Chapter 32

1516 Words

Waktu sudah sangat malam, dan beberapa jam lagi fajar akan segera menyingsing, tetapi Fahmi tidak bisa memejamkan matanya. Dia terus teringat akan kata-kata Rifan tentang mengerikannya wanita yang sedang cemburu. Pun dengan Rifan, dia sama-sama tidak bisa tidur karena Fahmi yang tidak bisa diam, dan terus membolak-balikkan tubuhnya. “Argh, bisa gila aku.” Fahmi akhirnya bangun dan duduk. “Ada apa, Gus? Apa kamu akan terjaga semalaman, seperti ini?” “Fan, aku titip Gus Tsabbit, ya.” Kening Rifan mengerut. “Terus kamu mau ke mana?” “Aku nginap di hotel aja. Sekalian membawa Zia,” ucap Fahmi seraya melangkah ke arah pintu kamar diikuti oleh Rifan. “Kamu serius, Gus? Mbak Zia sudah terlelap,” bisik Rifan takut membangunkan yang lainnya. Dengan nekat, Fahmi membopong istrinya, b

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD