MENGGENGGAM TERLALU ERAT,KAU AKAN DI LEPASKAN

746 Words
Keesokan paginya Nessa menyerahkan surat cerai yang telah ia tanda tangani kepada Niko. Semalaman Nessa tidak sedetikpun terlelap,pikiranya kalut,begitu sedih sampai air mata tak mengalir lagi. Untuk yang terakhir kali Nessa meminta Niko untuk sarapan bersama. Nessa tak lagi meminta Niko untuk membatalkan perpisahan ini.Nessa menyadari kekurangannya. Mungkin jika mereka tetap bersama,selanjutkan hanya saling menyakiti. Selama ini Nessa menggenggam erat Niko,menggenggam kebahagiaan yang selalu ia syukuri. Namun kini Nessa menyadari ternyata jika menggenggam terlalu erat,orang itu yang akan melepaskanmu. "Maaf selama ini aku terlalu egois. Aku fikir kamu baik baik saja dengan keadaan kita,dengan keadaanku." ucap Nessa membuka pembicaraan. "Tidak,ini salahku karna tak bisa menolak orangtuaku lagi. Aku harap kamu bisa bahagia setelah ini." balas Niko 'Bahagia? Bagaimana aku bisa bahagia sedangkan kebahagiaanku meninggalkanku' kalimat itu hanya terucap dalam hati Nessa "Rumah ini aku berikan untukmu,juga tabungan yang selama ini kamu kumpulkan" Ya,selama ini Nessa rajin menabung dari uang sisa kebutuhan sehari hari. Nessa merasa harus menabung karena ia tak bekerja lagi setelah menikah sehingga Nessa berusaha mengelola keuangan dengan baik. "Tidak perlu,aku akan pergi dari sini seperti saat aku datang kesini." "Ku mohon. Aku tidak mau kamu hidup kekurangan." pinta Niko "Terima kasih. Tapi aku akan kembali ke rumah lamaku. Aku juga masih punya tabungan yang tak pernah aku pakai sejak menikah denganmu. Kamu tidak perlu khawatir." Niko tidak bisa memaksa Nessa,ia pun menyetujui perkataan Nessa. Niko yakin alasan Nessa tidak mau menerima rumah dan tabungan karena orang tua Niko pasti akan menyulitkan Nessa di kemudian hari. Mereka membisu,pagi hari yang biasanya hangat karena Senda gurau keduanya kini berubah menjadi dingin. Tak ingin berlama lama di situasi yang serba salah,laki laki berperawakan tinggi itu pamit pergi. Tak lupa ia membawa amplop coklat yang tergeletak di meja. Nessa merapikan meja makan,mencuci piring serta membersihkan rumah. Tak lupa ia mencuci pakaian Niko yang kotor. Setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa,Nessa kembali ke kamar. Mata emerald itu menyusuri setiap sudut ruangan,begitu banyak kenangan disana. Rasanya seperti mimpi,andai ini mimpi ia ingin terbangun dari mimpi buruk yang menyesakkan. Berapa kali pun ia menepuk,mencubit dirinya ia tak terbangun. Ini benar benar kenyataan. Segera Nessa kemari pakaian serta barang barang pribadi miliknya. Dengan langkah yang berat,dengan perasaan yang hancur Nessa meninggalkan rumah yang telah ia tempati bersama suaminya selama dua tahun.Apakah ini saatnya mengucap selamat tinggal? Air matanya menetes mengiringi suara gesekan roda koper menjauh dari rumah yang menjadi surganya selama ini. Wanita berkulit putih itu kembali ke rumah yang ia tempati sebelum ia menikah dengan Niko. Untunglah Nessa memiliki rumah sendiri,jika tidak ia tak tahu harus kemana. Rumah kecil hasil jerih payahnya bekerja,rumah kecil tempat ia mengistirahatkan tubuhnya kala lelah seharian bekerja. Nessa tak menyangka ia akan kembali menempati rumah itu. Di bukanya kain putih yang menutupi sofa serta perabot lainya. Berdebu,ia harus membersihkannya. Walau setiap bulan ia menugaskan seseorang untuk membersihkannya,debu tetap bersarang disana. Nessa memasuki ruang pribadinya,membuka kain penutup kasur lalu berbaring,mengabaikan debu yang masih bertebaran. Rasanya ingin sekali ia tidur,melupakan semua yang terjadi. Baru Lima menit mata emerald itu terpejam,suara handphone membangunkannya 'ibu' "Ya,Ibu. Apa kabar?" tanya Nessa pada ibunya "ibu sehat Nak. Kamu dimana? ibu di depan pintu rumahmu." jawaban Ibu Nessa membangkitkan tubuhnya yang masih berbaring di kasur. Nessa bingung harus bagaimana. Rencananya ia akan memberi tahu ibunya beberapa hari lagi,Namun siapa sangka hari ini ibu Nessa datang berkunjung. Mungkin inilah yang di namakan ikatan.Akhirnya Nessa memutuskan untuk memberitahu ibunya nanti. "Bu,Nessa sekarang di rumah lama. Ibu bisa kesini? " pinta Nessa yang tak di tolak oleh ibunya Tak butuh waktu lama,Ibu Nessa telah sampai. waktu tempuh rumah Niko dan Nessa hanya 30 menit. Ibu Nessa yang melihat koper berada disana menunggu penjelasan Nessa. Untunglah ibu Nessa bukan orang yang mudah emosi. Dengan sabar ibu memeluk anaknya,mengusap puncak kepalanya,menenangkan Nessa yang menangis tanpa sebab yang belum ia ketahui. "aku dan Niko...berpisah." jelas Nessa setelah melepas pelukannya. Ibu Nessa yang telah mengetahui masalah keluarga kecil anaknya yang tak kunjung memiliki momongan hanya bisa memberi semangat. Ia tak menyangka rumah tangga anaknya akan hancur karena masalah belum punya anak. Padahal selama ini,Niko terlihat sabar dengan keadaan. "Tidak apa-apa. Kamu juga bisa bahagia tanpa Niko. Ibu harap,kamu tidak patah semangat. Ingat,ada ibu dan adikmu Vian yang menemanimu. Kamu berharga untuk kami,apapun keadaanmu. Jadi jangan pernah berfikir negatif,jangan pernah berfikir untuk berbuat buruk pada dirimu." Nasehat ibu Nessa berhasil menenangkan Nessa. "ibu akan menginap beberapa hari disini untuk menemanimu. Nanti ibu suruh Vian datang kesini juga." lanjut ibu Nessa yang berhasil membuat Nessa mengembangkan sedikit senyum di bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD