6

2358 Words
Duke Charion merupakan salah satu keluarga yang berpengaruh di kerajaan setelah Duke Naval. Bukan tanpa alasan Abel mendekati Charion, terlebih setelah Elias, putra mahkota, menunjukkan kedekatan dengan Duke Naval. Itu artinya posisi Elias semakin kuat. Dengan begitu kesempatan Abel sebagai penerus semakin kecil. Jelas dia tidak menyukai perubahan tersebut. “Yang Mulia?” Abel tersentak. Memikirkan Elias dan Duke Naval telah menyita perhatian, dia baru tersadar ketika Yevette memanggilnya. Yevette Charion. Keponakan Duke Charion. Salah satu gadis tercantik yang pernah Abel temui. Rambut Yevette yang berwarna pirang pada hari ini dihias dengan untaian mutiara. Gaun sutra biru tampak serasi dengan sepasang mata Yevette yang berwarna serupa. Gadis itu duduk di seberang meja, mengamati Abel. “Sepertinya Anda memikirkan sesuatu.” Tidak seperti Rowan yang bermulut tajam, Yevette selalu berhati-hati ketika memulai percakapan. Yevette paham cara membaca suasana hati seseorang. Salah satu kemampuan yang amat disukai Abel. “Maafkan aku,” Abel membalas, tatapan matanya terarah ke suatu titik semu. “Ada banyak hal yang perlu dibereskan.” “Saya dengar Duke Naval menyatakan dukungan terhadap Putra Mahkota Elias.” Abel mengangguk. Seulas senyum masam terpeta di wajahnya. “Cukup merepotkan.” “Paman pasti mendukung Anda, Yang Mulia.” Duke Charion dan Duke Naval. Kedua pria itu seperti ular dan musang. Salah satu berusaha meracuni sementara yang lain ingin membinasakan. Kabar ketidakharmonisan mengenai keduanya sudah menjadi rahasia umum. Entah karena suatu alasan, baik Duke Charion maupun Duke Naval, berambisi menghabisi satu sama lain. Begitu Duke Naval memihak Elias, maka Duke Charion memilih Abel sebagai senjata. Tentu saja posisi calon penerus kini dikuasai keluarga Elias, tetapi bukan berarti Abel tidak memiliki kesempatan. Dia hanya membutuhkan momentum dan serangan yang tepat. Itu saja. “Lady Yevette, maukan kau mengajakku jalan-jalan barang sebentar?” Kedua mata Yevette berbinar cemerlang. “Yang Mulia, Anda tidak perlu meminta.” Nada suara Yevette amat riang, seakan dia memang menantikan ajakan tersebut. “Saya pasti bahagia menemani Anda.” Keduanya meninggalkan jamuan teh dan berjalan berdampingan di sepanjang koridor taman. Seekor nuri hinggap di salah satu tangkai pohon fir, sepasang matanya mengamati rombongan Abel yang melintas. “Sepupumu sepertinya membenciku.” “Aeron?” “Rowan,” Abel mengoreksi. Kali ini ia teringat Juliet yang menempel dalam gendongan Rowan. Biasanya gadis itu selalu menatap Abel dengan sorot mendamba, tetapi hari ini saat bersua dia memilih diam. Hal tersebut membuat Abel kesal. Keadaan membuatnya terpaksa memilih Yevette daripada Juliet. Sebab Duke Charion menghargai Yevette sebaik darah dagingnya sendiri. Berbeda dari Juliet. Gadis itu tidak memiliki ikatan darah dengan Charion. Juliet bukan seorang Charion. “Dia sepertinya membenciku.” “Rowan tidak seburuk itu, Yang Mulia.” “Benarkah?” Angin berembus pelan, menerbangkan dedaunan kering. Yevette mengajak Abel menuju taman melalui koridor utama. Sesaat Abel merasa Yevette enggan membahas Rowan, hingga akhirnya suara Yevette memecah keheningan: “Dia hanya tidak suka bersaing dengan siapa pun.” “Apa yang hendak kami berdua jadikan sebagai bahan persaingan?” Abel bisa merasakan perubahan suasana hati Yevette. Apabila Yevette tahu “persaingan” yang tengah dibicarakan oleh keduanya, maka dia memilih abai. “Apa Anda tidak ingin menengok Juliet?” Saat nama itu disebut Yevette, Abel merasa bagian dalam dirinya kembali terusik. Dia tidak suka emosi dalam dirinya yang tidak terkendali. Juliet. Abel mencoba menggambarkan gadis itu sebagai setangkai bunga putri malu. Tumbuh di pinggir pagar, jauh dari kelompok mawar yang memikat. Indah dalam cara yang tidak bisa terjelaskan. Namun, sepasang mata Juliet yang berwarna merah rubi mengingatkannya kepada seseorang yang amat mengerikan. “Aku datang ke sini hanya untuk mengunjungimu,” Abel menerangkan. “Atau mungkin kau lebih senang bila aku datang tanpa tangan kosong?” “Saya tidak berani mengharapkan apa pun dari Anda, Yang Mulia.” Apabila benar terjadi pernikahan, nantinya, di antara mereka; maka sudah pasti hubungan tersebut bukan atas dasar cinta. Murni kepentingan belaka. Sama seperti pernikahan antara raja dan ibu kandung Abel. Sebuah kontrak. Sepanjang perjalanan keduanya memilih diam. Abel memikirkan kemungkinan hubungan sepihak antara dirinya dan Yevette. Dia tidak bisa memberikan hatinya, tetapi bukan berarti ia tidak bisa menjanjikan kesejahteraan terhadap Yevette. Pepohonan fir kini diselingi tanaman magnolia. Kelopak bunga berwarna merah dan putik kuning menghias di antara nuansa hijau. Sekali lagi, Abel teringat Juliet saat memperhatikan magnolia. Lantas tidak lama kemudian terdengar isak tangis. Baik Abel maupun Yevette bisa mengenali suara Rowan yang kini tengah mencoba menenangkan seseorang. Abel dan Yevette masih berdiri di koridor, tetapi keduanya bisa melihat Rowan yang berada di seberang taman. Lelaki itu duduk di bangku sementara Juliet berada dalam pangkuannya. Wajah Juliet terbenam dalam leher Rowan, menolak dilepaskan. Wajah para pelayan yang menemani mereka pun bersemu merah. Abel paham bahwa pekerja milik Charion amat loyal dan tidak pernah menerbangkan kabar buruk apa pun keluar dari kediaman Charion. Dia tidak perlu merisaukan kedekatan Rowan dengan wanita mana pun. Hanya saja Abel tidak bisa mengusir perasaan tidak menyenangkan yang berenang dalam dirinya. Seakan seharusnya ia bergegas merebut Juliet dari Rowan dan melarang pria itu mendekati miliknya. Namun, satu-satunya yang ia bisa lakukan hanyalah diam di tempat. Salah seorang pelayan yang tengah membawa segelas air pun dihentikan Yevette. “Ada apa?” Pelayan itu membungkuk, kemudian berkata, “Tuan Muda mengajak Lady Juliet mengunjungi pohon kesayangan Madam Magnolia. Namun, sepertinya itu memicu kenangan tidak menyenangkan dalam diri Lady Juliet. Oleh sebab itu, Tuan Muda berinisiatif pindah ke tempat lain.” Yevette lantas membiarkan pelayan tersebut menyerahkan segelas air kepada Rowan. Dengan sabar Rowan mencoba membujuk Juliet agar bersedia minum walau seteguk. Namun, Juliet memilih tetap menangis. “Apa Anda tidak ingin menghibur Juliet?” Jantung Abel berdetak lebih kencang. “Kau tidak cemburu?” “Sedari awal saya mengerti posisi saya dalam rencana Anda dan Paman,” katanya, tenang. “Andaipun setelah pernikahan Anda meminang Juliet dan menjadikannya sebagai istri kedua pun saya tidak akan mendebat.” “Aku tidak ingin mengikuti jejak ayahku.” Tatapan mata Abel masih terfokus kepada Rowan dan Juliet, kedua tangannya kini mengepal. “Itulah yang bisa aku janjikan kepadamu, Lady Yevette.” * Begitu mendapat surat perintah dari istana, Asley bergegas meninggalkan kediaman. Darah dalam tubuh seolah mendidih begitu membaca isi perintah dalam surat yang dialamatkan kepadanya. Sepanjang perjalanan dia mencoba memikirkan alasan agar Baginda Vlad menolak permintaan Duke Naval. Setelah sejauh ini tidak mungkin ia rela mengalah begitu saja, terlebih terhadap Duke Naval. Amarah masih mengikuti Asley sesampainya di istana. Sejauh ini dia berusaha meredam letupan emosi. Namun, begitu memasuki ruang audiensi, otot dalam tubuh Asley pun menegang. Baginda Vlad duduk di singgasana. Satu-satunya yang diwarisi Abel dari Vlad hanyalah warna mata, hijau. Sebagian besar rambut Vlad yang hitam telah diselingi uban. Tidak ada yang akan menduga bahwa Vlad sebenarnya lima tahun lebih muda daripada Asley. Urusan mengenai pemerintahan tampaknya berhasil mengambil alih perubahan dalam diri Vlad. Sebagaimana seorang raja, Vlad pun terlihat mengintimidasi dengan caranya sendiri. “Duke Charion,” katanya dengan suara mengintimidasi. “Kami menununggu kehadiranmu.” Duke Naval. Pria berambut kelabu dengan mata semerah darah. Perawakannya gagah dan wajahnya pun amat rupawan, mengingat ia telah menginjak usia empat puluh tahun, sama seperti Vlad. Jubah dari bulu rubah tersampir di bahu Duke Naval. Lelaki itu mengenakan seragam hitam lengkap dengan atribut pangkat yang tersemat di d**a. Pedang menggantung di sabuk yang dihias berlian serta intan. Dia tidak menyambut Asley. Satu-satunya yang ia lakukan hanyalah menatap Asley dengan sorot mata sedingin es. “Salam kepada permata Elusion,” Asley memberi hormat kepada Vlad. “Duke Charion,” Vlad berkata, “seperti yang aku kabarkan kepadamu, Duke Naval menuntut haknya sebagai ayah.” Seolah ada petir yang menggelegar, Asley merasa dirinya tengah berada dalam posisi tidak menguntungkan. Bagaimanapun juga dia tahu hak yang ingin Alexander Ilyan Naval inginkan. “Apa maksud Anda, Yang Mulia.” Asley mencoba mengulur waktu, berharap bisa mencari cela agar Vlad berpihak kepadanya. “Saya tidak mengerti.” “Jangan pura-pura bodoh,” Alexander mencela. “Duke Naval,” Vlad berusaha menengahi. “Dinginkan kepalamu.” Setelah menghela napas, ia pun berkata kepada Asley: “Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur dalam urusan percintaan siapa pun, termasuk Madam Magnolia. Namun, seperti yang kauketahui. Duke Naval berhasil memenggal kepala Penyihir Edon. Sesuai janjiku kepadanya, begitu ia berhasil menyingkirkan Edon maka aku akan mengabulkan satu permintaannya.” Asley ingin menghantam Vlad dengan segenap kekuatan. Sedari awal dia tidak senang dengan penempatan Vlad sebagai raja. Kini firasat Asley terbukti. “Baginda, saya tidak ingin menyerahkan putriku kepada orang asing.” “k*****t! Dia bukan anakmu!” Alexander mencengkeram kerah Asley. Bara kebencian berkobar di kedua mata Alexander. “Dulu kau menjebakku hingga aku terpaksa berperang di selatan. Kau menjebak Leyna, kau menipu keluarga Magnolia. Dirimu memang ular, sesuai dengan lambang keluargamu.” “Aku tidak mengakui satu pun tuduhanmu,” Asley membalas. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan Alexander. “Leyna memilihku.” “Apabila kalian hendak menumpahkan darah,” Vlad menyela. “Maka aku anggap kalian berdua tidak menghormati raja.” Dengan terpaksa Alexander melepaskan cengkeraman tangannya. Bara amarah masih membara dalam dirinya. Takkan surut. “Baginda,” katanya, takzim. “Saya menuntut putri Leyna Magnolia agar kembali kepada keluarganya, yakni Naval. Dalam nadinya mengalir darah seorang Naval. Oleh karena itu, sudah sepatutnya dia menjalani kehidupannya sebagai putri dari Alexander Naval.” “Yang Mulia,” Asley mencoba membela diri. “Ibunya merupakan istri keduaku. Bagaimanapun juga sudah sewajarnya putri Leyna Charion menjadi bagian dari Charion.” Vlad mencoba meredakan amarah pada kedua pria yang siap saling membunuh. Dulu keduanya memperebutkan Leyna dan ceritanya masih menjadi buah pembicaraan di kalangan bangsawan. Asley yang telah beristri, tetapi masih menaruh hati kepada wanita lain. Alexander, pria malang yang menjadi korban manipulasi siasat Asley. Sepuluh tahun lamanya Alexander menghabiskan waktu memerangi iblis di daerah yang konon saljunya takkan mencair oleh apa pun. Bertahan hidup dan berhasil kembali dengan meraih kepercayaan beberapa petinggi besar, kini Alexander menuntut satu-satunya warisan yang ditinggalkan Leyna. “Duke Charion,” Vlad menerangkan, “engkau telah memiliki dua putra dan seorang putri yang dititipkan oleh mendiang kakakmu. Sementara Duke Naval merupakan anak tunggal dan hanya memiliki seorang putri. Sekejam itukah dirimu hingga tega memisahkan ayah dari putrinya?” Asley menggigit bibir, kedua tangannya mengepal. Dia tahu menolak perintah raja sama dengan pengkhianatan. Dia tidak ingin terlibat skandal apa pun. Setidaknya untuk saat ini hingga Abel berhasil merebut posisi pemerintahan. “Kami telah menganggap Juliet sebagai bagian dari Charion.” “Terakhir kali aku mendengar ia berusaha menghabisi dirinya sendiri!” Alexander menyuarakan ketidaksenangan. “Bagaimana mungkin putriku terlihat bahagia?” “Tenangkan dirimu, Duke Naval.” Vlad mengangkat sebelah tangan. “Duke Charion, dengan maupun tanpa kesediaanmu, putri Leyna Magnolia akan kembali kepada ayahnya.” “Yang Mulia, saya mohon kebijaksanaan Anda.” Vlad menggeleng. “Duke, dengarkan nasihatku. Biarkan putri Leyna memilih jalannya. Apabila nanti setibanya di kediaman Naval ia merasa tidak bahagia, maka dia boleh kembali kepada Charion. Bukankah memberikan kesempatan baginya memilih lebih baik daripada membiarkan konflik berlama-lama di antara kalian?” Pada akhirnya Asley tidak bisa mendebat. Juliet akan kembali kepada ayah kandungnya. * Jalanan utama yang biasanya lengang pun berubah menjadi arena balap. Kereta kuda milik Charion dan Naval saling beradu kecepatan. Masing-masing menunjukkan ketiadaan niat mengalah, bahkan wajah kedua sais pun memperlihatkan air muka tertekan. Di dalam kereta, Alexander telah mengintruksikan kepada anak buahnya agar bersiap di kediaman Charion. Maka dari itu, begitu sampai di kediaman Charion, kereta Asley telah dihadang oleh barisan kesatria Naval. Kesemuanya mengenakan seragam hitam dan masing-masing menggenggam pedang, siap dihunuskan. “Naval berani menyerangku di kediamanku sendiri!” Asley mengumpat. Bagaimanapun juga ia tidak takut. Otot dan fisiknya masih sangat mampu menebas satu per satu kesatria milik Alexander. Akan tetapi, saat ia hendak membuka pintu kereta, pintu itu tidak bisa didorong. Materai sihir berpendar terang di setiap sisi kereta. Wajah Asley memucat begitu mengenali keberadaan salah satu penyihir di antara penghadangnya. “Kaupikir aku tidak belajar dari pengalaman?” Alexander, yang telah turun dari kereta, mengolok-olok kekalahan Asley. “Pastikan dia terkurung di sana selama mungkin.” Alexander mengabaikan umpatan Asley. Dia bergegas memasuki kediaman Charion. Sejenak dia mengenali kereta kuda milik istana. Sais dan penjaganya tidak mengatakan apa pun terkait insiden di antara Naval dan Charion. Duthcess Charion ditemani beberapa pelayan pun muncul. “Diana,” kata Alexander. “Ada di mana putriku sekarang?” Mulut Diana merapat, otot di keningnya berkedut seiring keringat yang menetes di pelipis. “Apa maksudmu, Alex?” Kesatria Naval yang berada di kanan dan kiri Alexander pun mulai mengeluarkan pedang dari sarungnya. “Aku ingin menjemput putriku.” Lantas kesatria bergerak, mereka mengarahkan pedang ke leher Diana. Tidak ada pertumpahan darah sebab mereka hanya ingin mengunci pergerakan Diana dan pelayannya. “Gila!” Diana memekik. “Seymour dan Charion tidak akan melupakan penghinaan ini.” Seulas senyum semanis racun tersungging di bibir Alexander. “Apa kaulupa bahwa Seymour berutang darah kepada Naval?” Kali ini Diana bungkam. Tidak membalas. “Tunjukkan,” perintah Alexander kepada salah seorang pelayan Charion. “Aku harus menjemput putriku, Juliet.” Pelayan itu merasa terjebak. Pedang di leher, siap menggores. Pada akhirnya dia pun mengarahkan Alexander ke taman tempat Juliet bersama Rowan. Juliet tengah menangis di pangkuan Rowan. Gadis itu terisak-isak seakan bisa hancur saat itu juga. Alexander pun sempat menangkap sosok Abel dan Yevette. Keduanya membeku begitu melihat kehadiran Duke Naval. “Ada apa ini?” Rowan terkejut, ia menyembunyikan wajah Juliet dalam dekapannya. “Duke Naval?” “Singkirkan tangan kotormu dari putriku!” Rowan tidak bisa bergerak begitu ada pedang yang diarahkan ke lehernya. Kali ini dia terjebak; tanpa pedang, tanpa rencana, dan tanpa bantuan. Satu-satunya yang ia bisa lakukan hanyalah menampilkan seraut senyum. “Duke, aku tidak mengerti.” Kedua tangannya masih mendekap Juliet, tidak ingin dipisahkan. “Putriku,” kata Duke Naval. “Jauhkan tanganmu dari putriku!” Alexander menepis tangan Rowan dan meraih Juliet ke dalam gendongannya. Juliet mendongak, menatap sepasang mata yang berbinar merah seperti miliknya. “Putriku, saatnya pergi.” “Tunggu!” Rowan hendak menghentikan Alexander, tetapi pedang masih menempel di lehernya. “Kenapa kau membawa Juliet?” Sejenak Alexander menatap Rowan. “Karena dia putriku.” Begitulah yang terjadi. Rowan kehabisan kata-kata, tidak berkutik. Abel dan Yevette pun tersentak. Pada hari itu, Juliet kembali kepada ayahnya. Alexander.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD