"Pa, gimana ini Pa? Aku kan enggak pernah mengasuh Arumi? Aku bingung." "Kamu aja bingung, apalagi aku, Ma. Kita kan cuma ketemu Arumi waktu Fania melahirkan di rumah sakit." Mendengar mereka berbincang dengan menyebut nama Arumi, Malilah menghentikan langkah. Tanpa sadar ia berbalik dan berlari menuju pintu kamar majikannya. Malilah membuka pintu tanpa mengetuk. Wajahnya nanar menatap ke pembaringan Sang Majikan. "Arumiiiiii!" Malilah menghambur masuk dan tangisnya pecah, saat mengangkat tubuh Arumi ke dalam dekapan. Malilah mencium bayi mungil tersebut berulang kali, bak seorang ibu telah yang meninggalkan anaknya dalam kurun waktu yang lama . Perlahan tangis Arumi mulai mereda, berganti dengan tangisan Malilah yang memenuhi kamar majikan baru yang menatapnya penuh tanda tanya. Tan

