“Halo.” Karena kaget, Husna langsung mengakhiri teleponnya secara sepihak. Tubuhnya sedikit bergetar entah karena sangat terkejut, atau karena hatinya tiba-tiba terasa sakit. Siapa perempuan itu, sebenarnya? Kenapa bisa ponsel suaminya ada di tangan orang lain terlebih itu adalah seorang perempuan. Astaghfirullah! Tidak! Jangan! Husna menggelengkan kepalanya berkali-kali, berharap perasaan buruk yang hinggap di dalam hati dan pikirannya tidak memengaruhinya. Dia sangat percaya pada sang suami. Mengambil napas sedalam-dalamnya, lalu dia embuskan sepelan mungkin. Menyiapkan hatinya dengan segala kemungkinan yang sama sekali tak berani dia menebaknya. Bismillahirrahmanirrahim. Husna sekali lagi mendial nomor sang suami dan mendengarkan nada panggilan dengan hati berdebar kencang

