5

2261 Words
Rowan dalam ingatan Juliet citranya tidaklah baik. Cara bersikap, bertutur, bahkan dalam hubungan dengan lawan jenis pun mencitrakan Rowan sebagai seorang pemain. Apabila Aeron seorang jentelmen, maka Rowan merupakan kekasih gelap seorang lady yang hanya dikunjungi saat malam purnama dalam sudut taman. “Apa menyenangkan mengganggu orang lain?” “Aku hanya ingin menolongmu,” Rowan beralasan, mengabaikan perengutanku. “Tidak ada salahnya, bukan?” Aku meraup segenggam rumput dan menempelkannya ke wajah Rowan. Untuk ukuran kesatria, ternyata dia tidak segesit dugaanku. “Selamatkan saja populasi manusia di perbatasan,” kataku sembari melampiaskan kekesalan. “Aku. Tidak. Butuh. Perhatianmu.” Seharusnya dia mengerti penekanan dalam setiap kosakata. Seharusnya dia enyah! “Hei!” Rowan akhirnya melepaskan tanganku. Kini ia sibuk membersihkan diri dari rumput yang menempel di rambut. Sebagian rumput mungkin masuk ke dalam pakaiannya karena dua kancing kemeja teratas telah lepas. Samar-samar aku bisa mendengar desah kagum pelayan perempuan saat melihat tulang selangka Rowan. “Kau benar-benar menguji kesabaranku.” “Enyah.” Secepat kilat Rowan menyambarku, menarik tubuhku rapat kepadanya, kemudian ia bangkit sembari mengangkatku. “Seseorang harus mengajarimu sopan santun.” Tidak ada satu pelayan pun berani menginstrupsi Rowan. Mereka hanya mengekor ke mana pun Rowan membawaku. Rowan berjalan masuk ke dalam koridor, membuatku terpisah dari taman hijau dan sinar matahari hangat. Aku mempertimbangkan menggigit lehernya. Aku memang menggigit leher Rowan. Kedua tanganku melingkari bahu Rowan, sementara gigi terbenam di kulit Rowan. Lelaki itu memekik, tetapi tidak ada indikasi akan menjatuhkanku. Tangan Rowan masih menjagaku agar tetap melekat kepadanya. “Dasar gila,” Rowan mengomentari tindakanku. Aku tidak menangkap kesan tersinggung dalam nada bicaranya, justru kekehan yang keluar dari mulut Rowan. “Apa kau begitu bernafsu kepadaku, huh?” HOWEK! Otak Rowan mungkin amat kotor. Andai Aeron tidak harus kembali bekerja di istana, mungkin saat ini aku tidak perlu mengalami pelecehan secara verbal. Oke, akan aku gigit dengan segenap hati. Rasakan. RASAKAN! “Kau sedang menggigit atau berusaha membuat tanda cinta?” Rowan mengabaikanku. Dia benar-benar gila! Siapa saja! Tolong aku! “Apa maksudmu dengan tanda cinta?” Rowan berhenti. Jemariku bisa merasakan ketegangan pada otot di bahu Rowan. “Selamat pagi, Sir Charion.” Abel Fitzgerald. Lelaki yang dicintai Juliet. Tanpa menurunkanku, Rowan membalas sapaan Abel. “Selamat datang, Yang Mulia. Apa Anda hendak mengunjungi sepupuku, Yevette?” Suasana koridor terasa pengap walaupun di kanan dan kiri ada pohon fir serta magnolia yang bergemerisik diembus angin. “Ya,” jawab Abel. Di belakang Abel ada beberapa pelayan kediaman Charion dan penjaga dari istana. “Aku ingin menemui Lady Yevette.” Seperti pangeran dalam dongeng romantis, itulah penggambaran yang sesuai mengenai sosok Abel. Dia berambut pirang dengan sorot mata sehijau zamrud. Berwajah rupawan serta memiliki senyum yang membuat para gadis meleleh. “Baguslah,” sahut Rowan. Acuh tak acuh. “Sebab Yevette sudah menantikan kehadiran Anda.” Aku bisa merasakan tatapan Abel. Punggungku mungkin akan berlubang karena intensitas panas yang membakar. “Ada apa dengan Lady Juliet?” Abaikan aku. Tolong, abaikan aku. “Dia hanya mencoba membuat tanda cinta di leherku,” balas Rowan tanpa sensor. “Berhubung dia tidak bisa melakukannya di kulit Anda.” Akhirnya aku kehilangan minat mencabik daging Rowan. Setelah melepas gigitan, barulah terasa betapa kaku mulut dan rahang. Di leher Rowan kini tampak bekas gigitanku yang anehnya tidak membuatnya berdarah. Kulit kesatria mungkin memiliki tingkat ketebalan tertentu. Atau mungkin, mungkin, Rowan menggunakan kemampuan sihir atau mana dalam dirinya. Pantas saja dia tidak melawan. Tunggu! Apa mungkin dia justru menikmatinya? “Apa?” Rowan menatapku dengan tampang tidak berdosa, seakan seorang gadis menggigit lehernya memang wajar dan normal. “Kenapa berhenti?” Aku benar-benar membencinya! “Sir Charion, selamat atas keberhasilan Anda menghancurkan sarang monster.” Oh ya, puji. Puji saja relasimu, Abel. Andai Juliet bisa melihat betapa tidak bergunanya mencintai lelaki yang hanya mengutamakan kepentingan serta kedudukan, mungkin saat ini dia masih hidup dan aku bisa menyeberang ke alam lain dengan tenang. “Anda memuji keberhasilanku, tetapi mengapa tatapan mata Anda terarah pada Juliet?” Sejenak Abel tertegun. Dia hanya menatap Rowan dalam pandangan tanpa emosi. Tidak seorang pun bisa membaca apa pun yang disembunyikan Abel. Namun, dia berhasil menampilkan segaris senyum dan berkata, “Aku hanya takjub melihat kedekatan di antara kalian.” Saat ini aku ingin mencari menara dan melompat! Juliet, sadarlah. Pria yang kaucintai sepenuh hati ini hanya akan membuatmu patah hati dan merana. Di mana pun engkau berada sekarang, aku berharap kau menemukan cinta yang baru. “Aeron menitipkannya kepadaku.” Lagi-lagi, senyum menantang muncul di wajah Rowan. “Oleh karena itu, aku berkewajiban mendisiplinkan Juliet.” HEI! Aku berani bersumpah akan membuatmu kehilangan kemampuan bercinta! Kau tidak akan bisa meniduri wanita mana pun! Rowan sialan! “Menarik. Sayangnya aku harus menemui Yevette.” “Silakan, Yang Mulia.” Akhirnya Abel meninggalkan kami. Sekilas Abel melirikku seakan menanti reaksi apa pun. Sayang sekali aku tidak berniat menyapa Abel. Aku bukan Juliet. Titik. “Berhenti memandanginya,” kata Rowan. “Dia tidak akan memilihmu.” Kedua alisku bertaut, membuat kening berkerut. “Turun.” “Oh ya, Juliet. Kauingin diturunkan? Cium pipiku sebagai tanda permintaan maaf.” Aku melirik ke para pelayan wanita yang kesemua wajahnya bersemu merah. “Hei, apa kalian ingin mencium wajah Rowan?” tanyaku kepada mereka. Sontak pipi mereka merah padam. Rowan terbahak. “Hei, aku menawarimu. Bukan mereka.” “Tidak tertarik.” Kemudian tatapanku jatuh kepada kuntum magnolia yang tengah mekar. “Aku benar-benar ingin mengunjungi pondok ibuku.” “Di sana tidak ada siapa pun. Kau hanya akan menemukan sawang dan debu.” “Kapan kau kembali ke perbatasan?” “Kenapa?” Rowan tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan di kedua matanya. “Apa kau akan merindukanku?” Alih-alih menjawab, aku memutuskan kembali menggigit leher Rowan. Dia menjengkelkan. * Hubungan di antara Rowan dan Abel terbilang tidak terlalu baik. Keduanya seperti menyembunyikan belati di balik punggung walaupun senyum terlukis di wajah mereka. Juliet mungkin tidak menyadari perubahan suasana hati Rowan setiap kali nama Abel disebut, tetapi (menurutku) Juliet tidak peduli dengan pendapat sekitar mengenai Abel. Bagi Juliet Abel merupakan satu-satunya pria yang ia cintai. Jenis cinta yang membuat seseorang hancur dari dalam. “Kenapa kau jadi pendiam?” Rowan masih menggendongku. Dia berjalan menuju taman yang dulu aku lewati sewaktu melarikan diri dari Aeron. Tidak ada yang berubah kecuali lubang di dinding yang telah disemen. Tidak masalah. Aku bisa menemukan cara lain. Lagi pula, aku tidak berencana hidup lebih lama sebagai Juliet. Terlalu merepotkan. Sepanjang perjalanan aku memilih diam sementara Rowan berceloteh mengenai putra mahkota dan seorang duke dengan perangai mengerikan. Padahal menurutku Duke Charion merupakan pria terbiadap dan terbangsat di sini. Duke yang Rowan ceritakan tidak ada apa-apanya dibanding Duke Charion. Dalam hati aku berharap Aeron pulang dan lekas mengandangkan adiknya. Dia menjengkelkan dalam berbagai level. Apakah Rowan waras? Mungkin saja. Namun, aku meragukannya. Apakah dia peduli dengan Juliet? Aku lebih percaya dia tertarik dengan tubuh dan paras Juliet daripada kesehatan mentalnya. Kecurigaanku meningkat begitu Rowan memperlihatkanku sebatang pohon. Tidak ada satu daun pun yang menempel di ranting pohon tersebut. Kulit pohon berwarna hitam dan tampak kering. Jenis pohon yang kemungkinan besar dipakai penyihir untuk menggantung anak kecil sebagai persembahan. “Apa kauingat?” Aku tidak menjawab pertanyaan Rowan. Lagi pula, tidak ada tenaga untuk berdebat. “Ini pohon kesayangan ibumu,” katanya menjelaskan. “Pohon kesemek.” Dia mengatakan, “Ini pohon kesemek.” Lantas haruskah aku memuji pohon tersebut? Walaupun aku mencoba mengorek keterangan dalam ingatan Juliet mengenai pohon kesemek, tidak ada satu informasi pun melintas. Nihil. “Dulu pohon ini menghasilkan banyak buah,” Rowan menjelaskan. “Aeron dan aku selalu menyempatkan diri memetik kesemek. Ibumu termasuk salah satu yang sering berkunjung ke sini.” Pohon kesemek yang dimaksud Rowan tumbuh tidak jauh dari lubang pelarian yang aku gunakan. Di sekitar pohon kesemek hidup tanaman kaca piring, delima, pir yang tengah dalam fase berbunga, dan rumpun lili putih. Hanya pohon kesemek satu-satunya yang mati, menyisakan kerangka hitam bak roh jahat. “Pohonnya mati bersama dengan kepergiaan wanita itu.” Wanita yang dimaksud Rowan adalah ibu kandung Juliet. * Ibu kandungku sama menyedihkannya dengan Leyna Magnolia, ibu kandung Juliet. Jenis wanita yang menikah atas dasar “sebab normalnya begitu”. Bukan karena belahan jiwa, bukan karena takdir cinta, apalagi romansa. Murni karena tuntutan masyarakat. Pernikahan tanpa mempertimbangkan faktor finansial, kesiapan mental, dan kedewasaan menghasilkan potret keluarga menyedihkan. Bila kalian berpikir ayahku orang yang pengertian terhadap istrinya, maka sebaiknya pikirkan kembali. Saat menikahi ibuku, ayahku tidak memiliki sepeser uang. Lantas mengapa ibuku bersedia? Karena pandangan masyarakat mengenai wanita yang tidak bersuami dianggap tidak laku. Hanya karena itulah beliau bersedia menikah. Akan tetapi, perjalanan pernikahan keduanya amat ironis. Ibuku mulai menjual perhiasannya demi memenuhi kebutuhan hidup, sementara ayahku hanya mengandalkan usaha ibuku. Dia hanya senang menghabiskan waktu bersama teman di warung. Sekali lagi, bicara omong kosong. Saat mengandung, ibuku hanya makan nasi dengan lauk daun luntas. Beras pun didapat atas belas kasih mertua. Lantas ketika aku lahir beban pengeluaran pun semakin bertambah. Akibat gizi buruk saat bayi aku sering terserang demam. Tabiat beliau mungkin berubah karena ekonomi dan lingkungan yang tidak sehat. Dia sering memarahiku saat sarapan. “Makanmu lambat.” Aku pun tidak mengerti kenapa tubuhku bergerak tidak secepat anak kebanyakan. Saat mengunyah mulutku seperti butuh usaha ekstra agar makanan bisa halus. Lalu, ketika berangkat sekolah ibuku kadang berteriak, menyalahkanku, tanpa peduli keberadaan tetangga yang memperhatikanku. Aku ingin berkata, “Bukan aku yang minta dilahirkan ke dunia.” Namun, kesempatan itu lewat begitu saja seiring luapan kemarahan ibuku. Lalu, saat ia marah dan merasa aku tidak bertindak sopan, maka beliau akan memukul telapak kakiku. Berkali-kali tanpa memedulikan tangis yang pecah dari mulutku. Di lain hari, beliau akan menangisi nasibnya, menangisi kemiskinannya, dan mencurahkan isi hati kepada tetangga. Aku pernah melarang kebiasaan beliau mengutarakan isi hati kepada tetangga sebab Nenek Bonirah dan Tante Lastri tidak sebaik dugaan ibuku. Kedua wanita itu hanya menjadikan cerita Ibu sebagai bahan gosip. Tahu-tahu satu desa, bahkan desa tetangga pun, mengetahui masalah hidup keluargaku. Akan tetapi, Ibu selalu berkata, “Anak kecil tahu apa? Coba belajar jadi dewasa agar ibumu ini senang.” Pada akhirnya aku hanya diam saja. Tidak membalas. Pernah suatu ketika Ibu bergunjing mengenai Evi, sepupuku. Gunjingan itu pun sampai ke telingan Tante Porwati, ibu Evi. Pada dasarnya tidak ada satu ibu pun yang senang putrinya dijadikan bahan pembicaraan. Termasuk Tante Porwati. Tante Porwati tidak memarahi ataupun menegur Ibu. Bukan karena dia baik hati, melainkan cara lain yang ia pilih amat menyakitkan. Suatu hari Tante Porwati mampir ke rumah. Dia berpesan agar menyuruhku datang ke rumahnya untuk mengambil sekarung beras. Ibu dan Ayah yang gelap mata karena kelaparan tidak menaruh rasa curiga terhadap undangan tersebut. Mereka menyuruhku mengayuh sepeda ke rumah Tante Porwati dan mewanti diriku agar segera mengambil beras. Sesampainya di sana, begitu aku masuk rumah, Evi langsung mencercaku. Dia tidak terima dijadikan bahan guncingan. Tante Porwati pun ikut berperan dalam perundungan. Ibu dan anak. Keduanya meluapkan kekesalan. Aku hanya bisa terdiam. Tidak mengerti. Ibu yang bergunjing dan aku tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun mengenai Evi. Aku bahkan tidak ada sangkut pautnya terhadap peredaran gosip tersebut. Namun, mereka terus meluapkan kekesalan kepaku. Berkata bahwa aku tidak tahu malu. Bocah nakal. Awalnya aku mengira diriku tidak akan menangis. Namun, air mata akhirnya tumpah ruah. Bukan karena aku merasa bersalah, melainkan rasa “ketidakberdayaan” yang melanda. Aku ingin membela diriku sendiri, tetapi tidak ada satu kata pun yang bisa bersaing dengan perasaan tercekik akibat kesedihan. Begitu selesai Tante Porwati menyerahkan sekarung beras dan selembar uang lima puluh ribu. Ganti rugi yang menurutnya setara dengan luka yang keduanya torehkan terhadap diriku. Aku tidak mengambil uang lima puluh ribu itu. Satu-satunya yang aku bawa hanya sekarung beras. Beras agar Ayah dan Ibu berhenti bertengkar. Beras agar mereka bisa makan. Rute yang kupilih untuk pulang pun terbilang sepi. Sembari menuntun sepeda aku terus menangis. Tidak ada satu orang pun yang akan mengasihaniku. Mereka akan mendukung Tante Porwati dan melabelku sebagai biang keladi. Bahkan meskipun bukan aku yang menggunjingkan Evi. Dada terasa amat sesak. Seakan paru-paruku terbakar hingga tenggorokkan mengerut. Ingus keluar dari hidung sementara air mata membasahi pipi. Selangkah demi selangkah aku terus saja mengasihani keberadaanku. Aku tidak marah atas perkataan Evi maupun Tante Porwati. Adapun yang aku rasakan ialah, kekecewaan. Amat sakit hingga aku terbatuk setiap kali berusaha menghela napas. Terus menangis. Demi sekarung beras agar Ayah dan Ibu tidak kelaparan. Sebesar itulah harga diriku di mata Tante Porwati. Mungkin beliau menganggap beras dan selembar uang lima puluh ribu bisa membayar dosa mereka terhadapku. Atau mungkin, hargaku cuma sejumlah itu saja. * Air mata menetes tanpa bisa kukendalikan. Mengabaikan Rowan, aku terus menangis. Aku mengira bisa mengabaikan setiap kepingan masa lalu yang selama ini membebaniku. Aku mengira sanggup lepas dari jaring masa lalu seperti seekor kupu-kupu yang berhasil lolos dari jaring laba-laba. Namun, sekeras apa pun berjuang menjadi sesuatu yang lain, sebesar apa pun keinginan lari dari masa lalu, pada akhirnya aku jatuh tersungkur. Lagi. “Hei, jangan menangis.” Rowan berlutut, kali ini ia mendudukkanku di pahanya. “Aku yang menerima gigitanmu, maka seharusnya akulah yang menangis.” Lelucon Rowan sama sekali tidak membantu memperbaiki suasana hatiku. Tangis kian menjadi dan tubuhku bergetar setiap kali merasakan tekanan di d**a yang nyaris terasa mencekik. Rowan memelukku, tangannya menepuk punggungku seakan mencoba mengusir sesuatu. “Ya sudah, kau menangis sepuasmu sajalah.” Dengan lembut ia membiarkan kepalaku terbenam di ceruk lehernya. “Menangislah. Sepuasnya.” Sayang Rowan tidak mengira bahwa bukan hanya air mata sajalah yang menempel di lehernya, melainkan ingus. Dan aku tidak merasa menyesal telah menempeli Rowan dengan ingus. Tidak menyesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD