Dalam kerangkeng seekor monster berwujud serigala putih bermata tiga tengah terkurung. Makhluk itu terus mendesis dan memamerkan taring-taring setajam belati. Dia menggigit dan berusaha memutus besi-besi penyokong. Liur menetes dari rahangnya. Baunya cukup memuakkan hingga membuat beberapa penjaga hampir memuntahkan sarapan mereka. Kaki depan serigala terus mencakar dan menggaruk, seolah kuku-kukunya bisa merusak jeruji yang mengukung keberadaannya. Lantas ketika usaha tidak berhasil, monster pun mundur, mendongak, kemudian melolong. Puas melolong, ketiga mata berwarna kuning menatap setiap manusia yang telah mengurungnya. Tidak ada belas kasih dalam tatapan tersebut. Hanya naluri memburu. Murni milik binatang buas. “Katamu dia berhasil tertangkap di pinggiran Desa Jer’s?” Alexander

