Hari sudah beranjak siang. Di dalam mobil Mawar masih dalam mode pencerahan untuk mencari ke mana dia harus pergi setelah keluar dari rumah. Sebelumnya, dia bukan tidak punya tujuan selain ke kantor Lian --untuk mencari pria itu sekadar menobrol sebentar atau juga menemaninya makan siang—tetapi, selain itu memang taka da pilihan utama dalam tujuannya.
Jujur saja selama ini Mawar tidak sibuk memikirkan karirnya. Dia sudah punya saham yang bisa diandalkannya untuk menunjang hidupnya, belum juga beberapa real-estate dan toko warisan kakeknya yang hanya akan dia periksa satu bulan sekali. Hidupnya tidak terlalu serius seperti itu juga, kata ibunya yang paling penting adalah dia menyelesaikan pendidikannya dan masih memegang uang.
Jadi setelah lulus kuliah, tidak ada hal yang menarik lainnya selain mengejar cinta Lian. Pria yang dia pikir paling sempurna dan cocok untuknya. Bukan hanya pintar dia sudah hampir taraf jenius, juga sangat pekerja keras. Jangan bicara omong kosong lagi soal fisik, dia tinggi,tampan, berkulit gandum dan paling sempurna di matanya. Belum lagi, Lian sosok yang pekerja keras. Dia bersedia bekerja diperusahaan ayahnya sendiri mulai dari posisi bawah. Hal yang makin Mawar terkagum-kagum dan merasa tergila-gila tapi, sampai sekarang hati pria itu belum juga ia raih.
Bugh!
Mawar memukul badan setirnya menjadi kesal teringat jika, saat ini jadi makin sulit bertemu Lian setelah dirinya dilarang untuk berdiri masuk lobi. “Ish, ini semua gara-gara orang itu! Dia sebagai kakak jahat sekali, sialan! Ahh. Sekarang harus gimana?”
Tin tin!
Suara klakson mobil terdengar dbelakang mobil Mawar, sepertinya dia sudah terlalu lama diam setelah berhenti di lampu merah. “Baik, baik, aku pergi!” serunya sambil menancap gas. Setelah berpikir cukup lama Mawar hanya bisa memperhitungkan keberuntungannya berharap jika, Axelle tidak ada di tempatnya saat ini. Dia bisa menyuap si Satpam atau …apapun yang terpenting dia bisa melihat Lian hari ini.
**
Lian mengerutkan keningnya, baru saja dia mendapat pesan dari Mawar. Lalu melihat kakaknya, Axelle yang kebetulan mereka sedang berbicara di kantornya. “Kak, apa yang kakak lakukan sama Mawar, Wanita itu?”
“Lakukan apa?” tanya balik Axelle dengan tangan yang sibuk memegang kertas.
“Hm, sebenernya beberapa hari ini aku baru sadar. Mawar udah jarang banget terlihat di lobi, dia cuma sms aku sesekali.”
“Terus?”
“Yang terakhir kali pas ketemu bareng Kakak.”
“Iya, lalu,”
“Kakak serius jawab gak,sih,” sahut Lian kali ini sedikit bosan.
“Serius,lah. Jadi, apa?”
“Dia bilang gak bisa ke sini dan minta ketemu di café.”
Axelle melirik Lian dengan sudut matanya. “Bagus, jadi pergi saja pas waktu makan siang.”
“Kenapa Kakak larang dia buat datang ke perusahaan?” Akhirnya pertanyaan yang ingin ditanyakan Lian keluar juga. Baru saja dia mendapat keluhan dari Mawar, wanita itu tidak bisa menginjakan kakinya lagi diperusahaan karena kakaknya yang melarang. Sebenarnya, itu juga baik untuknya agar Mawar tidak terlalu mengganggu tetapi, setelah beberapa hari tidak melihatnya rasanya harinya hanya menjadi kurang.
“Lian, hiduplah dengan jujur.”
“Hm?” Lian tidak mengerti kata-kata Axelle yang satu ini.
“Bodoh,” cibir Axelle sambil menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan otak adiknya yang katanya pintar ini. Terlalu malas untuk menerangkannya, Axelle memilih menekuni pekerjaanya membiarkan adiknya dalam kegelapan.
“Kak!”
“Sudahlah, keluar sana! Aku terlalu sibuk untuk menerangkannya kamu pikirkan saja pelah-pelan.”
Melihat kakaknya tidak mau bicara lagi, Lian menyerah dan hanya bisa membawa kembali pekerjaannya ke kantornya. Meski, di dalam otaknya dia sedang mencerna kata-kata kakaknya. ‘Hidup jujur, apa selama ini kau kurang jujur?’ desahnya memikirkan kata-kata tersebut karena yang bisa dicernanya , hanyalah karena dirinya seorang pengacara, tentu saja hidupnya haruslah jujur. Membela klien yang pantas dibela. ‘Apa seperti maksudnya? Lalu apa hubungannya dengan Mawar?’
Tidak menemukan keterkaitannya. Lian hanya bisa memikirkannya pelan-pelan seperti ucapan kakaknya. Sepertinya dia tidak mungkin salah kakaknya, Axelle mengatakan hal itu untuk menghubungkannya dengan wanita itu bukan dengan pekerjaanya sebagai pengacara.’
**
“Ya, ampun. Pak Alim tega banget, sih?! Aku cuma nungguin pak Lian doang di dalem gak bakal ganggu.”
“Non, gak bisa. Kalau ketahuan bos saya yang malah dipecat.”
Mawar berdecak sebal sudah hampir lima belasmenit berlalu bahkan, mulutnya sudah sangat berbusa untuk berbicara dengan petugas keamanan ini tetapi, hasilnya nihil. Petugas itu tidak membiarkannya masuk. Ingat dengan metode penghabisannya, Mawar segera mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. “Ayo, Pak! Pegang ini dulu.”
Pak Alim mengerutkan kening, tangannya menyentuh lembaran kertas. “Non, jangan gini! Kalau saya dipecat dari sini uang ini gak bakalan cukup buat mencukupi kebutuhan saya seumur hidup,” ujarnya tegas sambil tak ragu mengembalikan lembaran kertas merah itu ke tangan Mawar.
Setengah malu Mawar dengan jawaban Pak Alim tidak disangkanya masih ada orang yang jujur disekitarnya. Karena hal seperti ini juga ditolak, Mawar tidak bisa terus kukuh. Dia juga harus punya harga diri jadi, dia tidak memaksa lagi dan kembali ke dalam mobilnya. Mengirim pesan teks dan bicara apa adanya pada Lian tidak peduli apa responnya.
Sebenarnya, hal ini yang paling tidak disukai Mawar. Mawar dan Lian jarang sekali berbalas pesan atau berteleponan. Pria itu terlalu sibuk, saat ini saja Lian butuh cukup lama membalas pesanya itupun hanya berisi dua huruf singkat. ‘ya’.
“Ya, ya, untuk apa?!” geram Mawar. Karena tidak mendapat balasan yang jelas. Lian benar-benar bukan orang jelas, jadi hanya seperti ini saja hubungan mereka selama tiga tahun. Dia yang seperti mengejar tembok berjalan yang sulit ditembus. “Hah, mungkin saja jawabannya. Dia bersedia pergi ke café, kalau begitu tunggu saja di sana.”
Ketika akhirnya Mawar keluar parkiran, sebuah mobil datang dan menggantikan posisi mobil Mawar diparkiran. Turun dari sana adalah Darren Callie, ayah Mawar, yang tadi pagi dibuat kesal oleh istrinya. Sebelumnya dia sudah membuat janji dengan Axelle, tidak ada waktu lain semakin cepat semakin baik dan semakin tidak sabar ingin segera mewujudkan mimpinya.
*
“Selamat siang, Pak Axelle,” suara wanita terdengar dari intercom yang terdapat di atas meja Axelle. “Maaf mengganggu. Ada seseorang yang ingin bertemu tetapi, dia belum membuat janji. Jadi, bisakah mengizinkannya masuk?”
“Apa yang penting, aku masih sibuk? Alihkan saja pada Pak Ibra.”
“Baik, pak!” jawab si Sekertaris dari intercomnya lalu, kemudian menghilang namun, belum lama kembali terdengar denting alat itu dilanjutkan suara sekertarisnya lagi. “Pak Axelle, mohon maaf. Mengganggu kembali.”
“Apa lagi, Mira?”
“Tamu ingin langsung bertemu dengan Bapak, katanya dia Darren Callie. Rekan almarhum, Pak Aries.”
Axelle mengerutkan kening, mencari ingatan tentang teman ayahnya ini tapi, tak ada apapun. “Aku tidak mengenalnya tapi, apa dia bilang mau apa?”
“Katanya urusan penting juga pribadi.”
“Ya, sudah. Biarkan dia masuk. Lain kali, siapapun telebih dulu harus membuat janji. Tidak bisa seperti ini, Mira.”
“Baik, Pak! Saya mengerti.”
Puas mendengar jawaban sekertarisnya, Axelle segera membenahi beberapa file penting hingga, sedikit terlihat rapih dan tertata. Tidak bisa membiarkan klien yang akan ditemuinya melihat kekacauan ruangan bisa-bisa tidak percaya mereka dengan kapasitasnya sebagai pengacara juga pembela klien-nya nanti. Penampilan adalah no.1 bagi Axelle jika cover terlihat baik, tidak mungkin isinya lebih buruk meski, jelas tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Butuh beberapa saat lamanya, sampai ketukan terdengar dari luar pintu kantornya bersamaan dengan suara sekertarisnya. “Pak Axelle, boleh kami masuk?”
“Silakan!” sahutnya.
Didepannya sang Sekertaris mempersilakan tamunya sedangkan, dirinya menyingkir pergi sambil mengatakan dia akan membawakan minum.
Darren maju ke depan, melihat pria yang masih cukup muda dengan pangkat direktur bukan satu tapi, dari dua perusahaan berbeda. Sedikit tak percaya tapi, itulah kenyataannya. Mungkin, jika bukan karena ulahnya tak akan ada dia di sana yang memegang posisi direktur. “Darren Callie,” ujarnya memperkenalkan diri.
Keduanya berjabat tangan sebelum, Axelle menjawab dengan memperkenalkan dirinya sendiri. “Axelle Evano, Direktur baru di firma ini. Silakan duduk!”
Senyum Darren begitu dalam, dia pun tak sungkan memperlakukan dirinya dengan baik. Duduk tenang di depan Axelle dengan sikap seorang senior karena, pikirnya anak itu hanya anak ingusan yang baru saja keluar dari sarang.
“Sebelumnya kita tidak pernah bertemu tapi, mendengar Anda memiliki urusan penting dengan saya, jadi, soal apa itu? Apa Anda perlu bantuan kami sebagai pembela?”
“Tidak, bukan itu. tapi, bisnis lain yang lebih besar,” sahut Darren tidak nyaman dengan kata-kata blak-blakan Axelle, seolah tampak ketidaksabaran di wajah tampannya itu. “Meski, begitu jangan terlalu terburu-buru juga, kita bisa sedikit bicara santai, bukan? Sudah lama aku berteman dengan ayahmu. Tidak lupa seberapa dekat mertuaku dengan mendiang kedua orang tuamu, Aries dan Selena.”
“Oh, ada yang seperti itu?! Maaf, aku kurang mengetahuinya.”
“Hm, Aries sudah menjadi pengacara pribadi dari mertuaku. Dia yang terakhir kali membereskan warisannya.”
“Jika, boleh tahu siapa mertua Anda . Maklum saja, aku kurang banyak tahu dengan teman-teman dekat kedua orang tuaku.”
“Jared Callie.”
“Aah! Aku sudah mendengar sedikit dari adikku.” seru Axelle sedikit membuka mulutnya. Jika, baru saja dia ingat tentang foto di meja seorang kakek-kakek dengan kedua orang tuanya. Masih terikat juga yang dikatakan adiknya, Aliando. “Jadi, Apa mungkin? Anda juga ayah dari Mawar?”
“Yah, jadi, kamu kenal juga dengan putriku.”
Sudut bibir Axelle berkedut sedikit, menampik senyum jujurnya. “Hm, dia sering sekali kemari hanya untuk bertemu Lian. Apa Anda tahu tentang itu?”
“Yah, putriku senang sekali mengejarnya. Aku tidak tahu sudah sampai mana hubungan mereka.”
‘Gila, dia membiarkan saja putrinya seperti itu. Mengejar pria tanpa kenal waktu, Lihat apa putrinya punya harga diri?! Orang tua macam apa orang ini?!’ desah Axelle dalam benaknya tidak habis pikir. “Baiklah, biarkan mereka mengurus hubungannya? Jadi, bisakah kita bicara maksud kedatangan Anda?”
“Sepertinya, Pak Direktur ini terburu-buru. Apa sebegitu sibuknya urusan di belakang meja itu?” Darren masih senang untuk berbasa-basi, bersikap tenang dan lambat ingin mencari celah yang terbaik. “Santailah sedikit. Kita belum minum. Karena ini merupakan hal penting kita harus lebih tenang dan santai.”
Senyum melayani di bibir Axelle mulai hilang meski, dipaksakan dan dia pura-pura setuju dan mengangguk. Benak Axelle penuh omong-kosong tentang pria tua ini. Segera setelahnya Mira, sekertarisnya datang tepat waktu untuk menyajikan minuman. Kemudian keduanya mulai berbicara serius tentang orang tuanya beserta bisnis yang katanya terlantar lantaran karena kematian orang tuanya.
“Bisnis ini seharusnya masih harus dilanjutkan meski, Aries dan Selena sudah tidak ada lagi. Tidak mungkin berhenti di tengah jalan … atau akulah yang paling besar memiliki dampak kerugian ini,”ucap Darren dengan desahan letih dan raut wajahnya yang sedih.
Axelle tidak mengerti dengan perubahan kata seperti ini. “Jadi, bisnis seperti apa yang orang tuaku dan Anda lakukan?”
Mengangkat satu alisnya yang tersembunyi dari penglihatan Axelle, merasa bocah di depannya mudah untuk dikendalikan. “Tentu saja urusan dengan ayahmu adalah tentang pembebasan tanah di kota Selatan xxxxx untuk sebuah pembangunan gedung. Ayahmu sudah melakukannya dan menyimpan hal itu untukku sebelum kecelakan terjadi.”
Axelle mengerutkan keningnya, dia pikir akan ada hal besar apa ternyata jauh dari perkiraanya. “Jadi, pembebasan ini sudah hampir selesai karena ayah saya sudah menyiapkan surat-surat tersebut?”
“Y-yah, dia seharusnya segera menyerahkannya pada saya tetapi, sampai kecelakaan terjadi. Saya tidak bisa mengambilnya,” sahut Darren dengan nada sedikit tidak sabar dan senang.
“Apa ada yang seperti itu?” Axelle mencoba berpikir dan mengingat-ingat apakah ada pekerjaan yang ditinggalkan ayahnya yang seperti itu.
“Tentu saja, ada,” jawab Darren sedikit tak sabar. “Cobalah cari terlebih dulu lalu, bicara lagi dengan Saya. Ini merupakan hal penting jadi, lebih prioritaskanlah masalah ini. Jangan khawatir, sampai di mana keterlibatan ayahmu dan dirimu tidak akan berakhir sia-sia.”
“Bukan masalah seperti itu. Anda tidak perlu khawatir jika, berkas terkait itu ada. Segera akan saya serahkan pada Anda.”
Darren mengangguk-angguk senang. “Bisnis ini pasti jadi, bisnis besar. Jangan khawatir. Kita juga bisa jadi, keluarga yang nyaman… melihat Lian dan Mawar semakin dekat, mereka bisa saja menikah dan kita tak akan canggung dalam berbisnis. Seperti kamu tahu perusahaan Selena dan punyaku bisa saja kita gabungkan menjadikan, perusahaan terbesar di bidang real estate.”
‘ Terlalu berharap. Aku rasa tidak akan Lian dan Mawar seperti omong kosong, di mana adiknya mau dekat-dekat dengan gadis itu. Huh, Lalu berkas macam apa juga yang dikatakannya? Kenapa tidak ada catatan yang tertinggal soal ini. Tidak meyakinkan tapi, tak mungkin juga dia berbohong. Untuk apa dia sampai ke sini jika begitu.’