Bab 4: Tamu di Balik Pintu

1273 Words
Pagi itu, suasana di kediaman Rayhan terasa sedikit berbeda. Jika biasanya Rayhan berangkat sangat pagi, kali ini ia masih duduk di ruang tengah dengan laptop di pangkuannya. Alya, yang baru saja selesai membereskan tempat tidur, turun dengan pakaian yang jauh lebih sopan—gamis santun berwarna biru muda dengan kerudung senada. Meskipun Rayhan sangat suka melihatnya dengan pakaian berani di kamar, pria itu sangat tegas bahwa Alya harus tertutup rapat jika keluar dari zona pribadi mereka. "Mas tidak ke kantor?" tanya Alya sambil mendekat. Rayhan mendongak, matanya yang tajam di balik kacamata memindai penampilan Alya dari atas sampai bawah. Ia tampak puas melihat istrinya tertutup rapat. "Aku ada meeting via Zoom sebentar lagi. Dan... Doni bilang dia ingin mampir ke sini untuk memberikan berkas yang tertinggal." Mendengar nama Doni, Alya teringat cerita Rayhan bahwa Doni adalah sahabatnya. "Oh, kalau begitu aku siapkan camilan dan kopi ya, Mas?" Rayhan menutup laptopnya perlahan. Wajahnya yang tadi tenang mendadak berubah sedikit kaku. "Bi Minah yang akan menyiapkannya. Kau cukup di dapur saja atau di taman belakang. Aku tidak ingin kau terlalu banyak berinteraksi dengan Doni." Alya mengernyit. "Kenapa? Dia kan sahabat Mas sendiri?" Rayhan berdiri, berjalan mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa sentuhan. Ia memegang kedua bahu Alya dengan posesif. "Doni adalah sahabat bisnisku, Alya. Tapi dia tetaplah laki-laki. Dan aku tidak suka cara laki-laki lain menatap apa yang sudah menjadi milikku. Mengerti?" Alya hanya bisa mengangguk pelan. Ia sudah mulai terbiasa dengan aturan-aturan aneh Rayhan. Baginya, ini adalah bentuk cinta yang luar biasa, meski terkadang terasa menyesakkan. Tak lama kemudian, suara bel rumah berbunyi. Sari, si anak ART, dengan sigap berlari membukakan pintu. Dari dapur, Alya bisa mendengar suara tawa yang keras dan terdengar sangat akrab. Itu pasti Doni. "Wah, Ray! Rumahmu ini sudah seperti istana sejak ada permaisuri baru," suara Doni terdengar menggelegar di ruang tamu. Alya yang sedang berada di pantry dapur untuk membantu Bi Minah menuangkan jus, tanpa sengaja bisa melihat ke arah ruang tamu melalui celah pintu kayu yang sedikit terbuka. Di sana, seorang pria dengan kemeja motif bunga yang berani dan rambut sedikit gondrong sedang duduk bersandar dengan santai. Itu Doni. Penampilannya sangat kontras dengan Rayhan yang selalu rapi dan formal. "Mana istrimu? Aku ingin melihat secantik apa wanita yang bisa menaklukkan 'Si Robot' ini," tanya Doni sambil melirik ke arah lorong dapur. Rayhan menjawab dengan nada datar yang dingin. "Dia sedang istirahat. Jangan banyak bicara, mana berkasnya?" Alya bermaksud untuk tetap di dapur sesuai perintah Rayhan. Namun, tiba-tiba Sari masuk ke dapur dengan wajah yang sulit diartikan. Ia menatap Alya dengan senyum licik. "Nyonya, Tuan Rayhan minta kopi lagi. Bi Minah sedang di belakang menjemur baju, bisakah Nyonya yang mengantarkannya? Tuan bilang ingin menunjukkan kalau istrinya rajin," ujar Sari dengan nada yang sangat meyakinkan. Alya ragu sejenak. "Tadi Mas Rayhan bilang aku tidak perlu keluar." "Mungkin Tuan berubah pikiran, Nyonya. Malu kan kalau tamu penting tidak disuguhi oleh nyonya rumah sendiri?" Sari terus menghasut. Tanpa curiga bahwa ini adalah jebakan Sari untuk memicu kemarahan Rayhan, Alya akhirnya membawa nampan berisi dua cangkir kopi panas menuju ruang tamu. Ia berjalan dengan anggun, mencoba menjaga martabatnya sebagai istri Rayhan. Begitu Alya melangkah masuk ke ruang tamu, suasana mendadak hening. Laptop Rayhan bergeser sedikit, dan mata pria itu langsung berkilat tajam—campuran antara marah dan terkejut. Sedangkan Doni, pria itu langsung tegak duduknya. Matanya membelalak, menatap Alya tanpa berkedip dari ujung kaki hingga wajah. "Mas, ini kopinya," ujar Alya lembut, mencoba mengabaikan tatapan lapar dari Doni. "Wow..." Doni bergumam, suaranya hampir menyerupai bisikan yang menjijikkan di telinga Alya. "Ray, kau benar-benar beruntung. Foto di undangan sama sekali tidak mewakili kecantikan aslinya. Dia... luar biasa." Rayhan berdiri dengan cepat, bahkan kursinya sampai berderit keras. Ia mengambil nampan dari tangan Alya dengan gerakan kasar. "Terima kasih, Alya. Sekarang kembali ke kamar." Alya tertegun melihat kemarahan di mata suaminya. "Tapi Mas..." "Sekarang!" perintah Rayhan, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengerikan. Alya segera berbalik dan setengah berlari menuju tangga. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Ia merasa salah, padahal ia hanya berniat baik. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar suara Doni yang tertawa kecil. "Jangan galak-galak begitu, Ray. Istrimu itu sangat cantik. Kalau aku jadi kau, aku juga akan menyembunyikannya di dalam lemari besi agar tidak dicuri orang." Rayhan tidak menjawab. Ia membanting berkas di meja dan menatap Doni dengan tatapan yang seolah siap membunuh. "Satu kata lagi tentang istriku, Don, dan kerja sama kita berakhir hari ini juga. Keluar dari rumahku." "Oke, oke! Sensitif sekali," Doni mengangkat tangan, lalu berdiri. Namun sebelum ia keluar, matanya sempat melirik ke arah CCTV di pojok ruangan, lalu ke arah tangga tempat Alya menghilang. Ada rencana busuk yang mulai berputar di kepalanya. Setelah Doni pergi, Rayhan tidak langsung menyusul Alya. Ia justru pergi ke ruang kerjanya dan membuka monitor CCTV. Ia memutar balik rekaman di dapur. Di sana ia melihat Sari yang berbicara pada Alya. Rayhan mengepalkan tinjunya. Ia tahu Sari berbohong pada Alya agar istrinya itu keluar. Rayhan memanggil Sari masuk ke ruang kerjanya. Sari masuk dengan wajah tertunduk, berpura-pura takut. "Ada apa, Tuan?" "Siapa yang menyuruhmu meminta Alya mengantarkan kopi?" tanya Rayhan dingin. "Saya... saya pikir itu hal yang sopan, Tuan. Saya tidak tahu kalau Tuan melarangnya," jawab Sari sambil mulai menangis buaya. Rayhan berjalan mendekati Sari, auranya begitu mengancam. "Jangan pernah bermain-main denganku, Sari. Aku tahu kau sengaja. Ini peringatan pertama dan terakhir. Jika kau mencoba menjebak istriku lagi, kau dan ibumu akan keluar dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun uang." Sari gemetar hebat. Ia tidak menyangka Rayhan akan sekejam itu membela Alya. "Maaf, Tuan... saya janji tidak akan mengulanginya." Setelah Sari keluar, Rayhan menarik napas panjang. Ia merasa dadanya sesak oleh rasa cemburu. Bayangan Doni yang menatap Alya tadi terus berputar di kepalanya. Ia merasa miliknya telah dicemari oleh pandangan orang lain. Rayhan kemudian berjalan menuju kamar utama. Ia membuka pintu dan melihat Alya sedang duduk di tepi ranjang, bahunya naik turun karena terisak pelan. Hati Rayhan yang tadinya sekeras batu, mendadak luluh. Ia menutup pintu dan menguncinya. Ia berjalan mendekat, lalu berlutut di depan Alya yang sedang menangis. Ia memegang tangan istrinya dan menciumnya berkali-kali. "Maafkan aku... maaf aku membentakmu tadi," bisik Rayhan. Alya menatap suaminya dengan mata sembab. "Sari bilang Mas yang menyuruhku keluar. Aku hanya ingin jadi istri yang baik, Mas." Rayhan menggeleng. "Sari berbohong. Aku tidak pernah menyuruhmu. Aku hanya... aku sangat takut, Alya. Aku takut kecantikanmu membuat laki-laki lain ingin merebutmu dariku. Aku tidak bisa berbagi perhatianmu dengan siapa pun." Rayhan membenamkan wajahnya di pangkuan Alya, persis seperti posisi bayi yang mencari perlindungan kemarin malam. Ia memeluk pinggang Alya dengan sangat erat, seolah-olah Alya akan terbang jika ia lepaskan. "Jangan pernah keluar lagi jika ada tamu laki-laki, meskipun itu sahabatku. Janji?" pinta Rayhan dengan nada manja yang bercampur dengan obsesi. Alya mengusap rambut suaminya, hatinya kembali luluh. Ia tidak tahu bahwa sikap posesif Rayhan ini adalah awal dari perlindungan yang akan sangat ia butuhkan nanti. Karena di luar sana, Doni sudah mulai menyusun rencana untuk mencari celah saat Rayhan sedang pergi ke luar kota. Doni tidak tahu bahwa Rayhan memiliki "mata" yang tidak pernah tidur di setiap sudut rumah itu. "Iya, Mas. Aku janji," jawab Alya pelan. Malam itu, Rayhan kembali menjadi sosok yang sangat manja. Ia tidak membiarkan Alya lepas dari pelukannya bahkan untuk mengambil minum. Ia ingin Alya benar-benar fokus hanya padanya, melayani hasratnya, dan menjadi dunianya. Namun di balik kemanjaan itu, Rayhan sudah berencana untuk menambah jumlah CCTV di sekitar rumah dan mengganti seluruh kunci pintu dengan sistem sidik jari yang hanya bisa dibuka olehnya. Ia akan memastikan sangkar emas ini menjadi tempat paling aman—dan paling tertutup—bagi permata hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD