Desir angin malam berhembus dari jendela terbuka, hanya tertutup gorden besar di sebuah ruangan setengah gelap gulita karena ditengah sana ada lampu meja yang masih menyala diiringi suara ketikan-ketikan jari di atas keyboard. Axelle, pria itu masih duduk di sana dengan nyaman hampir tiga jam berlalu setelah makan malam selesai. Wajahnya lurus menatap laptop dengan hanya sesekali mengerutkan kening membuat kacamata bacanya menjadi longgar hingga seringkali harus ia terus selipkan kembali diantara gagangnya agar kencang. Sekian detik berlalu, Axelle akhirnya bisa berhenti dan mulai merenggankan otot bahu dan lehernya yang baru saja dia rasakan sangat nyeri. “Aaakh!” jeritnya tiba-tiba karena merasa urat nadinya terjepit. “Kak, Kakak tidak apa-apa?” Suara itu terdengar bersamaan disertai suara bantingan pintu. Axelle hampir saja terkejut mati, belum lagi nyeri lehernya sekarang mendapat serangan kejutan seperti itu rasanya makin kaku saja tubuhnya. “Sam!” Orang yang dipanggil mendekat, meski mendengar suara panggilan kakaknya itu kurang menyenangkan dia tidak terlalu khawatir. “Ada apa? Kakak baik-baik saja, kan?” Axelle mencibir. “Bagaimana bisa baik, kamu hampir saja buat kakakmu ini kena serangan jantung . Gak bisa apa pintunya diketuk dulu.” “Halah, baru gitu aja udah kagetan,” tepas Sam. “Kakak udah kerja dari pagi sampai sekarang apa gak cape? Lebih baik sekarang balik ke kamar dan istirahat.” “Perhatian sekali, sih! A-adikk …ku ini. Yah!” Tiba-tiba saja Axelle sadar akan sesuatu. “Kamu sendiri ngapain masih bangun, bukannya tidur.” “Ngerjain tugas juga,lah!” “Kakak gak tahu ternyata kamu bisa serajin itu. Dulu aja, bukannya kamu yang paling males belajar.” “Dulu itu emangnya kapan?” sahut Sam sedikit judes sambil melirik Kakaknya yang masih memegang lehernya, Sam beranjak mendekat. Memegang lehernya dan tanpa disuruh mulai memijitnya. “Kakak pegel-pegel?! Ternyata gak salah lagi, udah keliatan banget tuanya.” “Aaah, enak banget! Yes, di situ Sam,” keluh Axelle nyaman dengan pijatan adik bungsunya tidak peduli dirinya baru saja diejek. Sam tersenyum senang, dia bisa mengeluarkan keahliannya lagi. Sudah lama sekali sejak terakhir kali dia bisa memijat kakaknya ini, meski dulu sebenarnya dia gak akan rela melakukan hal ini secara cuma-Cuma apalagi dengan kehendak sendiri. Dulu itu, Axelle selalu saja punya seribu satu cara membuatnya mau ngelakuin apa yang diperintahnya. Apalagi saat Sam menginginkan sesuatu, Axelle akan memberikannya tidak peduli itu mahal, murah, jauh atau dekat pasti diberikan yang pasti hal itu tidak serta merta gratis. Di sanalah Sam harus jadi adik yang manis dengan jadi tukang pijit gratisnya. Menjadi bungsu terkadang tidak selalu mendapatkan yang terbaik karena nyatanya, bagi Sam orang tuanya tidak selalu memanjakannya malah terkadang lebih sering ia mendengar kata-kata perbandingan. ‘Sam, gak ada dari kakak-kakakmu yang kayak gini! Lihat Kakakmu yang ini… Kakakmu yang itu!’ . Sam akhirnya jadi lelah sendiri dan kecewa merasa, ketika kelahirannya orang tuanya menjadi sudah bosan untuk mengurusnya. Meski, tidak dipungkiri orang tuanya tak pernah luput juga menunjukan kasih sayangnya. “Kenapa jadi sepi gini?” “Terus emangnya harus berisik gitu, ini tengah malem. Sadar sedikit, kak!” “Hhh… iya juga. tapi, kenapa kamu tiba-tiba jadi pendiem dan baik banget tanpa disuruh mau ahhh! Yah, teken dikit lagi…” Axelle menjerit keenakan saat Sam tiba-tiba memberi tekenan kuat ke kepalanya yang sedang nyeri. Sebenarnya Sam menekan cukup keras untuk membuat kakaknya itu kesakitan bukan keenakan. “Udah, ah! Cape,” ujarnya menyerah dan kembali ke kursinya. “Yah, baru aja bentar,” rajuk Axelle merasa kehilangan tetapi, demi melihat adiknya yang berwajah suram diamenghilangkan sikap main-mainnya dan menatap serius sang Adik. “Kamu kenapa?” Melirik Kakaknya yang sedang menatapnya. Delapan tahun cukup baginya untuk bisa tidak terus bergantung pada kakak sulungnya ini. Ya, mungkin karena mereka saudara kandung ikatannya dengan Axelle melebihi yang lain bahkan, ketika dulu saat pertama kali ditinggal pergi dirinya cukup menderita sampai sakit berhari-hari. Sedih kehilangannya. Tetapi, kemudian hari-hari ini Sam jadi sedikit bertanya-tanya tentu saja dia sangat sedih kehilangan kedua orang tuanya lalu, kenapa dia tidak semenderita dulu saat kakaknya pergi. “Hey, Kakak nanya , loh! Kenapa malah diem aja?” “Gak ada papa, cuman … Mama dan Papa di alam sana bakal kangen aku gak, sih?” Tiba-tiba saja hati Axelle mendengar pertanyaan seperti itu. Melihat adik bungsunya, dia baru sadar jika Sam mungkin akan lebih merasa sangat kehilangan dibanding yang lain. Sosoknya baru saja melangkah pada pendewasaan tetapi, tidak ada orang tua di sampingnya selain Kakak-kakaknya yang sudah sibuk dengan diri mereka sendiri dan pasti jarang memerhatikannya. “Kamu kangen banget, yah, sama mereka?” jawab Axelle dengan pertanyaan kembali seraya mendekatinya. Saat ini Axelle berdiri sambil menyandarkan bokongnya ke meja sedangkan dirinya menghadap Sam yang sedang duduk. Mengelus rambutnya sayang. “Jangan sedih lama-lama, hm!” “Aku sedih tapi, gak sampai sedih segitunya,” jawab Sam jujur, wajahnya menunduk seakan kebingungan. Jauh dalam hatinya dia hanya merasa sangat hampa kehilangan mereka. “Menangis saja!” Sam mendongak jelas di matanya sudah ada air mata yang menggenang mendesak ingin jatuh tetapi, sesaat mendengar suara Axelle menyuruhnya menangis Sam tidak berdaya . Tidak ada perasaan lagi yang mendesaknya ingin menangis. “Kenapa?” Axelle menjadi bingung dengan tatapan adiknya. “Apanya yang apa?” “Kenapa Kakak menyuruhku menangis jadinya, aku tidak ingin menangis!” salak Sam kesal. Tawa Axelle terdengar di tengah kekosongan ruangan tersebut. Dia mengacak-acak rambut Sam menatapnya gemas. “Jangan marah, kamu tadi, tuh, sedih. Kakak cuman bikin kamu lega dengan menangis.” “Tapi, aku gak lega sama sekali jadinya!” “Mama sama Papa pasti juga kangen sama kamu. Kan, yang paling mereka khawatirin, juga kamu.” “Beneran? Tapi, aku gak percaya,” lirih Sam memalingkan wajahnya, rona kesedihan kembali hadir di wajahnya. “Mama sama Papa itu sering banget bandingin aku sama kalian.” “Hah,” desah Axelle. “Kamu, tuh, adik bungsu kami. Mungkin karena itu Mama gak sengaja bandingin kamu sama yang lain tapi, itu jelas bentuk kekhawatirannya. Sini!” Axelle menarik tangan Sam hampir membuatnya langsung berdiri, lalu memeluknya. “Kamu, tuh, terlalu nakal! Terlalu penasaran sampai ingin bisa melakukan semuanya sampai melupakan hal penting. Belajar! Sekolah kamu! Bukan karena kamu gak pinter sampai dibandingin sama kami tapi, hal-hal lainnya yang buat kamu akhirnya jadi sering berantem sama mama. Tapi, saat ini kamu pasti kangen omelan mama.” Hati Sam terasa teriris-iris mendengar apa yang dikatakan kakaknya barusan, yah dia sangat merindukan sosok ibunya entah sadar atau tidak. Jika, ingat apa yang dikatakan kakaknya saat ini dirinya sadar jika, dulu memang seringkali dia mengabaikan sekolah demi memuaskan hobinya yang, benar-benar membuat semua orang khawatir dan mengomel padanya. Yah, karena di antara anak-anak mama itu cuma dirinya yang suka balapan motor liar, keluar buat ke bar atau berantem sampai masuk ke kantor polisi. “Kayaknya aku kangen banget sama mama,” ucap Sam dengan suara sengau karena menahan tangis. Mendengarnya Axelle, menepuk kepala Sam yang sedang bersandar di bahunya. Mengusap punggungnya sampai baru saja ia hendak melepas pelukannya. Sam malah mulai menangis. Bibir Axelle terangkat menjadi senyum, memeluk makin erat biar adiknya itu lega dengan perasaanya. “Mama sama Papa, sayang banget sama kamu lebih dari sayang sama kami, Sam. Kamu anak bungsu, yang paling ditunggu-tunggu sama mama saat itu.” “Aku beneran makin nangis, kan. Jangan ngomong lagi! Makin sedih …huh…huh.. mama, papa aku kangen,” omel Sam sambil ingin melepas pelukan kakaknya tapi, Axelle tidak membiarkannya. “Ayo, sini! Kalo masih pengen nangis. Kakak gak bakal ngomong, kok, sama yang lain.” “Sialan!” Sam memukul d**a Axelle dan keluar dari ruangan itu begitu saja. Axelle hanya bisa menggeleng pasrah tetapi, yang tidak diketahui Sam. Axelle tengah menahan air matanya. *** “Lian!” Panggilan keras itu membuat Aliando, atau Lian ini untuk menoleh ke arah asal suara yang sudah sangat hafal siapa pemiliknya. Lian menunggu diam untuk dihampiri karena tak lama dilihatnya Mawar dengan cepat berjalan ke arahnya. ‘Huh, Mawar-mawar … kamu, tuh, hah… ‘ Lian tidak tahu harus mengatakan apa pada gadis itu. Habis kata untuk mendeskripsikannya. “Lian, akhirnya aku bisa ketemu kamu.” “Ada apa?” tanya Lian balik dengan wajah yang tak luput dari senyum sopan santunnya. “Aku kangen kamu, belum lagi …,” Sesaat Mawar terdiam, menatap Lian dengan ekspresi sedih dan kesepian. “aku belum ucapin bela sungkawa buat kamu.” Senyum di bibir Lian hilang dalam sekejap. “Terima kasih, itu udah cukup!” “Aku buru-buru pulang ke sini—“ “Mawar, ucapan kamu ditelepon juga di pesan-pesan teks itu juga cukup! Kamu gak perlu sampai begini.” Lian memerhatikan sekitar cukup beruntung lobi itu tengah lenggang hanya ada satpam juga resepsionis. “Kamu gak lelah? Lebih baik kamu istirahat atau … mungkin ada hal lain yang bisa kamu lakuin.” Memang dasarnya Mawar itu sedikit bebal sekaligus tak tahu malu tanpa sungkan dia mengucapkan gombalannya. “Aku, kan, sudah biasa seperti ini. Percuma, tidak ada hal lain yang bisa aku lakuin kecuali, keluar liat kamu, Ian.” Lian sedikit merinding, hatinya bergejolak gatal. Meski, sudah bertahun-tahun dia mendengar pengakuan itu tapi, masih saja tidak membuatnya terbiasa. Sampai saat ini dirinya bertahan sangat keras, tidak tergoda atau luluh meski, ada perasaan tertarik. Aliando tidak ingin wanita itu menyesal nantinya, lebih baik tetap menjaga jarak seaman mungkin.“Mawar aku harus pergi ke tempat lain dan gak punya waktu buat kamu.” “Kamu mau pergi ke mana? Biar aku yang anter, biar kita bisa lebih lama ngobrolnya.” “Terima kasih tapi, aku bawa mobil sendiri,” jawab Lian “Oh, … kalau gitu. Gimana kalau aku ikut! Aku gak bakal ganggu urusan kamu, cuma sampai di tempat tujuan kamu … nanti, aku bakal balik sendiri.” Rasanya! Lian ingin menepuk jidatnya sendiri dengan sangat keras. Mawar ini sangat keras kepala, bagaimana dia bisa tahan seperti ini padahal jelas Lian tidak pernah benar-benar tertarik dengannya. Yang bisa dibayangkan Lian dari sosok Mawar adalah jika sampai mereka jadian, sudah pasti dia akan sangat posesif dan pencemburu membuatnya sulit bergerak dan sesak dengan semua itu menyadarinya sejak awal, Lian benar-benar menyerah untuk bersama Mawar. Tidak peduli secantik dan semanis apa gadis itu jika, tidak membuat nyaman semua hubungan hanya akan terasa sia-sia. “Lian, boleh, yah? Aku beneran cuman kangen ngobrol sama kamu dan … swear! Gak akan ganggu urusanmu.” Lian menggeleng. “Maaf, Mawar tapi, ini urusan penting! Jadi, gak punya waktu buat sekadar ngobrol bahkan saat di jalan,” ucapnya lugas dan tegas. Kecewa itu sudah menjadi keseharian Mawar menghadapi Lian meski, sedih dan ingin marah sampai ingin berteriak dan memaki tetapi, hal itu tidak dilakukannya karena pengendalian dirinya menghadapi Lian ini sangat besar atau juga mungkin tanpa batas, atau entah ini bisa disebut juga cinta buta. “Tapi, besok kamu harus punya waktu, yah?” Lian masih menggeleng. “Pekerjaanku masih banyak, bisa tunda—“ “Lian! Kamu masih belum pergi?” sela Axelle yang baru saja datang tiba-tiba. “Ngapain masih di sini tadi katanya buru-buru.” “Ah, iya, Kak! Aku pergi ini. Maaf, Mawar lain kali bicara lagi.” Mawar mendesah melihat Lian yang pergi kemudian, berpaling melihat sosok yang menggangu pembicaraanya dengan Lian. ‘Ternyata, dia,’ keluh Mawar setelah melihat siapa dia dan ternyata Axelle yang juga sama tengah melihatnya dengan pandangan yang tak bisa ditebak dirinya. “Hallo, Kak! Selamat siang.” “Hm,” gumam Axelle membalas salamnya. “Kamu gak bosen datang ke sini hampir tiap hari? Apa kamu sama sekali gak punya kerjaan penting?” Mawar memutar bola matanya sebal, mengencangkan tas clutch merk Prada-nya berjalan ke arah Axelle dengan sikap percaya diri. “Maaf, ya, kalau harus buat kakak kecewa. Aku gak pernah bosen, tuh, dateng ke sini lagian tujuanku jelas saja … bertemu Lian. Lalu, soal apa aku kerja? Itu urusanku mau kerja atau nggak.” Axelle mengangguk setuju tetapi, jelas bibirnya tengah mencibir gadis itu. perlahan Axelle kehilangan respect pada gadis ini yang terus-menerus mengejar sudah seperti mengganggu adiknya itu. “Yah, yang itu memang bukan urusanku tapi, buat kamu yang selalu seenaknya datang kemari dan mengganggu Lian. Aku harus ikut campur, mengerti! Jadi, lain kali perhatikan lagi apa Lian punya waktu untuk ditemui. Kantor ini bukan taman hiburan yang bisa seenaknya bisa dikunjungi.” Setelah mengatakan hal tersebut Axelle segera berlalu pergi. Kesal. Gigi Mawar bergemeletuk ingin menggiling kata-katanya yang jahat agar dirinya puas tetapi, tak ada kata yang bisa dimuntahkannya malah, ada rasa malu tidak terlukiskan. Baru saja dirinya merasa terusir bukan cuma untuk hari ini tetapi, untuk hari selanjutnya sepertinya begitu. Dari tempatnya Mawar bisa melihat jika, Axelle. Pria menyebalkan, yang baru saja ia klaim itu sedang berbicara dengan petugas keamanan di sana dengan sesekali meliriknya. ‘Sialan! Berengsek ini. Kenapa aku harus punya kakak ipar macam dia, ck! Awas saja!’ Menghentakkan sepatu heels-nya Mawar, menahan cemberut dan marah tak lama kemudian akhirnya bisa mengendalkan dirinya. Dia berjalan keluar dengan percaya diri seperti dia pertama kali masuk dan kemudian, menunjukan pandangannya yang sebal dan kesal pada Axelle sambil berucap menunjukan kesopanannya yang terakhir, “Aku pergi!” “Hm, bagus! Baiklah hati-hati di jalan jangan sampai—ja tuh.” Brukk! Baru saja Axelle hendak mengatakan hal tersebut tetapi, Mawar yang tak acuh berlalu begitu cepat seolah tidak ingin mendengar jawabannya dan tiba-tiba saja, lima langkah di depannya harus terpeleset oleh kakinya sendiri membuatnya malu sampai ubun-ubun. Tubuhnya melengkuk seolah tengah melakukan sujud, dengan rambut tergerai ke depan menyembunyikan wajahnya yang sudah barang tentu memerah sempurna juga, tidak heran yang melihatnya seperti ini akan tertawa. ‘s**t!’ umpat Mawar dalam hati lalu, segera bangkit berdiri dan sekali hentakkan rambut Mawar terdorong ke belakang sekaligus menjadi rapih kembali lalu, berjalan keluar tanpa melirik ke mana pun lagi seolah hal barusan tidak pernah terjadi. “Gadis yang luar biasa! Pak Alim , barusan mendengar juga, kan? Dia jatuh berlutut keras sekali, kasihan-kasihan,” tutur Axelle dengan wajah serius tetapi, sudut bibirnya tidak untuk tidak terangkat. Lalu, kemudian Axelle hendak berlalu pergi tetapi sebelum itu, ia juga memperingati petugas keamanan perusahaannya. “Ingat! Jangan biarkan wanita itu kembali kemari apapun alasannya.” “Siap, Pak Bos! Laksanakan!”