PERNYATAAN

1161 Words
Sinar matahari yang menembus kaca jendela membangunkan wanita yang terlelap di sebuah ranjang yang bukan miliknya. Perlahan mata emerald itu terbuka,selimut hitam,aroma pengharum yang berbeda. Ruangan ini sangat asing baginya. Dengan terburu-buru ia membuka selimut,mengecek pakaiannya. Di pejamkannya mata emerald itu seraya menghela nafas lega setelah melihat pakaiannya masih utuh. "Apa kau kecewa?" terdengar suara seorang laki laki yang tak jauh darinya. Rupanya suara itu adalah milik Henry. Ia baru saja keluar dari kamar mandi saat Nessa sedang terburu-buru mengecek pakaiannya,memastikan tak terjadi apapun. Nessa bingung harus menjawab apa.Henry mendekatinya.Duduk di tepian ranjang lalu menyingkap selimut dari tubuh Nessa. "Aku tak selicik itu,setidaknya harus sama-sama sadar" serigai Henry tanpa melepas tatapanya dari mata emerald yang menyihir itu. "Bagaimanapun,terima kasih telah menjagaku saat mabuk" ucap Nessa "Jadi kamu ingat semuanya? tanya Henry. Nessa mengerutkan dahinya,berfikir,mengingat apa yang terjadi semalam.Namun ingatannya terhenti sampai saat ia minum di gelas terakhir.Nessa pun menggigit bibir bawahnya menyesal tak mengingat apapun. "jangan lakukan itu,bagaimana kalau terluka" tegur Henry melihat Nessa menggigit bibirnya. "lakukan dengan lembut" lanjut Henry "apa?" tanya Nessa tak mengerti "seperti ini" Henry mencium bibir Nessa,dengan lembut mengulum dan memberi gigitan kecil agar bibir Nessa terbuka. Jika semalam Henry yang terkejut karena di cium oleh Nessa walau hanya sebuah kecupan singkat,kali ini Nessa yang terbelalak oleh Ciuman Henry. Sementara Nessa masih terdiam membeku,Henry berhasil menerobos masuk dan memperdalam ciuman. Melepaskan tautan bibirnya dan berkata "apa sudah ingat? " lalu menatap mata Nessa lebih dalam lalu menciumnya lagi. Bahkan tangan Henry mendorong tengkuk Nessa agar ciuman itu lebih dalam. Sedangkan Nessa,perlahan mulai menerima kehadiran bibir itu. Matanya terpejam,walau sebenarnya ingin menolak tapi pesona Henry mengalahkan akal sehatnya. Di tambah aroma mint dari kulit Henry yang terbalut kimono mandi berwarna abu itu sangat menyegarkan dan menggoda. Keduanya terdiam,mengatur nafas yang tersegal. Seakan mereka telah berlari jauh. Henry melihat Nessa menundukkan kepalanya,mungkin wanita berambut coklat sebahu itu salah tingkah. Tak tahu harus bersikap bagaimana. Henry pun memeluknya gemas namun mendapat penolakan. "Ini tidak akan terjadi lagi. Aku akan pulang,Presdir." Nessa mengatakannya setelah beranjak dari tempat tidur dan berdiri beberapa langkah dari Henry. "Presdir?" tanya Henry. "Apa sekarang kita bekerja?" lanjut Henry. Nessa memungut sepatu yang tergeletak bawah ranjang,juga Sling bag miliknya di meja. Wajahnya memerah,rasanya ia ingin segera menghilang. 'bagaimana bisa aku berciuman dengan Presdir Henry,aku pasti seperti w*************a di matanya' pikir Nessa sambil berlalu meninggalkan kamar Henry dan keluar apartemennya. *** 3 hari kemudian "Nessa,nanti malam kosongkan jadwal saya. Saya harus menemani istri saya cek kandungan." pinta Hans melalui sambungan telefon. "Akan saya usahakan,Presdir." jawab Nessa. Lalu dengan lihai Nessa mengecek jadwal Hans. 'Jam 7 malam meeting dengan klien,bisa di wakilkan olehku saja.' batin Nessa 'jam 9 malam meeting penambahan kontak dengan SM Grup,dengan Presdir Henry?' Melihat nama Henry,mengingatkan kejadian beberapa hari yang lalu. Membuat Nessa merasa malu. Namun ia harus tetap profesional. Nessa pun segera menghubungi assistan Presdir Henry untuk mengkonfirmasikan permintaan penundaan meeting.Untunglah Henry setuju untuk menundanya. Ya,mungkin itu kekuatan persahabatan. Waktu menunjukan pukul 9 malam saat Nessa berpisah dengan klien baru yang bekerja sama dengan perusahaanya. Ternyata meeting berlangsung lebih lama dari waktu yang di tentukan. Nessa segera meninggalkan ruang meeting bersama dua orang rekan kerjanya. "Kerjakan besok saja,ini tidak mendadak. Kalian pulanglah" perintah Nessa sebelum berjalan berlawanan arah dengan dua rekannya. "Nessa,pulang bareng aku saja. Kita kan satu arah" ucap Teo salah satu rekan kerjanya yang tadi meeting bersama. Belum sempat Nessa menjawab ajakan Teo,ponselnya berdering. Tertulis nama 'presdir SM Grup' di layar handphonenya. Dengan penuh tanya Nessa menjawab panggilan itu. "Aku tunggu di depan" suara Henry terdengar dari seberang sana. "Ya?" tanya Nessa namun terlambat karena sambungan telah terputus. "oh maaf,Teo. Terima kasih atas tawaranmu,tapi aku masih ada urusan." Nessa memberi jawaban untuk Teo sebelum ia mengambil tas miliknya di meja kerja yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Nessa Melihat sebuah mobil hitam terparkir tepat di depan pintu utama lobby. Setelah Nessa melewati pintu kaca itu,ia dapat melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam mobil itu dari kaca jendela mobil yang terbuka. Dengan penuh sopan santun wanita berambut pendek itu memberi salam dan menanyakan keperluanya. "Masuklah" pinta si pemilik mobil yang tak lain adalah Henry. Nessa melihat sekitar sebelum ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil. Untunglah sebagian besar karyawan sudah pulang,yang tersisa hanya mereka bertiga dan petugas penjaga keamanan. Malas rasanya jika banyak mata melihat,karena kantor bukan hanya tempat bekerja tapi tempat bergosip bagi sebagian orang. "Kamu suka makanan Jepang?" tanya Henry "Tidak" jawab Nessa berbohong Tapi Henry terus menanyakan makanan lain yang Nessa suka. Nessa sengaja menjawab tidak karena ia sebenarnya ingin menolak. "Presdir.." Henry tidak menjawab panggilan Nessa "Henry.." panggil Nessa yang langsung di jawab oleh pemiliknya. "Tolong katakan saja,ada apa?" "Tidak ada,hanya ingin makan malam bersama" jawab Henry santai sambil tetap fokus menyetir. "Aku rasa hubungan kita tidak sedekat itu untuk makan malam bersama" tegas Nessa Henry tersenyum pada Nessa. Untuk sejenak Nessa terpaku,ternyata jika di perhatikan senyuman Henry sangat manis. "Mau makan pasta?" tawar Henry Nessa mengangguk menyetujuinya. Tak butuh waktu lama untuk sampai di restoran,mereka pun langsung memesan Pasta beserta minuman. "Tolong lupakan saja kejadian beberapa hari yang lalu" pinta Nessa "Itu akan menjadi kenanganku." Jawab Henry sebagai penolakan. "Katakan saja apa maumu" "Aku mau kamu" jawaban Henry membuat Nessa memijit keningnya yang tak sakit. "Kalau begitu kita akhiri saja sampai disini." saran wanita berbusana khas kantor itu. "Kita baru memulai" "Kita tidak memiliki hubungan apapun!." Suara Nessa terdengar lebih keras dari biasanya. "Nessa,lihat aku" pinta Henry serius Kedua pasang Mata itu bertemu,menatap begitu dalam. "Aku menyukaimu" Pernyataan Henry membuat Nessa terkejut,ia tak bisa berkata apapun. Dalam otak Nessa yang tak pernah memikirkan cinta,hubungan seperti itu sudah tak di inginkan lagi. Butuh waktu beberapa menit sebelum Nessa membuka mulut. "Terima kasih,tapi aku tidak ingin menjalin hubungan." "Bukankah seharusnya kamu bertanya 'sejak kapan mulai menyukaiku atau alasan menyukaiku?' " saran Henry. "Itu tidak penting." Makanan yang mereka pesan telah di sajikan,mereka pun berhenti berbicara. "Makanlah." ucap Henry lembut. "Nessa,apa kamu percaya cinta?" tanya Henry di sela makan. "Entahlah,aku tak begitu yakin." jawab Nessa "Kalau begitu aku akan tetap mencintaimu tanpa izinmu" "Sejak kapan cinta membutuhkan izin?" tanya balik Nessa pada pria tampan di hadapannya. "Aku anggap itu jawabanmu." "Aku tidak suka urusan pribadi dan pekerjaan tercampur." "Tenanglah,si Gila kerja ini hanya akan mengganggumu di luar jam kerja" pernyataan Henry menghentikan kegiatan Nessa dan menghela nafas panjang. Makan malam pun berakhir dengan Henry mengantar Nessa pulang ke rumahnya. "Si Gila kerja? Apa itu julukannya?" tanya Nessa pada dirinya sendiri saat merebahkan tubuhnya di kasur kecilnya. Tiba tiba bibirnya tersenyum,mengingat ternyata ada seseorang yang menginginkannya. Namun senyum itu berubah menjadi kecut saat mengingat keadaan dirinya. Lelaki manapun tak akan bersedia menerima kekurangannya. Sebisa mungkin ia harus menjaga jarak dengan lawan jenisnya. Tidak pernah memberi harapan pada siapapun,seperti yang ia lakukan selama ini. Di tinggalkan oleh orang yang sangat di cintai memang sangat menyakitkan,ia tak ingin merasakannya lagi. Itulah alasan Nessa menutup rapat hatinya. Wanita itu hanya melindungi dirinya. Juga melindungi orang lain agar tak terluka karna kekuranganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD