Transformasi Nyata

1501 Words
Pagi itu, langit Jakarta tampak secerah mood Cahyati. Burung-burung pun tampaknya ikut bergosip tentang nasib baiknya. Suara Hugo menginterupsi keheningan, "Celine, siap-siap. Kita bakal ke mal hari ini." Cahyati yang sedang berbaring di sofa sambil menonton kartun langsung duduk tegak. "Belanja apaan?" tanyanya, matanya berbinar. Hugo, yang sudah rapi dengan kemeja kasualnya, memandang Cahyati dengan senyum tengil. "Penampilan lo perlu disiapin. Kalau besok lo masuk kalangan atas pakai baju Doraemon, gue takut saham perusahaan gue anjlok. Lo belum punya baju branded, kan?" Seketika, bibir Celine mengerucut. "Shombong amatt!" desisnya, tapi ia tidak benar-benar marah. Terbit senyum tipis di bibir Hugo. Cahyati bangkit dengan semangat 45, menuju kamar, dan bersiap diri. Ia mengenakan t-shirt dan celana jeans terbaiknya. Penampilan boleh standar, tapi hari ini gue Ratunya, no debat! batinnya pongah. Di dalam mobil BMW yang melaju mulus membelah jalanan, Hugo menjelaskan. Suaranya lembut namun tegas. "Satu minggu ini gue kasih lo waktu buat leha-leha, biar lo adaptasi dulu. Tapi lo harus siap. Gue akan tempa lo dengan matang. Lo harus upgrade jadi wanita kelas atas, bukan sebatas penampilan, tapi juga cara berpikir." Cahyati mengangguk-angguk, mendengarkan setiap kata Hugo dengan saksama. Ia tidak merasa terbebani, justru sebaliknya. Baginya, itu tantangan. "Oke, gue ngerti," jawabnya. "Hidup gue ditanggung aja udah bersyukur banget. Lagian, gue terbiasa kerja keras, kok." Hugo menatap gadis itu. Ia merasakan ketulusan dan semangat pantang menyerahnya. "Bagus. Karena setelah ini, jadwal lo akan padat. Belajar banyak hal, sampai lo bisa jadi Celine yang sempurna." Cahyati hanya tersenyum. Ia tahu, di balik semua keindahan dan kemewahan ini, ada sebuah proses panjang yang menunggunya. Tapi ia tidak takut. Karena ia tahu, ia punya seorang "pelatih" yang tak biasa. Dan yang terpenting, ia tidak sendirian. -oOo- Mobil BMW itu menembus kemacetan Jakarta. Tujuan mereka adalah sebuah mal raksasa yang arsitekturnya bagai istana kaca. Saat memasuki lobi, aroma parfum mahal dan udara dingin langsung menyambut, membuat Cahyati merasa seperti ikan lele yang dilempar ke akuarium milik sultan. Ia melirik penampilannya. Kaus dan celana jeans-nya yang sederhana terasa begitu kontras dengan pengunjung yang berlalu-lalang, berbusana bak model majalah. Seketika rasa minder merayap, menusuk hatinya. Hugo menyadari kegundahan itu. Ia melihat ekspresi murung di wajah Cahyati. "Kenapa? Lo ngerasa kayak salah masuk tempat, ya?" tanyanya, suaranya lembut. Cahyati hanya mengangguk, lalu menunduk. Hugo tersenyum, lalu mengangkat dagu Cahyati. "Tenang aja. Hari ini gue jamin, lo bakal pulang dengan penampilan yang bikin semua orang melongo. Gue bakal permak lo sampai secakep artis FTV. Percaya sama gue." Seketika, senyum Cahyati mengembang. Kata-kata Hugo seperti sulap yang membangkitkan semangatnya. Mereka pun memulai ritual sakral itu. Perhentian pertama adalah sebuah salon ternama. Di sana, Hugo langsung memberikan rekomendasi model rambut yang membuat Cahyati terlihat lebih sophisticated. "Smoothing rambutnya, kasih highlight dikit, potong pixie cut aja, tapi jangan terlalu pendek. Biar kelihatan fresh," katanya. Cahyati pasrah, matanya terpejam saat gunting salon memotong rambut panjangnya. Ketika ia membuka mata, pantulan dirinya adalah seorang wanita baru yang begitu menawan. Hampir ia bilang “Siapa lo?” ke cermin. Setelah dari salon, petualangan berlanjut. Hugo membawa Cahyati ke butik-butik yang label harganya bikin dompet menangis. Cahyati merasa seperti anak kecil yang baru dilepas di taman bermain raksasa. "Lo pilih aja. Sesuai occasion, ya. Gaun buat pesta, baju kasual buat jalan-jalan, sama baju olahraga," ujar Hugo, seolah sedang menyuruhnya memilih permen di toserba. Mata Cahyati berbinar. Ia mengambil gaun-gaun glamor yang harganya melebihi UMR Jakarta, stiletto bertabur rhinestone yang membuat kakinya mati rasa, serta baju dan sepatu olahraga dari merek ternama yang terasa nyaman. Ia bahkan mencoba gaun-gaun aneh yang membuatnya terlihat seperti kue tart berjalan. Hugo harus pura-pura batuk untuk menyamarkan tawanya melihat tingkah laku Cahyati. "Hugo, lo yakin? Ini harganya mahal banget!" bisik Cahyati saat mencoba gaun malam berwarna merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna. "Udah, enggak usah mikirin harga. Tujuan kita kan bikin lo kayak cewek konglomerat," balas Hugo santai. Tidak hanya pakaian, Hugo juga membelikan semua aksesori penunjang. Tas-tas dari berbagai merek terkenal, mulai dari clutch untuk acara malam, tote bag untuk sehari-hari, hingga sling bag yang praktis. Dompet pun dibelikan yang baru, seolah dompet lamanya adalah masa lalu yang harus dilupakan. Puncaknya, mereka pergi ke toko kosmetik dan parfum. Hugo memilihkan berbagai produk skincare dan bodycare yang harganya membuat Cahyati hampir pingsan. Lalu, Hugo menyemprotkan sebuah parfum ke udara. Aromanya langsung memenuhi ruangan, lembut tapi kuat, sepertinya bisa tercium hingga radius satu kilometer. "Ini parfum lo. Jadi orang-orang tahu, lo udah datang sebelum lo kelihatan," kata Hugo sambil menyeringai. Cahyati hanya bisa geleng-geleng kepala. Di cermin, ia melihat pantulan seorang wanita yang begitu berbeda dari dirinya yang dulu. Ia tampak menawan, glowing, dan berkelas. Ia tak lagi merasa seperti Cahyati yang polos dan norak, tapi sudah seperti Celine, istri kontrak seorang miliarder yang siap menghadapi dunia. Anehnya hari ini Cahyati seringkali merasa merinding, seolah ada beberapa pasang mata yang mengintainya. "Kok gue ngerasa diawasin ya?" Hugo hanya menepisnya dengan ledekan. "Lo kira lo seleb? Perasaan lo aja," lalu tertawa. -oOo- Satu minggu telah berlalu bagai kedipan mata. Apartemen mewah yang tadinya terasa asing kini mulai memancarkan kehangatan, seolah dinding-dindingnya telah menghafal setiap tawa dan canda. Dua kamar tidur yang bersebelahan menciptakan keharmonisan yang unik. Mereka tak lagi terikat oleh kontrak di atas kertas, melainkan oleh benang persahabatan yang semakin erat, mengubah status mereka dari "pasangan kontrak" menjadi "teman serumah" dan "sahabat karib." Malam-malam di apartemen itu adalah panggung bagi tawa dan hal-hal absurd. Layar televisi menjadi jendela ke dunia lain yang bisa mereka komentari tanpa henti. Malam itu sudah pukul sembilan, Hugo menonton film horor di ruang tengah. Suaranya menarik perhatian Cahyati yang akhirnya mendekat. “Cahyati? Belum tidur?” Hugo menoleh, menemukan Cahyati mengenakan pakaian kebangsaannya, piyama bergambar kartun. Padahal Hugo menawarkan set piyama sutra yang berkelas, tapi Cahyati memilih mengenakan piyama katun kekanakan begitu setiap malam. Meski cocok dengan karakternya yang lucu. “Kali ini capibara?” Hugo menyeringai. Cahyati menunduk, baru sadar motif piyamanya disebut. “Iya, imut kan?” “Imut, kayak marmut,” seloroh Hugo sambil kembali menatap TV. “Temenin gue nonton film horor yuk!” ajaknya. “Takut yaa?” goda Cahyati. “Bukan takut, sepi aja kalau nonton sendiri,” Hugo beralasan. “Oke, kebetulan miss Capibara ini lagi bosen,” Cahyati mengangguk sambil mengambil posisi di sebelah Hugo. Mereka duduk berdampingan di sofa, pandangan lekat pada layar televisi. Tangan Hugo menjulurkan keripik kentang ke arah Cahyati. Cahyati meraupnya, lalu kembali fokus pada tontonan. “Ih, itu cewek cantik-cantik kok b**o sih? Udah tahu ada suara aneh, bukannya lari malah nanya 'Siapa di sana?' Ditunjukkin kan yang dateng hantu, bukan tetangga!” komentar Cahyati, sambil melempar keripik ke arah layar. Hugo yang sedang mengunyah keripik kentang menimpali, "Jangan salah, Cah. Mungkin dia lagi bikin konten YuTub, 'Tantangan Uji Nyali di Rumah Hantu'. Coba lihat, mukanya gak ada takut-takutnya, palingan udah dibayar sponsorship!" "Ngaco! Emang ada hantu mau diajak collab?!" balas Cahyati, tak mau kalah. "Ya, kan beda hantu beda rezeki. Kayak lo, kan, dapat rezeki dari gue," balas Hugo sambil tertawa, Cahyati memukulnya dengan bantal sofa. “Eh, lo pernah mikir nggak. Kenapa kalau hantu mau muncul, lampu kedip-kedip atau mati melulu ya?” Cahyati baru kepikiran. “Gue rasa dia sekongkol sama perusahaan lampu, kalo putus kan harus beli lagi. Dibayar berapa ya kira-kira?” jawab Hugo sambil berpikir. Cahyati tertawa. “Dan kenapa para hantu itu harus repot merangkak, kan mereka bisa teleport?” “Nah itu juga masih misteri. Mungkin penghematan energi?! Kalo teleport watt-nya lebih gede,” Hugo berteori. “Ah lo mah, yang serius kek!” Cahyati menyikutnya. “Ya pertanyaan lo aja aneh gitu. Gue kan belum pernah interview hantu,” Hugo tergelak. Tawa mereka memenuhi ruangan, menghancurkan keheningan malam. Saat adegan seram muncul terdengar jerit ketakutan berbarengan. “Aaaakk!” “Whoaaa!” Cahyati menoleh ke sumber suara bariton di sebelahnya. “Lo takut?” Hugo melambaikan tangan panik, “Yakali gue takut, kaget tau!” Cahyati menahan tawanya. “Ooh kaget, bisa kaget juga?” “Ya lo kira gue orang-orangan sawah, lempeng aja? Gue orang,” Hugo mengingatkan. Cahyati jadi penasaran satu hal. “Lo bisa nangis nggak ya?” Hugo meliriknya. “Nangis? Bisa lah." Kemudian ia tertunduk dengan senyum getir. “Meski udah segede ini, gue pernah kok nangis kejer.” “Kapan?” Cahyati jadi penasaran. “Waktu kehilangan seseorang,” Hugo menatap sendu ke kejauhan. “Siapa? Ortu lo?” tebak Cahyati. “Bukan, ortu gue masing lengkap,” Hugo buru-buru menepis. “Jadi siapa dong?” mata Cahyati penuh rasa ingin tahu. Hugo hanya menghela napas berat, “Nanti juga lo tahu.” Hugo tidak bisa menceritakannya, tidak sekarang. Jika ia tahu peran Celine yang ia mainkan adalah sosok yang sudah terkubur, ia pasti akan mundur. Cahyati menatapnya, berhenti bertanya. Ia tidak bisa mengabaikan tatapan nelangsa pria itu yang terus mengganjal pikirannya. Siapa ya yang bisa bikin cowok sekuat ini nangis kejer? pikirnya, kagum. Di balik keceriaan mereka, Cahyati tidak tahu... dunianya sedang memasuki sisi gelap Hugo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD