Begitu Kiarra berhenti merangkak, dia angkat dua tangannya, menginginkan Clay segera menggendongnya. Clay dengan semangat dan penuh senyum meraih tubuh adiknya dan mendekapnya. "Kiarra mau diurut?" tanya Clay sambil menepuk-nepuk perut gendut Kiarra. "Ut?" beo Kiarra sambil mengamati mulut Clay. "Iya. Diurut biar bisa jalan." "Au." Clay tidak peduli apakah Kiarra memahami maksud perkataannya atau tidak, dia anggap Kiarra memahaminya. "Aih. Cepet pulang, Clay?" teriak Kana senang. Dia dengan cepat meraih tas dari lengan Clay agar Clay bisa dengan leluasa mendekap tubuh adik bungsu kesayangannya. "Disuruh pulang cepat sama Pak Naresh." "Oh ya? Diusir?" "Haha, Mama. Aku sudah menyelesaikan pekerjaan, makanya disuruh pulang cepat." Kana menggeleng tertawa. "Kiarra boleh diurut,

