Clay sedikit merasa iri dengan kehidupan Naresh, memiliki keluarga lengkap, hidup bahagia semenjak kecil dan tumbuh besar dengan sesuka hati. Sementara dirinya, sejak kecil sudah menjadi piatu, lalu memiliki Mama yang kurang memperhatikannya, Papa yang gila bekerja. Clay dengan cepat menepis bayang-bayang kehidupan masa lalunya yang menyedihkan, sejak hadir Mama Kana, semuanya membahagiakan. Sekarang, hadir pula Naresh, yang menyayanginya dengan tulus, hingga yakin akan hidup bersamanya selama-lamanya. "Sini, Clay. Duduk di sampingku. Kamu mikirin apa sih?" Naresh raih tangan Clay dan pelan menariknya. Clay duduk perlahan di atas kasur Naresh yang sangat mewah, yang dirasanya sangat nyaman. "Ada apa, Clay?" Naresh mengusir rambut yang menutupi wajah Clay. "Kasur kamu nyaman." "Kamu

