WAKTU TELAH BERHENTI

758 Words
"Detik berganti menit Menit berganti jam Seterusnya berganti hari,Minggu dan tahun Namun waktu di hatiku tak berputar Mungkin baterai telah habis Atau rusak di telan masa" Nessa berhasil melalui harinya dengan baik. Walau butuh waktu untuk melupakan,namun wanita yang kini berambut pendek itu tetap menjalani hidupnya. Wanita bernama lengkap Nessa Yudistira terlihat baik baik saja dari luar. Semua orang menyangka ia bahagia walau telah berpisah. Bahkan keluarganya sudah membiarkan dirinya tinggal sendiri di rumah kecilnya. Namun siapa sangka,di balik senyum manis yang mengembang di bibirnya tersimpan luka yang masih menganga. Luka yang hanya terbalut perban yang ia sebut kebohongan. Sejak hari itu,waktunya terhenti. Setiap waktu yang ia lalui tak terasa apapun.Kehampaanpun tak ia rasakan. Hanya sebatas rutinitas untuk menyibukkan diri agar tak tenggelam dalam otak yang sebenarnya hampir gila. Untungnya dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja Nessa sebelumnya,Nessa tak kesulitan mencari pekerjaan. Enam bulan ia bekerja di sebuah perusahaan kecil sebelum ia bertemu dengan istri pemilik perusahaan iklan tempat ia bekerja dulu sebelum menikah. "Jadwal Hans sangat kacau sejak kamu keluar. Hans butuh sekretaris berbakat sepertimu Nessa" begitulah Livia membujuk Nessa. Selain gaji yang tinggi,Hans atasan yang baik,istri Hans juga sudah mengenal Nessa dengan baik. Tak ada alasan menolak. Dua tahun telah Nessa lewati dengan baik,pekerjaannya berjalan dengan baik walau banyak karyawan yang iri pada Nessa. Kebanyakan karyawan yang iri adalah karyawan yang masuk setelah Nessa keluar. Mereka tidak tahu jejak prestasi Nessa. Yang mereka tahu,Nessa mendapat Posisi itu dengan mudah. Bahkan mereka tak segan menjadikan Nessa sebagai bahan gosip mereka disaat senggang. Bukan Nessa kalau harus meladeni gosip gosip tak penting. Bagi Nessa,asalkan pekerjaannya baik ia tak memikirkan yang lain. "Nessa,saya akan pergi makan siang dengan Henry. Kamu bisa tolong temani istri saya makan siang di caffe Tosca?" tanya Hans pada sekretarisnya. "Tentu. Tapi bukankah rapat dengan Presdir Henry jam dua siang?" "Kami harus berkencan sambil bernostalgia" canda sang pemilik perusahaan. Menurut cerita yang Nessa dengar dari Hans,mereka berdua bersahabat sejak SMA. Namun 5 tahun yang lalu Henry pergi ke luar negeri untuk membuka cabang perusahaan disana. Nessa menerima panggilan dari Livia,istri Hans. Livia bilang ia sudah berada di caffe.Nessa pun segera meraih Sling bag miliknya dan bergegas menuju caffe. "Haii. Menunggu lama?" sapa nessa pada wanita yang tengah duduk sendiri. Wanita yang mengenakan atasan berwarna biru itu tersenyum menyambut Nessa. "Presdir Hans pergi makan siang dengan Presdir Henry,kenapa tidak ikut saja? Kalian saling kenal kan?" "Ya,tak begitu akrab. Dia pria yang tampan." jawaban Livia tidak menjawab pertanyaan Nessa. "Ya,tampan" timpal Nessa agar Livia puas sambil membolak balikan buku menu. Tak lama setelah memesan,makanan mereka pun segera di sajikan. "Hanya salad buah?" tanya Livia " Sebenarnya aku tidak ingin makan siang jika bukan kamu mengajak" Livia dan Nessa sudah cukup akrab sejak dulu saat Nessa mulai bekerja di perusahaan Hans. Bahkan status Livia sebagai istri atasan Nessa tidak mempengaruhi hubungan mereka. Livia merasa nyaman berteman dengan Nessa,bahkan tak jarang mereka shopping bersama atau sekadar duduk- duduk di taman. "Nessa,sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan." Livia memasang wajah serius membuat Nessa berhenti makan. "Lihat ini." Livia memberikan ponselnya,menunjukan sebuah foto. "Apa itu gosip terbaru?" tanya Livia saat melihat foto dirinya yang sedang di rangkul pundaknya oleh Hans Nessa tidak terkejut,ia sudah biasa di gosipkan sebagai wanita yang tidak baik karena statusnya yang tidak bersuami. "Sejujurnya aku mulai goyah. Aku juga punya rasa cemburu" ucap Livia lagi "Kau tahu aku tidak seperti itu. Kejadian itu kemarin,saat kami pulang rapat dengan klien di restoran Jepang favorit kalian. Hak sepatuku patah,Hans hanya membantu." Nessa menjelaskan dengan tenang. Tidak biasanya Livia peduli dengan gosip gosip di kantor suaminya. Bahkan Livia sangat percaya dengan suami juga Nessa. Tetapi kali ini Livia sampai serius membicarakan masalah ini. Mata emerald Nessa menatap Livia,menyakinkan bahwa tidak ada apapun di antara dirinya dengan atasanya. Hans memang tampan,kulit sawo matangnya membuat ia terlihat lebih maskulin. Namun Nessa bukanlah wanita yang akan merebut suami orang. Di tambah lagi,setelah perceraiannya dua tahun lalu ia tidak berminat membangun hubungan lagi. Waktunya telah berhenti saat itu. Hatinya juga telah mati rasa. "Livia,maaf membuatmu cemas. Jika kehadiranku membuatmu tidak nyaman,aku akan segera menyerahkan surat pengunduran diriku." Nessa menggenggam tangan istri Presdir dan meyakinkanya lagi. Namun pernyataannya malah membuat Livia terbelalak. "Tak perlu sampai mengundurkan diri. Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya. Tapi.." Nessa menunggu lanjutan kalimat wanita berambut panjang di hadapannya. "Buktikan kalau kamu tidak menyukai suamiku" lanjutan kalimat Livia membuat Nessa terkejut "Livia" melas Nessa "Berkencan lah dengan seseorang maka aku akan percaya" ucap Livia sebelum meninggalkan Nessa sendiri. Nessa yang terkejut dengan perubahan Livia hanya membeku,tak mengerti dengan sikap Livia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD