Bab 5. Menjalankan Rencana.

1209 Words
Pada suatu malam, Maya duduk dengan tenang di ranjang kamarnya, memandangi layar laptop yang menyala. Senyum puas tersemat di bibirnya saat melihat file-file penelitian yang sudah tersimpan rapi, yang siap untuk disabotase. Akan tetapi, kegiatannya terganggu oleh notifikasi yang tiba-tiba masuk ke dalam gawainya. [May, kita harus bertemu sekarang juga.] Wanita itu menatap dengan kening berkerut membaca pesan yang dikirimkan Handika, dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. [Kamu gila! Ini sudah malam. Apa gak bisa besok?] Setelah balasan darinya terkirim, tinggal berbagai tanya dalam benaknya, ada hal apa Handika meminta untuk bertemu malam-malam begini, pikirnya. [Tidak bisa! Ini penting! Aku menemukan bukti baru tentang rencana mereka. Bisa tidak bisa, kita harus bertemu malam ini. Aku tunggu di taman kota.] [Cepat berangkat! Aku otw ....] Maya semakin resah setelah membaca pesan itu. Dia mengalihkan tatapan pada sang suami yang terlelap di sampingnya, dilema membelenggu perasaannya. Bagaimana jika nanti Arya bangun dan mencarinya? Alasan apa yang harus dia katakan? Maya segera menutup laptop miliknya lalu beranjak dari tempat tidur. Dengan mengendap-endap, ia mendekat ke arah sang suami, lalu menggoyang tangan ke depan wajah pria itu. Setelah dirasa tidak ada pergerakan yang berarti, barulah Maya yakin jika suaminya memang sudah menyusuri alam mimpi. Wanita itu bergegas mengambil jaket dan kunci mobil, lalu melangkah keluar tanpa menimbulkan suara sama sekali. Maya mengendarai mobil di kelenggangan malam dengan tenang dan penuh kehati-hatian. Dia seolah merasakan de javu, peristiwa malam itu kembali membayangi pikiran menciptakan trauma mendalam untuk sekedar diingat. Kejadian yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun, termasuk pada suami, sahabat, bahkan keluarganya. Dalam ingatannya, dia bisa melihat jelas bagaimana Arya datang dengan wajah yang tidak menunjukkan kepanikan atau kepedulian seperti yang seharusnya. Arya hanya berdiri memandangnya yang tak berdaya dengan bersimbah darah, wajahnya yang datar, seolah-olah menilai apakah Maya akan bertahan atau tidak. “Aku harusnya menyadari sejak awal,” bisiknya pada diri sendiri dengan air mata yang mulai membasahi pipi. “Dia tidak pernah mencintaiku.” Maya masih fokus pada kemudinya. Rintik kecil hujan turun mulai membasahi kaca mobilnya, tetapi tidak sampai menutupi jarak pandangnya. Ingatan tentang kecelakaan dan pengkhianatan Arya terus menghantuinya. Akan tetapi, sekarang, dia punya kesempatan untuk membalas perbuatan mereka. Kesempatan untuk membuat Arya merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya. Sementara itu, di depan taman kota, Handika masih setia duduk di dalam mobilnya sembari memegang ponsel erat-erat. Pesan-pesan dari Karina yang penuh tipu muslihat dan kebohongan terus berdatangan. Karina mengirimkan pesan manis penuh cinta seolah-olah tidak ada yang salah, padahal Handika tahu, dia berencana bertemu dengan Arya lagi besok lusa. "Aku muak dengan semua ini," gumam Handika dengan nada dingin, tatapannya tajam saat dia membaca pesan itu. Namun, sesuatu yang lebih besar mulai merasuk ke dalam pikiran. Meski rencana balas dendam bersama Maya telah membuatnya merasa lebih kuat, ada bagian dari dirinya yang mulai meragukan semuanya. Setiap kali dia melihat wajah Karina di foto-foto lama mereka atau mengingat momen-momen manis yang dulu mereka habiskan bersama, ada rasa sakit kehilangan yang muncul. Rasa hancur karena mengetahui bahwa orang yang pernah dicintainya dengan sepenuh hati telah mengkhianatinya. Maya dan Handika telah sepakat bahwa mereka tidak akan bertindak gegabah. Semua harus dilakukan dengan rapi dan tepat waktu. Namun, semakin banyak waktu yang mereka habiskan untuk memata-matai dan mengumpulkan bukti, semakin Handika merasa terperangkap dalam permainan yang mereka ciptakan. Pikiran itu terus mengganggunya, hingga ia memutuskan untuk kembali menelepon Maya. “May, kamu di mana? Aku sudah sampai,” katanya tanpa basa-basi ketika Maya mengangkat telepon. Maya tahu dari nada suara Handika bahwa ada sesuatu yang tidak beres. "Aku hampir sampai, tunggu sebentar!" jawabnya. Beberapa menit menunggu, sosok yang dinanti pada akhirnya tiba. Maya yang mengetahui keberadaan mobil Handika, bergegas mengetuk kaca mobil, yang membuat perhatian pria di dalamnya teralihkan. "Masuklah!" titah Handika ketika sudah membuka pintu. Maya bergegas menuruti keinginan pria itu. Dia bisa merasakan tatapan serius dan penuh beban. Malam itu terasa sunyi. Hanya suara hujan yang kian deras yang menemani percakapan mereka. "Ada apa, Dika? Kenapa meminta bertemu malam-malam begini? Kamu tahu? Pertemuan ini sangat rawan dicurigai." "Aku menemukan ini." Handika meraih dokumen yang sengaja dia letakkan di kursi belakang mobilnya, lalu menyerahkan kepada Maya. Maya menerima map itu dengan kening berkerut. Kedua bola mata Maya melebar sempurna saat mengetahui isi dokumen tersebut. "Ini ... ini adalah salinan kontrak dengan salah satu perusahaan farmasi," ucapnya hampir tak percaya. "Mereka sudah menandatangani kesepakatan kontrak penjualan patennya!" Rahang wanita itu sontak mengeras. Mata tajam yang memerah seolah menandakan amarah telah meliputi diri wanita itu. "Dari mana kamu dapatkan ini?" "Karina menyimpannya di dalam laci yang biasa dia kunci, tepatnya aku gak sengaja menemukannya saat mencari buku bacaanku yang disimpan Karina. Sebelum dia sadar, aku segera meminta bertemu denganmu. Mereka sudah siap untuk menjual penelitianmu, Maya." Maya mengepalkan tangan, menahan kemarahan yang memuncak. "Mereka benar-benar berani. Aku gak nyangka mereka bergerak lebih cepat dari yang aku kira." "Kamu sudah menyiapkan langkah selanjutnya?" tanya Handika seraya menatap Maya dengan sorot mata tajam. Ia pun turut merasakan kemarahan yang sama. Maya menatap dokumen itu sejenak sebelum mengangguk. "Aku sudah siap. Kita akan lakukan secepatnya! Kapan mereka akan bertemu lagi?" "Lusa." Wajah Maya tampak resah tak berkesudahan. "Lusa, aku ada konferensi medis ke luar kota. Bagaimana aku bisa mengawasi mereka? Apa 'ku batalkan saja? "Berangkatlah! Jika sampai batal, justru akan menimbulkan kecurigaan pada mereka. Kamu bisa mengandalkanku." Wanita itu menatap ragu pria di sampingnya. Akan tetapi, sorot penuh keyakinan yang terpancar di mata Handika membuatnya ikut merasakan keyakinan itu. ***** Pada akhirnya, hari yang dinanti pun tiba, Kini, Maya sudah berada di bandara, bersiap untuk berangkat ke tempat konferensi. Sementara di tempat lain, Handika terus memantau gerak-gerik Karina dan Arya. Handika yang bertindak seperti mata-mata, mengirim pesan yang membuat jantung Maya berdegup kencang. [Mereka sedang bernegosiasi dengan pihak perusahaan farmasi sekarang.] Dalam pesan tersebut, tak lupa Handika menyematkan nama perusahaan dan foto pertemuan yang ia ambil secara diam-diam. Tak lama berselang, pesan dari Handika masuk kembali ke ponselnya. [Mereka keluar dengan wajah murung, map yang tadi dibawa mereka bawa kembali. Sepertinya rencana kita berhasil, May.] Maya menatap dingin layar ponselnya saat membaca pesan tersebut. Merasa puas dengan laporan dari Handika. Dia tidak lagi membalas, justru menyimpan ponsel ke dalam tas. Kini, dia ingin santai sejenak menyandarkan tubuh pada kursi tunggu sebelum jam keberangkatan. 30 menit berselang, sebuah pesan kembali masuk ke ponselnya, kali ini dari sistem keamanan penelitiannya. -Akses ilegal terdeteksi. Sistem masuk dalam mode penguncian otomatis.- Maya tersenyum sinis, sepertinya ada yang masih mencoba untuk mengakses sistemnya. Beberapa saat setelahnya muncul pesan lain yang kali ini dari Arya. [Maya, kamu sudah di pesawat belum? Ada masalah dengan server penelitiannya. Kalau belum, kita harus bicara!] Bukannya membalas, Maya justru menekan tombol on/off pada ponsel. "Permainan sudah dimulai," gumamnya mengabaikan pesan dari suaminya. Bersamaan dengan itu pemberitahuan mengenai keberangkatan pesawat terdengar ke telinga. Wanita itu memilih bersiap untuk melangkah menuju pesawat yang akan membawanya pergi. Ia tidak peduli lagi dengan sesuatu yang akan menimpa suami dan sahabatnya setelah ini. Wajahnya mengeras memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi. Namun, satu hal yang pasti—Arya dan Karina tidak akan pernah berhasil. Akan tetapi, sebuah pesan lain yang muncul secara tiba-tiba dari nomor tak dikenal, tepat disaat ia akan mengaktifkan mode pesawat pada ponselnya, berhasil membuat wanita itu mematung. [Kamu pikir rencanamu sempurna? Hati-hati, Maya. Aku mengawasimu.]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD