Waktu yang dinantikan pada akhirnya tiba, acara konferensi berakhir untuk hari itu. Maya bergegas menuju kamar hotelnya. Ia ingin meluangkan waktu untuk berpikir jernih tanpa gangguan.
Sesampainya di kamar, ia menghempaskan tubuh dengan kasar ke atas tempat tidur. Helaan napas panjang terdengar dari bibirnya. Maya meremas sprei putih itu hingga kusut, berusaha menenangkan diri. Pesan-pesan misterius tadi mulai membebani pikiran, tetapi ia harus bertindak cerdas.
Rasa lelah karena tekanan dan ketegangan mulai terasa di setiap inci tubuhnya. Wanita itu memandangi langit-langit kamar sambil merenungkan semua yang telah terjadi.
Ia lantas membuka ponsel dan mencoba menghubungi Handika, berharap mendapatkan sedikit ketenangan dari kabar pria itu. Namun, hingga dering nada sambung yang ke sekian, panggilannya tak kunjung dijawab. Hal ini membuat hatinya semakin tidak tenang. Segala kekhawatiran yang ia tahan sepanjang hari mulai membuncah.
"Dika, angkat teleponnya dong ...," gumamnya dengan tidak sabar.
Berulang kali mencoba, tetapi hasilnya tetap sama. Entah kemana perginya pria itu, tidak biasanya Handika sulit dihubungi seperti ini. Pada akhirnya, ia menyerah berusaha berpikir positif bahwa Handika sedang sibuk.
Maya lantas meletakkan ponsel di sisinya, lalu memilih memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuh sejenak. Tak dapat dipungkiri tubuhnya terasa sangat letih setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, setelahnya ia langsung menghadiri konferensi.
*****
Suara ketukan pada pintu kamarnya berhasil mengusik tidur lelap wanita itu. Perlahan ia mengerjap, lalu membuka mata. Suara ketukan terdengar semakin intens seolah orang yang ada di luar sana memaksa ingin masuk.
Maya segera bangkit dengan perasaan was-was, dilihatnya jam pada ponsel yang ternyata menunjukkan pukul satu dini hari.
"Siapa yang datang di jam segini?" gumamnya resah.
Rasa takut dan penasaran bersarang dalam benaknya. Akan tetapi, rasa penasaran lebih mendominasi hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu tersebut. Akan tetapi, sebelum itu ia mengintip terlebih dahulu di sebuah lubang kecil untuk melihat siapa yang datang.
Matanya membelalak sempurna melihat seseorang di luar sana, hingga tanpa pikir panjang lagi Maya bergegas membukakan pintu.
"Dika? Kenapa kamu di sini?" tanyanya dengan penuh keterkejutan.
Handika segera memberi isyarat agar Maya tenang. "Aku khawatir setelah membaca pesan terakhir darimu, May. Pikiranku gak tenang ... aku takut kamu dalam bahaya."
Maya merasa terharu atas perhatian yang ditunjukkan pria itu.
"Aku ingin memastikan kamu aman. Ada informasi baru yang kudapat tentang orang-orang yang mengincar kita. Ini lebih besar dari yang kita kira, May." Handika menyambung perkataannya disertai mimik wajah yang serius.
Wanita itu segera memersilahkan Handika untuk masuk. Akan tetapi, sebelum menutup pintu, ia tampak mengamati koridor di depan kamarnya untuk memastikan tidak ada yang mengikuti atau pun mengawasi mereka. Setelah dirasa tidak ada sesuatu yang mencurigakan, Maya lekas menutup pintu tanpa lupa menguncinya.
Kini keduanya tengah terlibat dalam pembicaraan serius. Mereka duduk di sisi tempat tidur. Aura ketegangan seolah menguasai tempat itu.
Handika menjelaskan bahwa ada sosok misterius yang diketahui sebagai dalang utama di balik semua ini. Ia adalah seseorang dengan kekuatan besar dan memiliki pengaruh dalam berbagai jaringan bisnis. Orang ini sudah lama mengincar formula penelitian Maya, dan Arya serta Karina hanyalah pion dalam rencananya.
"Mereka berusaha merebut formulamu untuk mengembangkan produk yang bisa menguasai pasar. Kita harus lebih hati-hati, May," kata Handika dengan serius.
Maya terdiam mendengarkan dan mencerna semua informasi yang didapat. Sekarang semuanya terasa lebih jelas. Semua ini bukan hanya tentang pengkhianatan pribadi, melainkan juga tentang kekuasaan dan uang dalam skala besar.
Formula penelitian yang Maya buat adalah penemuan berharga, dan banyak pihak yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya.
Handika memandang Maya dengan penuh kekhawatiran. "Kita tidak bisa bertindak gegabah, May. Mereka bisa melakukan apa saja untuk menghentikan kita, bahkan tak segan untuk menghabisi. Kita harus merancang strategi baru dengan hati-hati."
Maya mengangguk. "Aku tahu, Dika. Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Ini penelitianku, dan aku akan memperjuangkannya," ucapnya penuh tekad.
Dentingan notifikasi pada ponsel Maya berhasil mengalihkan perhatian kedua orang itu. Keduanya saling berpandangan. Maya segera meraih ponsel yang tergeletak di atas ranjang, yang ternyata dari nomor asing itu lagi.
[Berhenti mencari tahu lebih jauh. Tidak ada yang keluar dengan selamat jika kamu tetap melawan.]
Maya tercekat memandang Handika dengan wajah tegangnya. Handika yang turut membaca pesan tersebut turut merasakan ketegangan yang sama. Pesan itu semakin mempertegas jika bahaya memang tengah mengintai. Ada seseorang di luar sana yang tak ingin ia mundur. Akan tetapi, Maya tak mungkin mundur sekarang. Ia harus mencari tahu siapa dalang di balik semua ini.
Maya dengan cepat mengetik balasan untuk orang itu.
[Oke, aku akan berhenti, tapi aku ingin tahu satu hal. Siapa sebenarnya yang memulai semua ini? Kenapa kalian begitu ingin menghentikanku?]
Sakali lagi, Maya bermain dengan mengikuti alur permainan mereka. Wanita itu menunggu balasan dengan jantung yang berdebar tak menentu. Waktu berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Hingga akhirnya, sebuah pesan balasan kembali muncul.
[Karena kamu tahu terlalu banyak, Maya. Pengetahuan bisa jadi senjata yang berbahaya jika berada di tangan yang salah.]
Pesan itu semakin membuat Maya yakin bahwa mereka berada di jalur yang benar. Siapa pun yang ada di balik ini, mereka pasti menganggap Maya sebagai ancaman besar. Namun, bukannya merasa gentar, hal itu justru memacu tekadnya. Ia harus melanjutkan penyelidikan, meskipun ancaman semakin mendekat.
Setelah membaca pesan tersebut, Maya dan Handika saling menguatkan tekad satu sama lain. Ini adalah pertempuran yang harus dimenangkan. Apapun risikonya, mereka telah membuat keputusan untuk terus maju.
Malam itu, di bawah bayang-bayang ancaman dan intrik, Maya dan Handika berikrar untuk melawan bersama. Mereka akan menyusun rencana baru dan lebih berhati-hati, serta lebih siap.
Maya sepenuhnya sadar, semakin dalam ia terlibat, semakin besar bahaya yang mengancam. Akan tetapi, ia telah membulatkan tekad untuk tidak akan mundur.
*****
Sementara ketegangan masih menyelimuti ruang kerja Arya. Pria itu mengamati Arya dan Karina seolah menakar sejauh mana mereka sanggup mengikuti rencana yang hendak ia susun.
Setelah menarik napas dalam, pria yang biasa dipanggil Robert itu pun mulai menyampaikan rencana yang terdengar seperti jalan keluar, tetapi begitu licik dan berbahaya.
"Kalian dengar baik-baik!" titahnya dingin. “Jika Maya sudah mengetahui rencana kalian, kita harus segera membalikkan keadaan sebelum dia bergerak lebih jauh.”
Arya dan Karina hanya mengangguk tanpa berkata-kata. Tidak satu pun dari mereka mengambil risiko untuk menentang pria ini. Semuanya sudah berjalan sejauh ini, mereka terlalu dalam terjebak.
“Langkah pertama." Robert melanjutkan ucapan sambil meletakkan sebuah amplop tebal di meja tepat di hadapan Arya.
“Pergi ke alamat yang tertulis di dalam amplop ini! Ada seseorang di sana yang akan memberikan apa yang kita butuhkan untuk mengunci mulut Maya.”
Arya meraih amplop tersebut dengan ragu, sementara Karina memperhatikan dengan tatapan gelisah. “Siapa yang akan kami temui di sana, Tuan?”
Pria itu tersenyum, tetapi senyumannya hanya menambah kesan mengintimidasi. “Bukan urusan kalian! Tugas kalian hanya mendatangi alamat itu dan membawa pulang yang dia berikan. Jangan bertanya macam-macam!"
Mereka berdua menelan ludah, menyadari bahwa mereka sudah terlalu jauh terlibat dengan orang ini, seseorang yang bahkan mereka tidak tahu sepenuhnya siapa dan apa tujuannya.
Mereka hanya tahu bahwa Robert memiliki hubungan dengan pihak farmasi yang mengincar formula penelitian Maya. Pria itu telah memberikan segala instruksi untuk menyusup di kehidupan Maya dengan informasi-informasi penting, lalu mendesak Arya untuk berbuat curang.
Akan tetapi, semakin ke sini Arya mulai merasa jika dirinya hanya dijadikan sebagai pion dalam permainan besar ini, yang bisa dikorbankan kapan saja.
“Setelah itu, kalian tunggu instruksi lebih lanjut dari aku,” lanjut pria itu sambil berdiri bersiap meninggalkan ruangan. Namun sebelum pergi, ia menatap mereka dengan tajam.
"Jangan berpikir untuk berkhianat atau mencoba bertindak di luar rencana. Ingat! aku tahu segala sesuatu tentang kalian berdua, dan aku tak akan ragu untuk menghancurkan kalian jika sampai berani melawan.”
Arya dan Karina mengangguk patuh. Tidak ada keberanian lagi di dalam diri mereka untuk menantang, apalagi setelah mereka menyadari betapa kuat dan misteriusnya pria ini.