Percuma saja!!

2102 Words
Hari sudah hampir beranjak petang meski begitu, Axelle masih harus bersyukur baru hari ini dia bisa pulang lebih cepat setelah banyaknya hari di habiskannya di perusahaan dengan menangani urusan-urusan yang ada antara dua perusahaan. Sungguh, seperti yang dia katakan di awal. Tidak ada yang mudah semua hal butuh perhatiannya.  Memasuki rumahnya saat masih terang, Axelle mengenang kepergian orang tuanya dan masih sangat sedih. Wajahnya berubah sendu, tidak bisa berkata-kata hanya merasa sangat rindu dan sesal karena terlambat disadarinya tidak menghabiskan waktu bersama kedua orang tua bahkan, mereka belum sempat melihat salah-satu dari anak-anaknya menikah. Melihat istri dan cucu mereka. Sungguh, seperti hal sepele tetapi, banyak yang Axelle dengar dari ibunya yang ingin sekali melihatnya menikah.  Impian seorang ibu memang mungkin seperti itu setelah melihat anak prianya tumbuh dewasa jadi, Axelle tak pernah merasa sukar jika mendengar celotehan ibunya seperti itu. Berpikir pasti ada masanya, dia menikah dan memberi menantu sekaligus cucu yang mereka inginkan tetapi, saat ini. Belum lagi diwujudkan Ayah dan ibunya sudah terlebih dulu pergi tanpa memberi pesan apapun. Sambil membuang pikiran sedih, Axelle turun dari mobilnya. Sebelumnya dia tidak pernah berpikir untuk memiliki seorang supir tetapi, merasa kelelahan seperti ini terbersit niatnya dia harus mencari supir pribadi atau memanggil Pak Harun, mantan supir ayahnya untuk bekerja kembali. Tidak nyaman terus bepergian di saat lelah bisa-bisa apa yang terjadi pada kedua orang tuanya akan ia alami juga.  Deg. Mengingat kemalangan kedua orang tuanya. Pikiran Axelle menjadi gundah ia merasa baru diingatkan akan sesuatu. “Bagimana bisa terlupa begitu saja. Aku harus pergi ke kantor kepolisian lagi, nanti,” ujarnya pada diri sendiri. Langkah Axelle menjadi ringan setelah menenangkan diri dengan semua kerewutannya. Hidup itu memang terkadang penuh ketidakterdugaan dan bahkan lebih dari sekadar itu. Dengan hanya diam saja, masalah juga musibah kadang datang tanpa disangka seperti Axelle, dia baru saja masuk ke dalam rumah bermimpi bisa mandi air hangat, makan makanan yang lezat lalu, bisa istirahat dengan nyaman sebelum besok harus bergelut dengan bisnisnya lagi.  Namun, sayang. Untung tak dapat diraih Malang tak dapat ditolak. Sebuah stick kayu berdiameter cukup kecil tapi, juga cukup panjang dengan ujung sedikit bulat tumpul. Benda itu berputar terbang ke arah yang tidak dilihat Axelle sebelumnya hingga, dia tidak bisa menghindar. “Akhh!” Meredam jeritannya, membungkuk mencari pegangan untuk menahan rasa ngilu dan nyeri. Dan, mengeretakkan giginya menatap tajam benda j*****m yang sudah berklontang di lantai. Menelan ludah gugup Arion dan Arvin saling memandang sebelum jatuh pada sosok Axelle atau pastinya tempat di mana kayu itu menyentuhnya. “Aww!” Mereka pun sedikit kaget bahkan, ikut merasa ngilu sendiri dan tanpa terduga sama-sama memegang tubuh bawah di antara kedua kaki mereka sendiri.  “S-siapa y-yang me- lemparnya?” tanya Axelle menelan ludah pahit, matanya sudah bergetar merah ingin menangis. “Arvin, Kak,” jawab Arion cepat sambil segera berdiri dari acara rebahannya, belum lagi jarinya langsung menunjuk sang Pelaku.  “Arvin!” geram Axelle. “Maaf, Kak!” teriaknya sambil lari ke atas mencari tempat teraman agar tidak mendapat perhitungan dari kakak sulungnya.  Melihat Arvin yang malah lari, segera saja Axelle melempar tatapannya pada Arion yang juga siap berlari. “Mau ke mana, hah?” “Kak, Arvin yang salah,” rengeknya dengan wajah sedih.  “Masih berani bilang begitu?” “Nggak.” “Kalau gitu pilih lari 30x atau seret Arvin kemari?” “Siap laksanakan! Segera bakal kuseret itu mahkluk jahat berani-beraninya dia menjadikan masa depan Kakak sebagai sasaran,” sahut Arion berdumel seolah merasa sangat prihatin atas apa yang terjadi pada Axelle. “Gimana kalau punya Kakak sampai lumpuh Akhh… gak kebayang!Pasti sengsara banget.” “Arion!” geram Axelle semakin tidak tahan dengan bocah di depannya. “Kamu mau seret Arvin atau sekalian saja kamu yang kucincang habis.” Mendengar seruan itu Arion langsung merinding, dia tidak mengabaikan perintah Axelle lagi dan segera berlari pergi menyeret Arvin. “Aku pergi!” Setelah melihat Arion yang pergi lari, Axelle menggeretakkan giginya merasa ngilu kembali di mana tadi tempat tubuhnya terkena stick kayu. “Aaahh… sakit!” erangnya menahan nyeri, menekan benda itu sedikit kuat mengurangi rasa ngilu yang masih berdenyut. “Awas saja bocah-bocah itu. Giliran kalian kulempar jadi lembing nanti.” ** “Apa Sam belum pulang?” Axelle bertanya mendongak melihat Lian sedang berjalan ke arahnya sambil membawa semangkuk buah.  “Hm,” jawab Lian sambil menggumam duduk di samping Axelle. Melirik dua orang lain yang sedang duduk dan mengangkat tangannya jelas sedang dihukum. “Sampai kapan mereka kayak gitu, Kak?” Axelle melirik yang ditunjuk Lian lalu, kembali sibuk dengan laptopnya. “Tunggu saja sampai mereka lelah.” “Aaakkh, Kak! Aku cape, tanganku sakit,” keluh mereka bersamaan. “Yang melempar stick itu Arvin bukan aku,” bela Arion dengan tampang sedihnya.  “Yakh! Tapi, kan lu yang minta ditampol.” “Lah, lu gak punya otak! Siapa juga yang minta tampol,” balas Arion. “Gue cuma minta bantuan lu sebagai jomblo akut.” “Sialan! Lu bilang gue jomblo?! Baru aja punya pacar sehari terus berani-beraninya php-in anak orang terus gue yang harus tanggung jawab. Dasar gak punya otak!” “Lu, kan saudara kembar gue. Apa masalahnya, bantuin gue.” Bola mata Arvin hampir saja keluar, kesal dengan Arion tetapi, belum selesai dia mengeluarkan suara lain. Suara gebrakan meja terdengar lebih keras membuatnya menoleh dan sadar sedang ditatap tajam Axelle juga Lian. Brakk!Brakk!  “Kalian masih tidak mau diam?!” tanyanya yang menjurus perhatian yang berbahaya. Arvin dan Arion memilih tutup mulut tidak lagi bicara dengan bahasa isyarat mengunci mulut mereka dengan tangan. Axelle cukup puas, dia tidak sabar menghukum keduanya hanya setelah mereka makan malam. Begitu baiknya dia masih memberi makan sebelum menyuruh mereka berlutut dan mengangkat kedua tangan jika, itu orang lain. Axelle sudah pasti ingin meremas orang itu dan membiarkannya merasakan apa yang dirasakannya.  Bagi seorang pria benda sakti mereka itu adalah segalanya. Tidak bisa tidak cacat atau mereka bukan Lakik! Namanya. Hari ini dia masih cukup selamat tetapi, tidak akan lain kali. Jadi, Axelle ingin menghukum kedua anak ini agar tidak mudah tergoda nafsu. Sadar atau tidak seusia mereka emosi masihlah belum sepenuhnya stabil meski, bukan lagi remaja tanggung yang lebih meluap-luap tetapi, usia dua puluhan dianggap sebagai orang dewasa yang canggung ditambah pergaulan di tempat perkuliahan yang rentan dengan pergolakan emosi. “Kak,” keluh Arion tiba-tiba tidak tahan lagi mengangkat kedua tangannya, matanya berkaca-kaca menatap Axelle seperti anak anjing kehilangan induknya. “Udah ngehukumnya, tanganku bener-bener pegel.” “Aku juga,” Giliran Arvin yang bicara. “Sakit banget,” keluhnya sambil menjatuhkan kedua tangannya di samping.  Axelle hanya mendengus dan menghentikan hukuman mereka yang baru berjalan kurang dari setengah jam. Tidak peduli apa keduanya bukan bocah bodoh lagi yang bisa dihentikan jika dapat hukuman. “Ya, udah pergi sana! Dan, jangan keluyuran malem-malem.” “Iya,” jawab mereka kompak dan segera melarikan diri ke kamar masing-masing.  Axelle melirik Lian, yang masih anteng di sampingnya membaca buku seolah tidak peduli sekitar bahkan, saat kedua adiknya bertengkar dan dihukum dia seperti tak ada urusan dengan dunianya. “Lian, telepon Kana dan Sam kenapa mereka belum pulang juga!” perintahnya. “Mereka bukan anak kecil lagi, Kak. Nanti juga pulang.” Mendengar jawaban Lian, Axelle malam berkomentar lagi hanya berpikir ‘Yah, mereka mungkin lagi ada urusan juga, belum sampai tengah malam. Baiklah, belum ada yang perlu dikhawatirkan.’ “Ah, ya, Kakak kenapa gak cari Kak Aksa? Dia juga, kan belum pulang?!” “Dia gak usah dicari,” jawab Axelle seraya bangkit berdiri. “Aksa ngomong kalau dia punya kerjaan di luar kota jadi, gak bakalan balik dua-atau tiga hari. Kamu perhatiin aja adik-adik yang lain jangan terlalu sibuk sendiri.” Lian menjulurkan lidahnya. “Mereka udah gede juga, punya tanggung jawab masing-masing. Lagian mereka udah gak mau diganggu dan ditanya-tanya juga.” “Hah, tapi, gimana pun yan … “ Sekali lagi Axelle tidak bisa berkata-kata, diam saja yang paling benar. “Ya, sudahlah! Kali mungkin kamu yang bener. Kakak gak bisa terus-terusan ganggu urusan kalian lagi. Ya, sudah. Aku pergi ke ruang kerja dulu.” Jika, diingat mungkin merasa dirinya pun akan terganggu jika, ada orang yang terlalu mengaturnya meski itu saudara sendiri. Setelahnya, Axelle memilih pergi ke ruang kerjanya. Ada hal yang harus dilakukannya secara sembunyi-sembunyi sebelum ada kepastian yang bisa membuktikannya. Membuka saluran telepon, Axelle segera terhubung dengan seseorang nun jauh di sana. Berbicara cukup lama, yang tanpa sadar menghabiskan waktunya tanpa sadar sampai panggilan itu berakhir. “Bagaimana bisa aparat-aparat itu menjadi tidak berguna?!” keluhnya tidak percaya. *** “Mawar, kamu masih berhubungan dengan anak Evano itu, kan?” “Iya, Pi,” jawab Mawar dengan sedikit keheranan. Tidak biasanya papanya akan bertanya dan peduli dengan apa yang dilakukan dirinya. Papanya ini biasanya terlalu sibuk dengan urusan pribadinya jarang sekali memberi perhatian. Kadang terbersit iri di hati Mawar, tiap kali mengetahui jika, ayah teman-temannya begitu perhatian. “Tidak… tapi, baguslah! Carilah teman-teman dekat yang berguna seperti dia--” “Ada apa ini? Kenapa mencari teman-teman dekat Mawar. Kamu mau cari selingkuhan, sugar baby gitu …” Tiba-tiba Gina datang dari ruangan lain dan tidak berharap jika, mendengar ucapan suaminya yang tidak jelas. Mawar awalnya tertawa mendengar suara merajuk dan cemburu ibunya. Gina Callie. Wanita yang masih sangat cantik meski sudah berkepala empat. Jika, berdiri bersama dengan Mawar tanpa rasa keberatan. Mawar bersedia memanggil ibunya dengan sebutan Kakak karena disandingkan keduanya lebih mirip adik dan kakak. “Yah, Mi!” Darren tidak terima sampai-sampai menghentikan mulutnya dari hendak menyuap sarapan pagi miliknya dengan sesendok nasi goreng.  “Apa?” “Yang aku cari itu anak keluarga Evano itu, teman pria Mawar. Kenapa aku harus cari Sugar-sugaran gitu. Terlebih lagi anak cowo, huh, apa keliatannya ini aku orang yang udah hilang akal?” Gina mendengus kasar, menyorongkan piring menjauh jelas merajuk marah. “Mami, tahu, kok. Tapi, Mami punya firasat gak bener aja. Sejak kapan Papi peduli sama temen atau pacar Mawar? Papi mau ngapain, hah?” Dalam hati Darren sudah ingin menggilas wajah istrinya. Dia sudah lelah menghadapi istrinya yang mudah merajuk jika, sesuatu tidak sesuai keinginannya jika, bukan karena hartanya. Darren sudah menceraikan wanita seperti ini… belum lagi istrinya manja, sombong dan terkadang sedikit tak punya otak. Sampai sialnya beberapa sifat jeleknya pun tidak bisa dihindari menurun pada putri satu-satunya. Mawar. Beruntung otaknya lebih pintar dari ibunya dan masih bisa didik. “Kenapa Papi gak jawab?” “Apa yang harus dijawab?” jawabnya dingin. “Percuma saja nanti juga, cuma dibilang alasan. Udahlah, aku pergi!” Darren berdiri menyisakan suara kursi yang bergeser cukup kasar. “Pih, abisin dulu sarapannya, ya.” “Gak perlu.” “Yyah, makan saja ditempat lain,” sahut Gina lebih dingin. Mawar jatuh dalam ketidaknyaman melihat kedua orang tuanya seperti ini hanya karena hal-hal sepele, yang akhirnya jadi pertengkaran besar. Mawar mendesah menatap ibunya terkadang bingung, terkadang ibunya yang selalu jadi biang keladi ditiap pertengkaran. “Mih, kenapa, sih, selalu aja cari masalah? Ini masih pagi dan lihat … Papi belum selesai sarapan.” “Kamu jangan ikut campur, gak ada urusannya sama kamu,” sahut Gina sambil mendengus sambil melihat punggung suaminya yang menjauh.  “Apa yang gak ada urusannya sama aku, Mih. Mami sama Papi bertengkar kan cuma—“ “Shut! Kamu diam.” “Mami nyebelin! Gimana Papi bisa betah di rumah kalo tiap ada Mami, selalu aja bikin dia marah.LMK k Mami mau Papi beneran pergi ninggalin kita?” “Kamu, tuh, cerewet banget, ya!?” Kesal Gina sekarang menatap putri tunggalnya. “Papimu itu gak mungkin, dia bisa pergi. Dia gak punya apa-apa! Kalaupun dia pergi dia hanya bakal jadi gembel. Sudah setua itu, apa yang bisa dia lakukan.” Mawar menatap ibunya setengah tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya tapi, mau bilang apa. Sejak dulu ibunya memang seperti ini. Mendesah lelah, Mawar kembali membuka suara. “Kalau Mami memang udah gak tahan sama Papi .. kenapa gak pisah aja, sih? Percuma aja, kan kalian tinggal bareng tapi, tiap deketan cuma berakhir sama pertengkaran.” “M-mami gak bakalan cerai sama Papi kamu,” jawaban Gina cukup tegas meski, dalam sorot matanya ada keraguan. Sebenarnya bukan tanpa alasan dia selalu cari masalah dengan suaminya, entah bagaimana semenjak dia tahu suaminya berselingkuh rasa respect dan kepercayaannya hilang meski, sudah mengatakan bersedia memaafkan tapi, lukanya masih terlihat dan membuat benci. Dan, karena inilah dia selalu ingin mencari masalah dengan suaminya.o. “Kalau gitu, ubah sifat Mami yang selalu bikin Papi marah,” terang Mawar yang kali ini juga memilih pergi terlebih dulu. Meninggalkan Gina di ruang makan sendiri setelah memberinya ciuman selamat tinggal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD