8

1585 Words
“Lady?” Pandanganku terfokus pada pohon jacaranda. Seluruh ranting diselimuti kuntum bunga berwarna ungu. Bunga-bunga berguguran seperti hujan musim semi, menyirami bumi dengan nuansa ungu. Kedua tanganku menengadah, beberapa kelopak bunga jatuh ke telapak tangan. Entah mengapa rasanya dunia seolah melambat, atau mungkin aku yang terlalu pelan. Walau ingin menjawab panggilan pelayan, tetapi diriku terlalu terpaku pada bunga-bunga yang berguguran. Bunga yang warnanya sama dengan gaun yang tengah aku kenakan. Di sini, di kediaman Naval, tidak seorang pun memperlakukan Juliet secara buruk. Bukan berarti pelayan di kediaman Charion tidak melayani Juliet, melainkan kesetiaan serta rasa mengabdi yang diberikan oleh mereka tidaklah sama. Pelayan akan terlebih dahulu menanyakan pendapatku saat akan memilih pakaian, sementara pelayan di kediaman Charion tidak pernah mempertimbangkan pilihan Juliet. Aku ingin mengembalikan tubuh, keluarga, serta kesenangan ini kepada Juliet. Dia pantas mendapatkannya. “Lady, sebaiknya Anda masuk,” salah seorang pelayan memberi saran kepadaku. “Sebentar lagi cuaca akan menghangat.” “Baiklah,” sahutku setelah menghela napas. Kami berjalan melewati barisan pohon jacaranda. Salah seorang tukang kebun memberi hormat begitu melihat kehadiranku. Dengan senyum terpoles manis di wajah, tukang kebun menyerahkan sebuket aster kepadaku. Lelaki itu terlihat memasuki usia pertengahan lima puluhan. Namun, tubuhnya tampak masih tegap. Aku hanya diam, memperhatikan kuntum-kuntum bunga berwarna ungu sembari memikirkan bunga-bunga yang pernah aku tanam. * Hanya Diana seorang yang menyambut baik kepergian Juliet. Setidaknya dia tidak perlu diingatkan kehadiran Leyna setiap kali melihat wajah Juliet. Gadis itu benar-benar mengambil alih rupa Leyna, kecuali mata. Paras yang seolah mengolok-olok keberadaan Diana di Charion perihal ketidakmampuan Diana mengambil hati Asley. Sedari awal pernikahan dia sadar bahwa suaminya tidak pernah mencintainya. Satu kali pun. Bahkan setelah dia melahirkan dua penerus, hati dan pikiran Asley masih saja tertuju kepada Leyna. “Merepotkan,” Diana menggeram. Teh yang ia minum terasa getir. Sekalipun ada Aeron yang menemaninya, dia masih merasa marah. “Ayahmu tidak mau mengerti.” Diana dan Aeron tengah berada di ruang santai. Tidak seperti Rowan, Aeron memiliki sikap lembut. Sedari kecil Aeron akan menemani Diana setiap kali ia merasa tertekan. “Ibu, Ayah hanya ingin melindungi Juliet.” Begitu nama Juliet disebut, Diana merasa tertampar. Setelah Asley, dia tidak menyangka bahwa kedua putranya ternyata mewarisi kegilaan serupa; mengejar wanita yang tidak menginginkan mereka. Dia bisa mengabaikan Asley, tetapi lain cerita bila berkaitan dengan Aeron dan Rowan. “Jangan pernah berani memikirkan putri Leyna, Aeron.” “Aku hanya mencemaskan Juliet.” Aeron belum menyentuh cangkir yang disajikan untuknya. Kue dan buah sama sekali tidak menarik minatnya. “Mungkin tinggal bersama Duke Naval bukan hal baik.” “Kau tidak mengerti, Anakku.” Diana memuntahkan kekecewaannya dalam setiap kata. “Dia seharusnya kembali kepada Duke Naval. Lebih baik kau mencemaskan Yevette. Apa kaupikir Pangeran Abel akan diam saja begitu mengetahui Juliet adalah keturunan Naval?” Perlahan darah menyurut dari wajah Aeron. Jakun Aeron naik turun, tanda dia kesulitan menelan ludah. “Bayangkan, Anakku. Putra Mahkota Elias pasti menyambut gembira keberhasilan Duke Naval menemukan putrinya. Yevette mungkin mewarisi nama Charion, tetapi dia bukan penerus. Angin tengah berembus ke arah Putra Mahkota. Bila dia bermaksud memperkuat pengaruh di Naval, mungkin saja Juliet akan diserahkan kepada Putra Mahkota.” Diana meletakkan cangkir di meja, sama sekali tidak peduli kepada Aeron yang kedua tangannya kini terkepal. “Lalu,” Diana melanjutkan, tenang. “Jangan lupa bahwa Juliet menaruh hati terhadap Pangeran Abel. Dengan sedikit dorongan, Pangeran Abel bisa saja memutuskan kontrak pertunangan dan membalas perasaan Juliet.” Diana meraih sebutir anggur hijau kemudian mengunyahnya. Rasa manis membanjiri mulut dan tenggorokkan. Rasa yang membuat Diana merasa sedikit senang. “Charion dan Seymour mungkin bisa mendukung posisi Pangeran Abel dalam perebutan takhta, tetapi Naval memiliki ladang emas, permata, dan perak. Jangan lupakan sejumlah usaha dan pertanian yang berada di bawah panji Naval. Terlebih, dia merupakan salah satu eksistensi yang menyokong kerajaan. Juliet merupakan jalan pintas bagi Pangeran Abel.” Setelah meletakkan kue ke piring Aeron, Diana menampilkan senyum paling gemilang yang pernah dia miliki. “Kau tidak akan sanggup bersaing dengan mereka, Anakku.” * Duke Naval terlalu berusaha menjadi orangtua yang baik, begitulah menurutku. Dia mempersembahkan sekian perhiasan; emas, perak, opal, rubi, jamrud, bahkan mutiara. “Juliet, pilih.” Duke Naval mengajakku pergi berbelanja. Mungkin dia ingin memamerkan kekuatan “ayah-super-kaya” dan berharap bisa menyenangkan Juliet. Pertama, sebelum berangkat menuju Distrik Valeon—daerah perbelanjaan yang terkenal—pelayan berkutat mendandaniku. Mereka bersemangat mengajukan sekian gaun beserta sepatu dan aksesoris pelengkap. Pada dasarnya aku hanya berkata, “Terserah.” Namun, mereka—para pelayan—tampak tidak keberatan dengan reaksiku. Perdebatan dan percekcokan terjadi di antara pelayan. Akhirnya kata mufakat terucap setelah mereka sama-sama setuju mengenai hal tersebut: Satu, gaun biru muda berhias mutiara putih di sepanjang pinggang dengan mawar biru di bagian d**a. Dua, sepatu berwarna perak berhias bunga-bunga mungil berwarna putih. Tiga, rambut dikepang menyamping dan diikat dengan pita ungu. Empat, jepit rambut kupu-kupu putih. Walau aku hanya diam saja dan tidak mengeluarkan satu ons pun energi, tetapi rasanya entah mengapa membuatku lelah. Kedua, Duke Naval bahkan mengintruksikan agar memilih kereta kuda yang paling nyaman. Itu belum termasuk kereta kuda berisi kesatria lain yang akan mengawal perjalanan kami. ‘Duke, Anda berlebihan.’ Ketiga, sesampainya di Distrik Valeon, Duke Naval langsung menganjurkan berkunjung ke butik. Pemilik butik dan pekerjanya terlihat senang sekaligus tertekan. Duke Naval meminta pendapatku. Apabila aku mengomentari desain, kain, pelayanan, bahkan kinerja buruk; maka bisa dipastikan karier masa depan butik tersebut di ujung tanduk. Terus terang aku tidak tertarik mempercantik diri. Namun, demi menjaga perasaan orang lain, akhirnya aku berkata, “Semuanya bagus. Aku tidak bisa memilih.” Aku mengira Duke Naval akan puas dengan responsku. Tidak. Aku salah besar! “Kirimkan seluruh model pakaian dan sertakan warna berbeda setiap potong gaun ke kediaman Naval.” Pemilik butik gemetar, lebih dikarenakan pendapatan yang berhasil ia peroleh daripada takut. “Tentu, Duke. Kami akan mengirimnya secepat mungkin.” Keempat, memilih perhiasaan sama tidak menariknya dengan prospek masa depanku. Koreksi, masa depan Juliet. “Bungkus semua perhiasan yang dilihat putriku!” Setop! * Makan siang di restoran. Pandangan semua orang tertuju pada kehadiran “unik”. Unik, kata yang aku pilih mungkin kurang tepat mendeskripsikan betapa menggelikannya Duke Naval dan anak buahnya. Awalnya dia ingin menyewa seluruh restoran, tetapi manajer restoran beralasan tidak bisa meloloskan permintaan Duke Naval karena saat ini restoran tengah ramai dan mengusir pelanggan sama artinya dengan mencoreng kredibilitas. “Sam, perintahkan rekanmu mengusir mereka.” Andai aku tidak mengintervensi komando Duke Naval, maka niscaya reputasi Duke Naval akan dipertanyakan di kalangan sosialita. Pada akhirnya Duke Naval setuju membaur bersama pelanggan lain. Kami memilih meja yang ada di dekat jendela. Beberapa kesatria berdiri mengelilingi kami dan menciptakan kesan angker. Angker. Seseorang tersedak anggur. Percakapan tiba-tiba terhenti dan suasana mendadak sunyi. Acara bersantap telah beralih fungsi. Sabotase Duke Naval memang bukan main mengerikannya. “Juliet, apa ada yang kauinginkan?” “Tidak ada,” jawabku sembari mengiris daging panggang. Menu makanan yang belum tentu bisa aku nikmati dahulu kala. “Tidak ada,” kataku sekali lagi. Bahkan sedapnya daging tidak mampu mengobati rasa lapar dalam diriku. “Tidak ada yang aku inginkan.” “Juliet, kau seorang Naval.” Duke Naval mengiris potongan daging kemudian mengoleskan saus. “Aku jamin tidak ada satu pun Charion yang bisa menyentuhmu. Ada baiknya menghapus Charion dari peta Elusion.” Lebih baik membiarkan Duke Naval mengkreasikan kasih sayang. “Kau tahu, bukan, Juliet? Ayah sangat menyayangimu.” Andai dia tahu bahwa Juliet telah tiada, mungkin senyum ini tidak akan muncul di wajahnya. Aku tidak sampai hati memberitahukan kebenaran. ‘Maafkan aku, Duke Naval.’ Aku tidak harus menjawab pertanyaan Duke Naval karena seseorang mendatangi meja kami. Lelaki itu mengenakan setelan hitam. Dia membawa sebuket bunga dan setelah mendapatkan izin dari Duke Naval, ia menyerahkan buket tersebut kepadaku. Tidak ada surat. Hanya sekumpulan bunga tulip merah muda. Kerutan muncul di dahi Duke Naval ketika lelaki itu membisikkan sesuatu. “Juliet, maafkan ayahmu ini. Sepertinya kau harus pulang karena Ayah harus menyelesaikan urusan penting.” Aku hanya mengangguk. * Elias Flore Fitzgerald. Putra mahkota berusia 25 tahun itu sengaja menyewa seluruh kafe yang ada di seberang restoran yang tengah dikunjungi Duke Naval. Beberapa hari ini dia kesulitan menemui Duke Naval. Bisa dipastikan lelaki itu sibuk mengurus surat terkait Juliet, putri yang dulunya diasuh Duke Charion. Duduk seorang diri, Elias menyugar rambutnya yang berwarna merah dengan jemari. Urusan Abel dan Permaisuri membuat dirinya muak. Satu-satunya orang yang bisa mendesak serangan ke pihak lawannya hanyalah Duke Naval, tiba-tiba saja jubah hitam yang Elias kenakan terasa panas membayangkan kedua manusia itu. Tidak perlu menunggu lama, Duke Naval langsung menjawab panggilan Elias. “Jangan berani mengirim apa pun kepada putriku,” katanya memperingatkan. Alih-alih tersinggung, Elias justru menampilkan senyum jail. “Abel mengundurkan pesta pertunangan.” “Apa urusannya denganku?” Duke Naval mendengus, secara kasar ia menarik kursi dan duduk. “Tidak penting.” Elias paham bahwa keputusan Abel mengundurkan rencana pertunangan kemungkinan besar berhubungan dengan identitas Juliet Magnolia. Dari mata-mata dia mendapatkan informasi terkait hubungan di antara Juliet, Abel, dan Yevette. Abel memilih Yevette karena dukungan Charion dan Seymour. Namun, dengan terbukanya tabir rahasia Juliet, Elias sangsi Abel tidak ingin memanfaatkan kesempatan. “Juliet menyukai Abel,” Elias menjelaskan. “Apa kau tidak mengerti artinya, Duke?” “Putriku tidak membutuhkan lelaki seperti Pangeran Abel, Yang Mulia.” “Semoga saja, Duke. Semoga saja.” “Tidak ada yang boleh mendekati putriku!” Duke Naval mencetuskan larangan. “Siapa pun!” “Oh.” “Termasuk Anda, Yang Mulia.” “...”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD