bc

Usai Putusan Cerai

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
second chance
drama
sweet
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Pertengkaran malam itu cukup menguras emosi hingga akhirnya Kael kecelakaan dan membuat sebagian ingatannya menghilang.Ditengah prahara pernikahan yang berada di ujung tanduk, Aleta pun mencoba memperbaiki semuanya agar pernikahannya terselamatkan.Namun, hal itu tak semudah yang Aleta bayangkan karena ternyata mertuanya tak setuju jika dirinya dan Kael bersama lagi.Akankah pernikahan Kael dan Aleta terselamatkan atau malah menjadi perceraian?

chap-preview
Free preview
1. Perceraian
“Kita cerai.” Suara lantang itu terdengar menusuk hati. Aleta Caroline tak menyangka jika pria yang dia cintai begitu hebat ingin bercerai darinya. “Hanya karena kesalahan paham kamu ingin bercerai?” tutur Aleta tak percaya. Pria itu pun berjalan mendekati Aleta. “Kesalahpahaman?” Kael Putra Wiratama menatap tajam wanita yang selama ia nikahi ternyata mengkhianatinya. “Setelah bukti perselingkuhan ini dibongkar pun kamu masih mengelak?” “Ini hanya sebuah foto dan kamu nggak tahu apa yang aku bicarakan dengan pria itu,” ucap Aleta menjelaskan. Kael tertawa kecil—dingin, tanpa sedikit pun kehangatan. Tawanya justru membuat d**a Aleta semakin sesak. “Aku nggak perlu tahu apa yang kamu bicarakan,” ucapnya datar. Ia melempar ponsel ke atas meja, layar menyala menampilkan beberapa foto lain. “Ini bukan kali pertama kalian bertemu dan itu bukan cuma satu foto, Aleta. Ada banyak!” teriaknya. “Kamu lihat, waktu dan tempat yang berbeda-beda. Bahkan ada rekaman kamu masuk ke apartemennya.” Wajah Aleta seketika pucat. Bibirnya bergetar, matanya berkaca-kaca. “Aku bisa jelasin,” suaranya melemah. “Aku ke sana cuma mengantarkan barang. Dia itu—” “Cukup!” potong Kael keras. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal. “Kamu selalu punya alasan. Setiap aku tanya, selalu aku yang kamu buat seolah-olah terlalu cemburu.” Aleta melangkah mendekat, mencoba meraih tangan Kael, namun pria itu langsung mundur selangkah. “Kael, ini semua nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku cuma cinta sama kamu.” Kael menatapnya lama, ada luka yang jelas di matanya—luka yang sudah terlalu dalam untuk disembuhkan. “Kalau kamu cinta aku,” katanya pelan namun tajam, “kamu nggak akan mengkhianati kepercayaanku.” Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara isak Aleta yang tersisa. “Besok aku akan urus surat cerai,” lanjut Kael tanpa ekspresi. “Kamu bisa tinggal di sini sampai semuanya selesai. Setelah itu, kita pisah.” Kael berbalik pergi, meninggalkan Aleta yang jatuh terduduk di lantai, menangis dalam penyesalan yang terlambat. Sementara itu, Kael masuk ke dalam mobilnya. Pintu dibanting keras, seolah menjadi pelampiasan amarah yang masih membara di dadanya. Mesin dinyalakan, mobil melaju meninggalkan rumah yang kini terasa asing baginya. Tangannya mencengkeram setir erat. Kata-kata Aleta terus terngiang di kepalanya, bercampur dengan bayangan foto-foto yang membuat dadanya sesak. Dadanya naik turun tak beraturan, pandangannya mulai kabur oleh emosi yang tak terkendali. “Pengkhianat.” gumamnya lirih. Hujan turun tiba-tiba, deras, membasahi jalanan aspal yang licin. Kael tetap memacu mobilnya, tak peduli dengan kecepatan yang terus bertambah. Pikirannya kalut, hatinya hancur. Namun, tiba-tiba sebuah truk besar muncul dari arah berlawanan. Dalam hitungan detik, suara klakson panjang menggema. Kael tersentak, refleks memutar setir terlalu keras dan— BRAAAKK! Benturan hebat tak terhindarkan. Mobil Kael berputar, menghantam pembatas jalan sebelum akhirnya terbalik. Pecah kaca berserakan, suara logam beradu memekakkan telinga. Dunia seakan berhenti berputar. Kael terdiam, tubuhnya terkulai tak bergerak, darah mengalir pelan dari pelipisnya. Saat kesadaran perlahan menghilang, hanya bayangan Aleta yang berputar di kepalanya hingga semuanya gelap. *** Suara ketukan sepatu terdengar begitu nyaring seiring deru nafas yang tak beraturan. “Dengan keluarga Pak Kael,” tanya perawat yang berjaga. “Iya, saya istrinya,” ucap Aleta mencoba menetralkan nafasnya. “Dimana dia sekarang Sus?” “Pasien sedang berada di ruang perawatan setelah operasi kecil di kepalanya. Sebelum itu Ibu harus mengisi administrasinya terlebih dahulu.” “Iya, Sus.” Sedangkan ditempat lain, suara monitor rumah sakit berdetak pelan. Bau antiseptik memenuhi ruangan. Kelopak matanya perlahan bergetar, lalu terbuka. Kael mengernyit bingung. Pandangannya menyapu ruangan asing itu. “Di mana aku?” suaranya serak, nyaris tak terdengar. Seorang perawat tersenyum lega. “Syukurlah, Pak. Anda sudah sadar.” Kael mencoba mengingat sesuatu—namun kepalanya terasa kosong. “Dimana aku?” tanyanya lirih, penuh kebingungan. “Anda sekarang berada di rumah sakit. Sebelumnya Anda mengalami kecelakaan, untungnya banyak orang yang membantu membawa Bapak ke rumah sakit.” Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian keduanya. Kael terbaring lemah di atas ranjang dengan perban melilit kepalanya. “Sayang, kamu sudah sadar,” tutur Aleta menghentikan langkahnya kemudian memeluk erat tubuh suaminya itu. “Maafin aku, aku benar-benar minta maaf.” Terdengar isak tangis Aleta, tapi tidak dengan Kael. Pria itu hanya diam tak berkata sepatah katapun bahkan dia tak membalas pelukan Aleta. Mendapat respon yang dingin, perlahan Aleta melepaskan pelukannya. Dia sadar betul jika saat ini Kael masih marah dan mungkin dia semakin membencinya setelah kecelakaan itu. “Siapa kamu?” Mata Aleta membelalak saat Kael tak mengenalinya. “Apa kamu lagi bercanda?” tanya Aleta tak percaya. Dalam benaknya, ia yakin jika pria itu sedang mempermainkannya. “Bercanda … untuk apa aku bercanda. Jelas-jelas aku sama sekali nggak kenal sama kamu.” Aleta mendekati Kael, lalu memegang dahinya. Namun, dengan kasar Kael menepis tangan Aleta. Bingung, Aleta pun menekan tombol nurse. Beberapa menit kemudian dokter datang untuk menjelaskan dengan hati-hati, “Menurut CT scan, pasien mengalami benturan keras di kepala. Ingatannya mungkin hilang sementara.” “Menurut Dokter suamiku Amnesia?” “Iya, tapi ini semua hanya sementara. Pasien memerlukan dukungan agar ingatannya cepat pulih. Kamu akan melakukan pemantauan lebih lanjut.” “Terima kasih, Dok.” Pria itu pun keluar dari ruangan Kael. Hening, Aleta hanya diam memikirkan setiap perkataan Dokter tadi. ‘Amnesia, kalah begitu dia lupa segalanya termasuk tentangku?’ “Hei, apa kamu benar-benar istriku?” Aleta menarik napas panjang, dadanya naik turun menahan perasaan yang campur aduk. Ia menatap Kael lama, seolah mencari sisa-sisa pria yang semalam mengucapkan kata cerai dengan begitu lantang. “Iya,” jawab Aleta akhirnya, suaranya lirih namun tegas. “Aku istrimu.” Kael mengernyit, tatapannya kosong, mencoba menyusun kepingan ingatan yang tak kunjung datang. “Kalau begitu, kenapa aku nggak ingat apa pun tentang kamu?” Pertanyaan itu seperti pisau yang menusuk jantung Aleta. Bibirnya bergetar, namun ia memaksakan senyum tipis. “Dokter bilang ingatan kamu hilang sementara. Mungkin pelan-pelan nanti kembali.” Kael mengalihkan pandangan ke jendela seolah tak ingin menatap wajah Aleta. “Oh ya … tapi kenapa aku merasa nggak mau ingatanku kembali.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
316.3K
bc

Too Late for Regret

read
334.8K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.7M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
146.3K
bc

The Lost Pack

read
449.5K
bc

Revenge, served in a black dress

read
155.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook