Dewi terus berada dalam labirin perasaan yang semakin rumit. Simulasi kehidupan nyata di bawah bimbingan Prof. Reza membawa hubungan mereka ke tahap baru yang membingungkan. Meskipun mereka belum merasakan sentuhan fisik layaknya kekasih, pemikiran Dewi semakin terjerembab dalam fantasi tentang kedekatan yang lebih intim.
Setiap malam di rumah kontrakannya, Dewi merenung tentang perasaannya. Pergolakan batinnya semakin terasa, dan kecemasan merayap di setiap langkahnya. Ia menyadari bahwa eksperimen ini telah melampaui batas kehidupan akademis.
Dalam pertemuan berikutnya dengan Dr. Nadia, Dewi merinci keraguannya. "Dr. Nadia, saya tidak yakin sejauh mana batas antara penelitian dan perasaan pribadi. Simulasi ini membuat semuanya semakin rumit."
"Dewi, kamu harus mengenali batasmu."
" Jangan biarkan eksperimen ini mengendalikan emosimu. Penting untuk memahami bahwa ada dunia di luar sana yang tidak hanya terdiri dari penelitian dan eksperimen."Lanjut Dr.Nadia
Dewi mulai merenung, menyadari bahwa ia mungkin telah terlalu jauh terlibat dalam permainan psikologis ini. Dia memutuskan untuk mencari kejelasan dari Prof. Reza.
Suatu hari, setelah simulasi berakhir, Dewi meminta waktu untuk berbicara dengan Prof. Reza. Mereka duduk di teras ruang bimbingan, dan Dewi menatap tajam mata Reza.
"Prof. Reza, saya merasa terjebak dalam permainan ini. Di mana batas antara penelitian dan perasaan pribadi? Saya butuh kejelasan."
Reza menyadari kecemasan Dewi dan mengambil napas dalam. "Dewi, penelitian ini memang membawa kita ke dalam situasi kompleks. Namun, kita harus ingat bahwa di luar eksperimen ini, kita memiliki kehidupan nyata yang harus dijalani."
"Duaaarrrr." d**a Dewi seperti meledak seketika.Yang ia cemaskan ialah rasa yang ia alami,Dewi mulai merasakan Jatuh Hati lebih dalam kepada Prof.Reza,tetapi pria itu justru mengatakan pada Dewi ada kehidupan nyata yang harus dijalani.
"Apakah artinya aku ge-er sendiri?" batin Dewi.
Dewi mengangguk, namun hatinya masih penuh keraguan. "Saya tidak ingin merusak hubungan profesional kita, Prof. Reza. Namun, perasaan ini semakin sulit untuk dikendalikan."
Reza merespon dengan bijak, "Dewi, mungkin kita perlu memberikan jarak sejenak dari eksperimen ini. Ini tidak hanya tentang ilmu pengetahuan, tapi juga tentang keseimbangan emosional kita."
Percakapan itu menghasilkan kesepakatan untuk memberikan jarak sementara dari eksperimen tersebut. Dewi merasa lega mendengar bahwa Reza juga menyadari kompleksitas situasi ini.
Minggu berlalu, Dewi mencoba menemukan keseimbangan dalam kehidupannya. Dengan dukungan dari Dr. Nadia dan sahabatnya, Maya, Dewi mulai melepaskan diri dari permainan psikologis yang rumit.
Suatu hari, di tengah hujan gerimis, Dewi memutuskan untuk menyusuri kampus yang selama ini menjadi saksi perjalanan emosionalnya. Dia memasuki ruang bimbingan, tempat di mana banyak perasaan bercampur aduk.
Prof. Reza juga ada di sana, menyadari bahwa Dewi mungkin membutuhkan penutupan untuk babak ini. Mereka duduk berdua, dan Dewi berbicara dengan tulus.
"Prof. Reza, saya menghargai ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan dari penelitian ini. Namun, saya juga menyadari bahwa kita harus kembali pada realitas. Ini tentang hidup nyata, bukan hanya eksperimen."
Reza mengangguk, "Saya setuju, Dewi. Ini mungkin sudah saatnya kita mengakhiri eksperimen ini dan fokus pada kehidupan masing-masing."
Percakapan itu menandai akhir dari kisah psikologis yang rumit antara Dewi dan Prof. Reza. Meskipun banyak pertanyaan tanpa jawaban, Dewi memilih untuk melangkah maju dan menemukan kedamaian dalam keseharian yang lebih sederhana.
Langit yang awalnya mendung mulai memperlihatkan sisi cerahnya, menggambarkan bahwa setiap hujan akan berakhir dan meninggalkan kesempatan untuk kehidupan baru. Dewi, dengan langkah tegar, melangkah keluar dari ruang bimbingan, membiarkan kisahnya terukir dalam lembaran waktu kampus yang pernah menyaksikannya tumbuh dan belajar.
Ketika malam hari Dewi tiba di rumah, ia terkejut melihat mobil Reza terparkir di depan rumahnya. Hatinya berdegup kencang, menciptakan kegelisahan baru. Apakah Reza datang untuk membahas eksperimen lagi ataukah ini hanya kebetulan?
Prof.Reza berdiri di samping mobilnya,membungkukkan tubuhnya sedikit ketika mobil Dewi terparkir di samping mobilnya.
Reza dengan wajah serius beekata, "Dewi, saya ingin membicarakan sesuatu. Saya merasa perlu memberikan klarifikasi terkait perasaan kita dan mengakhiri eksperimen ini dengan baik."
Mereka duduk di teras rumah kontrakan,Dewi tidak terbiasa menerima tamu pria di rumah kontrakannya.Sebagai mahasiswi dan gadis polos ia takut berada di dalam rumah berdua dengan seorang pria dewasa seperti Reza.
"Maaf Prof,mau minum apa?"
"Nanti saja Dew."
"Baik Prof."
"Dewi, saya menyadari bahwa perasaan kita telah terlibat lebih dari sekadar eksperimen. Dan aku harus mengakui bahwa aku juga merasakan hal yang sama."
Dewi terkejut mendengar pengakuan itu. "Apa artinya ini, Prof. Reza?"
Reza melanjutkan, "Saya ingin mengakhiri eksperimen ini dan memulai hubungan kita di dunia nyata. Saya yakin kita dapat menjalani hubungan ini dengan matang dan berdasarkan perasaan yang tulus."
Dewi merenung, mencerna semua yang dikatakan Reza. Pertimbangan dan rasa penasaran bercampur aduk di dalam benaknya.
"Saya butuh waktu untuk memikirkannya, Prof. Reza. Ini adalah langkah besar yang perlu saya pertimbangakan dengan sangat matang."
"Prof serius mau jadi pacar saya?" Tanya Dewi lugu.
Reza Mengangguk,Reza menghormati keputusan Dewi dan berkata, "Tentu, Dewi.Tapi lebih enak bahasanya Relashionship ya.Kalau pacaran rasanya seperti saya baru SMA." ucap Reza,seorang Profesor yang baru berusia 30an.
" Saya menghargai setiap keputusanmu apapun itu.Yang terpenting, kita harus saling jujur dan terbuka dalam menjalani hubungan ini."
Dari wajah Dewi nampak kegelisahan,ada rasa takut,rasa bahagia,rasa khawatir,semua bercampur.Dewi ingin menenangkan pikirnya sejenak walau beberapa menit,
"Prof,maaf saya ganti baju dulu,sekalian buatkan Prof minum ya.Silahkan Prof masuk saja ke ruang tamu."
Dewi melangkah mantap memasuki rumah,jika saja dia masih SMA ia akan berjalan sambil berjingkrak bahagia.
"Hihi,prof akhirnya nembak aku juga." Gumam Dewi dalam hati,usianya yang masih belia masih membawa sifat keluguannya.
Reza berjalan di belakang Dewi.
"Silahkan Prof." Dewi mempersilahkan Reza duduk sofa di ruang tamu.
Malam itu, Dewi duduk sesaat di dapur sambil merebus air untuk membuat minuman,sekilas ia merenung tentang pilihan yang harus diambil. Dalam hatinya, keputusan untuk melanjutkan hubungan dengan Reza adalah langkah yang penuh kompleksitas, tetapi dalam hatinya ada juga keinginan untuk menjelajahi lebih jauh.
Dewi keluar ke ruang tamu sambil membawa nampan dengan dua cangkir kopi,
"Kopi ya Prof,saya juga belum ngopi soalnya.Hihi." ucap Dewi sambil meletakkan kedua cangkir di atas meja di depan Prof.Reza.
Dewi seperti bukan dirinya lagi, setahun yang lalu awal masuk kuliah,Reza melihat Dewi sangat polos,lugu,dan yang paling dominan adalah wajah cantik Dewi yang selalu murung,sangat jarang dihiasi senyuman.
Namun malam ini saat menghidangkan kopi di hadapan Reza,Dewi terlihat sangat bahagia dan cerah,secerah pakaian yang Dewi kenakam malam ini,Hotpants berwarna Cream dan T-shirt berlengan sangat pendek berwarna kuning.Kulit Dewi yang sawo matang cerah semakin terlihat menarik dengan senyum menawan seperti itu.
Tiba-tiba Dewi langsung saja duduk di samping Reza,bukan duduk berhadapan seperti yang baisa mereka lakukan.
"Prof,saya mau jadi kekasih Prof." ucap Dewi lugas.Ia memberanikan diri mengatakan secara langsung setelah pertimbangan matangnya selama di dapur.
Reza tersenyum," Terimakasih Dew,sekarang jangan panggil saya Prof,panggil Reza saja."
Dewi mengambil kedua telapak tangan Reza,menggenggam dengan kedua tangannya di atas pahanya yang terbuka karena hotpants yang sangat pendek yang ia kenakan.
"Prof,ada adegan dalam simulasi kita kemarin yang kita skip,sentuhan tangan seperti ini.'' ucap Dewi sambil menatap Reza dengan mata berbinar.
"Sudah terealisasi sekarang."
"Hehe,iya Dew,tapi kenapa Prof lagi?" respon Reza dengan tatapan tajamnya ke arah Dewi.
Dewi merasa seolah sorot mata tajam Reza sedang menelanjanginya.
"Oh iya Prof,eh Reza." Dewi merasa gugup.
"Hahaa." serempak mereka tertawa bersama.
Adrian mencium kening Dewi dengan gerakan perlahan,penuh kelembutan tangan Reza menyentuh bahu kiri Dewi dengan tangan kanannya.Sebuah kelegaan yang luar biasa menyergap hati Dewi.
"Reza,aku sudah jatuh cinta sama kamu." ucap Dewi sembari memeluk Reza.
Tanpa mereka sadari bahasa tubuh mereka menuntun pada gerakan tak terhindarkan dari suasana penuh romantisme.Suara gerimis di atas dedaunan di luar ruang tamu mengiringi lagu rindu mereka.Bibir mereka berpaut menari indah.
"Hah!" Dewi terkejut dan sangat terkesima.
Secara tak sengaja,ketika mereka asik berciuman,Dewi menyenggol Flatcap yang Reza pakai dan membuatnya terjatuh.
Rambut panjang Reza yang selama ini ia sembunyikan di belakang flatcapnya terurai.Rambut Lurus panjang Reza tergerai hingga sebahu,wajah bersih dan hidung mancung serta rahang yang proporsional menampilkan Reza seperti seorang bangsawan.