Penyerahan Diri

1031 Words
"Rambut Prof selama ini panjang?" "Kok Prof lagi Dew?" "Oh iya maaf,Reza." Bagaimanapun pria di hadapan Dewi memiliki rentang usia yang jauh.Ia sendiri baru menginjak 18 tahun.Sedangkan sepengetahuannya Reza berusia 30tahunan. Reza membiarkan rambut panjangnya terurai.Ia mengambil Flatcap nya dan menaruh di atas meja,lalu melepas kacamatanya dan meletakkan di samping Flatcapnya.Reza melepas Jas hitamnya kemudian sedikit melipatnya,lalu ia letakkan di samping kaca mata dan Flatcapnya. "Wowwww.Ganteng buanget kayak artis Korea." Dewi tercengang setelah melihat Reza hanya mengenakan Kaos Polo Berwarna Hitam.Sangat Kontras dengan warna kulit Reza yang putih bersih. "Dew,Dewi.Kok melamun? masih sedih?" Reza menggungah lamunan Dewi. Dewi ingat bahwa Maya sahabatnya pernah berkata,"Kalau punya cowok,Jangan cuma lihat penampilan." "Eh,tidak apa-apa Reza.ini apa ya?"ucap Dewi sambil mendekatkan wajahnya dan matanya melihat lebih detail ke arah telinga kiri Reza. "Oh tahi lalat ternyata." Dewi memastikan bintik hitam yang ia lihat di daun telinga kiri Reza. Wajah mereka begitu Dekat,Reza hanya sedikit menggerakkan wajahnya memaling ke kiri.Bibirnya menyentuh pipi kencang Dewi.Reza melanjutkan kecupan di pipi Dewi beberapa kali. "Emuach,emuach,emuach." Dewi serasa terbang,lamunannya dan mimpinya selama ini beberapa kali tentang bagaimana ia bercinta dengan Reza kini menjadi kenyataan.Meskipun hanya sebagian,yaitu kecupan dan ciuman Reza. Sensasi rasa nyaman yang sangat dalam menusuk gairah Dewi sebagai wanita muda yang belum pernah merasakan kenikmatan Dunia. Reza tahu apa yang dibutuhkan Dewi,ia memeluk pinggul Dewi,merebahkannya di sofa ruang tamu.Mereka kembali berpagut saling meluapkan rindu.Apa yang tertulis di benak Dewi selama masa simulasi dalam penelitian mereka kini terwujud. Malam itu sebagai awal Dewi menyerahkan diri pada seorang pria,dia tidak pernah menyesalinya dengan apapun yang akan terjadi kelak.Dewi begitu memuja Reza,sebagai mentornya,rekan,teman,dan kini menjadi kekasih hatinya. Reza tidak hanya telah berhasil mengambil hati Dewi,tetapi juga seluruh jiwa dan tubuhnya.Reza dengan kepiawaiannya bermain psikologi,mampu menaklukan Dewi.Alur yang telah diciptakan Reza sangat efektif hingga mampu merenggut sisi kedalaman jiwa seseorang. "Aku sangat mencintaimu Reza." ucap Dewi lirih sambil menahan perih pada bagia bawah tubuhnya. Reza tersenyum,rambut panjangnya yang tergerai menempel di sisi kanan kiri pipi Dewi yang wajahnya berada di bawah wajah Reza.Dewi mengecup pipi Reza. "Emuach." Reza membelai rambut Dewi yang sedikit basah karena keringat mereka berdua. Dewi tersadar dari keintiman mereka berdua, menatap mata Reza dengan penuh arti. Ada kelembutan di matanya, dan di dalam hatinya, Dewi merasakan kebahagiaan yang begitu mendalam. Namun, ada juga keraguan dan kecemasan tersembunyi di balik senyumnya. Dewi berucap dengan lembut ,"Reza, apa ini nyata? Reza memeluk Dewi erat," Sangat nyata, Dewi. Kamu telah membuka hatimu untukku, dan aku tidak akan menyia-nyiakannya." "Tapi... kita kan masih dalam simulasi, Reza. Bagaimana dengan batas antara penelitian dan kenyataan?" Reza melepaskan pelukannya dan menatap Dewi, "Dewi, kita sudah selesai melakukan simulasi dan penelitian, Eksperimen ini mungkin awalnya dimulai sebagai penelitian, tetapi perasaan kita berkembang di luar kendali kita. Sekarang, kita harus menghadapi kenyataan." Lalu Reza melanjutkan ucapannya, "Bukankah tadi saat hujan gerimis di kampus,kamu yang memulai pembicaraan untuk mengakhiri eksperimen kita Dewi" Dewi mengangguk "Tapi apa yang akan orang katakan? Bagaimana dengan etika profesional dan akademis?" Dewi masih menerawang dalam pikirannya,dia masih kebingungan,antara eksperimen dan realitas. Reza menatap serius Dewi,"Kadang dalam hidup, kita harus memilih kebahagiaan kita. Saya tahu ini rumit, tapi kita akan mengatasi semuanya bersama-sama." Dewi merenung sejenak, mencoba merangkai pikirannya. Dia menyadari bahwa keputusannya akan memengaruhi banyak hal dalam hidupnya. Dewi berucap dengan mantap," Aku takut, Reza. Tapi, aku juga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mencintai dan dicintai." Reza kemudian meraih tangan Dewi," Kita akan menjalani ini bersama, Dewi. Dan saya yakin, kita bisa membuat semuanya baik-baik saja." Mereka duduk bersama di sofa, membicarakan langkah-langkah ke depan. Keputusan Dewi untuk mengambil risiko dalam hubungannya dengan Reza menandai babak baru dalam hidupnya yang penuh dengan tantangan dan kebahagiaan. Mereka berdua berkomitmen untuk tetap fokus pada keberlangsungan hubungan mereka, sambil mempertimbangkan dampaknya terhadap karier masing-masing. Hari-hari berlalu,Dewi dan Reza mulai menjalani kehidupan nyata mereka sebagai pasangan. Mereka berbagi momen-momen indah dan tantangan bersama, menciptakan kenangan bersama yang mendalam. Namun, kehidupan akademis mereka juga terus berlanjut, dengan tantangan dan tanggung jawab yang melekat. Dr. Nadia, yang mengetahui perubahan dinamika antara Dewi dan Reza, memberikan dukungan dan nasihat yang bijak. "Kehidupan pribadi dan profesional bisa saling bersinggungan, Dewi. Yang penting, tetaplah fokus pada tujuan dan impianmu, baik dalam karier maupun hubungan." "Hehe,terimakasih Dr.Nadya." ucap Dewi. Mereka menyantap lahap hidangan di meja makan.Dewi sengaja mengundang Dr.Nadya ke rumah kontrakannya dan memasak untuk makan malam mereka.Reza menampakkan senyum dan bahasa tubuh penuh perhatian pada Dewi. Dewi dan Reza meresapi saran tersebut, berusaha menjaga keseimbangan antara cinta dan karier mereka. Terkadang, tantangan muncul, terutama saat mereka harus menyembunyikan hubungan mereka dari rekan kerja dan teman-teman akademis. Suatu hari, ketika mereka sedang berkumpul di kampus, Maya, sahabat Dewi, menyadari perubahan dalam hubungan mereka. "Dew, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan prof.Reza?" tanya Maya dengan tatapan tajam. Dewi tersenyum malu, "Maya, ini agak rumit. Kami telah mengakhiri eksperimen, dan sekarang kami berdua..." Maya tersenyum penuh pengertian, "Kalian berdua telah berpindah dari zona teman dan mentor, bukan?" Dewi mengangguk, "Iya, Maya. Aku tidak pernah berpikir bahwa ini akan terjadi, tapi aku bahagia." Maya tertawa pada sahabatnya, "Baguslah, Dew. Cinta memang datang tanpa pemberitahuan, ya? Hanya pastikan kamu bisa menjaga keseimbangan antara cinta dan akademis." Sementara itu, Reza juga merasakan tekanan dari rekan-rekannya di dunia akademis. Beberapa profesor menunjukkan pandangan skeptis terhadap hubungan antara mahasiswa dan Dosen. Reza mencoba menjelaskan bahwa eksperimen mereka telah berakhir dan hubungan mereka berkembang secara alami. Meskipun ada hambatan dan tantangan, Dewi dan Reza terus membangun fondasi yang kuat untuk hubungan mereka. Mereka mendukung impian satu sama lain, saling memotivasi untuk mencapai kesuksesan baik di dunia akademis maupun dalam cinta. Pada suatu malam, ketika mereka duduk di teras rumah kontrakan Dewi, melihat bintang-bintang bersinar di langit. Dewi menatap Reza dengan penuh cinta, "Reza, siapa yang akan menyangka bahwa eksperimen kita akan membawa kita ke sini?" Reza tersenyum, "Kehidupan memang penuh kejutan. Dan aku bersyukur bisa berbagi semua ini denganmu, Dewi." Reza meskipun telah meraih seluruh kehidupan Dewi,belum pernah ia mengatakan bahwa ia mencintai Dewi. Itulah salah satu hal yang masih Reza rahasiakan. Malam itu, di bawah langit yang indah, Dewi dan Reza merayakan cinta mereka yang berkembang dari simulasi menjadi kenyataan. Meskipun perjalanan mereka tidak selalu mudah, namun mereka tahu bahwa cinta sejati selalu menemukan cara untuk berkembang dan bersinar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD