Maya merasa darahnya membeku saat membaca pesan itu. Dia sontak mengamati sekelilingnya, memperhatikan setiap gerakan orang sekitar dengan seksama, seolah-olah pengirim pesan itu ada di dekatnya.
Akan tetapi, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Orang-orang yang ada di sekitarnya tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Raut wajah mereka juga terlihat biasa-biasa saja.
Wanita itu menggenggam ponselnya erat-erat dengan napas tertahan.
"Siapa ini?” bisiknya pada diri sendiri.
Tak ingin berlarut dalam kecurigaan, dia berinisiatif untuk mematikan ponsel. Akan tetapi, niatan itu urung ketika mendapat notifikasi pesan lain yang kali ini dari Handika.
[May, kamu baik-baik aja, 'kan? Kenapa gak bales pesanku?]
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, wanita itu sampai melupakan pesan dari Handika. Jemari tangannya segera menari di atas papan ketik membalas pesan singkat tersebut.
[Ya, aku baik. Tapi aku menerima pesan aneh dari nomor asing. Sepertinya, ada yang mengawasi pergerakan kita.]
[Kamu di sana masih aman 'kan, Dika? Kalau sudah merasa tidak aman, lebih baik pergi saja.]
Tak perlu menunggu lama, balasan dari Handika masuk.
[Sejauh ini masih aman, May. Don't panic! Semua masih terkendali. Kamu yang tenang, okey ....]
Maya menyunggingkan senyum tipis membaca balasan pesan pria itu. Handika selalu tau cara untuk menenangkannya. Akan tetapi, ketenangan yang dirasa tidak berlangsung lama karena pesan dari pria itu lagi.
[Apa kira-kira pesan itu ada hubungannya dengan Arya dan Karina?]
Maya tak langsung menjawab. Hatinya bergolak. Sejauh ini, dia dan Handika berusaha sangat hati-hati dalam menyusun rencana. Namun, pesan tersebut seolah menjadi tanda bahwa langkah mereka mulai disadari oleh pihak lain.
[Aku akan cari tahu. Hati-hati, Dika. Pastikan tidak ada satu pun yang melihat dan mencurigaimu.]
[Kita sambung nanti, aku sudah waktunya untuk terbang.]
Maya melangkah ke dalam pesawat, setelah mematikan ponsel. Ia duduk di kursinya dengan hati berdebar, menghembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan diri.
Wanita itu menghabiskan waktu sepanjang penerbangan dalam keadaan gelisah sampai tidak mampu memejamkan mata. Pikirannya terus dibanjiri oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Namun, ia harus tetap tenang. Ia telah berada di titik ini, dan terlalu berisiko untuk mundur sekarang. Ada terlalu banyak yang akan dipertaruhkan jika memilih untuk menyerah.
Sempat terbesit dalam benaknya, apakah ini pertanda bahwa ia harus mundur? Namun, ia segera mengenyahkan segala prasangka itu. Baginya, tak ada lagi jalan mundur. Apapun yang terjadi, dia harus tetap menjalankan rencana ini.
*****
Sementara di tempat lain, tepatnya di ruang kerja Arya, Arya dan Karina tampak terlihat bingung memandangi sebuah berkas penelitian yang telah mereka ambil dari ruangan Maya.
Mereka baru saja bertemu pihak perusahaan farmasi untuk penyerahan dokumen yang diminta, tetapi pihak perusahaan menolak mentah-mentah dokumen yang diberikan, dengan alasan semua kode yang ada di dalam dokumen tersebut tidak bisa terakses dalam artian tertolak otomatis.
"Ar, mungkin kamu keliru kali ngambil dokumennya? Di ruangan si Maya 'kan ada banyak dokumen penelitian, dan kamu udah ambil dokumen lain." Karina membuka suara memecah keheningan di antara mereka.
"Gak mungkin, Karin! Coba kamu baca judulnya? Formula-formula dalam penelitian ini sesuai dengan apa yang diminta pihak farmasi." Arya bersikukuh dengan menunjuk nama dokumen yang tertera pada bagian paling depan.
"Apa mereka ingin lepas tangan? Bisa saja mereka sudah menemukan penelitian yang lebih menguntungkan dari ini," gumam Arya dengan segala dugaannya.
Karina sendiri juga merasa bingung tidak tahu harus menjawab apa, karena urusan ini sepenuhnya dijalan oleh Arya. Dia hanya membantu.
"Kenapa gak kamu aja yang nyoba akses? Berhasil apa enggak? Kalau aksesmu berhasil berarti dugaanmu terhadap mereka benar."
Arya mengembangkan senyum, bagaimana bisa ia tidak berpikiran ke arah sana. Arya segera membuka dokumen tersebut, lalu membuka laptop miliknya. Dia menuju laman penelitian milik sang istri dan mencoba mengaksesnya, dan hasilnya sangat mengejutkan. Sistemnya otomatis terblokir.
Tidak hanya Arya, bahkan Karina pun terkejut melihatnya. Rasanya sulit memercayai apa yang dilihat.
Arya mencoba mengulangi dengan memasukkan kode seraya meneliti satu per satu kode yang akan dia akses, barangkali menemui kesalahan. Namun, hasilnya tetaplah sama—akses miliknya otomatis terblokir.
"Gak mungkin ... bagaimana bisa ini terjadi?"
Arya segera meraih ponsel, lalu mengetikkan pesan pada sang istri yang memberitahukan ada masalah dengan sistem penelitiannya. Akan tetapi, hingga beberapa menit berselang, ia tak kunjung mendapat balasan yang membuat Arya semakin resah.
"Gawat! Kalau sampai semua kode di dokumen ini gak bisa diakses. Kita bakal bayar denda dalam jumlah besar."
Karina seketila tersentak mendengarnya, tidak hanya itu mereka juga terancam masuk bui karena kasus penipuan.
"Gimana, dong, Ar? Kita gak punya uang sebanyak itu ...." Wanita itu resah dan ikut merasakan kepanikan yang sama. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah sangkaan muncul dalam benak Karina.
"Jangan-jangan ... Maya sengaja mengganti semua kode itu, Ar?"
Arya sontak menjawab cepat, "Gak mungkin!"
"Gak ada yang gak mungkin, Ar. Semua bisa saja terjadi di luar dugaan kita." Wanita itu bersikukuh dengan dugaannya.
Arya terdiam tak lagi mendebat, setelah dipikir-pikir, bisa saja perkataan Karina ada benarnya. Akan tetapi, jika semua memang terjadi itu artinya ....
"Apa Maya sudah mengetahui semuanya?"
"Ya, dia sudah tahu semuanya!" Seorang pria berdiri di ambang pintu menyela pembicaraan mereka.
Baik Arya maupun Karina sontak terkejut melihat kedatangan pria itu.
"Dokumen yang ada di depanmu ini, tak ubahnya hanyalah sampah yang kau anggap berharga."
"Tapi bagaimana bisa?" sahut Arya.
"Kalian saja yang terlalu bodoh! Sudah 'ku katakan, fokus pada misi ini! Aku gak melarang kalian menjalin hubungan ... asal fokus!" Suara pria itu terdengar dingin, berhasil membuat Arya dan Karina membeku.
Sosok lelaki bertubuh tegap itu menatap mereka dengan sorot mata tajam, menyiratkan bahwa ia sedang menahan amarah dalam dirinya. Sikap yang ditunjukkan seolah tidak ingin menerima kesalahan sekecil apapun.
Arya yang awalnya merasa menang karena berhasil mengendalikan situasi, kini tampak kehilangan ketenangannya. “Tapi kami sudah berhati-hati. Bagaimana Maya bisa menyadarinya?”
Pria itu menghela napas panjang, ekspresinya semakin dingin.
"Kalian terlalu percaya diri ...." Pria itu menatap serius Arya dan Karina. "Sejak awal sudah kuingatkan kalau Maya bukan wanita bodoh yang bisa kalian permainkan begitu saja."
Ia lalu berjalan mendekat ke arah mereka, memperhatikan ekspresi cemas keduanya. "Kalian bahkan tak menyadari bahwa Maya telah melacak gerak-gerik kalian."
Mata Arya membulat kaget, sementara Karina memalingkan wajah saat merasakan ketakutan yang begitu kuat menghantam dirinya.
“Lalu, apa yang harus kami lakukan sekarang, Tuan? Kalau dia sudah tahu, dia pasti akan melaporkan kita ke pihak berwajib!” Suara Karina bergetar dengan mata dipenuhi kecemasan.
"Itu sudah pasti, tapi sepertinya dia juga masih ingin bermain," sahut pria itu.
Dia menepuk bahu Karina disertai seutas senyum sinis yang menghiasi wajahnya.
"Aku punya rencana. Tetapi kali ini, kalian harus mendengarkan dan menjalankan instruksiku dengan benar! Aku gak mau ada kesalahan sedikit pun."
Arya dan Karina saling pandang, tak tahu lagi apa yang bisa mereka lakukan. Mereka telah terjebak dalam permainan yang jauh lebih rumit dari yang pernah mereka bayangkan, dan pilihan untuk mundur sudah pupus. Tidak ada pilihan lain lagi bagi mereka selain menerima.
*****
Di sisi lain, Maya akhirnya telah tiba di lokasi konferensi medis. Selama acara berlangsung, ia tak bisa berkosentrasi penuh, pikirannya terus berkecamuk. Pertemuan dengan kolega-kolega yang selama ini ia kagumi tak mampu mengalihkan perhatiannya dari pikiran mengenai pesan misterius yang diterima. Bahkan, dalam setiap pembicaraan dan diskusi yang berlangsung, ia merasa seolah ada mata-mata yang terus mengawasi.
Ia sesekali memeriksa ponsel di sela-sela acara. Tidak ada pesan baru dari nomor asing itu atau dari Handika. Namun, keresahan masih memenuhi hatinya. Maya menarik napas dalam, mencoba mengembalikan fokusnya.
Akan tetapi, saat ia bersiap untuk bergabung kembali dalam pertemuan, sebuah pesan masuk di ponselnya dari nomor asing lagi.
[Tidak bijak bagimu untuk terus melawan, Maya. Aku sudah tau arah pergerakanmu.]
Pesan itu membuat jantung Maya berdetak semakin cepat. Dirinya tak bisa diam begitu saja. Ingin rasanya, ia segera keluar dari ruang konferensi dan menghubungi Handika, tetapi ia berusaha keras menahan diri untuk berada dalam pertemuan. Tidak etis rasanya meninggalkan pertemuan penting ini hanya demi alasan yang tidak jelas.