Giliran Axelle kini menyambangi perusahaan real estate milik Ibunya setelah dari firma hukumnya. Masih dari dalam mobil Axelle sudah mendesah berat, membayangkan pekerjaannya yang tidak akan mudah dilakukan mencangkup dua perusahaan yang cukup besar.
Demi semua hal yang harus dia sayangi dan lindungi, seharusnya tidak ada yang tidak bisa dia lakukan. Semua yang dirasakannya ini hanyalah ketakutannya di awal, Axelle merasa dirinya seharusnya yakin dan mampu berdiri di atas dua perusahaan tersebut. Lagipula dirinya tidak benar-benar sendiri, ada orang-orang di sisinya yang bisa diandalkannya.
Keluar dari mobil, berdiri dan berderet dipelataran lobi beberapa karyawan yang hendak menyambutnya. Mata tajam Axelle menyipit, melihat jarak yang paling jauh adalah adiknya sendiri, Aksa dengan tampang datarnya dengan senyuman dingin yang tak sampai ke matanya.
"Selamat siang!"
Seorang pria paruh baya dengan tampang bulat dan berambut tipis, datang menyambutnya, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Bibirnya menyeringai lebar tetapi, jelas tidak sepenuhnya tampak tersenyum. "Mari kita sambut Direktur baru kita!" ucapnya disertai tepuk tangan, yang membuat sekalian yang hadir mengikuti tingkahnya.
Axelle ingin menolak kesopanan seperti itu dalam hatinya dia tengah mendengus kesal. Perlakuan seperti ini hanya membuat malu dirinya saja tetapi, menjaga penampilannya dia hanya bisa tersenyum ramah dan mengucapakan terimakasih pada mereka semua.
Sosok wanita, yang tak jauh berbeda dengan usia Ibunya keluar dari kerumunan. Dirinya tampak menonjol di antara para pria paruh baya berjas hitam, dirinya sendiri sedang mengenakan jas wanita dengan terusan rok di bawah lutut berwarna merah terang.
"Axelle!" panggilnya tanpa embel-embel 'Pak.' dan langsung memeluknya erat tanpa peduli dengan tatapan orang disekitarnya.
Tubuh Axelle kaku sesaat, tidak menduga akan ada seseorang yang memeluknya seperti ini. Di bawah tatapan orang lain, Axelle segera mengendur hanya menepuk bahu wanita ini sedikit. "Ah, ya, Tante Ria. Lama tak jumpa, " ucapnya sambil memberi jarak dan akhirnya mampu bernapas lega.
Ria Susano
Cukup lama Axelle mengenalnya sebagai sahabat Selena, Ibunya. Yang sedikit tidak dimengertinya kenapa tante Ria ini ada di depan perusahaan padahal sebelumnya, saat pemakaman kedua orang tuanya Axelle hanya melihatnya dari jauh, tidak juga menyapanya. Entah pada adik-adiknya yang lain.
"Tante kenapa di sini?" tanya Axelle tanpa ragu karena dirinya yakin wanita ini tidak ada hubungannya dengan bisnisnya.
"Yah?" Ria memasang wajah tak percaya dalam benaknya ia mendesis kesal. 'Apa-apaan bocah ini! Sudah bagus aku menyapanya.'
"Pak Direktur," sapa Aksa tepat sudah berdiri di sisi Axelle. "Jika ada pertanyaan bisa kita teruskan nanti, lebih baik kita masuk terlebih dulu. Bagaimana?"
"Masuk!" balas Axelle tanpa banyak komentar di samping Aksa yang maju selangkah di depannya sudah seperti guide tour perusahaan.
*
Sekarang hanya tinggal mereka berdua berjalan di lorong berdampingan setelah karyawan lain serta Kepala sektor di segala bidang dipecat dari hadapannya agar bisa kembali pada tugasnya masing-masing. Aksa yang berjalan di samping Axelle tiba-tiba saja terkikik geli mencuat memori beberapa saat lalu yang membuatnya ingin tertawa.
Karena ini juga Axelle meliriknya tajam meski akhirnya, bocah kurang ajar itu tidak merasa takut ataupun segan. Malah membuat kekehannya semakin kencang seolah-olah dia sangat menikmati suasananya. Axelle cukup peka pada tatapan orang lain padanya, terutama Mereka berjalan sampai masuk ke ruangan kantor utama yang sebelumnya dimiliki Selena.
Setelah sekian lama lagi, Axelle kembali masuk kantor Ibunya. Ada perasaan sedih tetapi, segera ia hempaskan. Mereka sudah pergi dengan tenang tak mungkin lagi bisa kembali, begitu juga waktu yang sudah berlalu. Duduk di atas kursi kebesarannya, akhirnya Axelle bisa menatap lekat-lekat adiknya yang satu ini.
"Jadi tadi perbuatan kamu?" tanya nya sambil mendelik kesal.
Aksa tidak lupa berdeham sebelum akhirnya menjawab, "Nggak, juga sih. Aku cuma ngasih ide sama Pak Bobby.. Pria tua tadi yang kelewatan semangat dan bersedia ngerjain semuanya."
Axelle mendengus. "Ngapain kamu ngasih ide kayak gitu gak sekalian aja.. Gelarin karpet merah terus siapapun untaian bunga biar aku pake, buat disombongin dari sudut ke sudut. "
"Rencananya,sih,gitu ...hhh untungnya gak mereka kerjain karena gak ada waktu lagi."
"Terus, Tante Ria kenapa ada di sini?"
"Udah lama,kok. Tante Ria di sini bareng Mama hampir empat tahun malah sebelum aku masuk sini. Mama kasian sama Tante Ria setelah suaminya meninggal tanpa anak pula... Yang jadi gitu."
"Terlalu rumit," sahut Axelle tidak habis pikir masih ada nepotisme seperti itu... "Gimana kerjaannya?"
"Bagus, kok! Sampai saat ini Tante Ria bisa dipercaya. Dia kepala Biro keuangan kita."
Setelah mendengar seperti itu Axelle tidak bisa protes jika, teman Ibunya mampu dia tidak akan mempermasalahkannya terlebih lagi dialah orang yang awam di perusaahaan ini. "Baiklah, tidak masalah lagi lalu, bagaimana dengan rapat utamanya tadi... sepertinya tanpaku kamu sudah bisa meyakinkan mereka."
Senyuman Aksa lebar mendengar pertanyaan Axelle, ada rasa bangga besar di dadanya bahkan, tanpa sadar dirinya menegakkan punggungnya benar-benar seolah tengah menatap bos-nya, kali ini. "Seperti yang Pak Direktur lihat! Anda sudah duduk disana dengan nyaman dan aman... aku kan sudah janji kakak hanya tinggal duduk di sana. Aku bisa handle urusan mudah seperti itu."
Axelle menepuk kepala Aksa. "Terima kasih,ya, kamu hebat!"
"Tapi, tidak sehebat begitu juga, sih," ucap Aksa seraya mengusap kembali rambutnya yang sempat disentuh Axelle. "Dewan direksi tidak banyak menuntut karena jelas ini perusahaan yang dimiliki keluarga Mama jadi, sudah pasti akan diturunkan pada keluarga. Mungkin, jika aku yang mengambil ahli malah semua orang akan ribut."
"Kau bicara apa?"
Aksa mengangkat bahunya sedikit tak acuh tetapi, Axelle tahu kemana arah maksudnya karena terlalu malas, ia hanya bisa melepas perkataan tersebut lagipula, perasan itu sulit diubah meski mereka sudah hidup bersama-sama sebagai saudara tetap saja sulit bagi Aksa hingga, dia harus terus menyadari tempatnya.
"Sa, sebuah perusahaan itu bukan dibangun untuk diturunkan tapi, didirikan agar bangkit dan maju jadi, akan percuma saja jika diturunkan pada seorang yang gak mampu ... Ngerti?!"
Aksa diam tentu hal sepele seperti itu mengerti. Melihat aksi Aksa yang hanya diam Axelle kembali berujar dengan tampang seriusnya yang jarang diperlihatkannya pada adik-adiknya. "Aksa, aku tidak akan keberatan jika suatu saat kamu-lah yang bakal duduk di kursi Direktur dibandingkan aku atau Sam, yang mungkin saja tidak sebaik kamu dalam memimpin."
"Itu gak bakal mungkin," sangkal Aksa. "Kakak sama Sam sama mampunya, ya, meski tau ini bukan bidang Kakak tapi, Sam nantinya bisa meneruskan ini. Aku sudah sangat senang hanya berdiri di samping kalian... sungguh!"
"Yakin?" tanya Axelle sambil mengangkat satu alisnya seolah tak percaya.
"Kakak gak percaya?" tanya Aksa balik dengan raut dinginnya yang jelas sangat sebal.
Bibir Axelle tertarik menjadi senyuman disertai kekehan geli. "Oke, Oke! Jadi gak usah pake tampang kebelet boker kayak gitu! Udah, Sana ambil pekerjaan yang perlu kupelajari saja."
"Hm, tunggu sebentar! Sudah kusiapkan," sahut Aksa yang berusaha memiliki raut wajah semula. Dia juga segera memanggil sekertarisnya untuk membawa berkas-berkas yang sudah dipersiapkannya --dengan menyambar telepon dari meja kerja sang Direktur baru dengan santai.
'Gini, nih, mentang-mentang Kakaknya yang jadi pimpinan gk ada sopan-sopannya... Gak si Lian gak bocah ini juga! Sama aja,' runtuk Axelle dalam hati sedikit pasrah. Tetapi, meskipun begitu dirinya juga yakin adik-adiknya di luar tempat bisa menempatkan diri dan bertanggung jawab pada pekerjaannya.
***
"Rin, aku mau dress itu dong!" Tunjuk Mawar tanpa menoleh tetapi, dia sangat tepat sasaran menunjuk sebuah dress merah berkerah v dengan motif bunga-bunga kecil. Sedangkan, dirinya sendiri melirik Barang-barang lain di etalase.
"Yang ini!?" jawab Airin teman sejawatnya sekaligus pemilik butik yang kini tengah disambangi Mawar.
"Hum."
"Serius? Ini gak cocok banget buat kamu, War! Mau kamu pakai buat Kapan?"
Mawar menoleh, dia melihat dress merah motif bunga-bunga. "Terus, ngapain kamu jual juga, sih. kalo emang gak bagus."
Airin terkikik. "Ini barang bukannya gak bagus, aku kan bilang gak cocok sama yang biasa kamu pakai!"
Barang tentu dress itu bukan yang biasa dipakai Mawar. Gadis, dua puluh lima tahun ini terbiasa menggunakan pakaian ber-merk itu pun dia harus pilih-pilih, tidak banyak barang yang bisa membuatnya puas. Dress merah itu terlalu sederhana buatnya.
"Bukan buat aku juga,sih,"jawab Mawar jujur. "Mau aku kirim buat ultahnya May. "
"Ah, ya, kapan hari aku juga dapat undangannya. "
"Baguslah, entar kita bisa berangkat bareng."
"Lah, kamu gak mau bareng ama si Lian? Dia di undang juga pasti."
Suara desahan Mawar terdengar jelas mendengar nama Lian membuat mood-nya kembali jelek. Melepaskan pandangannya dari hal lain, Mawar memilih menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang tersedia di sana.
Bagusnya, butik Airin adalah dia menerapkan gaya butik mewah luar negeri. Di mana para pembeli diperlakukan seperti raja dengan tempat nyaman, bahkan dijamu dengan minuman serta cemilan, dan pelayanannya yang luar biasa tentu saja... Jika kalian punya uang untuk bisa membungkus beberapa pakaian dengan harga yang tak murah.
Airin mendekat duduk di sampingnya setelah menyuruh salah satu pegawainya menyiapkan cemilan untuk mereka. "Kenapa,hum?"
"Lian," desah Mawar. "Kasian dia!"
"Ah, ya, aku juga denger belum lama ini kedua orang tuanya meninggal,kan? Pasti dia sangat sedih, turut berduka buat dia."
Mawar menjawab dengan gumamman, menatap lurus ke depan dengan tatapan sama sedihnya. "Rin. Kayaknya dia marah karena selama orang tuanya meninggal aku gak ada disamping dia... Sedih banget, Rin! Sampai hari ini dia gak mau nemuin aku. "
Airin terkesiap mendengar penuturan Mawar. Yang dia tahu selama ini meski, Lian atau Aliando bersikap dingin dan tampak tak acuh tetapi, demi apa yang Mawar mauj jarang sekali untuk menolak malah, dia terlalu manis untuk dibilang teman. Yah, karena selama ini juga Lian akan cukup tegas menolak jika berpacaran dengan Mawar.
Setelah lama terdiam akhirnya Airin membuka suaranya. "War, sebenernya aku gak setuju kamu,tuh terus-terusan ngejar si Lian. Berapa tahun kamu habisin buat dia? Tetep aja dia selalu nyangkal tiap kali sama hubungan kalian. Sebenernya dia serius gak sih, atau cuma php doang?"
"Sebenernya... Kalo mau jujur dia gak pernah bilang apapun," jawab Mawar gamang, kembali lagi dia memikirkan sikap Lian selama ini. "Aku pikir Lian itu type ML yang serius dan dingin tapi, kalo sama orang yang dicintainya bakal se-sweet apa...?"
"But...?" tanya Airin setelah Mawar menjeda perkataannya sendiri beberapa waktu lamanya.
"Dia kagak kayak gitu," sahut Mawar melas. "Lian gak dingin,tuh sama orang lain malah tampak sangat care ... gitu juga perlakuannya sama aku. Gak jauh beda seperti aku memang hanya temannya."
"Jadi cuman dijadiin TTM, nih."
(teman tapi Mesra?)
"Gimana bisa jadi TTM bahkan, keliatan " sejak dulu Lian ngasih benteng yang kuat."
"Kalo gitu mendingan tinggalin aja, kayak cuma dia aja cowo di muka bumi.. Oh, ya aku denger Lian itu punya Kakak yang ganteng dan tinggal di luar negeri ?" Secepat Airin bicara secepat itu pula berganti kata-kata kadang Mawar hanya bisa mengangkat jempolnya, luar biasa.
"Hm, terus emang kenapa?"
"Kamu dah ketemu?"
"Udah."
"Jadi, beneran ganteng?"
"Lian lebih punya kharisma, juga lebih ganteng menurutku. Malah dari semua anak2nya keluarga Evano Kakaknya itu urutan terakhir. Dia lebih ke biasa aja. "
"Hah, yang bener aja?!" sangkal Airin tidak percaya, karena yang beredar berita sebaliknya. Dia pria tampannya keluarga Evano.