9

2017 Words
Dunia milik Juliet amat berbeda jauh dengan tempat asalku. Fasion, transportasi, sistem pemerintahan, tata krama; segalanya. Adapun yang mirip dengan kehidupan lamaku hanyalah watak manusia. Seandainya mengetahui Duke Naval akan menjemput Juliet, maka aku akan menghajar Duke Charion. Sekali. Sepertinya tidak berlebihan memberikan pelajaran kepada Duke Charion, menilik perlakuannya kepada Juliet. Dia seharusnya dipenjara dengan pasal kekerasan dalam rumah tangga, tindakan tidak menyenangkan, dan penelantaran anak. Manusia tidak menyukai orang berpikiran negatif. Namun, yang tidak diketahui mayoritas, orang-orang, mengenai pemurung ialah, penyebab orang seperti diriku dan Juliet sukar berpikir positif. Kami, aku dan Juliet, tumbuh di lingkungan tidak sehat. Bukan kasih sayang dan cinta yang kami dapatkan, melainkan racun dan perlakuan buruk. Bagaimana mungkin mengharap kami mekar sebagaimana anak pada umumnya? Orang seperti kami, aku dan Juliet, tidak bisa memosisikan diri pada cara pikir orang normal. Anak yang tumbuh dengan pengajaran budi pekerti dan kasih sayang akan berbeda dengan anak yang mendapatkan perlakuan diskriminatif. ‘Juliet, kau benar-benar tidak bisa diharapkan!’ Tatapanku terfokus pada buket tulip yang ada di pangkuan. Merah muda seperti rambut Juliet. Tidak ada desir romantisme dalam darahku. Bunga ini dialamatkan kepada Juliet. Kepada seseorang yang telah tiada. Ironis. Aku menyingkap gorden, memperhatikan jejeran pohon berdaun oranye dan hijau di sepanjang jalan. Ingin menjulurkan tangan, merasakan embusan angin di kulit, dan menangkap daun-daun yang berguguran. Seperti dalam drama. Tokoh utama berjalan di sepetak jalan. Pohon-pohon merontokkan daun seperti hujan musim gugur. Tokoh utama akan menikmati siraman sinar matahari yang menghangatkan kulit. Terus berjalan. Selangkah demi selangkah. Terus melangkah tanpa pernah menengok ke belakang kemudian lenyap dalam ketiadaan. Sembari menghela napas, aku menarik setangkai tulip dari buket. Bunga ini tidak akan bertahan lama. Kelopak merah muda nantinya akan berganti rupa menjadi cokelat. Batang hijau akan kehilangan kelembapan. Akan lebih menyenangkan bila pengirim buket menyerahkan tanaman yang memiliki akar agar bisa ditanam di kebun. Setidaknya aku bisa mengingat si pemberi setiap kali melihat tanaman tersebut. Sedikit demi sedikit kediaman Naval terlihat. Pepohonan ulin, bugenvil ungu, dan magnolia menggantikan nuansa oranye dan hijau. Setelah kereta berhenti melaju, samar-samar terdengar percekcokan. “Minggir!” “... kehadiran Anda tidak diterima ...” “Persetan!” “ ... panggilkan Ketua!” “Apa itu Duke Naval? Hei, kita perlu bicara!” Pintu kereta dibuka paksa hingga aku yakin engselnya rusak. Cahaya menyorot masuk, membuatku silau. “Ju-Juliet....” Di depanku, seseorang dari masa lalu Juliet, tampak pias. “Halo, Rowan.” Bulir keringat bermunculan di kening dan leher Rowan. Kemeja dan rompi yang Rowan kenakan terkena debu. Tangan masih mencengkeram daun pintu, sementara kedua matanya terpaku padaku. “Lady!” Kesatria menghambur ke segela penjuru, mengelilingi Rowan. “Menyingkir dari lady kami!” Aku menelengkan kepala, berusaha memikirkan skenario kehadiran Rowan. Duke Charion tidak mungkin mengirim Rowan datang kemari. Dia pasti mengusahakan audiensi dengan raja, mencoba mencari jalan keluar, dan mempermalukan Duke Naval. “Juliet, aku ingin menemuimu.” Rowan mengabaikan bilah pedang yang diarahkan kepadanya. “Aeron tidak mau mendengarku, Ayah sulit diajak bicara, sementara yang lain ... Juliet, aku tidak mengerti.” “Mundur,” kataku, mantap. “Aku ingin turun.” Rowan mengerjap, sejenak ia ragu seakan tidak mengerti maksud ucapanku. Namun, akhirnya ia mundur, memberikan ruang bagiku. Salah seorang kesatria menghampiri, menawarkan tangan yang segera aku terima sebab Rowan hampir saja meraihku seperti yang dia lakukan di kesempatan yang lalu. “Tidak, Rowan,” aku menolak dengan tegas. “Kita akan bicara, tetapi setelah itu, kau harus pulang.” Kesatria Naval jelas menolak usulanku, tetapi mereka memilih diam. Sebagian menyingkir, memperhatikan dari jauh, sementara yang lain berdiri di belakangku, siap menyerang ketika dibutuhkan. Para lelaki dan otot mereka. Merepotkan. “Tulip?” Mata Rowan terarah pada buket dalam genggamanku. “Kau ingin membahas tulip?” Rowan menggeleng. “Juliet, kembalilah.” Kembali. Meskipun bukan Juliet yang asli, tetapi bukan berarti aku akan membiarkan Juliet kembali kepada Duke Charion. “Di sana bukan rumahku. Duke Charion hanya membutuhkan kedua putra dan keponakannya. Apa kaupikir dengan kembali bersamamu akan memperbaiki segalanya?” “Aku bisa mencoba membujuk Ayah.” Rowan mencengkeram kedua lenganku. Andai aku tidak menginstruksikan mundur, pasti kesatria Naval akan menghunus pedang saat ini juga. “Kita bisa memperbaiki segalanya. Pasti ada jalan tengah. Juliet, aku pernah berjanji akan mengajakmu ke Bukit Dandelion. Kita akan melihat padang dandelion seperti yang pernah aku janjikan kepadamu.” Oh janji masa kecil antara Rowan dan Juliet. Janji yang selama ini dipercayai Juliet sebagai bukti adanya hubungan khusus dengan keluarga Charion. Janji manis. Sayangnya aku tidak tertarik berpegang pada janji manis. Sepanjang hidup aku selalu memercayai omongan orang-orang yang suatu saat aku harap bersedia menerima diriku. Janji-janji yang tidak terbukti. Palsu. Janji yang membuatku rela mengubah diri demi “suatu saat” yang tidak terjadi. Orang tidak bisa selamanya berpegang pada harapan. Aku muak dengan janji palsu! “Sudah selesai, Rowan.” “Juliet....” “Dulu aku menyangka akan ada tempat bagiku di Charion.” Sekali lagi, aku berusaha menggali ingatan Juliet. “Berdoa suatu saat kalian mempersilakan diriku sebagaimana Yevette. Namun, tidak terjadi. Tidak ada penerimaan. Hanya penolakan.” Jemari Rowan membenam di kulitku, tubuhnya bergetar seiring fakta yang terlontar dariku. “Juliet, saat itu aku tidak memiliki pilihan.” “Selalu ada pilihan, Rowan,” kataku mendebat. “Selalu ada kesempatan, tapi kau tidak mengambil tindakan apa pun. Pernahkah kau menguatkanku ketika Duke Charion melarangku memanggilnya dengan sebutan ‘Ayah’? Jawab, Rowan. Tidakkah itu ada artinya bagimu?” Demi Juliet, aku akan melakukan hal yang seharusnya dia lakukan sejak dulu kala. Menolak Charion. “Kau membuatku merasa tidak berguna,” kataku melanjutkan. Perlahan aku menepis tangan Rowan. “Sekarang saatnya kita mengambil jalan masing-masing.” “Aku tidak mengerti.” Aku menarik setangkai tulip dari buket dan menyerahkannya kepada Rowan. “Apa kau pernah memikirkan bahwa perpisahan di antara kita akan terjadi?” Rowan menerimanya, menggenggam tangkai dengan tatapan nanar. “Sekarang kau bebas, Rowan. Tidak ada beban bernama Juliet dalam hidupmu.” Anehnya aku bisa tersenyum. Seulas senyum yang aku persembahkan kepada Juliet atas nama kebebasan. “Selamat tinggal, Rowan.” “Juliet, hentikan!” “Selamat tinggal.” Perlahan aku mundur, mengintruksikan kesatria agar berbaris di depanku sebagai dinding pemisah. “Lupakan aku dan berbahagialah.” Setelahnya aku memasuki kediaman Naval, mengabaikan panggilan Rowan yang terdengar memilukan. * Suatu malam aku menangkap basah Duke Naval pulang dalam keadaan berantakan. Dia mematung. Darah menetes dari ujung jemarinya yang bersarung tangan hitam. Orang lain akan lari terbirit-b***t saat berhadapan dengan lelaki setinggi 180 meter. Terlebih lelaki yang harus berlagak menyelinap di rumahnya sendiri. “Juliet?” Pelayan yang mendampingiku hanya diam, tidak memperlihatkan reaksi apa pun. Berarti mereka terbiasa menyaksikan Duke Naval dalam kondisi demikian. Aku tidak takut. Sama sekali. Ada lebih banyak manusia amoral di tempatku berasal. Televisi selalu mewartakan berita pembunuhan. Ayah membunuh anak tiri, ibu kandung melenyapkan balita berusia dua tahun demi selingkuhannya, anak membunuh ibu, dan perampok menghabisi satu keluarga tanpa ampun. Apa yang perlu aku cemaskan mengenai Duke Naval selain kemungkinan dia menghalangiku bunuh diri? “Ini bukan darahku,” katanya menjelaskan. “Jangan khawatir.” “Duke,” Damian, kepala pelayan, mencoba mengoreksi ucapan Duke Naval. “Bukan begitu caranya.” Jadi, dia mungkin baru pulang setelah menghabisi nyawa seseorang. Barangkali Duke Naval berharap aku akan menanyakan keadaannya. Namun, bibirku tetap bungkam. “Juliet, jangan kemari.” Duke Naval melangkah mundur, seakan risau akan menularkan penyakit kepadaku. “Damian, mengapa putriku berkeliaran di sekitar ruang kerjaku?” Damian membungkuk, memohon maaf. “Lady kesulitan tidur,” jelasnya. “Oleh karena itu, dia ingin berjalan-jalan.” “Benarkah? Kalau begitu perintahkan Sua dan yang lain menemani Juliet.” “Baik.” Itulah alasan jalan-jalan malamku berubah jadi tur malam. Bahkan setelah Duke Naval selesai berbersih diri, dia pun menyusul menemaniku jalan-jalan tengah malam. Aku mulai meyakini ada yang tidak beres dengan penghuni Naval. Mulai dari pelayan, petugas dapur, hingga pemilik Naval. “Nah, Putriku,” kata Duke Naval sembari menunjuk deretan pohon jacaranda. Kali ini tidak ada bau amis. Dia telah berganti pakaian dan tampak siap menjadi pembimbing tur. “Aku sengaja menyewa jasa tukang kebun dan ahli tanaman terbaik agar menanam bunga kesukaanmu.” Kami berdiri di depan deretan jacaranda. Rembulan bersinar terang, membuat batu-batu kristal memendarkan sinar. Pelayan dan kesatria yang menemaniku mulai mengangguk puas. “Lalu,” Duke Naval meneruskan, “aku juga menyarankan agar menanam tulip merah muda. Lain kali bila ada orang asing memberimu bunga, langsung buang saja. Mengerti?” Duke Naval mulai memberikan wejangan mengenai lelaki buaya darat. Bahkan dalam setiap kalimat dia menyisipkan kata “lelaki Charion” sebagai contoh buaya darat. Selama beberapa saat aku mengira sanggup bertahan dengan ungkapan Duke Naval mengenai keluarga Charion. Namun, pada akhirnya aku terlalu lelah dan menyesal membiarkan Duke Naval bergabung dalam jalan-jalan malam. “Ayah, bolehkan aku kembali ke kamar?” Maafkan aku. Menjadi pendengar yang baik bukanlah bakatku. * Alexander masih terbayang wajah Juliet yang tampak tidak bersemangat. Dia mencemaskan perilaku pasif putrinya. Juliet tidak seperti anak gadis pada umumnya. Gadis mana pun pasti akan dengan senang hati menerima hadiah berupa perhiasan dan gaun, tetapi Juliet tampak acuh tak acuh. Bila dipikir lebih jauh, Juliet bahkan tidak memiliki kriteria tertentu terkait gaya busana, makanan, dan dia tidak mengomentari kamar baru yang ia tempati. “Charion berengsek.” Duke Naval mengetuk kaca jendela. Dia kini berada di ruang kerja bersama Damian. “Seberapa besar trauma yang putriku alami? Seharusnya Vlad membiarkanku melenyapkan seluruh Charion.” “Duke, mereka mendapat dukungan dari Permaisuri.” Alexander mendecih, kesal. “Andai Rowena tidak meninggal, bisa aku pastikan ular itu akan berakhir di kolong jembatan.” Rowena Milia Esiona merupakan istri pertama Vlad, ibu dari putra mahkota, Elias. Rowena meninggal saat Elias berusia lima tahun. Hanya orang bodoh saja yang percaya bahwa Rowena terkena penyakit paru. Namun, Duke Naval mencurigai campur tangan Seymour. Terbukti dari pengangkatan Laura Seymour sebagai pengganti permaisuri. “Elias telah memberikan alamat lelaki yang meracuni ayah Leyna,” Duke Naval menjelaskan, tatapannya masih terfokus pada rembulan. “Tapi, cecenguk itu memilih bungkam sampai akhir.” Leyna tidak mungkin meninggalkan Alexander tanpa alasan kuat. Wanita itu bukan termasuk golongan manusia yang lemah akan godaan harta. Tidak seperti Asley. Seharusnya Asley mundur saat Leyna memilih Alexander. Namun, tidak. Asley keras kepala. Bahkan dia tidak peduli kepada perasaan Diana. “Apa pemuda Charion itu masih nekat mengunjungi Juliet?” “Sesuai arahan Anda,” Damian menjawab. “Sua telah memperketat penjagaan.” “Ayah dan anak sama buruknya.” Alexander mulai mencemaskan pasangan Juliet di masa depan. Siapa pun itu, dia harap bisa menjejalinya dengan kewajiban membahagiakan Juliet. * “Anak bodoh!” Rowan bisa merasakan darah dalam mulutnya. Sedari awal dia telah bersiap menerima amukan Asley. Terlebih setelah kesatria Naval mengirimkan surat perintah larangan terkait kehadiran Rowan ke kediaman Naval. “Kenapa kau bisa sebodoh ini?” Suara Asley terdengar lantang. Bahkan pelayan yang berada di luar ruang kerja Asley pun sampai berjengit. “Gadis itu bisa saja kembali kepada kita!” Asley meraung. “Namun, kau bahkan tidak bisa menarik simpatinya?” Rowan menyapu bibirnya yang pecah dengan jempol. “Aku pergi ke sana bukan demi Ayah.” “Kau mungkin mengunjungi Juliet demi dirimu sendiri,” Asley mendebat. “Namun, perhatikan nama baik Charion. Sekarang aku yakin musang tengik itu tengah menertawakan ketololanmu!” Dalam hati Rowan mengasihani Juliet. Selama ini Asley mempertahankan Juliet karena gadis itu merupakan replika dari Leyna. Namun, karena Juliet mewarisi mata Alexander, Asley pun selalu mendidih setiap kali sepasang mata itu menatapnya. “Dari dulu kau tidak bisa menggunakan otakmu,” Asley mendecih. “Setidaknya tirulah Aeron, kakakmu. Dia jauh lebih mengerti kondisi dan situasi. Selalu berpikir sebelum bertindak.” Seulas senyum sinis terpeta di bibir Rowan. “Ayah menganggap dia seperti itu?” “Apa maksudmu?” “Aeron tidak lebih baik dariku,” Rowan mulai memutuskan untuk membalas. “Setidaknya aku jujur dengan perasaanku. Sementara dia?” “Tutup mulutmu!” Sekali lagi Asley mendaratkan tamparan di wajah Rowan. Alih-alih marah, Rowan hanya tertawa. “Ayah tidak tahu apa-apa.” Dari luar ruangan, para pelayan bisa mendengar Asley menumpahkan amarah. Bahkan seorang Charion pun tidak ada bedanya dengan Juliet.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD