BAB 26 – SIAPA YANG MEMEGANG KENDALI?
Angin laut masih berembus lembut, membawa aroma asin yang bercampur dengan wangi parfum mahal yang melekat di tubuh mereka. Di antara mereka, ada sesuatu yang lebih dari sekadar ketertarikan—sebuah permainan kendali yang tak terlihat, tetapi begitu nyata.
Lovania menatap Marco dengan tatapan penuh arti, seolah sedang menimbang langkah berikutnya. Di hadapannya, pria itu berdiri tegap dengan sikap percaya diri yang tak tergoyahkan, seperti raja di atas tahtanya.
Lovania: (Dengan nada tenang, tetapi menusuk.)
"Anda terlalu percaya diri, Marco. Dan pria yang terlalu percaya diri sering kali lupa bahwa tidak semua hal bisa mereka kuasai."
Marco menyunggingkan senyum kecil, bukan senyum meremehkan, tetapi senyum seorang pria yang tahu dirinya selalu memiliki keunggulan dalam permainan ini.
Marco: (Suara dalam dan menghipnotis.)
"Dan wanita yang terlalu yakin bahwa dia tidak bisa dikuasai sering kali terkejut saat menyadari bahwa dia sudah berada dalam permainan yang lebih besar dari yang dia kira."
Lovania tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Marco dengan sorot mata dingin dan misterius, seolah sedang menantang pria itu untuk membuktikan ucapannya.
Dengan tenang, dia meraih gelas anggur yang tersisa di meja, lalu menyesapnya perlahan. Gerakannya anggun, elegan, tetapi ada sesuatu yang menggoda dalam caranya menatap Marco saat itu.
Lovania: (Dengan nada rendah, hampir berbisik.)
"Lalu, beri tahu saya, Marco… apakah saya sudah jatuh ke dalam permainan Anda?"
Marco mencondongkan tubuhnya sedikit, mendekat tanpa menyentuh, tetapi cukup untuk membuat Lovania merasakan kehadirannya begitu dekat.
Marco: (Dengan suara lembut, tetapi berbahaya.)
"Saya tidak ingin Anda jatuh, sayang. Saya ingin Anda berjalan ke arah saya dengan kesadaran penuh."
Lovania mengangkat alisnya sedikit, terhibur tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda tunduk.
Lovania: (Suaranya pelan, tetapi menusuk.)
"Saya tidak pernah berjalan ke arah siapa pun, Marco. Jika seseorang menginginkan saya, mereka harus tahu cara mendekati saya tanpa membuat saya kehilangan kendali."
Marco tertawa kecil—suara rendah yang menggema di antara mereka, penuh dengan ketertarikan yang semakin dalam.
Marco: (Dengan nada menantang.)
"Dan bagaimana jika saya ingin Anda kehilangan kendali?"
Lovania tersenyum tipis, lalu menatap Marco dengan ekspresi yang sulit ditebak. Dia melangkah lebih dekat, kali ini dengan sengaja, membuat mereka hanya berjarak beberapa inci.
Lovania: (Dengan suara lembut, tetapi menusuk.)
"Maka Anda harus siap menanggung konsekuensinya, Mr. Maxdev."
Mata mereka bertemu dalam keheningan yang sarat makna. Permainan ini belum selesai—justru baru saja dimulai.
Dan pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang memegang kendali… tetapi siapa yang akan menyerah lebih dulu.