Hari-hari berikutnya terasa berat bagi Hugo, bukan karena pekerjaan atau urusan sindikat, melainkan karena pikirannya sendiri. Setiap ia hendak fokus, bayangan Cahyati muncul. Bukan Cahyati versi elegan yang ia bentuk sebagai Celine, melainkan Cahyati yang asli. Yang ribut ketika menonton film, sering bicara tanpa jeda, yang ucapannya spontan dan sering menyindir sarkas tapi menggemaskan. Ia berusaha membantah perasannya. Awalnya ia yakin tertarik pada gadis itu hanya karena melihat bayang-bayang Celine di rupanya. Celine yang tak pernah bisa ia miliki dan membekas terlalu lama. Tapi semakin Cahyati berubah menjadi “lebih Celine”, justru rasanya semakin hampa. Yang ia rindukan adalah tawa lepas Cahyati. Gestur konyolnya. Panik hebohnya. Suara nyolot yang memenuhi ruangan tanpa izin. Si

