TARIAN DALAM KEGELAPAN

585 Words
BAB 4 – TARIAN DALAM KEGELAPAN Langit malam Monte Carlo semakin kelam, dihiasi bintang-bintang yang bersinar redup di balik awan tipis. Cahaya lampu-lampu kota berpendar di permukaan laut, menciptakan refleksi yang begitu memikat. Di balkon Le Château Noir, Marco Maxdev dan Lovania Valley masih berdiri dalam diam, seolah keduanya tenggelam dalam simfoni yang hanya mereka pahami. Angin malam menyapu lembut helaian rambut panjang Lovania, membawa aroma khasnya—campuran mawar hitam dan vanilla yang elegan namun mematikan. Marco mengamati wanita itu dari sudut matanya, memperhatikan setiap detail dengan ketajaman seorang pria yang terbiasa membaca orang lain dengan sempurna. Marco: (Suara dalamnya memecah keheningan, penuh kendali dan misteri) "Apa yang membuat seorang Lovania Valley tertarik pada malam seperti ini?" Lovania menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat dalam senyum samar yang penuh teka-teki. Lovania: (Nada suaranya lembut, tetapi memiliki ketegasan yang tersembunyi) "Saya menikmati malam. Sunyi, misterius, dan selalu menyimpan rahasia." Marco tersenyum kecil, memperhatikan bagaimana wanita di hadapannya begitu terkontrol, tetapi sekaligus menggoda tanpa berusaha. Marco: (Dengan nada yang lebih rendah, menggoda, tetapi tetap berkelas) "Dan apakah saya termasuk bagian dari rahasia yang Anda sembunyikan, Miss Valley?" Lovania mengangkat gelasnya, menyesap anggurnya dengan gerakan yang begitu anggun, lalu menatap Marco dengan sorot mata yang lebih tajam. Lovania: (Menghela napas pelan, suaranya terdengar hampir seperti bisikan) "Anda bukan rahasia, Tuan Maxdev. Anda lebih seperti… distraksi yang berbahaya." Marco tertawa pelan, suaranya dalam dan sedikit serak, menciptakan getaran halus di udara di antara mereka. Marco: (Mengangkat alis, nada suaranya menggoda namun tetap tegas) "Distraksi? Saya tidak berpikir Anda adalah tipe wanita yang mudah terdistraksi." Lovania menatapnya tanpa berkedip, seolah ingin menantang pria itu lebih jauh. Lovania: (Suaranya tetap tenang, tetapi ada kilatan ketertarikan yang tersembunyi dalam tatapannya) "Saya tidak mudah terdistraksi. Tapi Anda… berbeda." Marco menyandarkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke pagar balkon, tanpa mengalihkan pandangannya dari Lovania. Dia bisa merasakan energi di antara mereka—sebuah tarikan yang tak terhindarkan, seperti dua kutub magnet yang saling menarik meskipun keduanya berusaha menolak. Marco: (Suaranya rendah, hampir berbisik) "Kalau begitu, kita punya masalah, Miss Valley." Lovania menyesap anggurnya lagi, seolah tidak terganggu oleh intensitas tatapan Marco. Lovania: (Nada suaranya terdengar main-main, tetapi tetap berkelas) "Masalah? Anda selalu melihat hal seperti ini sebagai masalah?" Marco tersenyum kecil, tetapi matanya tetap tajam. Marco: "Saya tidak menyukai sesuatu yang tidak bisa saya kendalikan, sayang. Dan saya mulai merasa bahwa Anda… adalah pengecualian." Lovania terkekeh pelan, tetapi matanya tetap penuh misteri. Lovania: (Mengangkat bahu dengan elegan, suaranya terdengar penuh godaan halus) "Mungkin sudah waktunya Anda belajar menerima sesuatu yang tidak bisa Anda kendalikan, Tuan Maxdev." Marco menghela napas pelan, matanya masih terkunci pada wanita di hadapannya. Dia terbiasa dengan dunia yang tunduk padanya, tetapi Lovania Valley bukan wanita yang bisa ditundukkan dengan mudah. Dan justru itulah yang membuatnya semakin berbahaya. Sejenak, mereka hanya berdiri di sana, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Lalu, tanpa peringatan, Marco menyentuhkan jemarinya ke pinggiran gelas anggur Lovania, menyelipkan sentuhan halus yang nyaris tidak terasa. Lovania tidak bergerak, tetapi Marco bisa melihat bahwa dia menyadari setiap gerakan kecil yang dilakukannya. Marco: (Berbisik dengan suara dalam, menciptakan ketegangan yang tak terelakkan) "Saya tidak percaya pada kebetulan, Miss Valley. Jadi, pertanyaannya… kenapa saya ada di sini malam ini, bersama Anda?" Lovania tersenyum tipis, tetapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang membuat Marco semakin penasaran. Lovania: (Nada suaranya penuh makna, berbisik kembali padanya) "Mungkin karena Anda ingin tahu bagaimana rasanya kehilangan kendali." Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Marco Maxdev tidak yakin apakah dia sedang berburu… atau justru menjadi buruan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD