Naresh terdiam cukup lama. Bibirnya yang masih mengemut rokok bergetar. Naresh memejamkan matanya sejenak seakan dia ragu menjawabnya. "Kosong." "What?" Kontan Syarif tertawa renyah dan Bilal yang terdiam malu. Naresh menghisap sisa rokoknya dalam-dalam. Entah kenapa Naresh menjadi tega saat menjelaskan nasib Bilal seterusnya. "Kamu nggak sama dia. Kamu sama perempuan berkerudung alim." Bilal tersenyum kecut mendengar ramalan Naresh. Dia menggeleng tidak mau percaya. "Dan kamu cukup bahagia dengan perempuan itu. Dia ... sangat bersahaja," sambung Naresh dengan wajah seriusnya. "Mana lebih dulu aku atau Bilal?" tanya Syarif lagi. Dia seperti tidak peduli dengan adiknya yang tiba-tiba merasa kurang nyaman. Naresh membuang puntung rokoknya yang sudah habis dan membuangnya ke pir

