Duke Naval sepertinya tidak ingin aku menghadiri perayaan. “Musim semi akan tetap berlangsung seperti biasa,” katanya bersungut-sungut. Pelayan, berbeda dengan Duke Naval, justru bersemangat. Mereka mempersiapkanku seolah akan menghadiri perang. Mandi dengan sabun beraroma bargarmot, mengoles pelembab ke seluruh tubuh, menyisir rambut hingga mulus seperti sutra. Pakaian yang dipilih mereka pun benar-benar menawan. Gaun berwarna lavendel dengan hiasan renda dan payet putih. Sepasang sarung tangan ungu pucat membungkus tanganku. Topi bonet berhias mewar putih dan biru. Lalu, sepatu yang mereka pilih, setelah saling protes dan debat, pun adalah sepatu kaca bertabur permata mungil. Meissa pernah menuliskan bahwa setidaknya aku harus menghadiri perayaan walau sekali. Dia berpendapat bahwa bai

