Keesokan harinya, Arya dan Karina benar-benar menaati perintah pria itu dengan mendatangi alamat yang tertera di amplop tersebut. Tempatnya berada di sebuah bangunan tua yang terletak di pinggiran kota. Suasana sekitar terlihat sepi dan nyaris tak berpenghuni. Hawa mencekam menyelimuti tempat itu, meski waktu masih menunjukkan siang hari.
Karina yang tak bisa menyembunyikan kengeriannya sontak menggenggam erat lengan Arya. Kecemasan seolah membelenggu diri ketika berada di tempat asing ini.
“Kamu yakin ini tempatnya, Ar?” tanya Karina dengan nada khawatir. Netranya tak lepas memindai area sekitar yang mirip seperti bangunan angker yang puluhan tahun terbengkalai. Arya mengangguk meski dalam hati merasakan sebuah keraguan.
Mereka berdua melangkah menuju pintu kayu besar, lalu mengetuknya pelan. Tidak menunggu lama, pintu terbuka menampilkan sosok pria tua dengan wajah penuh kerutan. Tatapannya tampak tajam mengintimidasi meski ia hanya diam. Tanpa berkata-kata, pria tua itu mengisyaratkan mereka untuk masuk.
“Duduk di sana!" titah pria tua itu sambil menunjuk sofa usang yang ada di sudut ruangan.
Arya dan Karina saling pandang sebelum menuruti perintahnya. Dalam hati, mereka mempertanyakan, siapa yang sebenarnya sedang mereka hadapi?
Setelah mereka mendudukkan tubuh dengan sempurna, pria tua itu mengeluarkan sebuah berkas besar dari laci meja, lalu meletakkan di hadapan Arya dan Karina.
"Ini yang kalian butuhkan! Di dalam berkas ini terdapat bukti-bukti yang bisa kalian gunakan untuk membungkam Maya. Pastikan dia tak berani lagi mengungkit-ungkit rencana kalian atau membocorkannya kepada siapa pun.”
Arya membuka berkas tersebut dan terkejut melihat isinya. Ada beberapa lembar foto, catatan transaksi rahasia, dan surat-surat yang sudah ditandatangani oleh Maya, yang entah bagaimana disusun seakan mengisyaratkan bahwa Maya terlibat dalam kegiatan ilegal.
“Bagaimana kalian bisa mendapatkan ini semua?” tanya Arya yang merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Pria tua itu menatap Arya tanpa ekspresi. “Tugas kalian bukan bertanya. Bawa saja berkas ini dan lakukan apa yang diperintahkan. Kalian tahu 'kan apa yang harus dilakukan jika Maya mencoba melawan?”
Arya dan Karina mengangguk. Kini, mereka menyadari bahwa apa pun yang sedang terjadi saat ini memang sudah terencana dengan matang dan penuh perhitungan. Mereka benar-benar tidak punya pilihan lagi, selain mengikuti.
Sementara itu, di sisi lain kota, Maya dan Handika tengah menyusun strategi baru di sebuah rumah kontrakan kecil yang sengaja disewa Handika untuk sementara selama berada di kota ini. Handika tampak menatap layar lipat di depannya dengan serius.
“Saat ini, mereka pasti sedang menyiapkan permainan baru karena sudah mengetahui pergerakan kita, bisa jadi memfitnahmu, May. Apa kamu siap melawan mereka?” ujarnya sambil menyerahkan berkas asli penelitian yang sempat ia bawa pada pemiliknya.
Sebelum berangkat, Maya memang memercayakan berkas penelitian asli untuk disimpan Handika.
“Aku gak peduli. Apapun yang mereka lakukan untuk menghentikan kita. Aku gak akan mundur! Sudah terlalu banyak yang 'ku pertaruhkan untuk sampai ke titik ini.”
Maya menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri dari amarah yang tiba-tiba mendera. Kini, ia sudah sadar bahwa Arya dan Karina bukanlah ancaman utama yang harus ia waspadai. Mereka hanyalah pion yang diperalat oleh seseorang yang lebih kuat, dan hingga kini Maya belum tahu siapa sosok di balik semua ini.
“Mungkin kita perlu strategi lain. Kita bisa memberi mereka umpan,” ujar Handika dengan penuh perhitungan. “Mereka tidak tahu bahwa kita masih menyimpan bukti-bukti kuat. Kita buat saja sebuah drama seolah-olah kita menyerah.”
Seutas senyum tipis tersemat di bibirnya, menyetujui ide Handika. Mereka menyusun rencana untuk memperdaya mereka. Rencana itu termasuk mengirim informasi palsu yang seolah-olah menunjukkan bahwa Maya menyerah dan tidak punya bukti apa pun untuk melawan.
"Aku sebenarnya ada ide," ucap Maya tiba-tiba, tetapi ia tampak ragu dengan langkah yang akan diambil. "Tapi ... aku harus menyerahkan dokumen penelitian asli pada mereka."
Handika terdiam sesaat berusaha memikirkan cara lain, sebab langkah yang akan diambil Maya memiliki resiko besar. Sama saja, ia menyerahkan diri sepenuhnya pada pihak musuh.
"May, kamu sama saja dengan bunuh diri."
Maya hanya diam tidak lagi menanggapi. Semua yang dikatakan Handika benar, tetapi hanya itu cara yang tepat untuk mengelabuhi mereka. Meski menyimpan resiko yang sangat besar, bahkan reputuasinya menjadi taruhan.
"Bagaimana kalau kita buat duplikat dokumen ini semirip mungkin hingga menyerupai aslinya. Hanya saja, semua kode di dokumen ini disertakan pada lampiran terpisah, lalu kamu simpan di tempat yang aman."
Rona muram di wajah Maya seketika berubah cerah saat mendengar usulan dari Handika. Keraguan yang sempat mendera, kini telah berganti keyakinan kuat.
Ia segera meraih ponsel dan mengirim pesan singkat pada nomor misterius yang beberapa terakhir terus menghubunginya.
[Kalian menang. Aku turuti keinginan kalian untuk menghentikan pergerakanku. Aku menyerah! Dalam beberapa hari ke depan berkas yang kamu minta akan sampai ke tanganmu. Dan aku akan meninggalkan kota itu.]
Setelah mengirim pesan itu, Maya segera menghubungi pemilik rumah sakit yang memang dekat dengannya. Dia segera menyampaikan permasalahan yang menimpa dirinya dan penelitiannya, lalu mengajukan cuti panjang sampai ia bisa menyelesaikan semua urusannya.
Pemilik rumah sakit memberi ijin meski sebenarnya terasa berat, sebab Maya adalah aset berharga untuk rumah sakit itu. Akan tetapi, permasalahan yang menimpa wanita itu bukan masalah yang bisa dianggap sepele.
"Pak, saya mohon dengan sangat. Tolong, umumkan pada pegawai lain kalau saya keluar. Terima kasih sebelumnya," ucap Maya sebelum mengakhiri panggilan.
"Kenapa seperti itu, May? Kamu tidak berniat keluar dari sini, 'kan?" sahut pria di seberang dengan nada khawatir.
"Sama sekali tidak, Pak! Saya mencintai pekerjaan saya dan rumah sakit itu. Tidak mungkin saya meninggalkan tempat yang sudah membesarkan nama saya. Semua ini demi mengelabuhi suami dan sahabat saya."
"Sekali lagi, saya mohon kerjasamanya, Pak," ucap Maya dengan penuh permohonan.
Helaan napas panjang terdengar dari bibir pria di seberang sana.
"Baiklah, May! Saya akan turuti keinginanmu," ucap pria di seberang dengan nada berat.
Maya mengembangkan senyumnya, meski lawan bicaranya tidak bisa melihatnya. Berulang kali, ia mengucapkan ribuan kata terima kasih atas bantuan orang yang paling berpengaruh di tempatnya bekerja itu.
Bahkan sampai panggilan berakhir, Maya masih mengembangkan senyum, menatap Handika dengan penuh antusias. Rencana baru yang mereka susun, satu per satu telah terlaksana.
Ia juga yakin bahwa pesan itu akan membuat mereka merasa di atas angin dan bisa membuat mereka lengah. Maya dan Handika tinggal menunggu momen untuk membalikkan situasi.
****
Sementara di kota berbeda, Arya dan Karina menerima pesan dari pria misterius yang selama ini mengendalikan mereka.
Dalam pesan tersebut, Robert menyatakan bahwa rencana mereka berhasil, dan Maya telah menyerah. Dalam beberapa hari ke depan, mereka akan mendapatkan dokumen asli penelitian milik Maya.
Robert bahkan memuji Arya atas kelicikan dan ketekunannya yang membuat Arya semakin percaya diri.