Husna berjalan hanya mengikuti kakinya, dan saat sadar, dia sudah tiba diteras rumah Bu Nyai (rumah sang nenek yang juga ditempati Ning Rifa—tante bungsunya- dan keluarganya sekarang). Entahlah, dari dulu, setiap dia punya masalah, pasti rumah inilah yang selalu disambanginya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalaam warahmatullaah.”
Husna sontak berbalik badan saat seseorang dari belakang menjawab salamnya. Dilihatnya Rifan (kakak sepupunya) sudah berdiri seraya tersenyum ke arahnya. “Mas Rifan? Kok ada di sini? Bukannya tadi ...?”
Rifan tersenyum. “Mas juga gak tahu, tiba-tiba lebih penasaran sama Adek yang malah pergi ke sini. Padahal di rumah Adek lebih banyak orang.”
Mendengar jawaban Rifan, Husna cemberut. “Una mau ketemu sama umina(sebutan untuk Bu Nyai, yang artinya ibu kita semua).”
“Kebetulan, ini waktu beliau istirahat. Sudah waktunya qailullah.”
“Una hanya mau lihat aja, kok, gak akan ganggu.”
Rifan tertawa kecil. Jelas sekali jika Husna tengah mencari banyak alasan. “Ya sudah, masuk dulu, Dek! Biar Mas yang temani.”
“Tapi, di rumah tidak ada babah sama umah, Mas. Takut khulwah. Umina juga lagi istirahat.”
Rifan mengangguk. “Begitu, ya? Ya sudah, Mas tunggu di sini saja. Kamu masuk, gih!”
Husna menatap Rifan ragu. Sebenarnya, dia tidak berniat untuk menemui neneknya, yang tadi hanya alasan yang tiba-tiba muncul dalam kepalanya.
“Kenapa masih berdiri, Dek? Ayo!”
Husna mengembuskan napasnya panjang. “Sepertinya ucapan Mas benar, Una takut mengganggu istirahat beliau.”
“Mau cerita sama Mas?” Tentu saja Rifan sadar, jika gadis ini sedang gundah.
“Di mana?”
“Kalau begitu, duduk di sana aja! Kebetulan ada Mbak Santri yang masih patrol.” Rifan menunjuk taman kecil yang ada di samping rumah itu. Tak jauh dari sana, beberapa orang santri putri sedang memasak untuk acara riyadhahan malam Jum’at nanti di dapur Bu Nyai yang ada di luar (khusus untuk memasak jika ada acara, atau bisa disebut dapur umum).
Husna mengikuti langkah Rifan, dan duduk di depan kakak sepupunya—berjarak kira-kira 1,5 meter.
“Jadi, ada apa? Hal apa yang membuat Adek terlihat banyak melamun?” tanya Rifan lembut. Dia persis seperti ayah dan ibunya. Memiliki sifat ramah dan hangat, tak pernah surut untuk tersenyum pada siapa pun.
Untuk beberapa waktu lamanya, Husna tak jua berbicara, membuat Rifan menautkan kedua alisnya. Sangat tidak biasa. Husna adalah salah satu anggota keluarga pesantren yang paling kecil—sebelum generasi baru. Sifatnya yang manja pada siapa saja, sedikit judes—kecuali pada sesama perempuan, dan ... sedikit keras kepala. Penuh energi dan tiba-tiba menjadi banyak diam, jelas ini bukan masalah biasa.
“Dek!” tegur Rifan membuat Husna yang tengah melamun kembali tersadar.
Huff!!
“Una ingin ke Paris?”
“Paris?”
Husna mengangguk.
“Parisila Karina Putri? Teman Adek saat Tsanawiyah?”
Husna seketika berdecak sambil mendelik. “Kok malah ke Paris yang itu, sih?” Bibirnya sudah cemberut sekali, beruntung Rifan tidak bisa melihatnya karena tertutup niqab yang dikenakannya.
Rifan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Terus, maksud Adek yang mana, Mas ‘kan hanya kenal sama dia aja. Emang teman Adek yang bernama Paris ada berapa?”
“Iiih, Mas Rifan ini, maksud Una tuh ... kota Paris-Perancis, yang ada di benua Eropa itu.”
“O—oh, maaf, Dek! Mas salah!” ucap Rifan sedikit canggung. “Jadi Adek mau liburan ke sana, gitu?”
“Bukan liburan, tapi kuliah! Una mau kuliah di sana.”
Rifan seketika terbatuk. Tentu saja terkejut. Husna—gadis yang paling tidak bisa keluar jika tidak didampingi, gadis yang tidak berani pergi sendirian bahkan ke pasar yang dekat dengan kompleks pesantren, tiba-tiba ingin pergi ke luar negeri bahkan ke luar benua dalam kurun waktu yang tidak sebentar.
“Ma—maaf, Dek! Mas benar-benar terkejut hingga tersedak ludah Mas sendiri.” Rifan berdeham beberapa kali guna menghilangkan rasa gatal yang tiba-tiba datang di tenggorokannya. “Kamu ingin kuliah di Paris, tetapi Om dan Tante tidak mengizinkan?”
Husna mengangguk seraya cemberut di balik niqabnya. “Bukan abi dan umi saja, Mas Syafiq dan Mas Fatah juga melarangnya.”
“Tapi, Adek mengerti ‘kan maksud mereka apa?”
Mendengar pertanyaan Rifan yang malah persis seperti ucapan kakak tertuanya, Husna tiba-tiba menangis. Rifan tak berkata apa-apa, dan hanya beranjak dari sana, membiarkan Husna terisak sendirian. Namun, tak lama dia kembali lagi sambil membawa sekotak tisu dan memberikannya pada Husna.
“Una pikir, Mas benar-benar gak peduli sama Una, karena meninggalkan Una membiarkan Una dilihatin Mbak Santri dari dapur umum.”
Rifan kembali duduk di tempatnya semula, terkekeh mendengar pengaduan adik sepupunya yang seperti tengah menghakiminya. “Justru sepertinya mereka akan mengira jika Mas sudah menyakitimu, Dek. Lagian kenapa malah menangis? Masih tidak terima dengan keputusan mereka?”
Husna menggeleng. “Una ha—hanya tidak mengerti aja dengan hati Una se—sendiri, Mas. Kenapa ... gitu? Padahal Una sadar mereka melakukan semua itu demi kebaikan Una, tetapi tetap saja hati Una tidak bisa diajak kompromi. Otak Una juga, seolah terus merojok, untuk tetap mempertahankan keinginan Una untuk kuliah di sana. Una kesal! Una juga marah! Marah sama diri Una sendiri. Hiks, hiks!”
Rifan mengambil tisu dan memberikannya pada Husna—padahal tisunya tengah didekap gadis itu. Dia tidak bisa mengelus pundak Husna karena tidak punya hak (bukan mahram/muhrim), dengan memberikan satu buah tisu, berharap bisa menenangkan gadis bercadar itu.
“Bersabarlah, Dek! Terus berdo’a saja, meminta jalan yang terbaik, dan yang paling penting, minta hatimu agar tetap ikhlas pada keputusan-Nya.”
Husna hanya mengangguk tanpa berkata lagi. Setelah itu, tidak ada lagi percakapan sampai Husna akhirnya pamit untuk pulang. “Una takut mereka mencari Una, Mas. Assalamu’alaikum.”
“Berwudhulah dulu, Dek, sebelum pergi! Sekalian membasuh wajahmu yang terlihat sedikit ....”
“Iya—iya! Tahu, kok, Una jelek!” potong Husna sambil melangkah ke dapur umum untuk sekadar menumpang wudhu.
Rifan menatap kepergian Husna dengan tersenyum seraya menggeleng. “Wa’alaikumussalaam warahmatullah,” gumamnya menjawab salam gadis itu, tadi.
.....
Rifan membuka kacamata bacanya, lalu menutup kitab yang baru saja di-muthala’ah-nya, memijit ujung hidungnya yang terasa kaku dan sakit. Bersandar pada kursi belajarnya seraya memejamkan mata.
Dalam gelapnya penglihatan dia, kejadian satu minggu yang lalu—ketika dia mendengar keluh-kesah Husna, pikirannya tidak lagi bisa merasa tenang. Seolah memaksanya untuk harus ikut memikirkan. Apalagi, dia selalu mendapati gadis itu tidak fokus dalam aktivitasnya. Entah urusan pondok, atau hal lainnya.
Juga, sepertinya bukan hanya dirinya yang menyadari hal itu semua. Namun, kendati demikian, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu gadis itu kembali sembuh dengan sendirinya. Bagaimanapun juga, bahkan dirinya sendiri, tidak akan mengizinkan Husna merantau sendirian di sana.
Kecuali ....
“Subhanallah!” Rifan terperanjat dari sandarannya, kembali memijit pangkal hidung, bahkan sekarang beserta pelipisnya. “Astaghfirullah! Apa yang sebenarnya hamba pikirkan, ya Allah? Kenapa akhir-akhir ini perasaan hamba terus menuju ke sana?” gumamnya seraya mengusap wajah.
Tak ingin berlarut dalam lamunan yang membuat hatinya kalut, Rifan berdiri, dan melangkah menuju kamar mandinya. Air wudhu adalah solusi pertama yang selalu dia andalkan untuk mengatasi kegundahan hatinya.
....
“Dek!”
Husna yang tengah menata pakaian yang akan dibawanya ke Jakarta—untuk mengantar kakak sulungnya menikah dengan Hilya, seketika menoleh. “Iya, Mas?”
Fahmi mengembuskan napasnya. Sikap sang adik benar-benar berubah hampir satu bulan ini. Jika biasanya, adiknya akan marah, atau setidaknya mendelik ke arahnya karena sudah mengagetkan gadis itu, tetapi tidak dengan sekarang. Husna yang kalem, lebih menggelisahkan dari pada sikapnya yang jutek dan judes.
“Ada Rifan di depan, mencari kamu.”
Kegiatan Husna terhenti, keningnya mengernyit, tapi tak lama dia menjawab seraya mengangguk. “Iya, Mas.”
“Dia di gazebo taman depan, Dek.”
“Baik. Terima kasih, Mas!” Husna segera menyelesaikan pekerjaannya, dan langsung menghampiri Rifan yang sudah duduk di kursi panjang di taman depan rumah itu. “Mas!”
Tubuh Rifan sedikit terperanjat, dan buru-buru berbalik serta berdiri. “D—Dek!”
“Ma—maaf, Mas! Sudah mengejutkan Mas.”
“Ti—tidak juga!”
Entah perasaan mereka saja, atau memang kenyataannya seperti itu, suasana di sana tiba-tiba terasa canggung, terlebih itu Rifan yang memang mempunyai maksud dari kedatangannya kali ini.
Husna berdeham guna mencairkan suasana yang entah kenapa menjadi awkward. “O—oh, iya. Kenapa Mas cari Una?”
Rifan semakin gugup saat pertanyaan itu terlontar dari gadis bercadar di depannya ini. “Ekhem! Dek!”
“Ya?”
“Maukah kamu menikah dengan Mas?”
Husna mengerjapkan matanya beberapa kali, tak yakin dengan apa yang didengarnya, barusan.
“Menikahlah denganku!”
“APA?”