Bibir Clay sedikit membuka dan bergetar, diiringi desiran hebat di jantungnya. Naresh tersenyum mengamati bibir merah Clay yang terbuka dan gemetar. "Bukan sekarang. Bukan ini ciuman pertamaku, atau ciuman pertamamu. Aku ingin ciuman pertamaku menjadi momen yang nggak akan pernah kamu dan aku lupakan." Clay tersipu malu. Lagi-lagi dia malu di hadapan Naresh. "Nggak perlu malu." Naresh usap-usap pinggang belakang Clay sambil menatap sayu wajah Clay yang juga sayu. Naresh mundur dari tubuh Clay yang duduk di atas meja, sambil memperbaiki bawahan Clay yang dia singkap. Jakunnya naik turun saat matanya tertuju ke pangkal paha Clay yang mulus sebelum tertutup, dan Clay tidak menyadari perubahan wajah Naresh yang semakin sayu dan sayu. Naresh benar-benar mundur dan lalu melangkah menuju

