bc

Hasrat Halal Tuan Suami

book_age18+
20
FOLLOW
1K
READ
family
HE
love after marriage
fated
friends to lovers
arranged marriage
kickass heroine
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
serious
city
affair
friends with benefits
addiction
like
intro-logo
Blurb

Alya adalah gadis yang dicap "nakal" karena hobinya yang suka nongkrong, meski sebenarnya ia tetap menjaga kehormatan dirinya. Ia tidak pernah pacaran, hingga sebuah perjodohan mempertemukannya dengan Rayhan—pria mapan yang terlihat pendiam, dingin, dan kaku. Siapa sangka, di balik sifat kakunya, Rayhan menyimpan sisi liar yang hanya ia tunjukkan di dalam kamar. Bagi Rayhan, Alya adalah satu-satunya pelampiasan hasrat yang halal. Namun, pernikahan mereka tak berjalan mulus begitu saja. Dari anak ART yang merasa ditikung dan berusaha menggoda Rayhan, hingga sahabat Rayhan yang mencoba melecehkan Alya di saat rumah sedang kosong. Diuji dengan berbagai godaan, sanggupkah Rayhan tetap menjaga hasratnya hanya untuk sang istri? Dan sanggupkah Alya bertahan menjadi "benteng" terakhir bagi suaminya?

chap-preview
Free preview
Bab 1: Takdir di Balik Cadar Prasangka
Suara deru mesin mobil yang memasuki halaman rumah terdengar seperti lonceng kematian di telinga Alya. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu meremas ujung gamis berwarna nude yang dipaksakan ibunya untuk ia kenakan sore ini. Biasanya, jam segini Alya sudah berada di kafe langganannya, tertawa lepas bersama teman-temannya dengan celana jin robek dan kaos oblong favoritnya. Namun hari ini, ia harus duduk mematung di dalam kamar, menunggu nasib yang ditentukan oleh orang tuanya. Alya dikenal sebagai gadis "nakal" di lingkungannya. Hanya karena ia sering pulang malam setelah nongkrong dan memiliki lingkaran pertemanan yang didominasi laki-laki, orang-orang dengan cepat melayangkan fitnah. Padahal, tak satu pun dari laki-laki itu yang pernah menyentuh ujung jarinya. Alya adalah penjaga benteng yang sangat kokoh bagi dirinya sendiri. Ia hanya ingin menikmati masa mudanya sebelum terkekang oleh aturan rumah tangga. Namun, sang ayah yang sudah lelah mendengar desas-desus miring, memutuskan bahwa perjodohan adalah satu-satunya jalan untuk "menjinakkan" putri tunggalnya itu. "Alya, ayo keluar. Tamunya sudah menunggu di ruang tamu," suara lembut ibunya terdengar dari balik pintu. Alya menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Ia bercermin sekali lagi. Wajahnya yang cantik alami hanya dipoles sedikit riasan tipis. Ia sengaja tidak mau berdandan menor, berharap pria yang datang itu akan ilfeel dan membatalkan semuanya. Dengan langkah gontai, ia mengikuti ibunya menuju ruang tamu. Di sana, sudah duduk seorang pria paruh baya bersama seorang pemuda yang terlihat sangat kontras dengan dunia Alya. Pria muda itu mengenakan kemeja batik sutra yang sangat rapi, rambutnya tertata klimis, dan wajahnya datar tanpa ekspresi. Kacamata berbingkai hitam bertengger di hidung mancungnya, menambah kesan kaku dan intelektual. Dia adalah Rayhan, seorang pengusaha muda sukses yang dikenal dingin dan tak tersentuh. "Ini putri kami, Alya," ujar ayah Alya dengan nada bangga yang dipaksakan. Alya menundukkan kepala, ia tak berani menatap mata pria di depannya. Namun, ia bisa merasakan sepasang mata di balik kacamata itu sedang memperhatikannya dengan intens, seolah-olah sedang membedah setiap inci kepribadiannya. "Rayhan, bagaimana?" tanya ayahnya Rayhan, memecah keheningan yang canggung. Rayhan berdehem pelan. Suaranya berat dan rendah, mengirimkan getaran aneh ke tengkuk Alya. "Saya setuju, Pa. Jika Alya juga bersedia." Alya tersentak. Hanya begitu? Tidak ada pertanyaan? Tidak ada perkenalan? Ia ingin sekali berteriak bahwa dia bukan gadis penurut yang mereka bayangkan. Ia ingin bilang bahwa dia suka keluar malam dan tidak bisa memasak. Namun, tatapan memohon dari ibunya membuat lidah Alya kelu. Akhirnya, dengan suara nyaris berbisik, Alya menjawab, "Alya... manut sama Ayah." Keputusan itu diambil hanya dalam waktu tiga puluh menit. Dua minggu kemudian, sebuah akad nikah sederhana namun khidmat digelar. Alya resmi menjadi istri dari Rayhan. Sepanjang acara, Rayhan tetaplah sosok yang irit bicara. Ia menjabat tangan ayah Alya dengan mantap dan mengucapkan ijab kabul dalam satu napas yang tenang. Namun, saat sesi foto di mana Rayhan harus menyentuh kening Alya, gadis itu merasakan panas yang menjalar dari telapak tangan pria itu. Sebuah sentuhan yang terasa posesif sekaligus penuh rahasia. Malam itu, di rumah besar milik Rayhan yang bernuansa modern minimalis, Alya duduk di tepi ranjang dengan perasaan gelisah. Kamar ini sangat luas, lebih luas dari rumah lamanya, tapi ia merasa sesak. Ia sudah mengganti kebaya pengantinnya dengan daster sutra tipis berwarna putih yang sebenarnya ia beli karena iseng, namun kini terasa sangat berani di depan pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya. Pintu kamar mandi terbuka. Rayhan keluar hanya dengan mengenakan celana kain hitam dan kaus putih yang pas di tubuhnya, menonjolkan otot-otot dadanya yang selama ini tersembunyi di balik kemeja formal. Rambutnya basah, dan ia tidak lagi mengenakan kacamata. Tanpa kacamata, mata Rayhan terlihat jauh lebih tajam—dan jauh lebih berbahaya. Rayhan berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentuman yang menggetarkan nyali Alya. Ia berdiri tepat di depan Alya, membuat gadis itu harus mendongak. "Kau terlihat takut, Alya," ujar Rayhan datar. "Aku... aku hanya belum terbiasa," jawab Alya terbata. Rayhan duduk di sampingnya, membuat kasur empuk itu sedikit amblas karena beban tubuhnya. Ia mengulurkan tangan, menyelipkan helai rambut Alya ke belakang telinga. Jari-jarinya terasa panas menyentuh kulit pipi Alya yang halus. "Orang-orang bilang kau gadis yang berani di luar sana. Suka nongkrong, suka tantangan. Benar begitu?" tanya Rayhan, kali ini suaranya terdengar sedikit lebih serak. Alya memberanikan diri menatap mata suaminya. "Apa Mas Rayhan menyesal menikahiku karena berita-berita itu?" Rayhan terdiam sejenak. Sebuah seringai tipis yang nyaris tak terlihat muncul di sudut bibirnya. "Menyesal? Justru sebaliknya. Aku suka tantangan. Dan aku tahu... berita di luar sana tidak selalu benar. Aku bisa melihatnya dari matamu." Tangan Rayhan turun ke pundak Alya, lalu perlahan menarik gadis itu mendekat. Napasnya kini terasa di permukaan kulit leher Alya, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Alya, dengar. Di luar rumah ini, aku adalah Tuan Rayhan yang kaku dan membosankan. Tapi di dalam kamar ini, aku hanya laki-laki biasa... yang memiliki hasrat luar biasa besar pada apa yang sudah menjadi hak halal bagi diriku," bisik Rayhan tepat di telinga Alya. Alya merinding. Kalimat itu tidak terdengar seperti rayuan gombal laki-laki di kafe yang biasa ia dengar. Ini terdengar seperti sebuah pengakuan sekaligus peringatan. Rayhan perlahan melepaskan kancing teratas kemejanya, matanya tidak sedetik pun lepas dari wajah Alya yang kini memerah sempurna. "Mas... apa Mas tidak lelah? Tadi tamunya sangat banyak," Alya mencoba mencari alasan untuk menunda ketegangan ini. Ia merasa seperti anak domba yang terjebak di depan serigala yang sangat tenang namun lapar. Rayhan terkekeh rendah. Tawa itu terdengar sangat maskulin dan seksi, sangat berbeda dengan wajah kakunya saat akad nikah tadi siang. "Lelah? Rasa lelahku hilang saat melihatmu duduk di sini dengan daster yang... sejujurnya sangat menguji kesabaranku, Alya." Rayhan menarik tangan Alya, menuntun jemari lentik gadis itu untuk menyentuh dadanya yang bidang. Alya bisa merasakan detak jantung Rayhan yang kuat dan cepat. Ternyata, pria yang terlihat tenang ini pun sedang berjuang menahan diri. "Kau tahu kenapa Ayahku memilihmu?" tanya Rayhan sambil menatap dalam ke netra Alya. Alya menggeleng pelan. "Mungkin karena Ayahku yang meminta?" "Bukan," jawab Rayhan tegas. "Karena aku yang memilihmu. Aku pernah melihatmu sekali, di sebuah kedai kopi. Kau sedang tertawa bersama teman-temannmu, tapi saat ada laki-laki yang mencoba menyentuh bahumu, kau menangkisnya dengan sangat tegas. Di saat itulah aku tahu, kau adalah permata yang tertutup debu prasangka orang lain. Kau menjaga dirimu, Alya. Dan aku ingin menjadi satu-satunya orang yang memiliki hak untuk membuka 'debu' itu." Mendengar pengakuan itu, pertahanan Alya runtuh. Ia merasa sangat dihargai. Selama ini orang hanya mencibirnya, tapi pria yang baru dikenalnya ini justru melihat sisi yang paling ia jaga. Air mata hampir menetes di pipi Alya, namun Rayhan dengan sigap mengusapnya dengan ibu jari. "Jangan menangis. Malam ini bukan untuk kesedihan," Rayhan menarik Alya ke dalam pelukannya. Aroma parfum maskulin bercampur wangi sabun yang segar menyeruak ke indra penciuman Alya. Rasanya sangat nyaman, lebih nyaman dari pelukan siapa pun yang pernah ia rasakan. Rayhan perlahan membaringkan Alya di atas kasur king size yang empuk. Lampu kamar sengaja ia redupkan, menyisakan cahaya temaram yang menambah suasana intim. Alya memejamkan mata saat Rayhan mulai memberikan kecupan lembut di keningnya, turun ke kedua matanya, lalu ke pipinya. "Mas Rayhan..." desah Alya lirih. "Panggil aku Tuan, jika kita sedang di dalam kamar seperti ini," bisik Rayhan dengan nada perintah yang lembut namun tak terbantahkan. Sisi dominan Rayhan mulai muncul, sisi yang tak pernah dibayangkan oleh siapa pun di kantornya. Malam itu, di bawah keremangan lampu, Alya menyadari satu hal. Rayhan bukanlah pria kaku yang membosankan. Dia adalah api yang selama ini terperangkap dalam es. Dan malam ini, api itu mulai membakar segalanya, menyisakan hanya hasrat halal yang meluap-luap di antara mereka berdua. Namun, di tengah kebahagiaan baru itu, Alya tidak menyadari bahwa di luar kamar sana, di sebuah paviliun kecil di belakang rumah mewah itu, ada sepasang mata yang menatap ke arah jendela kamar mereka dengan penuh kebencian. Sari, anak dari asisten rumah tangga di rumah Rayhan, meremas ponselnya dengan geram. Ia sudah bertahun-tahun mengabdi di sana, berharap suatu hari Rayhan akan meliriknya. Ia sudah menyiapkan segalanya, bahkan sering kali sengaja memakai pakaian yang sedikit terbuka saat membawakan kopi ke ruang kerja Rayhan, namun pria itu tak pernah sekali pun menoleh. Dan sekarang, seorang gadis "jalanan" seperti Alya datang dan merebut posisi yang sangat ia inginkan. "Kita lihat saja, seberapa lama Tuan Rayhan betah bersamamu, Gadis Liar," gumam Sari dengan senyum sinis. Ia sudah merencanakan sesuatu. Sesuatu yang akan membuat Alya terlihat sangat buruk di mata Rayhan. Di sisi lain, kehidupan baru Alya baru saja dimulai. Ia belum tahu bahwa setelah ini, kebebasannya akan sangat dibatasi oleh Rayhan yang sangat posesif. Ia belum tahu bahwa setiap gerak-geriknya akan dipantau oleh CCTV yang dipasang Rayhan bukan hanya untuk keamanan, tapi untuk memastikan istrinya tidak disentuh oleh mata pria lain. Malam pertama yang seharusnya menjadi akhir dari sebuah penantian, ternyata hanyalah awal dari drama panjang yang penuh gairah dan air mata. Hasrat Rayhan yang begitu besar menjadi berkah sekaligus tantangan bagi Alya. Sanggupkah ia menghadapi sisi liar suaminya setiap malam, sembari bertahan dari serangan-serangan tak terlihat dari orang-orang yang ingin menghancurkan kebahagiaan mereka? Alya memeluk leher Rayhan lebih erat, mencoba mencari perlindungan di balik tubuh kokoh itu, tak menyadari bahwa badai besar sedang bersiap menerjang mahligai rumah tangga mereka yang masih seumur jagung.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.5K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.7K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
7.7K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.5K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
8.8K
bc

Unchosen Wife

read
5.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook