"Tenang Bu, tenang. Kita bicara dulu baik-baik." Hanan yang mulai paham situasi berusaha menenangkan wanita yang baru saja menghampiri mereka berdua dengan emosi tersebut. "Kamu ... siapanya Lila? Kok malah kamu yang bicara?" Bu Tuti menatap Hanan dengan raut curiga. Matanya hampir-hampir tak berkedip. Kali ini Hanan hanya tersenyum sambil meraih kertas dari tangan Bu Tuti. Alisnya sedikit terangkat, begitu melihat totalan utang yang terbagi dalam dua versi. Utang sembako atas nama Malilah, tidak seberapa. Hanya sekitar tiga ratus ribuan. Tapi catatan satunya lagi, utang rokok atas nama Dimas, hampir satu juta. Hanan geleng-geleng kepala. Ia tak habis pikir kenapa Dimas begitu bejad menjadi seorang lelaki. "Tenang aja. Nanti semua utang-utang ini akan lunas. Hari ini juga," ucap Hanan

