Satu
"Baiklah, kita sudah sampai." Renata mematikan mesin mobil. Jantungnya berdetak keras. Sejujurnya ia ragu. Langkahnya semakin berat manakala Renata turun di depan sebuah rumah mewah. "Bersiaplah bertemu ayahmu."
Renata memejamkan mata sejenak, lalu menoleh ke arah bayi di sampingnya.
Apakah ia sudah melakukan hal yang benar?
Ia sudah mempertimbangkan keputusan itu selama berbulan-bulan dan kini ketika saatnya tiba, Renata tiba-tiba diliputi keraguan.
Apakah Kaivan Gulzar mampu menjadi ayah yang baik bagi seorang bayi yang tak berdosa?
Jawabannya jelas tidak
Tapi pilihan apalagi yang Renata miliki?
Dengan lembut Renata membelai pipi bayi itu. "Kau tahu kan aku tidak ingin melakukan ini? pria itu mungkin saja dokter, tapi dia punya reputasi buruk dengan banyak wanita dan tidak pernah membuat komitmen dengan siapapun dalam hidupnya. Hal terakhir yang ingin kulakukan adalah memperkenalkanmu padanya." Renata terdiam, mengerutkan alis sambil mengigit bibir.
"Aku tidak punya pilihan. Kita butuh bantuan. Kita tidak bisa lagi melakukannya sendiri. Dan kau harus mengenal ayahmu. Sudah waktunya Kaivan Gulzar bertanggung jawab."
Bayi itu mengeluarkan suara riang dan kakinya menendang-nendang.
Renata tersenyum lembut. "Ayla, kau bayi yang cantik. Semoga saja dia juga berpikir begitu."
Tetapi Renata Pesimis.
Dari apa yang didengar dan artikel yang dibacanya tentang Kaivan, bayi, tak peduli secantik apapun dia, tidak termasuk dalam agenda pria itu. Yang menarik perhatian Kaivan Gulzar adalah wanita-wanita cantik dan sexy.
Menurut gosip, milyuner sekaligus playboy itu, selalu mematahkan hati banyak wanita. Banyak wanita rela mengemis cinta Kaivan dan tidak mempermasalahkan jika mereka hanya dijadikan pelampiasan nafsu saja. Renata yakin Kaivan tidak akan memberikan sambutan hangat padanya.
Sambil mengulur waktu saat harus keluar dari mobil, Renata menoleh keluar jendela, matanya terpaku pada laut yang berkilauan di bawah sinar matahari. Hari yang indah, namun ia tak pernah merasa setertekan ini dalam hidupnya.
Renata benar-benar benci konfrontasi, dan tak perlu menjadi jenius untuk tahu bahwa ia akan menghadapi konfrontasi tingkat tinggi.
Kaivan Gulzar tidak akan senang melihat mereka.
"Ayo kita selesaikan ini." Renata mengertakkan gigi dan menatap deretan rumah lainnya.
"Setidaknya dia punya selera yang bagus. Tinggal di tempat yang indah, tepat ditepi pantai. Kau akan menyukainnya saat kau sudah lebih besar."
Renata membuka pintu dan berjalan mengitari mobil. Ayla masih asyik menggigit tangannya ketika Renata melepas sabuk pengaman dan mengeluarkan bayi itu dengan hati-hati dari kursi lalu menggendongnya.
Renata lalu menarik napas dalam-dalam, berhenti sejenak di ujung jalan setapak. " Bersiaplah Kaivan Gulzar." gumam Renata, tangannya sedikit gemetar ketika membelai punggung Ayla. "Masa lalumu akan datang menghantui."
***
Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Sanglah Denpasar sangat ramai. Seorang dokter muda sekaligus satu-satunya pewaris Gulzar Grup terlihat cekatan menjahit luka pasien yang sedang terbaring lemah akibat kecelakaan mobil.
"Apakah aku akan mati dokter?" tanya seorang remaja laki-laki yang terbaring lemah di atas brankar. Kaivan melihat kecemasan dimatanya.
"Kau tidak akan mati, Dev," kata Kai lembut sambil memperbaiki letak selimut. "Tapi untuk sementara kau tidak bisa bermain sepak bola karena pergelangan kakimu patah dan ada banyak luka jahitan. kau harus menginap dirumah sakit untuk beberapa hari kedepan."
"Patah?" Dev menghentikan ucapannya dan memberengut "Omong kosong. Pergelangan kakiku hanya terkilir."
"Pergelangan kakimu patah."
"Kau bahkan belum menyuruhku melakukan pemeriksaan rontgen."
"Akan kulakukan sekarang." sahut Kai sambil meraih kertas yang diperlukan dan mulai menulis. Kai memaklumi penyangkalan remaja yang terbaring didepannya itu. Bagaimanapun remaja itu pasti masih mengalami syok anafilaktik pasca kecelakan mobil dan belum menerima kenyataan yang sebenarnya.
Kai menuju ruangannya, hari ini ia merasa lelah luar biasa. Beban kerjanya seakan tidak pernah ada habisnya. Papanya sebenarnya tidak begitu setuju ketika Kai memutuskan untuk menjadi dokter. Papanya menginginkan Kai meneruskan bisnis mereka. Kai tidak begitu menyukai bisnis dan segala intrik didalamnya. Ketika kecil ia melihat sang kakek sering mengobati orang-orang. Bahkan kakeknya rela tidak dibayar demi membantu orang-orang yang kurang mampu. Kai begitu kagum. Tidak lama kakeknya meninggal dan Kai berjanji akan meneruskan profesi kakeknya itu.
Papanya pernah mengancam tidak akan membiayai kuliahnya jika Kai tetap kekeh pada pendiriannya. Oleh karena itu,Kai membuktikan dirinya mampu dengan membiayai kuliahnya sendiri. Kai bahkan pernah bekerja part time menjadi pelayan restoran, semua dilakukannya demi membuktikan kalau ia bisa hidup tanpa sepeserpun uang dari papanya. Akhirnya Kai lulus dengan predikat cumlaude dan menjadi dokter handal seperti saat ini. Tidak mudah untuk mencapai posisinya saat ini. Butuh perjuangan dan kerja keras.
Pintu ruangannya terbuka dan terlihat Ayu, suster yang sudah bekerja dengannya hampir lima tahun ini membawa beberapa tumpukan berkas.
"Ada yang harus kuperiksa?"
Ayu menggeleng. " Kurasa tidak. Kau sudah bekerja keras seharian ini di UGD, jadi dokter lain mengambil alih pekerjaanmu."
Kai mengangkat sebelah alis. "Pantas saja aku merasa lelah seharian ini. Sebaiknya aku segera pulang."
"Yah..Kurasa kau memang perlu beristirahat "
Ini merupakan minggu yang berat. Syukurlah hanya tersisa satu hari lagi sebelum akhir pekan. Ia akan menghabiskan waktunya dengan tidur dan berselancar.
Tanpa tanggungjawab.
***
Kaivan Gulzar tidak ada dirumah.
Renata mencoba membunyikan bel sekali lagi, lalu mundur dan mengamati rumah itu. Meskipun rumah itu terkesan mewah tapi sepertinya Kaivan Gulzar menyukai tanaman. Banyak bunga dan pohon yang berada disisi samping kiri rumahnya. Bahkan ada sebuah ayunan yang menghadap taman. Begitu asri dan cocok untuk bayi.
Renata tengah memikirkan apa yang harus dikatakannya ketika mendengar deru mesin mobil mendekat.
Setiap otot tubuh Renata menegang dan jantungnya semakin berdebar kencang.
Seluruh indera Renata mengingatkan bahwa itu Kaivan Gulzar, dan begitu mobil sport hitam itu terlihat, Renata tahu firasatnya benar.
Renata menarik napas dalam-dalam dan mendekap Ayla erat, menyerap kehangatan bayi itu untuk membuatnya tenang. Kini setelah tiba saatnya, Renata malah sesak napas karena panik.
Apa yang merasukinya sehingga ia datang kesini? Kegilaan apa yang membuatnya berpikir untuk mengkonfrontasi Kaivan Gulzar merupakan gagasan yang bagus?
Renata merasa ingin melarikan diri, tapi kakinya begitu lemah sampai ia tidak mungkin bisa bergerak.
Si pengemudi mobil itu melepaskan kacamara hitamnya. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Renata menatap Kaivan Gulzar.
Menatap pria itu dengan bodohnya.
Renata pernah melihat foto pria itu, tentu saja. Banyak surat kabar dan artikel menampilkan berita tentang kesuksesan pria itu sebagai dokter dan tentu saja tentang aset kekayaannya. Namun lebih banyak berita tentang skandalnya dengan berbagai artis dan model papan atas.
Kenyataannya, pria itu kini berdiri dihadapannya. Debar jantungnya semakin cepat membuat Renata merasa terkejut sekaligus tidak nyaman.
Tampan bukan kata yang tepat untuk menggambarkan pria itu. Renata sering melihat pria tampan sebelumnya. Namun, Kaivan Gulzar merupakan sosok adonis sempurna, bahunya bidang, tingginya mungkin 190 cm, matanya berwarna hazel dan struktur tulang wajahnya lebih tegas dari siapapun yang pernah Renata lihat.
Pria itu teramat sangat tampan, tapi dia tetap pria tak berperasaan yang menghancurkan hidup Nara, adik Renata.
Dan untuk pertama kalinya Renata mulai mengerti apa yang mungkin telah terjadi. Bagaimana Nara bisa bertingkah impulsif. Bukan hanya kekayaan luar biasa dan garis keturunan aristokrat yang membuat Kaivan Gulzar berbeda dari pria-pria kebanyakan. Aura kekuasaan dan maskulinitas membuat kebanyakan wanita bertindak irrasional dengan menyerahkan dirinya pada sosok Kaivan.
Kaivan mengunci mobil dan berjalan kearah Renata. Jaketnya disampirkan asal-asalan di salah satu bahu lebarnya.
Mata hazel itu terpaku pada Renata tanpa minat, seolah-olah dia sudah terbiasa melihat wanita-wanita tak dikenal menunggu didepan pintu rumahnya sambil menggendong bayi.
Renata merasa lututnya gemetar. Ia tak berdaya dihadapan pria seperti Kaivan Gulzar. Renata merasa gugup.
"Tampaknya kau tersesat." katanya dengan suaranya yang dingin.
Renata memaksa diri memandang mata pria itu, mengingatkan diri sendiri bahwa ini demi Ayla, bukan dirinya.
"Aku tidak tersesat, Dr. Kaivan Gulzar."
Keheningan yang mengikuti terasa menegangkan dan tatapan pria itu mengeras.
"Kalau begitu mungkin aku harus mengingatkanmu bahwa ini rumahku dan disinilah satu-satunya tempat di dunia yang tidak kuijinkan diganggu wartawan."
Gemetar di lutut Renata semakin hebat dan ia merasa keberaniannya menguap entah kemana.
Kaivan Gulzar memiliki kendali diri dan ketenangan luar biasa yang sangat mengintimidasi. Dan jika Renata memang wartawan, ia akan lari terbirit-birit. Ia tak sanggup melihat tatapan dingin dan muak yang ditujukan Kaivan padanya.
Seolah mengingatkan alasan Renata kemari, Ayla menepuk pipi Renata dengan tangan montoknya.
"Aku bukan wartawan." Renata mengangkat dagu dan memaksakan diri menatap pria itu.
Mata Kaivan menyapu diri Renata dengan tajam. "Aku belum tidur hampir 24 jam dan suasana hatiku sedang buruk," ia memperingatkan dengan lirih. "Mungkin kau bisa mengatakan keinginanmu dan kita berdua bisa melanjutkan sisa hari ini. Bayimu kelihatan lelah."
"Dia bukan bayiku, dokter. Dia bayimu. Kaulah ayahnya." kata Renata serak.