Aeron membantu Yevette mempersiapkan diri untuk kunjungan ke istana. Permaisuri Loren, ibu kandung Pangeran Abel, mengundang Yevette dalam rangka persiapan pertunangan. Bukan acara resmi, tentu saja. Namun, Diana meminta Aeron mengurus keperluan Yevette. Dia telah mengundang beberapa perancang dan memilih gaun serta perhiasan yang akan dikenakan Yevette. Ternyata hal tersebut menghabiskan waktu hingga setengah hari. Lantas saat matahari terbenam, mereka keluar mengantar kepergian para perancang.
“Terima kasih.”
Yevette berjalan berdampingan dengan Aeron melalui selasar. Lampu minyak telah dinyalakan di sepanjang selasar, membuat ngengat dan beberapa serangga hinggap di kaca.
“Aku hanya menjalankan kewajiban,” jawab Aeron. “Bukan masalah.”
“Aku pasti tidak akan mengecewakan Charion.”
Orangtua Yevette telah tiada. Marquis Giovanni merupakan adik kandung Duke Charion. Dia meninggal bersama istrinya dalam kecelakaan. Tanggung jawab mengasuh Yevette dibebankan kepada Asley yang dinilai mampu membesarkan putri tunggal Marquis Giovanni.
“Karena kita satu keluarga,” kata Aeron. Kini dia berhenti, menatap Yevette yang berdiri di hadapannya. “Kau tidak harus bertanggung jawab untuk segalanya.”
‘Seperti Juliet,’ pikir Aeron, muram.
Juliet selalu berusaha menyenangkan Asley, ayah Aeron. Tidak pernah, sepengamatan Aeron, Juliet melakukan hal yang ia senangi. Bila dipikir lebih dalam, Aeron bahkan tidak tahu hal yang disukai Juliet. Gadis itu tidak pernah mengatakan apa pun mengenai dirinya. Adapun yang keluar dari mulutnya hanyalah pertanyaan terkait cara membanggakan Asley.
Ironis.
Berbeda dari Juliet, Yevette datang ke kediaman Charion dengan sambutan hangat dari Asley maupun Diana. Asley akan menanyakan makanan yang disukai Yevette, sementara Diana berusaha mengisi kekosongan orangtua dalam hidup Yevette. Gadis itu tidak perlu berusaha mengemis perhatian sebagaimana yang dilakukan Juliet. Orang-orang menerima Yevette sebagaimana dirinya. Walaupun pelayan dan pekerja di kediaman Charion tidak melakukan penyiksaan maupun pelecehan terhadap Juliet, tetapi sikap diam yang selama ini mereka perlihatkan tidak ada bedanya dengan tindak kejahatan.
Sekarang sedikit demi sedikit Aeron mulai mengerti jalan pikiran Juliet, termasuk alasan gadis itu mengakhiri hidup.
‘Terlambat,’ pikir Aeron.
Juliet benar-benar menjadi orang yang berbeda. Dulu dia akan gemetar setiap kali mencoba berbicara dengan Aeron. Namun, Juliet kini bahkan berani menunjukkan sikap memberontak saat berbicara dengan dirinya. Aeron sempat merasa takjub dengan perubahan sikap Juliet. Seperti dua orang yang berbeda.
“Apa kau merasa bersalah kepada Juliet?”
Sejenak Aeron tidak bisa merespons apa pun selain bungkam saat mendengar pertanyaan Yevette.
Rasa bersalah. Selama ini dia menganggap Juliet mampu menanggung perlakuan Asley dan Diana. Dia pikir Juliet takkan bersikap nekat sebodoh apa pun emosi yang tengah melandanya. Namun, begitu dia melihat dengan mata kepala sendiri saat Juliet mencoba mengakhiri hidup untuk kedua kali di danau kala itu; segalanya jadi berbeda.
Jantung Aeron berdegup kencang dan tanpa pikir panjang dia pun melompat, mencoba menyelamatkan Juliet. Dia tidak ingin Juliet pergi. Bahkan meskipun Juliet membencinya, Aeron tidak peduli. Dia akan menerima seluruh kebencian Juliet asal gadis itu tetap hidup.
‘Ibumu tidak menyukaiku, begitupula ayahmu. Sebaiknya kau tidak ikut campur. Bagimu tindakanku terlihat menyedihkan, tetapi ketahuilah, aku membutuhkannya.’
Perkataan Juliet masih terngiang di benak Aeron. Seberapa putus asa dirinya hingga sanggup melenyapkan diri sendiri? Aeron tidak mengerti keputusan Juliet yang satu itu.
Akan tetapi, setidaknya Aeron berharap bisa memperbaiki keadaan. Diana tentu tidak menyukai keputusan Aeron yang satu itu: Mendekati Juliet.
“Aku tidak tahu,” Aeron membalas.
“Kau bisa mencoba menemui Juliet,” Yevette menyarankan. “Walau aku yakin Duke Naval tidak mungkin melonggarkan kewaspadaannya. Terlebih, hubungan di antara Charion dan Naval termasuk tidak baik. Namun, tidak ada salahnya mencoba.”
“Kau memikirkan Juliet?”
Yevette mengangguk. “Bukankah kita semua bertanggung jawab atas penderitaan Juliet?”
Aeron menatap langit yang berwarna jingga. Ada beberapa butir bintang yang mulai bersinar dan perlahan udara pun mulai mendingin. “Andai aku berani menyanggah orangtuaku.”
“Namun, kita tidak mengambil tindakan apa pun,” sahut Yevette, muram. Kini ia mengikuti Aeron memandang langit. “Aku baru pertama kali melihat seseorang dengan tatapan sekosong itu. Dalam diri Juliet tidak ada secuil pun semangat hidup. Seolah dia tidak keberatan menghilang saat itu juga.”
“Aku benar-benar menyesal.”
“Aeron—”
Perkataan Yevette terpotong oleh suara gaduh. Aeron dan Yevette menatap Rowan yang berderap menuju mereka. Awalnya Aeron mengira Rowan akan berhenti, menyapa. Namun, Rowan terus melangkah hingga Aeron terpaksa memanggil adiknya.
“Rowan, ada apa denganmu?”
Aeron meraih bahu Rowan, memaksanya berhenti.
Penampilan Rowan terlihat berantakan; bibirnya pecah, ada darah di ujung bibir, dan lebam di pipi. Sekali lihat pun Aeron sudah bisa menyimpulkan: “Apakah Ayah menghukummu?”
“Menghukum?” Rowan terbahak. “Dia menghajarku!”
Yevette tersentak saat Rowan berteriak. Tanpa sengaja dia membentur pagar pelindung dan sepertinya besok pinggulnya akan ada luka lebam.
“Aku tidak menyangka Ayah akan memuji keberanianku dengan tamparan,” Rowan mendecih. Dia mulai menyapu bibirnya dengan ibu jari, mencoba membersihkan darah. “Apa salahnya mengunjungi kediaman Naval dan bertemu Juliet? Bayangkan, Aeron!”
Aeron bisa menduga alasan amarah Asley meledak. Sampai kapan pun Asley tidak sudi membungkuk kepada Naval.
“Kau seharusnya bisa mengira bahwa Ayah tidak bisa menoleransi apa pun terkait Duke Naval, Rowan.”
“Namun, setidaknya aku jujur dengan keinginanku,” Rowan mendebat. Dia mendorong Aeron menjauh. “Aku tidak ingin mengulangi kesalahan.”
“A-apa maksudmu?” Yevette terbata. “Kesalahan apa?”
“Tidak bisa melindungi Juliet,” jawab Rowan, tatapannya masih terfokus kepada Aeron. “Dulu aku bersedia mewakili Charion ke medan laga dengan harapan bila menang maka Ayah akan membiarkanku menikahi Juliet. Namun, begitu aku kembali dari medan tempur, Juliet berubah. Aku bahkan tidak bisa melihat orang yang dulu aku kenali dalam diri Juliet.”
Ada sesuatu yang menyengat ulu hati Aeron. Tanpa sadar dia mengepalkan tangan, menahan diri. “Kau ingin menikahi Juliet?”
“Dan sekarang rencanaku terhalang oleh tidak hanya Ayah, tetapi Duke Naval,” Rowan mendesis, berang. Dia mulai menendang pagar pengaman, mencoba melampiaskan kekesalan. “Melihat kedekatan Duke Naval dengan Putra Mahkota Elias, aku hanya bisa berharap lelaki itu tidak menawarkan Juliet kepada Putra Mahkota Elias.”
Setelah berkata demikian, Rowan pun melenggang pergi; meninggalkan Aeron dan Yevette.
“Aeron....”
“Aku baik-baik saja.”
Entah mengapa Aeron merasa telah kehilangan momentum paling berharga sepanjang hidup.
“Mungkin saja itu hanya kabar burung belaka,” Yevette mencoba menghibur Aeron. “Lagi pula, Rowan memang senang bercanda. Bisa saja dia mengucapkan gurauan.”
“Rowan serius, Yevette. Dia selalu serius dengan hal-hal yang ia inginkan.”
“Ta-tapi....”
“Maafkan aku, Yevette.”
Aeron pun meninggalkan Yevette seorang diri di selasar.
*
Istana Permata, kediaman permaisuri, merupakan salah satu tempat yang membuat sebagian orang merasa gentar. Sepeninggal Rowena, istri pertama Vlad, Loren sengaja mengganti furnitur, lukisan, bahkan tanaman yang ada di taman Istana Permata. Dia sengaja menghapus jejak Rowena dari Istana Permata. Bahkan meskipun Vlad membenci tindakan Loren, pria itu tidak bisa bertindak apa pun untuk menghentikan keputusan Loren. Seymour dan Charion berada di belakang Loren sebagai penyokong utama. Itu belum termasuk beberapa keluarga yang ikut mengayomi Loren sebagai pengganti Rowena.
Diana merupakan adik kandung Loren. Kedua wanita itu saling bahu-membahu menguatkan Seymour di kancah pemerintahan. Setidaknya tidak seperti Diana, Loren lebih beruntung. Dia berhasil mengambil posisi Rowena.
Loren memperhatikan pantulan dirinya dalam cermin. Pelayan menyisir rambut Loren yang berwarna pirang, warna yang ia turunkan kepada Abel, putranya. Tidak seperti Abel yang mewarisi warna mata Vlad, kedua mata Loren memiliki warna cokelat terang. Wajah berbentuk hati, bibir penuh, dan hidung mancung. Secara keseluruhan Loren terlihat menarik meski usianya tidak terbilang muda.
Pelayan yang bertanggung jawab dengan riasan mulai membubuhkan perona di pipi Loren. Perlahan kuas pun disapukan mengikuti garis wajah. Giwang, kalung, cincin, kemudian jepit rambut; satu per satu pelayan memasangkan perhiasan kepada Loren. Setelah selesai, Loren tidak mengatakan apa pun. Dia bahkan tidak mengomentari gaun sutra ungu yang dihiasi opal serta mutiara maupun sepasang sepatu berornamen emas. Satu-satunya yang ia perhatikan hanyalah Abel.
Loren mengangkat tangan kanan, memerintahkan seluruh pelayan agar meninggalkan kamar.
“Halo, Ibu.” Abel membiarkan Loren menarik dirinya, mendaratkan kecupan di pipi. “Maafkan ketidaksopananku.”
Abel tidak memanggil Loren dengan sebutan “Yang Mulia”. Lagi pula, Loren lebih senang dengan panggilan “Ibu” daripada gelar. Ini membuktikan bahwa dia amat memedulikan kedekatan anatara dirinya dengan Abel.
“Justru aku merasa terbekati dengan kehadiranmu,” ucap Loren seraya membelai wajah Abel. “Kau merupakan wujud dari kekuatanku, Nak.”
Lantas mereka berdua memutuskan pergi dari kamar. Diikuti beberapa pelayan dan penjaga, mereka berjalan menuju kereta kuda. Hari ini Vlad mengadakan jamuan makan siang dengan beberapa seniman. Loren sengaja memanfaatkan momen tersebut untuk memperlihatkan kemampuan Abel dalam berdiplomasi. Dengan catatan, Elios tidak menyabotase rencana Loren.
Abel membantu Loren masuk ke dalam wagon. Keduanya duduk saling berdampingan. Sais mulai meneriakkan perintah kemudian kereta pun melaju menuju gedung pameran yang terletak di Kirkidan, ibu kota Elusion.
“Ibu mengundang Lady Charion?”
“Aku ingin menilai Lady Yevette,” kata Loren sembari menepuk lengan Abel. “Ada banyak hal yang perlu dipastikan.”
“Apa lagi yang perlu Ibu pastikan?”
“Kualitas,” jawab Loren, singkat. “Apa dia seperti Lady Magnolia?”
Baik Yevette maupun Juliet, Loren belum pernah bertatap muka dengan kedua gadis tersebut. Adapun yang dia dengar hanyalah kabar mengenai ketertarikan Juliet terhadap Abel. Terlebih dengan terbukanya fakta mengenai identitas Juliet, yang ternyata merupakan putri kandung Duke Naval, Loren merasa tergelitik mengulik lebih jauh kedekatan Juliet dan Abel.
“Dia berbeda,” jawab Abel tanpa menunjukkan emosi apa pun. “Lady Charion lebih memenuhi kriteria yang Ibu inginkan.”
“Dari dulu hubungan antara Charion dan Naval seperti anjing dan kucing,” Loren menjelaskan, sejenak dia memperhatikan barisan pepohonan yew dan cemara jarum yang berjejer di sepanjang jalan. “Namun, itu tidak berarti kau tidak memiliki kesempatan.”
“Aku tidak mengerti.”
“Bukankah gadis Naval itu menyukaimu? Ketahuilah, Anakku. Rasa cinta yang dia miliki untukmu bisa menjadi senjata yang menguntungkan bagi posisimu. Buatlah dia berpihak kepadamu, maka urusan Duke Naval akan selesai dengan sendirinya.”
Abel teringat Juliet dalam gendongan Rowan. Gadis yang dulu mengharap perhatian, cinta, dan hati Abel telah berubah. Sedikit pun Juliet sama sekali tidak tertarik menengok kepada Abel. Juliet memilih menempel kepada Rowan seperti anak anjing dengan induknya.
“Aku tidak yakin,” Abel mengungkapkan pendapat. “Terakhir kali aku melihatnya, dia seperti orang yang berbeda.”
Loren tidak segera membalas sebab kereta telah berhenti melaju.
Mereka telah sampai di tujuan.
Bagi orang luar melihat Vlad dan Loren menggendarai kereta kuda yang berbeda mungkin akan menunjukkan bahwa pengaruh Rowena masih kuat melekat pada diri Vlad. Mendiang Rowena selalu membayangi langkah Loren. Seperti parasit.
Kesatria membuka pintu wagon, mempersilakan Abel dan Loren keluar.
Bangunan mewah berbentuk kubah berdiri tegak di hadapan mereka. Patung-patung dewa dan dewi serta makhluk fantasi menghias bagian luar bangunan. Tanaman tatebuya kuning dan ungu menghias bagian depan bangunan. Abel menggandeng lengan Loren, membimbingnya meniti anak tangga hingga masuk ke dalam bangunan.
Di dalam ternyata Vlad dan Elias telah terlebih dahulu menghadiri acara. Sejenak Loren mencengkeram rok, mencoba melampiaskan amarah atas perlakuan Vlad.
“Hormat saya kepada Anda, Yang Mulia Permaisuri.”
Retan Ambre, salah seorang pelukis yang terlibat dalam galeri seni, memberi salam kepada Loren.
Loren tidak menduga Vlad akan memutuskan memulai acara tanpa menunggu kehadiran istrinya. Sekali lagi, Loren mendapat dorongan untuk mencabik Vlad. “Saya tidak menduga acaranya akan berlangsung lebih awal.”
Para hadirin yang diam tidak berkutik tidak berani menatap kehadiran empat orang penting; Vlad, Loren, Elias, dan Abel.
Tiba-tiba saja mereka, para hadirin termasuk seniman, merasa akan terseret dalam air bah.
“Mungkin karena Baginda tidak ingin menunda acara pembukaan pameran,” Elias menyuarakan pendapat. Dalam balutan busana bernuansa merah dan hitam, dia terlihat seperti pangeran dari neraka. “Bukan begitu, Baginda?”
Vlad pura-pura batuk. Sejenak dia mengamati lukisan bunga dan peri, menimbang perlu tidaknya menyahut sindiran putranya, sebelum kemudian berkata, “Permaisuri, bagaimana kalau kau mengomentari lukisan Sir Ambre? Katanya dia terinspirasi dari legenda Elusion.”
Lukisan yang ditunjuk Vlad menampilkan ilustrasi sosok-sosok monster haus darah; mereka bertanduk, cakar menghunjam ke tubuh manusia-manusia yang bersimbah darah, taring mengoyak leher para pendeta. Bunga magnolia terpercik tumpahan darah para monster dan manusia. Lalu tepat di atas kekacauan, sesosok gadis berambut merah muda tengah membenamkan belati ke jantungnya sendiri. Dari dalam gadis tersebut terlahirlah sosok naga emas. Naga tersebut membentangkan sayap, menghujani tanah dengan siraman terang.
“Anda menyukai kisah tragis semacam ini?” Loren menganggap lukisan Retan sebagai perwujudan dari sadis dan belas kasih. Namun, dia tidak menyukai cara Retan melukiskan wajah gadis yang mengorbankan jiwanya demi menyelamatkan manusia. “Menarik.”
Kini para undangan mulai bisa bernapas lega. Mereka kembali menikmati pameran seni dan bergegas menjauh dari keluarga kerajaan. Lebih jauh, lebih baik.
“Saya mengagumi kemampuan manusia dalam mengorbankan sesuatu,” Retan merespons.
“Bukankah ini tidak ada bedanya dengan bunuh diri?” Vlad mengerutkan kening, berkali-kali ia mencoba menelan ludah, tetapi gagal. “Anda benar-benar memiliki selera unik.”
“Saya menganggap perngorbanan gadis itu sebagai bentuk dari cinta,” Retan menjelaskan. “Bahkan meskipun, saya duga, tidak satu pun dari kita bersedia mencari tahu nama dari gadis tersebut. Legenda hanya mengisahkan warna rambut; tanpa nama, tanpa asal-usul, buram. Mungkin dia pun sebenarnya tidak peduli kepada para manusia yang ia selamatkan akan mengingat dirinya.”
“Karena itukah Anda melukiskan wajah gadis itu dengan tatapan hampa?” Elias bersuara, kedua matanya terfokus pada lukisan belati. “Seolah dia memang mengharapkan demikian?”
“Bagi saya, iya.” Retan sama sekali tidak tersinggung dengan pendapat Elias. “Sebab saya pernah kehilangan salah seorang teman akibat penyakit paru. Satu-satunya yang ia peluk sampai akhir hanyalah ilustrasi lama mengenai legenda Elusion. Saat itu saya merasa terpukul dan terbebani tanggung jawab moral untuk mewujudkan keinginannya.”
Abel memutuskan menyingkir dan memperhatikan lukisan lain. Kali ini dia tertarik pada lukisan gadis berambut merah muda yang lain. Tidak seperti lukisan Retan yang menampilkan ekspresi hampa, lukisan yang ini memperlihatkan gadis yang tengah memejamkan mata. Seekor kupu-kupu musim semi hinggap di bibir gadis tersebut, seolah tengah mengecup.
“Apa kau sedang membayangkan gadis berambut merah muda dengan sorot mata semerah rubi?”
Tanpa perlu menengok, Abel tahu bahwa Elias kini berdiri di sampingnya.
“Saya tidak membutuhkan perhatian Anda, Putra Mahkota.”
“Adikku, aku selalu ingin tahu mengenai dirimu dan Lady Charion,” Elias menggoda. “Wah, kebetulan sekali duke kesayanganku ternyata memiliki seorang putri.”
Mau tidak mau, Abel mengepalkan tangan. “Selamat.”
“Mungkin beliau akan mengizinkanku menjadikan dia sebagai calon putri mahkota?”
Abel menggigit bibir, mencoba menahan kemarahan. Namun, sekuat apa pun bertahan, ia tahu satu hal: Juliet merupakan salah satu kunci yang perlu dia kumpulkan.