Pintu apartemen terbuka pelan mendekati larut malam. Hugo yang belum tidur menoleh refleks. Cahyati masuk, masih mengenakan gaun champagne yang memukau, make-up masih rapi, rambutnya jatuh sempurna, terlalu memukau untuk sekadar pergi kencan. Rowan berdiri di luar, mengatakan hal yang tak terdengar, lalu melambaikan tangan santai sebelum pintu menutup. Hugo berdiri dari sofa. Dadanya terasa janggal. Bukan marah, lebih seperti perih yang tidak punya tempat. “Gimana tadi… ngedatenya?” tanyanya akhirnya, berusaha terdengar biasa. Cahyati melepas sepatu haknya. “Seru. Tapi capek,” jawabnya singkat, tanpa tambahan ataupun penjelasan. Belakangan ini, memang begitu. Cahyati sering pergi bersama Rowan. Seharian atau pulang malam. Kadang sibuk dengan layar ponsel, lalu tertawa sendiri. Hugo t

