Mulai dari Minus Ya
Suara pengajian di speaker masjid dan dangdut remix warung sebelah saling bersaing di Citawur pagi itu. Tapi tetap kalah oleh teriakan Nini Rohmah yang mengguncang desa.
“Yati! Kacamata Nini mana?!”
Cahyati yang sedang menjemur pakaian membalas.
“Di ke-pa-la Ni-Ni!”
“Naon deui?!”
Cahyati mengembuskan napas pasrah. Ia mendatangi ruang tengah. Di sana, Nini duduk di sofa butut menghadap TV. Kacamata yang ia cari bertengger manis di kepalanya.
“Nih. Nini lagi nonton acara apa sih?” Cahyati menurunkannya.
“Ada berita dukun kabur!” Nini memperbaiki letak kacamatanya. “Tapi mana suaranya?”
Volume TV rupanya masih di angka dua. Cahyati menaikkannya hingga dinding rumah bergetar.
“Nah, baru kedengeran,” kata Nini sambil menyesap teh manis.
“Nini, itu bukan dukun kabur. Itu iklan sabun.”
“Sama aja, dua-duanya suka nipu.”
Cahyati terkekeh. Kalau ditanya siapa orang paling lucu di Citawur, jawabannya jelas Nini Rohmah. Nenek 72 tahun dengan pendengaran on-off seperti radio kemasukan semut.
Pagi itu, Cahyati buru-buru berangkat membantu Ceu Kokom. Kateringnya sedang mengerjakan pesanan acara pengajian. Cahyati menuruni jalan setapak sambil menyapa tetangga.
“Pagi, Bu Umi! Pisangnya udah mateng?”
“Udah, tapi jangan diminta, ya. Pesenan orang, PO!”
Cahyati tertegun, “Pisang pake PO?!”
Setelah sampai di dapur Ceu Kokom, aroma lezat menyambut. Cahyati segera mengambil celemek, lalu duduk di antara tumpukan kotak nasi.
“Inget Cahyati, bungkus sambelnya yang rapet. Kemaren sambel bleberan, anak TPA mewek kepedesan.”
“Siap, Ceu!” Cahyati mulai bekerja, tangannya cekatan.
Seperti biasa, bisik-bisik pekerja lain mulai muncul. “Eta Cahyati yang yatim piatu itu?”
“Kasihan sih. Setiap minggu rumahnya disatronin penagih utang. Harusnya malu, kan tetangga juga jadi risih,” balas pekerja yang lain.
Kerja di Ceu Kokom tak ubahnya latihan kesabaran. Mau keluar, tapi Ceu Kokom baik, sering memberi lauk lebihnya untuk dibawa pulang.
“Biar Nini Rohmah nggak masak, nanti gosong dapurnya,” katanya.
Setelah urusan dapur selesai. Cahyati melanjutkan ke rumah Bu Erna, membantu mengajar calistung anak-anak TK yang lebih semangat menghapal lagu Tiktod daripada belajar huruf.
“Bu Cahyati, huruf A kayak gunung pesek, kan?” tanya salah satu anak.
“Emang gunung punya hidung?”
Cahyati menggelengkan kepala, namun tetap memberi bintang di buku mereka. Ia berpikir, jika kesabarannya diuji lewat anak TK, maka ia pasti c*m laude.
Sore baru Cahyati pulang ke rumahnya yang sederhana. Setelah makan malam sederhana, Cahyati berbaring di kasur. Dari ruang tengah suara TV masih kencang.
“ Nini, matiin TV, udah malam.”
“Apa?”
“TV-nya matiin!”
“Heh, jangan ngomongin mati gitu, ah! Bikin Nini deg-degan!”
Cahyati menahan tawanya dengan bantal.
Ia sangat menyayangi Nini, namun merasa hidupnya cuma berputar di tempat. Menjemur pakaian, membantu katering Ceu Kokom, mengajar anak TK, pulang, tidur, ulang lagi.
Malam di Citawur selalu punya cara membuatnya melankolis. Suara koor jangkrik dan hamparan bintang, seolah-olah langit sedang pamer kalau ia punya banyak kawan.
Cahyati menatap langit dari jendela. Setiap malam hening, pikirannya selalu teringat ayah dan ibunya. Seolah ia masih bisa mendengar suara ibu memanggilnya.
“Cahyati, cepat ganti baju. Mau ikut Ayah antar pesanan, kan?”
Suara itu sering menyelinap di antara desir angin. Tapi setiap kali ia menoleh, yang ada hanya tembok kosong dengan cat mengelupas. Ia masih ingat betul hari ketika dunianya kehilangan warna.
-oOo-
Hari itu kampungnya ramai. Truk pengangkut bahan datang, rumah penuh dengan kain seragam sekolah. Ibu menjahit, Ayah mengemas, dan Cahyati kecil bermain di bawah meja. Semua berjalan seperti biasa, sampai pesanan harus dikirim ke kota.
“Tunggu ya, Cahyati. Kami cuma antar barang. Kamu jaga rumah sama Nini, ya,” begitu kata ayahnya sambil mengelus rambutnya.
Cahyati mengangguk. Ia tidak tahu bahwa kata “sebentar” itu akan berarti “selamanya”.
Truk yang mereka tumpangi tergelincir di tikungan. Orang-orang banyak berasumsi, karena hujan deras, jalanan licin, rem blong. Yang Cahyati tahu, sejak itu suara mesin jahit di rumahnya berhenti selamanya.
Kabar datang saat Cahyati masih di sekolah dasar. Ia pikir orang-orang cuma bercanda. Mana mungkin Ayah dan Ibu-nya, dua orang paling sibuk di dunia, bisa punya waktu untuk mati.
Tapi siang itu dua jasad terbaring di rumahnya. Kain kafan putih telah dipersiapkan untuk membalut keduanya. Dan dunia terasa sunyi.
Saat Cahyati melihat jenazah kedua orang tuanya dimasukkan ke dalam liang lahat, ia sempat panik. “Ayah, ibu, kenapa dikubur? Nanti yang kerjain pesanan siapa?”
Tetangga memeluknya, memintanya tenang dan ikhlas. Mereka berkata ibu dan ayahnya sudah tenang di surga. Padahal yang ia khawatirkan bukan nasib ibu-ayahnya, melainkan nasibnya dan Nini.
Cahyati tidak menangis. Ia diam, menatap sisa benang dan kain yang belum dijahit. Di meja, tertinggal potongan kertas bertuliskan “Pesanan SD Karang Jati: belum lunas.”
Beberapa minggu setelah pemakaman, orang-orang mulai datang. Awalnya sopan, lama-lama semakin galak.
“Anaknya Bu Rini, ya? Ini kain bahan belum dibayar.”
“Bapaknya janji setor jahitan minggu ini. Sekarang gimana?”
Cahyati berdiri di ambang pintu, menyerahkan celengan ayam di tangannya—tabungan sisa uang jajan— ke Nininya yang sedang menghadapi penagih utang.
“Ni, pakai ini aja. Rumah jangan dijual,” suaranya kecil. “Nanti begitu aku kerja, aku bayar lagi.”
Nini terdiam, tatapannya haru.
Sejak itu, setiap melihat kain putih ia selalu ingat dua hal: kafan dan utang. Dua-duanya sama menakutkannya.
-oOo-
Esoknya matahari mulai menanjak ketika suara klakson terdengar di ujung jalan. Bisingnya membuat ibu-ibu keluar rumah. Dari mobil fortuner keluar pemuda berkacamata hitam dan jaket kulit mengilap.
“Eta, Jepri keren pisan, euy!”
Cahyati spontan menoleh. Nama itu terdengar familier di masa kecilnya. Jepri, teman main layangan.
Pemuda itu pulang dari kota dengan gaya ala majalah mode. Rambutnya klimis, sepatu ketsnya kinclong, dan HP-nya lebih mahal dari harga motor tetangganya.
Cahyati yang sedang menyapu halaman terpaku. Gerakannya terhenti.
Astaga, udara kota bisa bikin orang berubah drastis, ya? pikirnya.
Sejak hari itu, setiap Jepri lewat depan rumah, Cahyati refleks mengamatinya. Penasaran dengan rahasia kesuksesannya. Terkadang sambil pura-pura menyapu atau menyiram tanaman.
Tapi hari itu pengamatannya ketahuan. Jepri berhenti di depan pagar, melepas kacamatanya, dan memandangnya.
“Cahyati, kamu naksir ya sama aku?”
“Hah?!”
“Udah, ngaku aja! Aku ngerti kok. Tapi sorry, kita nggak cocok. Aku sekarang kerja di kota, dompet tebal, HP terbaru. Cewek kampung kayak kamu… beda kelas lah.”
Dari belakang ibunya berkata pongah. “Anak saya bukan lepel kamu, utangnya banyak pisan.”
Cahyati tercekat. Kalimat itu lebih pedas daripada sambal Ceu Kokom. “Saya mah cuma nyapu, Jepri, bukan ngelihatin kamu. Lagian, kamu siapa juga?”
“Heh, denial! Udah miskin, yatim-piatu, belagu lagi!”
Dari dalam rumah, suara Nini Rohmah menimpali dengan volume seratus desibel:
“Siapa yang ngeyel, Yati?”
“Bukan ngeyel, Nini!”
“Kalau ngeyel, toyor we atuh!”
Jepri dan ibunya pergi. Cahyati menatap punggung mereka sampai hilang di tikungan. Hampir sapu di tangannya melayang ke kepala pria sombong itu, namun ia menahan diri.
Malam itu ia merenung di dapur. “Kalau Jepri bisa berubah, masa aku enggak?” gumamnya lirih.
Dan di rumah mungil yang diramaikan suara jangkrik, seorang gadis kampung membuat keputusan paling nekat dalam hidupnya: ia akan ke Jakarta. Cahyati menolak disebut kampungan oleh orang yang nilai rapotnya tidak pernah lebih tinggi darinya.
Cahyati menatap ponsel di tangannya seperti sedang menimbang dosa. Ia menarik napas, lalu menekan nama “Bi Lilis” di layar.
“Bi, Nini sakit. Pulang, ya. Kasihan, udah umur.”
Suaranya dibuat lirih, seolah Nini sedang di ujung napas. Padahal Nini baru makan mie dua mangkuk.
Setelahnya ia menutup utang-utang keluarganya selama ini dengan pinjaman online. Setidaknya rumah ini aman dari penagih utang, meski harus gali lubang tutup lubang. Biarlah Cahyati yang tanggung cicilannya, asal Nininya bisa hidup tenang.
-oOo-
Angin pagi di Cimahi membawa aroma tanah basah dan keputusan besar. Bi Lilis dan Wa Anwar akhirnya datang dari Jakarta.
Mereka duduk santai di ruang tamu ketika Cahyati menghampiri mereka. “Bi, saya mau pamit kerja ke Jakarta. Doain, ya.”
Nini Rohmah langsung menegakkan duduknya.
“Cahyati mau kawin sama orang Jakarta?”
“Astaghfirullah, Nini. Bukan!” seru Cahyati.
“Keula, Neng. Bukannya Nini sakit?” Bi Lilis dan Uwa Anwar saling tatap, bingung.
“Nini mah emang udah sakit… kupingnya,” Cahyati cengengesan. “Tolong jaga Nini ya, Bi. Aku berangkat Sore ini.”
“Jangan atuh!” Bi Lilis jelas keberatan.
"Nini kan orang tua Bibi, kewajiban Bibi atuh urusin. Mau disebut anak durhaka?" Cahyati menakutinya.
Dengan sedikit bujukan dan hasutan, paman dan bibinya berhasil dibuat setuju. Cahyati memekik girang sambil mengambil tas yang akan dibawanya ke Jakarta.
Sore itu Cahyati berdiri di terminal, membawa ransel dan harapan besarnya. Ia menatap langit yang mulai terang.
“Kata orang, jalan ke Jakarta itu panjang,” gumamnya. “Tapi lebih panjang lagi daftar utang keluarga.”
Ia tertawa kecil dengan mata basah.
Bus pun datang, membawa gadis desa itu ke kota. Tanpa ia sadari, takdir sudah menunggunya di Jakarta.