Bab 9. Rencana Menghancurkan

1318 Words
"Ini dokumen yang Anda minta, Tuan." Arya menyerahkan sebuah dokumen penelitian Maya. Bukan hal sulit bagi Arya untuk mendapatkan dokumen itu, sebab Maya sendiri yang mengirim berkas itu ke tempatnya. Robert menatap puas dokumen yang ada di tangannya. Pria itu tampak menelisik dan meneliti satu per satu kalimat demi kalimat yang tertera, memang dokumen inilah yang ia cari. "Kerja bagus! Sekarang, aku punya satu tugas lagi untuk kalian," kata Robert seraya menatap tajam Arya dan Karina. Dua orang itu saling melempar pandangan, saling bertanya melalui tatapan mata, mengenai tugas apalagi yang diterima. Mereka kira urusan dengan Tuan Robert telah selesai karena telah memberikan yang dia minta, tetapi kenyataan justru sebaliknya. "Tu-tugas apa lagi, Tuan? Bukankah ini tugas terakhir kami dan kami akan segera mendapat—" "Kalian tenang saja! Bayaran sudah aku transfer. Tapi aku masih membutuhkan jasa kalian lagi." Baik Arya maupun Karina tampak ragu untuk mengiyakan, sebab mereka tak mau lagi terlibat urusan apapun dengan pria itu. "Saya bayar dua kali lipat dari ini!" Robert berucap tegas saat tak kunjung mendapat jawaban. Mendengar hal itu, kedua mata Karina membulat sempurna, bayangan tumpukan kertas berwarna merah di tangan tampak nyata di depan mata. Siapa yang tidak tergiur dengan nominal yang fantastis. Sehingga tanpa pikir panjang lagi Karina menyanggupi perintah pria di depannya, meski tanpa persetujuan Arya. "Siap, Tuan. Kami siap menjalankan tugas dari Anda." "Karin," bisik Arya seraya menggeleng pelan, sebenarnya kurang setuju dengan keputusan wanita itu. "Apa sih, Ar? Emang kamu gak mau duit banyak? Kalau gak mau biar semua duit itu buat aku aja." Robert tampak menyeringai sinis menyaksikan debat pasangan di depannya yang sepertinya tidak sejalan. "Bagaimana bersedia atau tidak?" "Tidak, Tuan." "Bersedia, Tuan." Arya dan Karina menjawab dalam waktu bersamaan. Karina yang merasa kesal pun sontak bersuara tanpa keraguan. "Kalau dia gak bersedia, saya siap bekerja sendiri." Robert menyilangkan tangan di tempat. "Sepertinya sedikit bermain-main dengan pasangan ini akan menyenangkan," batinnya. "Tapi sayangnya ... aku butuh dua orang. Kalau pasanganmu itu gak bersedia, maka tugas ini otomatis batal. Lebih baik aku menyerahkannya pada anak buahku yang lain." Karina tampak gusar. Dia yang memang aslinya memiliki sifat mata duitan tentu sangat menyayangkan bila uang yang dijanjikan akan melayang begitu saja. Wanita itu pun sontak menatap Arya dengan sorot permohonan. Arya segera menarik lengan kekasihnya untuk sedikit menyingkir. "Karin, bayaran yang kita terima sudah lumayan banyak! Sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan kita selama satu tahun penuh. Jangan nyari masalah lagi!" bisik Arya dengan penuh penekanan. "Kita tidak mengenal betul siapa Tuan Robert itu, bagaimana kalau dia orang yang berbahaya?" "Tapi, Ar, ini kesempatan emas! Kita kerja selama setahun penuh plus lembur di rumah sakit, gak mungkin bisa mendapat bayaran sebanyak ini. Lagian, dia bilang kalau ini yang terakhir. Jadi, turuti sajalah! Katanya pengen menggelar pesta mewah untuk pernikahan kita." Karina sengaja mengungkit masalah itu, sebab ia tahu itu adalah kelemahan Arya. "Kalau kamu tetap gak mau ... lebih baik kita batalkan pernikahan dan akhiri hubungan ini!" Arya menghela napas kasar, menjauh dari Karina adalah sesuatu yang tidak mungkin. Dia yang sudah dibutakan dengan cinta terlarang, tentu sangat takut untuk berpisah dengan kekasih gelapnya itu. Pada akhirnya, dengan berat hati Arya pun menyetujui untuk menerima tugas yang "katanya" tugas terakhir dari Tuan Robert. "Jadi, bagaimana?" Robert menyela perdebatan mereka. Arya dan Karina segera berbalik. "Kami sepakat untuk menerima, Tuan. Ini tugas terakhir 'kan?" tanya Karina dengan sangat antusias. Robert hanya mengangguk dengan tampang dinginnya. Seutas seringai sinis tersemat di bibirnya seraya melempar dokumen di tangannya, hingga jatuh tepat di bawah kaki Arya dan Karina. "Antar dokumen itu ke alamat kemarin! Saya mau hari ini juga dokumen itu sudah sampai di sana." ***** Di sinilah keduanya berada. Dengan keraguan yang sama seperti saat pertama menginjakkan kaki, Arya dan Karina telah tiba di sebuah rumah tua terbengakalai di pinggiran kota, tempat tinggal seorang pria tua misterius yang mereka temui beberapa waktu yang lalu. Akan tetapi, kali ini tampak berbeda, kedatangan mereka sudah ditunggu pria tua itu, di tangannya tampak membawa sebuah koper yang tampak lusuh. “Ini untuk kalian!” Pria tua itu berucap dengan nada dingin sambil menyodorkan koper tersebut kepada Arya. Arya tidak langsung membuka koper tersebut, melainkan segera menyerahkan dokumen penelitian Maya kepada pria itu. Bibir keriputnya tampak menyunggingkan senyum penuh kepuasan saat menerima dokumen yang dinantikannya. "Bukalah! Semua yang ada di dalam koper itu akan menjadi milik kalian." Tanpa banyak bertanya lagi, Arya segera membukanya dengan tidak sabar, begitu pun dengan Karina yang turut penasaran. Netra keduanya membelalak sempurna ketika melihat setumpuk uang yang memenuhi seluruh koper tersebut. "I-ini ...." Karina tak sanggup melanjutkan perkataannya karena terlalu terkejut. "Ya, semua uang itu akan jadi milik kalian dengan syarat ...." Pria itu menjeda ucapannya dengan menatap serius dua orang di depannya. "Segera sebarkan informasi palsu mengenai Maya. Buat seolah-olah dia terlibat dalam berbagai kegiatan ilegal. Dengan begitu, Maya tidak hanya akan kehilangan hak patennya, tapi juga nama baiknya." "Dengan cara ini, Maya tak akan bisa melawan kita lagi," sambung pria itu dengan tatapan tajam ke depan. Sorot matanya tampak menggambarkan amarah yang terpendam sejak lama. Karina tersenyum licik mendengar ide itu. Dia akan memastikan tak akan ada yang mendukung Maya lagi. Tanpa mereka sadari dari luar jendela, seorang pria dengan kamera kecil sedang mengawasi mereka. ***** Keesokan harinya, Arya dan Karina bergerak sesuai rencana. Mereka menyebarkan desas-desus tentang Maya, membuat berita seolah Maya terlibat dalam praktik ilegal yang mengancam reputasi profesionalnya. Berita itu dengan cepat menyebar di lingkaran kecil tempat kerjanya. Sehingga dalam waktu singkat, semua orang mulai mempertanyakan integritas Maya. Berita palsu yang disebarkan Arya dan Karina rupanya berbuntut panjang, hingga banyak orang yang mendesak pihak rumah sakit untuk segera memecat Maya. ***** “Selamat siang, semuanya." Dokter bername tag Haryanto membuka suara ketika tiba di ruang rapat. Pandangannya menyisir ke seluruh ruangan. Ia tampak lelah, tetapi sorot matanya tetap tajam penuh keyakinan. “Terima kasih telah meluangkan waktu untuk menghadiri acara rapat dadakan ini. Saya tahu kabar yang beredar akhir-akhir ini mungkin membuat kalian resah dan tidak nyaman. Hari ini, saya ingin mengklarifikasi semuanya secara resmi agar tidak ada lagi salah paham yang berkembang.” Ruangan tampak hening, banyak yang menunggu kelanjutan ucapan direktur rumah sakit dengan napas tertahan. "Setelah mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak serta tinjauan mendalam, pihak rumah sakit memutuskan untuk melakukan tindakan disipliner terhadap salah satu staf medis kami, yaitu dr. Maya Santoso. Dengan berat hati, kami harus mengumumkan bahwa dr. Maya secara resmi telah diberhentikan dari jabatannya sebagai dokter bedah di rumah sakit ini.” Bisikan-bisikan terkejut langsung memenuhi ruangan itu. Beberapa wajah menyiratkan ketidakpercayaan, ada yang mengerutkan dahi, sementara yang lain tampak khawatir. Maya bukanlah dokter biasa. Selama lebih dari sepuluh tahun, ia dikenal karena ketulusannya dalam melayani pasien. Namanya sering disebut di antara pasien dan keluarga mereka karena empatinya yang luar biasa, dan dedikasinya tak jarang diakui dengan penghargaan internal rumah sakit. “Pemecatan ini bukanlah keputusan yang mudah,” lanjut dr. Haryanto berusaha meredam bisik-bisik yang semakin riuh. "Saya yakin sebagian besar dari Anda mungkin merasa terkejut, bahkan mungkin kecewa. Tapi kami memiliki alasan yang sangat jelas dan kuat." Seseorang di sudut ruangan tampak mengangkat tangan. "Maaf, Pak. Apa kami boleh tahu alasan pastinya?" Pria paruh baya itu terdiam sejenak, lalu menarik napas dalam. Ia tahu, jawaban ini akan menentukan persepsi banyak orang terhadap dirinya dan keputusan direksi. “Baik, saya akan terbuka mengenai ini,” katanya dengan nada pelan. “Dr. Maya diketahui telah melakukan pelanggaran kode etik yang sangat serius. Kami menemukan bukti bahwa Dokter Maya telah melakukan malpraktek medis dan memberikan obat-obatan yang belum melalui prosedur persetujuan komite medis untuk pasien tertentu." "Tindakan tersebut tidak hanya membahayakan pasien, tetapi juga mengancam integritas rumah sakit ini." Kabar tersebut seketika menciptakan gelombang reaksi. Beberapa orang mengangguk, seakan mengerti alasan keputusan itu, tetapi beberapa petugas medis yang mengenal sosok Maya dengan baik dan lumayan dekat dengan wanita itu, tampak syok. Rasanya tidak mungkin, Maya yang dikenal sebagai dokter teliti dan profesional berani mengambil risiko sebesar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD