Pintu rumah itu dibuka oleh seorang perempuan paruh baya dengan senyum rapi dan mata yang cepat menilai. Seragamnya sederhana, tapi gerakannya efisien. “Silakan masuk.” Nuansa rumah Pak Ferdy masih seperti sebelumnya, terlalu tenang. Bau masakan rumahan mengambang samar, kontras dengan kesan rumah yang lebih sering menjadi ruang rapat ketimbang tempat tinggal. Pak Ferdy sudah menunggu di ruang makan. Ia berdiri saat mereka masuk, senyum tipis terpasang. “Rowan, Cahyati, sini,” sapanya kasual. “Langsung makan aja, anggap rumah sendiri. Rowan sih udah biasa makan di sini, ya.” Makan siang disajikan tanpa basa-basi berlebihan. Meja kayu panjang, lauk tersusun rapi. Masakan rumah, tapi penataannya seperti katering kelas atas. Cahyati mencatat itu dalam hati, entah kebiasaan lama, atau mem

