dapur. Malilah cukup heran. Kenapa rumah sebesar itu tidak ada pembantu satu pun. Cukup lama ia tengak-tengok mencari keberadaan gelas.
"Malilaaaah! Cepat air minumnyanya!" Terdengar suara teriakan Hanan.
"I-iya! Pak Bos!"
Mendengar suara Hanan berteriak, Arumi yang semula tertidur nyenyak di kamar sebelah, mendadak terbangun dan kembali menangis.
Malilah buru-buru mengantar air minum ke kamar Bu Ratih, kemudian setengah berlari menuju ke kamar Arumi. Untung saja posisi kamar bersebelahan. Dalam hati ia menggerutu karena Hanan memanggilnya dengan berteriak.
"Uuuhh .... tayang ... tayang! Olang libut kah, Nak. Dia kaget?" Malilah mengangkat tubuh mungil Arumi sambil mengajaknya bicara, seolah yang diajak bicara mengerti saja apa yang dia ucapkan.
Malilah menatap Arumi yang mulai kehausan cukup lama. Rindu pada buah hatinya yang telah pergi sedikit terobati. Perlahan tangannya mulai meraih bayi mungil tersebut dan mengangkat ke pangkuan. Sebelah tangan Malilah meraba sesuatu yang sedari tadi terasa berdenyut di balik bra miliknya, lalu mengarahkan bibir mungil bayi itu ke salah satu area sensitif milik wanita tersebut.
Selayaknya seorang bayi yang haus dan lapar, Arumi langsung menyedot ASI yang melimpah dengan cepat. Malilah pun mulai merasa nyaman, karena perlahan rasa sakit dan bengkak di sekitar Payudaranya benar-benar berkurang.
Malilah mengusap rambut bayi mungil tersebut penuh kasih sayang sambil menarik bibir. Ini pertama kalinya Malilah mengukir senyum bahagia kembali, setelah kehilangan si buah hati. Wajah Arumi yang polos di dalam pangkuan membuat hatinya menjadi begitu damai. Malilah tak bisa berhenti menatap bayi mungil yang terus menyedot ASInya dengan begitu rakus.
Namun senyumnya tak bertahan lama, ketika Hanan masuk ke kamar dan menghampiri mereka berdua. Buru-buru Malilah memutar tubuh, menjauhkan bagian depan tubuhnya dari pandangan Hanan. Mulutnya mengerucut, karena sebal Hanan main selonong saja saat ia tengah menyusui.
"Malilah! Nanti kalau Arumi sudah tertidur lagi, mama mau bicara sama kamu di kamarnya!" ucap Hanan sambil meletakkan tas yang tadi dibawa oleh Dimas ke lantai begitu saja.
Malilah diam saja. Hanan yang kembali bersiap meninggalkan kamar Arumi, mengurungkan langkah. Ia berbalik dan mendekat pada Malilah. Malilah kembali memutar tubuh dengan perasaan jengkel.
"Kamu dengar enggak sih, apa yang aku bilang barusan?" tanya Hanan dengan suara datar. Kedua tangannya diselipkan ke dalam saku celana.
"Iya, dengar, Pak Bos!" sahut Malilah pelan.
"Kalau dengar, kenapa baru jawab?"
Malilah menarik napas dalam-dalam dan menghembus dengan kasar.
"Emang kalau Pak Bos bicara harus selalu dijawab, ya?" tanyanya berusaha bersuara pelan, meski sebenarnya cukup jengkel karena Hanan tak kunjung pergi dari kamar tersebut.
"Ya iyalah! Enggak sopan kalau diajak ngomong enggak jawab. Aku ini kan bosmu!" ucap Hanan lagi kembali bersikap angkuh.
Malilah kembali menarik napas dalam dan menghembus dengan kasar. "Iya. Maaf Pak Bos. Nanti aku akan selalu jawab. Tapi, Pak Bos juga kalau masuk kamar harus ketuk pintu dulu, ya? Jangan main selonong aja. Aku lagi nyusuin Arumi."
"Oh, itu. Iya! Iya. Maaf, kelupaan," potong Hanan sembari melangkah keluar dengan cepat tanpa mau melihat dan mendengarkan Malilah bicara lagi. Malilah kembali menarik napas besar. Jari jempolnya mengusap pipi Arumi yang kembali terpejam dengan lembut.
"Bagiku kamu sangat menyenangkan, Nak. Tapi Papamu sangat menyebalkan!"
Malilah menurunkan tubuh Arumi dari pangkuannya dengan gerakan yang sangat pelan dan lembut. Bayi mungil itu sudah tertidur kembali. Malilah harus segera menemui Bu Ratih. Entah apa yang ingin Bu Ratih bicarakan dengannya. Sebelum ke kamar Bu Ratih, Malilah menyempatkan diri berganti pakaian, supaya lebih leluasa bergerak.
"Ada apa, Bu?" tanya Malilah begitu tiba di kamar Bu Ratih. Bu Ratih yang semula menghadap ke arah pintu kamar, langsung membalikkan badan. Malilah merasa Bu Ratih benar-benar benci melihat dirinya. Hati Malilah yang semula begitu senang bersama Arumi kembali resah. Sikap Bu Ratih seperti sinyal permusuhan.
"Sebaiknya, kamu kembalikan saja uang yang sudah dibayarkan oleh Hanan tadi, Malilah. Minta lagi ke suamimu! Setelah itu kamu cari pekerjaan lain saja!" ucap Bu Ratih membuat sekujur tubuh Malilah seketika menjadi lemas.
Bukankah tadi Dimas bilang uangnya sudah habis untuk membayar utang? Utang mereka mereka ada di mana-mana karena selama dia hamil dulu, Dimas lebih sering menganggur daripada bekerja.
"Tapi, Bu! Tadi suami saya bilang, uangnya sudah habis dipakai membayar utang untuk biaya persalinan saya dulu," jawab Malilah lirih sambil menunduk, nyaris tak terdengar.
Bu Ratih bangkit dengan wajah masam. Kali ini ia kembali memutar tubuhnya untuk menatap Malilah. Dengan kedua tangan yang menempel di pinggang ia berbicara dengan nada yang terdengar menghardik. "Omong kosong! Mana mungkin uang lima belas juta habis dalam sehari! Sepertinya kalian sekongkol ingin menipu anakku juga! Emang dasar kalian suami istri sama-sama penipu!"
"Demi Allah, ibuuu .... saya tidak ada niat menipu. Saya tidak mengerti kenapa Ibu melempar tuduhan begitu kepada saya," ucap Malilah dengan suara bergetar mendengar ucapan Bu Ratih.
"Kalau kamu mau tau alasannya, tanya saja pada suamimu! Tanya, bagaimana cara dia menipuku. Sebenarnya aku enggak suka mengingat hal yang bikin tensiku naik. Tapi karena melihat kamu, aku jadi ingat kembali. Sekarang, aku minta kembalikan saja uang anakku, dan urusanku denganmu juga suamimu anggap saja beres!" titah Bu Ratih dengan suara berang.
Dimas pernah menipu Bu Ratih? Dalam hal apa mereka pernah terhubung?
Ingin sekali ia bertanya, tapi semua kata-katanya hanya tertahan di tenggorokan.
"Ta-pi, Bu ...."
"Tidak ada kata tapi. Keluar dan pulanglah!Jangan pernah kembali jika belum mengembalikan uang anakku! Dan ingat! Jangan coba-coba melarikan diri. Jika itu terjadi, aku bersumpah akan mengirim kamu juga suamimu itu untuk berbulan madu di penjara!" usir Bu Ratih sambil mengancam, membuat Malilah mematung.
Dari nada bicara dan sorot matanya, Bu Ratih tidak main-main. Bagaimana jika benar Dimas sudah menghabiskan uang lima belas juta itu? Sungguh, mendengar kata penjara, Malilah menjadi takut. Sangat takut!