Pernahkah kau lihat malaikat?
Orang bilang malaikat itu bersayap
Cantik dan rupawan
Tapi malaikatku berbeda
Malaikat yang ku lihat tak bersayap
Tapi bertanduk
Menarik
Tepat pukul 11 malam Henry menyelesaikan pekerjaannya di akhir Minggu. Laki -laki betubuh tinggi tegap itu memang Gila kerja,wajar saja ia masih berada di kantornya.
Henry keluar dari ruangannya dan sedikit terkejut melihat asisten sekaligus sekretarisnya masih berada di meja kerjanya .
"Jun,ku kira sudah pulang" ucap Henry.
"Saya menyelesaikan pekerjaan sebelum besok libur" bohong Jun yang sebenarnya tak enak jika pulang lebih dulu.
"ini sudah larut,kita pergi minum?" tawar sang bos yang tidak bisa di tolak oleh Jun.
Henry yang tergolong belum lama kembali ke negara ini tidak banyak tahu tempat tempat menarik disini,ia menyerahkan pada assistenya untuk memilih bar yang bagus.
Tak lama setelah mengendarai,Jun memarkirkan mobil hitam itu di halaman sebuahh bar.
"ini bar yang terbaik disini Presdir"
"kita berteman di luar pekerjaan.oke" ucap Henry yang langsung di pahami oleh Jun.
Dua pria tampan yang tingginya berbeda kini sudah berada di meja dengan seorang bartender menyiapkan minuman mereka.
Suara dentuman musik dari DJ yang bermain memeriahkan semua orang yang menari di lantai dansa.
"ini bar terbaik, tapi jarang pengusaha yang datang kesini. Mereka tak begitu menyukai pesta seperti ini" jelas Jun.
Henry meneguk minuman sambil mendengarkan Jun berbicara dan mengedarkan pandanganya.
"Jun,kau pernah lihat malaikat?" tanya Henry membuat Jun bingung
Melihat reaksi Jun yang bingung,Henry memutar pandanganya menunjukan apa yang ia lihat di lantai dansa.
"Kau melihatnya?"
Sedikit kesulitan untuk Jun mengetahui apa yang di maksud oleh Henry. Namun beberapa detik kemudian ia menemukan jawabannya
"Apakah itu malaikatmu?"
Henry mengangguk dan berkata "Dahulu aku melihatnya malaikat tak bersayap"
"Sekarang?" tanya Jun lagi
"Malaikat bertanduk" Jawab Henry sambil mengeluarkan evil smile nya.
Dengan cepat Henry meneguk semua minuman di gelasnya.
"Aku pergi menangkap malaikat. Kau cari malaikatmu sendiri"
Jun menyeringai,menunjukan deretan giginya sebelum ia di tinggalkan oleh Henry.
Bertahun-tahun Jun bekerja dengan Henry,namun baru kali ini melihat orang nomor satu di SM Grup itu mendekati seorang wanita. Dan lagi itu adalah Nessa, sekretaris teman baiknya. Yang Jun tahu selama ini Henry hanya mencintai pekerjaan dan keluarganya saja.
Ya,setidaknya kali ini ia membuktikan bahwa gosip tentang Presdir yang 'belok' adalah salah.
Henry menerobos kerumunan orang yang sedang asik menari mengikuti irama musik DJ. Pencahayaan yang sengaja di buat redup serta lampu warna warni berkelap kelip khas lantai dansa menambah kemeriahan bar.
Henry dengan mudah menyela seorang laki laki di hadapan Nessa,menarik perhatian Nessa. Laki laki berambut hitam itu menyeringai menatap Nessa.
Sedangkan Nessa yang terkejut dengan kehadiran seorang Henry William terhenti dari kegiatannya.
Nessa menundukkan kepalanya memberi salam. Sedikit kaku,ia tak tahu harus bagaimana. Ini memang di luar pekerjaan,tapi menghormati kolega merupakan dasar dari pekerjaan.
"let's party" bisik Henry di telinga Nessa.
Nessa pun mengangguk lalu menari bersama Henry mengikuti dentuman musik.
Dengan cekatan seorang bartender berambut pirang menyiapkan minuman untuk dua orang di hadapannya.
"Ternyata anda suka alkohol,Presdir" ucap Nessa setelah melihat apa yang di pesan oleh Henry adalah minuman beralkohol tinggi.
Namun bukanya menjawab Henry malah menyodorkan gelasnya pada Nessa.
"Cobalah" pinta Henry
"Saya tidak akan bisa pulang jika mabuk,Presdir" tolak Nessa
"Namaku Henry,kita berteman malam ini"
kalimat Henry menegaskan tawarannya pada Nessa. Itu artinya Henry bertanggung jawab mengantar Nessa pulang jika Nessa mabuk.
"Baiklah,kita berteman. Henry." Nessa menerima gelas itu sambil menekankan nama Henry,bukan Presdir lagi.
"Sebenarnya aku sedikit terkejut." ucap Henry
"Setiap manusia mempunyai banyak sisi" jawab Nessa
Bagaimana tidak terkejut,seorang Nessa yang biasa Henry lihat adalah wanita yang berpakaian rapi dan sopan. Namun Nessa yang berada di hadapan Henry saat ini ada Nessa yang sexy,menunjukan setiap lekuk tubuhnya yang di balut dengan pakaian ketat. Bahkan roknya tak sampai setengah paha. Juga lipstik merah yang menggoda.
"Tapi aku suka" serigai Henry sambil menatap lekat mata emerald itu.
Nessa hanya tersenyum simpul mendengar pendapat Henry.
"Apa kamu berniat membuatku mabuk?" tanya Nessa saat Henry menuangkan minuman ke dalam gelas Nessa untuk yang kesekian kalinya.
"Begitulah,bukankah aku harus melihat sisi yang lain?" jawab Henry
Dengan senyumnya Nessa malah menantang Henry "Kau akan menyesal"
Lalu Nessa turun dari kursinya dengan sempoyongan dan menghampiri Henry.
Nessa menarik kemeja Henry dan mencium bibirnya.
Mata hitam Henry terbelalak,ia tak menyangka secepat ini Nessa mabuk. Bahkan Nessa sangat berani.
Henry mengikuti langkah gontai wanita di hadapannya. Memungut jas miliknya yang selalu di jatuhkan saat ia mencoba memakaikan pada malaikat bertanduknya.
"Jadi dimana rumahmu" tanya Henry saat Nessa duduk di kursi yang tak jauh dari halaman bar.
"rumahku disana" Nessa menunjuk langit
"Banyak sekali bintang" lanjut Nessa saat menatap langit yang sebenarnya gelap gulita.
Henry duduk di sebelah Nessa sambil menyesal telah membuat Nessa mabuk. Kini ia bahkan tak tahu harus mengantar Nessa pulang.
Akhirnya Henry memasukan Nessa ke mobilnya setelah banyak drama dari Nessa. Namun Nessa langsung tertidur begitu mobil melaju.
"ah aku lupa Jun" Henry menepuk jidatnya lalu merogoh ponsel di sakunya.
"Jun,aku pulang. Kau bersenang -senanglah" begitulah cara pamit pemilik evil smile yang dingin.
Henry merebahkan Nessa di ranjang besarnya. Melepaskan Hells hitam serta Sling bag kecil dari tubuh Nessa.
Pria berusia 33 tahun itu menghempaskan tubuhnya pada sebuah sofa panjang tak jauh dari ranjang tempat Nessa berbaring.
"Sepertinya aku sudah gila membawanya kesini" runtuk Henry pada dirinya sendiri yang tergoda saat melihat tubuh sexy Nessa yang terbaring.
Bagaimanapun,Henry adalah pria normal yang bisa tergoda nafsunya walau selama ini ia tak berpacaran. Dia hanya belum menemukan seorang wanita yang menarik hatinya.
"Sial!!" umpat Henry lagi lalu ia beranjak pergi meninggalkan kamar.
Di teguknya air dingin yang baru saja ia keluarkan dari kulkas. Berharap dapat mendinginkan akal sehatnya yang mulai gila.
Setelah merasa tenang,ia kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan beristirahat. Tak lupa Henry menutup tubuh Nessa dengan selimut miliknya sebelum ia tidur.
***