Tawaran Gila

1507 Words
Pesta ulang tahun ke-21 seorang putri konglomerat adalah sebuah pameran kemewahan yang tak tertandingi. Para tamu berbusana laksana dewa-dewi Olympus, memegang gelas kristal yang memantulkan cahaya lampu gantung, dan berbincang dengan topik-topik yang asing bagi telinga orang biasa. Di tengah lautan keangkuhan itu, hiduplah Cahyati, sang waitress, yang mengenakan seragam kebesaran dan membawa nampan berisi kehampaan di hatinya. Ia bergerak di antara keramaian bagai bayangan yang tak kasat mata, sampai sebuah anomali menghampirinya. Seorang pria dengan aroma alkohol yang pekat dan langkah terhuyung-huyung, menghalangi jalannya. "Cantik, sini temenin dong. Kasian...ke sini cuma buat kerja doang." Ya Tuhan, di mana-mana kenapa cowok mabok sama? Rese semua. Nggak tahu apa, utang saya yang numpuk semonas? Mau godain saya? Sana godain cicilan pinjol saya aja! batin Cahyati, lelah. Ia berusaha menghindar, namun si pria justru semakin agresif. Tiba-tiba, suara bariton yang dingin nan tajam menginterupsi, bagai pisau yang membelah keheningan. "Eh, Bos... kalau lo mau cari cewek, jangan di sini. Ini pesta ulang tahun, bukan tempat rehabilitasi mental." Hugo, ​sang pemilik suara itu, berdiri tegak dengan aura dominan yang membungkam seisi ruangan. Tubuhnya tinggi dan atletis, kulitnya terang, hidungnya mancung, seperti blasteran Eropa. Ia mengenakan setelan jas yang harganya setara dengan biaya hidup Cahyati selama satu dekade. Pria mabuk itu melotot, menantang. "Siapa lo? Ikut campur aja!" "Gue?" Hugo tersenyum sinis. "Gue Hugo, orang yang bayar tagihan listrik di sini, jadi kalau lo nggak mau gue cabut listriknya, minggir sana! Lagian..." Hugo melirik Cahyati dengan tatapan yang justru terasa seperti apresiasi. "Kalau lo nggak laku, jangan desperate sampai godain orang kerja gini. Emang sih, muka lo kalah karismatik sama cupang jantan." Pria mabuk itu tertegun, lalu pergi dengan wajah merah padam. Cahyati mengamati pria yang kata-katanya setajam silet itu, dan ia merasa ada koneksi yang aneh. Sepertinya mereka punya frekuensi yang sama. Pemikiran yang sama-sama unik dan sedikit gila. ​ "Makasih ya, Bang. Omongan Abang tajam banget, sampe nembus ke hati cowok tadi," ujar Cahyati, menahan tawa. "Jangan panggil gue Bang, gue bukan Abang tukang bakso. Gue Hugo," pria mapan itu memperkenalkan diri. "Orang kayak gitu, nggak perlu dibaikin. Biarin aja, paling nanti nangis di pojokan." Pria itu duduk di sebuah sofa, lalu menepuk ruang kosong di sebelahnya. "Udah, lo di sini aja. Ngobrol sama gue biar aman. Nanti gue jelasin ke atasan lo." Ia melambaikan tangan ke arah manajer EO. Cahyati yang kelelahan pasrah. Setidaknya ia tetap dianggap kerja, jadi bayarannya aman. Mereka pun mulai berkenalan dan mengobrol. Topik pembicaraan mereka melompat-lompat, dari harga nasi padang yang melonjak, sampai betapa anehnya menu makanan di pesta itu. Bukan, dia bukan Celine… tapi kenapa wajahnya mirip? Hugo menggelengkan kepala. Ia menenggak minumannya untuk menenangkan diri. Hugo kok mau aja ngobrol sama aku? Penampilannya kayak cover majalah Forbes, tapi kelakuannya kayak anak tongkrongan. Kok ya lucu, batin Cahyati. ​"Lo beneran tinggal di Jakarta? Gaya lo kayaknya dari planet lain," ujar Hugo, mengundang tawa Cahyati. "Planet mana? Bekasi?" Cahyati cengar-cengir. "Nggak, saya dari desa. Makanya norak gini. Ketemu orang kayak anda aja, saya mikir, ini orang beneran apa hologram?" Hugo terkekeh, suara tawanya renyah seperti rempeyek yang baru digoreng. "Bukan hologram, gue manusia asli. Tapi mungkin emang dari dimensi lain, sih." Di tengah percakapan mereka, tanpa sepengetahuan Cahyati, Hugo mengeluarkan alat kecil dari saku jasnya. Ia menempelkannya dengan cepat pada ponsel Cahyati saat gadis itu sedang asyik berkeluh-kesah tentang harga sembako dan cabai yang terus naik. ​ -oOo- Hari-hari berikutnya, ponsel Cahyati adalah siaran langsung gratis bagi Hugo. Setiap keluh kesah, setiap tawa, dan setiap drama kecil di kehidupan Cahyati terekam jelas di perangkat dengar Hugo. Ia mendapati dirinya kecanduan mendengarkan. Suatu sore, Hugo sedang memeriksa laporan keuangan perusahaannya yang nilainya triliunan. Namun, fokusnya pecah saat mendengar suara perempuan melengking dari headset-nya. “Cahyati! Neng Cahyati! Mana bayaran bulan ini? Udah nunggak tiga bulan. Ini mau dioper jadi cicilan pinjol lagi?” suara Ceu Euis, pemilik kosan Cahyati, terdengar seperti toa masjid yang error. Hugo menyunggingkan senyum tipis. Di telinganya, ia mendengar Cahyati tergagap. “Aduh, Ceu Euis… maaf pisan, Ceu. Uangnya belum cair. Masih... nyangkut di awan-awan, Ceu.” Hugo terkekeh, membayangkan ekspresi panik Cahyati. Tapi tawanya pecah menggelegar saat Cahyati mengeluarkan jurus terakhirnya. “Maaf, Ceu… saya teh kemarin mau bayar, tapi… tapi ada mus-musang ngambil dompet saya di warung, Ceu!” suara Cahyati terdengar putus asa. Hugo sampai terbatuk-batuk, menahan tawanya. Ia menutupi mulutnya dengan tangan agar suara tawanya tidak terdengar oleh bawahannya. Musang? Seriusan? Cahyati memang master di bidang ngeles! ​ Di hari lain, Hugo sedang meeting online. Tapi ia malah lebih fokus ke percakapan Cahyati yang lain. Terdengar suara ketukan pintu yang keras, diikuti suara berat seorang pria. “Dengan Saudari Cahyati? Ini dari pinjaman online Adakambing. Anda sudah telat tiga hari, kalau tidak bayar hari ini, kami sita!” Hugo memutar bola mata. Ini dia, drama baru! Tapi Hugo terkejut saat mendengar Cahyati membalas dengan nada tenang, tapi... aneh. “Ni-hau. Wo pu tung ni shuo shenme. Wo shi Cong-hua ren. Wo bu yao qian. Ni zhao cuo ren le! Xiexie!” Cahyati pura-pura pakai bahasa Mandarin. Hugo sampai menjatuhkan pulpennya. Ia tidak bisa menahan tawa, dan buru-buru mematikan mikrofon meeting-nya. Ia tertawa terbahak-bahak sampai air matanya menetes. Cahyati gila! Dia kira itu bisa mengusir si penagih? Sungguh sebuah taktik yang sangat absurd tapi brilian! Suatu malam, Hugo sedang bersantai sambil mendengarkan Cahyati curhat dengan seseorang. Kali ini suaranya lebih lembut, terdengar seperti suara wanita lain. “Sab, gue bingung deh. Gue kerja rodi, tapi kok kayaknya gini-gini aja ya? Lo enak, gaji UMR ke atas, udah kayak anak Jaksel aja, wih cas-cis-cus bahasa Inggris!” Terdengar suara Sabrina tertawa. “It’s all about networking, babe. Lo harus upgrade diri, jangan cuma ngerungut aja. Look at me, sekarang gue udah bisa meeting sama client bule, all because I took a course.” Hugo baru sadar dirinya lebih menunggu notifikasi penyadap ponsel Cahyati daripada laporan board meeting. Kenapa gue ketawa melulu dengar suara dia? Kemudian terpikirkan sebuah rencana. Gadis ini, unik. Di balik penampilannya yang… agak polos, dia cerdik dan berani. Yang terpenting, dia persis seperti yang aku cari. Hugo menyimpulkan dalam hati. Dia cocok untuk rencana gila ini. -oOo- Satu minggu setelah pertemuan di pesta, Hugo menelepon Cahyati. "Gue ada tawaran kerja buat lo," kata Hugo, tanpa basa-basi. "Kerja apa? Jualan gorengan? Saya lumayan jago nih bikin bakwan!" jawab Cahyati semangat. "Bukan. Gue mau jadikan lo istri kontrak. Dengan identitas baru. Celine," ujar Hugo. Cahyati terdiam. Ia memikirkan semua kemungkinan. Ada hal yang ganjil dalam cara Hugo bicara. Terlalu tenang. Membuat Cahyati sedikit merinding. Gila nih orang. Pasti otaknya udah bocor sampe ke lutut. Atau jangan-jangan dia butuh istri buat bahan percobaan lab? "Anda pasti baru keluar dari RSJ, ya? Atau kebanyakan nonton sinetron Istri Bayaran?" Hugo mendesah, lalu menunjukkan layar ponselnya. "Ini bayaran lo per bulan satu miliar." Mata Cahyati membelalak. Satu... miliar? Uang sebanyak ini bisa ditabung buat beli kosan, bangun rumah, bahkan bisa bikin warteg tiga biji! "Gini deh, Anda punya sertifikasi OJK nggak? Penipuan bukan? Kalo beneran, saya mau... tapi syaratnya boleh makan nasi padang tiap hari!" Cahyati berlagak serius, meski hatinya sudah menari-nari bagai Batavia Dancer. Hugo terkekeh. "Gampang itu sih. Lo mau makan otak monyet tiap hari pun gue kabulin. Gue bisa transfer lo sekarang kalau lo ragu." "Eeh, nggak perlu," Cahyati spontan menggeleng. Kemudian teringat syarat awalnya. "Tapi kenapa saya harus ganti nama jadi Celine?" Hugo sejenak berpikir, "Supaya nggak kelacak aja. Lo mau diremehin sekitar gue karena miskin dan ketahuan punya utang segunung?" Wajahnya dibuat meyakinkan. "Bener juga sih. Tapi... saya nggak pede," Cahyati melirik tubuhnya. Hugo menyeringai, "Soal makeover, gue yang urus. Cukup sebulan, lo bakal kelihatan glowing kayak seleb papan atas." "Itu... di luar gaji gue?" Cahyati bertanya ragu. Hugo mengangguk. "Iya lah. Selain gaji itu, makan lo ditanggung, uang treatment lo ditanggung, baju juga ditanggung. Jadi lo dapat satu miliar buat jajan doang." "Satu miliar dipake jajan, bisa kelelep cilok satu desa, bos!" Cahyati mengingatkan. Hugo malah sibuk membayangkan, "Iya juga ya." "Eh tapi..." Cahyati mendekap tubuhnya sendiri, "Lo nggak ngincer badan gue kan?" Hugo tertawa keras, "Yakali! Kita tidurnya pisah. Lo punya kamar sendiri, gede, kayak kamar Ratu Elisabeth. Mau nggak?" "Jadi... kita beneran cuma akting kan? Kalau nggak ada yang lihat, saya boleh jadi diri sendiri kan?" Cahyati mengecek respon lawan bicaranya. Hugo mengangguk yakin. "Kalo gue kelewatan, lo boleh batalkan kontrak kapan pun. Gue bakal bayar denda sesuai yang lo minta." "Janji?" Cahyati mulai luluh "Janji. Nanti kita tanda tangani kontrak bareng, jadi terjamin. Kalo ada pasal-pasal yang nggak lo suka, kasih tau aja. Biar kita nego," Hugo berkata diplomatis. "Oke, saya bersedia," Cahyati tersenyum malu-malu. "Kalo begitu, lo besok ke tempat gue. Gue tunjukin rincian kontraknya, kalau bisa langsung tanda tangan lebih bagus. Gue share loc alamatnya." Saat itu Cahyati belum menyadari, tanda tangan yang dibubuhkannya akan mengantarnya pada kehidupan yang berbalik 180 derajat. Jauh berbeda dan lebih pelik dari hidupnya semula. Di mana ia harus menjadi orang lain yang tak dikenalnya, Celine. Dan ia belum tahu, betapa berbahayanya menjadi Celine.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD