Chapter 31

2006 Words

Saat pintu terbuka seorang pria sudah tersenyum lebar menampilkan deretan giginya ke arah Rifan dan Husna, sementara orang yang di samping si pria itu malah cemberut seperti tengah menahan kekesalan. Bagaimana tidak kesal, coba? Si pria memencet tombol rumah orang lain seperti memencet komedo di hidungnya. Tiada henti. Tidak sopan banget! Husna melotot ke arah tamu itu. Tangannya membekap mulutnya yang terbuka lebar. “Masyaallah, Mbak Zi. Ayo masuk—masuk!” sambut Husna pada sang tamu yang tidak lain adalah kakak serta iparnya seraya membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Zia memeluk adik iparnya, bercipika-cipiki sambil saling menanyakan kabar. Sementara Fahmi disambut oleh Rifan yang langsung menuju sofa untuk menidurkan anaknya yang kini tengah terlelap. Saat Husna akan pergi ke d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD